Aztiel, nama dari kerajaan yang ada di Mascus, 1 dari 3 negara terbesar di planet Jana dan masih berkembang. Monster, Manusia, Iblis dan hal hal lainya sudah tak asing di sana, Istana yang megah di kuasai oleh raja Farlov Von Grief dan Desmon menjadi salah satu Tentara "elite" di sana yang sangat loyal terhadap kerajaan, bahkan salah satu gereja terbesar yaitu Ferus sempat membantu Desmon untuk menjadi pengikutnya. Suatu hari di siang yang cukup panas ia di tugaskan oleh sang raja untuk mengantarkan sebuah surat untuk kerajaan yang ada di sebrang bersama 4 teman lamanya. Awalnya semua berjalan dengan baik namun tragedi mengenaskan menghancurkan semuanya.
Akankah dia berhasil bertahan hidup dari masalah yang akan ia lalui dan membuka masalalu sebelum semua ini terjadi?
(Web novel ini mengandung kekerasan yang berlebihan dan konten seksual,bagi para pembaca yang masih di bawah umur diharapkan agar tidak membaca atau meminta izin dari orang tua agar bisa membaca Web novel ini.)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K A Z A R O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Path
Malam hari yang dingin tergantikan oleh hangatnya teh di pagi hari, entah kenapa aku merasa sedikit takut dengan kejadian kemarin.
Regin sedang menikmati secangkir teh dan roti di sampingku, terlintas sebuah pertanyaan yang ingin ku tanyakan kepada dirinya.
"Regin, jika aku tak bisa kembali bersamamu ketika diluar sana, apa yang akan kau katakan?."
"Kau bodoh? itu tak mungkin terjadi, kita akan kembali dengan selamat." Ucap Regin dengan expresi terkejut.
"Ya mungkin, tapi bisa saja malah menjadi sebaliknya."
Seketika Regin terdiam. Aku dan ia melanjutkan menghabiskan sarapan dan masuk ke dalam rumahnya.
"Fiora, aku akan melanjutkan perjalanan bersama Regin. kau sebaiknya disini saja."
"Kenapa? apa aku tak boleh ikut denganmu?." Tanya Fiora padaku.
"Terlalu berbahaya jika kau ikut bersamaku Fiora, tolong mengertilah."
Jeanie sepertinya sudah mengerti apa yang akan kita berdua lakukan dan berusaha meyakinkan Fiora.
"Regin, apa kau akan ke sana?." Tanya Jeanie.
"Ya, aku akan ke sana bersama Desmon."
Fiora terlihat seperti tak ingin aku pergi, dia menatapku dengan raut wajah cemas. Aku hanya bisa berusaha meyakinkannya.
"Tenanglah, aku tak akan meninggalkanmu, aku hanya tak ingin kau terluka saat bersamaku." Ucapku berusaha meyakinkannya.
"Tapi aku takut kau tak akan kembali." Ucap Fiora sembari menatap ke arahku.
"Itu tak mungkin terjadi, Tenanglah, aku bersama Regin."
"Baiklah, tapi tolong jangan sampai kau tak bisa kembali."
"Ya Fiora, aku pasti kembali, aku janji."
Dengan sedikit rasa berat di hati setelah selesai memeluknya, aku tau bahwa aku tak bisa menepati janjiku.
Regin dan aku bersiap menaiki kuda masing masing, lambaian tangan dari Jeanie dan Fiora akan membekas didalam diriku untuk terakhir kalinya. Matahari mulai bersiap untuk menaiki puncaknya, aku tak ingin menyia nyiakan waktuku untuk perjalanan ini.
"Hei Desmon, kita akan kemana?." Ia menengok ku saat menunggangi kuda.
"Kita akan mencoba membuka semua petunjuk yang di sembunyikan kerajaan ataupun gereja, mungkin ini akan menjadi perjalanan yang tidak sebentar."
"Baiklah, aku akan menulis surat kepasa mereka berdua tentang keadaan kita setiap kita sampai di kota atau desa."
"Ide yang bagus Regin." Ucapku sembari memberikan fist bump.
Setelah memasuki hutan bagian dalam, kami berniat menuju kota Latros di sebelah utara. ku ingat di sana ada gereja Ferus.
Angin semakin menusuk ke kulitku, tak biasanya di sini terdapat hawa dingin seperti es.
"Desmon, kau merasakan dingin ini? kau tau kan apa yang ada di sekitar sini?." Ucap Regin yang sedang melihat sekitar mencari monster itu.
"Ya, ini monster Ligora jenis es, jarang jarang monster ini ada di sekitar hutan."
"Biasanya Ligora jenis es ada di atas gunung, dan yang ada di hutan adalah jenis angin."
Ligora, Ligora adalah monster yang di kenal dengan 4 elemen nya, bentuk dari Ligora sendiri seperti tanaman.
