follow igku @zariya_zaya
Bagaimana kalau tunangan yang sudah lama tak kau temui, tiba-tiba dia menjadi buta, apa kau percaya?
Yuna, bidan cantik dari desa tak sengaja bertemu dengan pria asing yang menyelamatkannya beberapa kali. Pria asing itu tak sengaja mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Yuna karena suatu hal dan menjadi buta.
Pria buta itupun meminta Yuna menikah dengannya. Awalnya Yuna menolak karena ia sudah bertunangan, tapi rasa bersalah telah membuat Yuna mengambil keputusan pahit dalam hidupnya, yaitu melanggar janjinya pada tunangannya yang tak pernah ia temui sejak ia masih kecil. Tak disangka, ternyata pria buta itu adalah tunangan masa kecilnya sendiri, yang baru saja kembali dari Swiss, yaitu Yeon.
Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apakah Yeon benar-benar buta atau hanya pura-pura?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titin Supriatin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 22 Malingmati
Pagi yang cerah harusnya menjadi indah bagi pasangan dua insan yang sedang berduaan disatu ruangan. Apalagi mereka berdua adalah pasangan yang sudah lama terpisah dan baru saja bertemu. Namun hal berbeda terjadi pada pasangan bengek Yeon dan calon istrinya, Yuna. Mereka sudah lama terpisah dan kini bahkan ada kesempatan untuk berdua, tapi pertemuan mereka yang harusnya indah, terpaksa harus melalui serangkaian drama. Hal itu wajib dijalani Yeon demi menghindarkan Yuna dari segala mara bahaya.
Alhasil, bukan kata romantis yang mereka alami ketika bersama, tetapi kata bengeklah yang ada, karena pagi ini ... menjadi pagi terberisik akibat teriakan Yuna yang super kencang membangunkan sekaligus mengagetkan Yeon yang sebenarnya masih tertidur pulas sambil memeluk Yuna. Saking terkejutnya, Yeonpun terbangun dengan cepat dan tanpa sengaja mendorong tubuh Yuna yang ada di atas dadanya jatuh terjerembab ke lantai. Gadis itu terjatuh tanpa peringatan apapun seiring dengan redanya teriakannya.
Buk!
“Auuch.” Rintih Yuna kesakitan karena tubuhnya membentur kerasnya lantai. Sedangkan Yeon bingung dengan situasi yang tengah terjadi dan buru-buru membenahi perbannya yang meloroot kemana-mana.
“Ada apa? Kenapa kau teriak? Apa kau melihat hantu? Apakah ada penjahat? Di mana?” tanya Yeon.
“Kau hantunya. Perbanmu menakutkan sekali? Kenapa berantakan begitu? Aku kira aku tidur dengan mumi tadi,” gumam Yuna sambil mengusap-usap sikunya yang jadi memar akibat terbentur lantai.
“Mana ada mumi setampan aku? Mungkin suster mengikatnya kurang kencang kemarin. Bisa kau bantu membenahinya?” Yeon seenaknya saja menyalahkan orang lain padahal itu adalah hasil dari perbuatannya sendiri. Dengan dongkol, Yuna bangun dan membantu membenahi perban Yeon walaupun ia agak aneh saja dengan perban yang dikenakan pria didepannya ini.
“Dasar narsis,” gumam Yuna dan ia langsung menyadari sesuatu. “Tunggu! Kenapa aku bisa ada diatasmu? Bukannya aku harusnya tidur di sana ….” tanya Yuna menoleh ke arah sofa.
“Diatasku?” tanya Yeon ambigu.
“Maksudku … bagaimana bisa aku ada di ranjang ini bersamamu? Seingatku … aku … semalam tidur di sofa.” Yuna mengamati sofa dan ranjang ini secara bergantian. Jaraknya lumayan jauh. Bagaimana caranya ia bisa seranjang dengan calon suaminya. Ini benar-benar aneh.
“Apa kau tidak ingat?” tanya Yeon mulai beralasan. Entah kebohongan apalagi yang akan ia ciptakan untuk mengelabuhi Yuna.
“Apanya?”
“Kau tidur berjalan dan langsung memelukku, tadinya kupikir siapa, tapi karena yang memelukku adalah calon istriku sendiri, maka kubiarkan saja kau tidur di sini bersamaku,” jawab Yeon enteng tanpa beban. Padahal bukan itu yang terjadi sebenarnya. Dasar bengek si Yeon ini.
“Apa? Tidur berjalan? Aku tidak pernah punya penyakit seperti itu sebelumnya? Kau jangan mengada-ngada? Masa iya aku tidur berjalan, rasaanya itu tidak mungkin?” sanggah Yuna.
“Siapa yang mengada-ngada? Memang itulah kenyataannya. Masa iya aku yang menggendongmu dan meletakkanmu di sini? Itu kan sangat tidak mungkin? Aku tidak bisa melihat dengan jelas apalagi lampu ruangan kau matikan. Rasanya mustahil jika akulah yang memindahkanmu kemari.” Wajah Yeon dibuat seserius mungkin seolah yang dikatakannya itu benar.
Akting Yeon sungguh sempurna untuk pria yang berpura-pura menjadi buta. Menggunakan kelemahannya dan mencari kesempatan agar bisa lebih dekat dengan calon istrinya. Benar-benar cara yang tidak biasa. Wuah, Yeon hebat sekali. Setelah ini, ia pasti berlih fungsi menjadi artis Korea, dan pastinya langsung melejit.
Penjelasan Yeon tentang kondisinya yang tak bisa melihat, berhasil meyakinkan Yuna. Namun tetap saja, Yuna masih penasaran, kenapa ia ada di samping pria asing yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Masa iya ia telah terkena penyakit tidur berjalan.
Aku akan memeriksakan diriku nanti, apa benar aku terkena penyakit tidur berjalan atau tidak, batin Yuna
“Jika benar itu yang terjadi, kenapa kau tidak membangunkanku?” tanya Yuna penuh selidik.
“Sudah kubilang, awalnya aku terkejut kerena dipeluk tiba-tiba oleh seseorang dan bukan setan, sebab suhu tubuhmu sama denganku, tapi aku tahu kalau diruangan ini hanya ada kau dan aku saja, jadi ya kubiarkan. Aku rasa tidak ada salahnya, toh kita juga akan tidur bersama setiap hari begitu kita menikah. Anggap saja kita sedang latihan!" Yeon berkilah lagi, pinter amat dia cari alasan.
“Kau ….” Yuna sudah tidak sanggup bicara lagi, ia pun langsung memilih pergi ke kamar mandi dan melampiaskan emosinya dengan membersihkan diri karena ia harus segera berangkat ke desa tempat ia ditugaskan untuk meminta maaf pada kepala desa atas keterlambatannya datang kemarin.
“Latihan katanya? Gila apa? Ada ya, orang sebengek dia? Untung aja dia buta kalau nggak, udah aku gibeng aja itu muka,” gerutu Yuna dan ia kembali menarik napas dalam-dalam lalu melepasnya agar tidak emosi menghadapi kebengekan calon suaminya. “Sabar Yuna, kau harus terbiasa hidup dengan orang seperti dia mulai dari sekarang.” Yuna meyakinkan dirinya sendiri dan berhasil.
Kini Yuna jauh lebih rileks setelah bilasan air menyiram seluruh tubuhnya. Hanya saja, wajahnya langsung bermuram durja saat mengingat Yeon. Sebentar lagi, Yuna sudah bukan milik Yeon lagi, tapi milik pria buta itu.
Sedangkan Yeon jangan ditanya, ia malah tertawa dalam diam melihat Yuna menutup pintu kamar mandi dengan kasar saking kesalnya, ia bahkan bisa mendengar gerutuan Yuna dari dalam kamar mandi. Di samping itu, Yeon menghubungi beberapa orang untuk menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk pernikahannya yang akan dilangsungkan hari ini tanpa sepengetahuan Yuna dan seluruh keluarga besar Yeon tentunya. Ia punya alasan kenapa mempercepat pernikahan ini tanpa memberitahu kedua orangtua Yeon terlebih dulu. Dan itu akan ia jelaskan setelah pernikahannya dengan Yuna selesai dilaksanakan.
Satu jam kemudian, Yuna sudah keluar dari dalam kamar mandi dalam keadaan fresh. Ia membuka kopernya dan ganti baju di dalam kamar mandi. Setelah siap, iapun berpamitan pada Yeon kalau dirinya akan segera berangkat sekarang juga.
“Kau yakin tidak mau kuantar? Dokter bilang kondisiku sudah semakin membaik dan tidak ada komplikasi apapun pasca oprasi. Penyembuhanku sangat cepat bila dibandingkan dengan manusia normal lainnya. Jadi, aku mungkin bisa diizinkan pulang lebih awal.” Yeon menawarkan diri mengantar Yuna ke desa.
“Mana mungkin kau sembuh hanya dalam waktu 2 hari? Memangnya kau superhero apa? Yang punya kekuatan magis untuk menyembuhkan diri? Apalagi kau baru saja mengalami kecelakaan mengerikan. Mana mukin kau diperbolehkan pulang sekarang? Itu mustahil, tetaplah di sini sampai kau benar-benar pulih. Aku tidak akan melanggar janjiku ataupun melarikan diri darimu. Lagipula sudah tidak ada tempat agi untukku di dunia ini. Aku pasti kembali begitu urusanku di sana selesai. Setelah itu … terserah padamu, mau kau apakan aku.” nada suara Yuna terdengar sedih.
“Kau yakin?” tanya Yeon penuh makna.
“Yakin. Aku pergi dulu, sampai ketemu lagi. Dan ini ….” Yuna menyerahkan ponselnya pada Yeon.
“Apa ini?” tanya Yeon pura-pura tidak tahu.
“Aku tidak tahu berapa nomer ponselmu dan ada di mana barang-barangmu yang lain. Jadi kutinggalkan ponselku. Aku akan menghubungimu nanti begitu aku tiba di desa. Semoga di sana ada telepon umum juga.”
“Bawa kembali ponselmu! Kau jauh lebih membutukannya daripada aku. Biar aku saja yang akan menghubungimu nanti,” ujar Yeon.
“Bagaimana caranya? Kau kan tidak bisa melihat?” tanya Yuna bingung.
“Aku bisa minta bantuan suster atau sipapun yang ada di sini nanti. Tinggalkan saja nomer ponselmu di meja situ.”
Untuk beberapa saat Yuna terdiam, walau merasa aneh, iapun menuruti kata-kata Yeon dan menuliskan nomer ponselnya di atas kertas. Setelah itu, Yuna pun pergi ke desa terpencil dengan menggunakan taksi yang ia pesan dekat rumah sakit. Begitu masuk kedalam taksi, Yuna menyodorkan sebuah alamat pada sang sopir yang akan mengantarnya ke sana.
“Bawa saya ke desa ‘Malingmati’, Pak. Secepatnya,” pinta Yuna dari balik bangku kemudi.
“Baik, Non.” Sang sopir langsung mengiyakan karena ia tahu di mana letak desa itu.
BERSAMBUNG
***
Dilarang ngakak baca nama desanya ya ... ini cuma cerita fiksi, kalau ada kesamaan nama, tempat dan cerita, harap dimaklumi karena penulis asal nulis nama desa sebagai hiburan semata.