Bentuk Ligora berbeda menyesuaikan elemen masing masing, seperti angin yang berbentuk pohon kecil dan memiliki badan seperti manusia, Api yang memiliki bentuk menyerupai bunga dan memiliki badan layaknya beruang, es yang mirip dengan daun yang tertutup es berbentuk serigala, dan air yang menyerupai teratai dan berbentuk seperti ikan.
Biasanya Ligora sendiri tak berbahaya, tapi ada juga yang agresif dan tidak di sarankan untuk melawannya karna terlalu kuat, semakin lama mereka hidup semakin besar ukuranya dan semakin kuat serangannya.
"Hei Desmon, apa kita akan mencarinya?." Tanya Regin.
"Tak usah, kita tak akan mencari masalah dengan mahluk itu."
Setelah beberapa lama berjalan memasuki hutan, hawa semakin menusuk kedalam kulitku, terlihat Ligora jenis es sedang menyerang hewan yang ada di hutan itu.
"Sial, itu Ligora raksasa, kita tak akan selamat." Ucap Regin dengan expresi setengah takut.
"Tenanglah, aku akan membunuhnya jika ia menyerangmu."
Tatapan dingin Ligora seperti ingin membunuhku sempat membuatku sedikit takut, aku hanya bisa bersiap untuk menahan serangannya.
Tak ku sangka, Ligora itu pergi menjauh tanpa menyerang kita berdua, sepertinya ia tak ingin membunuh kita dan tatapan tadi hanya tatapan biasa.
"Huh? ia pergi?." Tanya Regin yang melihat dengan kebingungan, aku hanya bisa diam dan melihatnya.
Melihat ke arah bayang bayang tempat Ligora itu pergi, aku seperti merasakan maksud darinya. Seperti tak ingin aku melanjutkan perjalanan ini, tapi itu mustahil dan yang kupikirkan ini hanyalah dugaanku saja.
"Apa kau ingin Istirahat sebentar Desmon?." Ia turun dari kudanya dan duduk di sebelah pohon, es yang ada di sekitar mulai menghilang.
"Tidak, aku akan melanjutkan perjalanan menuju kota selanjutnya, aku tak ingin membuang waktuku."
"Baiklah, tapi tunggu beberapa detik, aku mulai lelah karna sudah lama tak menunggangi kuda."
Sebari menunggu Regin beristirahat, aku melihat sebuah kelinci yang meloncat melewati bebatuan di depan, tanpa pikir panjang aku meraih kerikil dan melemparkannya mengarah ke kepala kelinci itu.
Lemparan yang cukup kuat dan cepat berhasil ku lakukan hingga melubangi kepalanya, Regin terlihat terkejut dengan lemparanku.
"Woah, apa yang baru saja kau lakukan?."
"Aku? aku hanya melempar batu biasa."
"Tak mungkin, itu tidak mungkin." Ucap Regin seperti terheran heran.
"Kau yang bawa kelinci itu untuk nanti makan malam jika masih di hutan Regin, aku akan mengumpulkan batu kecil untuk memburu hewan."
"Tak bisa ku percaya, kau bisa melempar itu dengan sangat cepat, apa kau sudah berubah Desmon?." Ia bertanya sembari membawa kelinci di atas tanah, darahnya masih berlumuran dan Regin berusaha menghabiskan darah itu dengan menggantungnya terbalik dan diberi sayatan di leher, aku tak tau apakah itu akan bekerja atau tidak.
Setelah ia selesai mengikat itu ke kuda miliknya, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur.
Hutan yang cerah dan sejuk membuat hatiku sedikit tenang, matahari masih berada di atas kepala dan masih mencoba untuk menerangi jalan.
Aku tiba tiba teringat dengan kejadian kemarin, di saat aku sedang berada di dalam dunia milik Fury atau alam bawah sadar.
Aura milik mahluk yang mencoba membunuhku saat berada di dalam dunia itu mulai teringat dan terasa sekarang. Aku masih tak bisa menandingi kekuatan miliknya dan tak tau bagaimana caranya mendapatkan yang dapat menandinginya.
"Jika kau masih tak bisa mengalahkan mahluk itu, kau mungkin tak akan selamat dengan tujuanmu sekarang." Ucap Fury, aku tau apa yang ia maksud.
"Aku akan berusaha mencari cara untuk bisa mengalahkannya."
Matahari sudah setengah menuju tenggelam dan kami masih belum sampai ke kota atau desa terdekat, mungkin aku akan berkemah di luar bersama Regin.
Sunyi dan sepinya hutan tiba tiba terpotong oleh teriakan monster dari arah kanan, Aku dan Regin bergegas untuk melihat apa yang terjadi di sana.
"Ingat Desmon, apapun yang akan kau coba lakukan kau bukanlah pahlawan." Ucap Fury.