Menceritakan kisah Maya yang menikah dengan Albiru karena perjodohan, selama ini Maya sudah berjuang untuk cintanya, kala cinta itu sudah bersemi kerikil kerikil kecil kerap kali menghampiri, berbeda dengan Maya yang selalu mencoba menjadi dewasa dalam setiap menyikapi masalah tapi berbeda dengan Albiru yang memilih untuk menikah lagi demi mendapatkan selingan di luar rumah. Akankah Maya menyerah diakhir cerita karena mendapati suaminya telah membagi cinta yang seharusnya utuh hanya untuk dirinya?
Aku mencintaimu dengan penuh kesabaran, tapi kamu membalas cintaku dengan luka, Mas! [Maya]
Maafkan aku karena telah mencintai kamu dan dia, sekarang kalian sudah berada di hatiku. Aku hanya meminta kalian untuk mengerti! [Albiru]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mala Cyphierily BHae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengirim Bukti Pada Maya
Maya menelepon Ran.
"Halo!"
"Iya, Nyonya," jawab Ran.
"Tolong kamu beritahu saya, dimana suami saya?" tanya Maya, wanita itu masih belum merasa tenang, perasaannya selalu mengatakan kalau suaminya tidak jujur, terlalu pendiam tidak seperti biasanya.
"Tuan bekerja, Nyonya. Masih berada di kantor," jawab Ran berbohong.
"Baiklah, tolong kamu awasi dia untuk saya!" pinta Maya.
"Baik, Nyonya," jawab Ran, pria itu memijit pelipisnya, merasa bingung harus memilih pada yang mana, satu sisi Biru telah lebih dulu meminta Ran untuk selalu patuh padanya.
"Maafkan saya, Nyonya!" batin Ran, pria itu berfikir untuk diam-diam membantu Maya, karena walau seperti apapun Ran berfikir kalau tidak seharusnya Biru membodohi Maya.
"Maaf saya, Tuan!" batin Ran, pria itu merasa jadi pengkhianat.
Sementara itu, di rumah Hafizah. Biru sedang menemani gadis itu membuat rujak, Hafizah yang membuat sambal kacang sedangkan Biru yang memotong buah-buahan. Sesekali Biru melirik pada Hafizah yang terus mengembangkan senyum bahagia di bibirnya.
"Sebahagia ini? Padahal aku cuma nemenin ngupas dan motong buah," gumam Biru dalam hati.
Setelah siap, Hafizah mencicipi terlebih dulu dan dirasa sudah pas rasa manis, pedas dan gurihnya sekarang Hafizah meminta Biru untuk ikut makan rujak itu.
"Tapi aku enggak suka makanan kaya gini, terlalu asam dan pedas," jawab Biru seraya memerhatikan Hafizah yang sama sekali seperti tidak merasakan asamnya buah-buahan itu.
"Eemmmb, ini enak banget sumpah, enggak berasa asam, cobain aja!" kata Hafizah seraya menyuapi Biru kedodong yang sudah dicoel ke sambal.
"Yakin? Aaaa!" perintah Hafizah dan Biru pun menuruti.
Namun, tetap saja bagi Biru itu adalah sangat asam. Setelah itu, Biru melihat jam ditangannya, merasa segera harus kembali ke kantor.
"Aku kembali kerja dulu, ini uang untuk kamu jangan menolak!" kata Biru seraya memberikan amplop coklat berisi uang puluhan juta.
"Tapi, Mas. Kamu sudah menceraikan aku waktu itu, aku sudah bukan istrimu lagi, aku merasa tidak berhak untuk menerima uang ini," jawab Hafizah, wanita itu pura-pura menolak uang tersebut dengan sengaja menyebutkan statusnya.
Biru terdiam, tidak menjawab tetapi pria itu meninggalkan uang itu di meja.
"Aku nggak mau tau, terima uang itu untuk anakku!"
Setelah mengatakan itu, Biru benar-benar pergi meninggalkan Hafizah yang tersenyum padanya.
"Hati-hati, Mas!" seru Hafizah dari pintu.
Biru menganggukkan kepala dan segera pergi ke mobilnya yang terparkir di depan gang. Betapa terkejutnya Biru karena kaca spion mobilnya hilang satu.
"Sial! Siapa mencuri kaca spion ku!" geram Biru.
Dengan kesal pria itu membuka pintu dan menutup pintu mobilnya dengan sedikit keras, pria itu membawa mobilnya ke salon bengkel langganan.
Saat menunggu, Biru merasakan kalau ponselnya bergetar, ternyata Maya yang mengirim pesan.
"Pulang jam berapa, Mas?"
"Sepertinya aku lembur lagi, banyak kerjaan yang belum selesai."
"Ok baiklah, tetap semangat. Maaf malam ini aku tidak menemani kamu di kantor ya, Ifraz demam soalnya," balas Maya.
"Cepat sembuh anakku! Cepat bawa ke dokter, May!"
"Iya!" Setelah mengatakan itu Maya tidak membalas pesan itu lagi.
Setelah selesai dengan urusan mobil, sekarang Biru segera kembali ke kantornya dan melanjutkan pekerjaan yang tertunda, bahkan Biru harus lembur.
****
Di rumah, Maya menghubungi dokter keluarganya, dokter mengatakan kalau tidak ada yang serius, hanya demam biasa, setelah memberikan obat, sekarang dokter tersebut pergi dari kediaman Maya.
"Terimakasih, dokter," ucap Maya dari pintu kamarnya.
"Iya, sama-sama. Cepat sembuh untuk baby Ifraz," jawab dokter wanita itu dibuat seimut mungkin untuk menghibur Ifraz yang berada di gendongan Maya.
Setelah itu, Maya mengompres Ifraz dan berulangkali meminta maaf karena akhir-akhir ini dirinya terlalu sibuk mengawasi Biru.
"Sayang, maafin mamah ya. Mulai sekarang Mamah akan temani kamu lagi tanpa meninggalkan kamu lama-lama," ucap Maya, wanita cantik itu menciumi wajah Ifraz yang memerah karena demam.
Dan selama Ifraz sakit, Maya semakin memikirkan suaminya, dirinya kembali menghubungi Ran.
"Apa kamu bersama dengan suamiku?" tanya Maya.
"Iya, beliau masih bekerja," jawab Ran sedikit berbohong karena sebenarnya Ran sudah pulang bekerja dan sekarang sedang menemani istrinya.
"Ok baiklah, terimakasih." Setelah itu Maya memutuskan sambungan teleponnya.
Sementara Ran, pria muda berusia 27 tahun itu semakin merasa bersalah pada Maya.
"Kamu kenapa?" tanya istri Ran yang sedang dipijit kakinya oleh Ran.
"Aku merasa bersalah, aku harus bagaimana?" tanya Ran, pria itu menunjukkan wajah memelas, segera Ran menceritakan semuanya pada istrinya.
"Kalau begitu, kamu diam-diam bantu Mbak Maya! Kasihan dia. Sebagai sesama perempuan aku aku juga tidak mau kalau dibohongi!" katanya seraya menatap tajam pada Ran.
"Yang berbohong bukan aku, tetapi bossku, kenapa kamu melirik ku?" protes Ran.
"Iya... iya aku tau itu, kalau kamu tidak akan pernah berbohong kan!"
"Iya," jawab Ran singkat.
****
Dua hari berlalu, disaat Maya memaksakan hatinya untuk kembali mempercayai suaminya ternyata dirinya harus kembali menerima kenyataan pahit, seseorang mengirim amplop coklat berisi gambar Hafizah dan Biru sedang berbelanja kebutuhan bulanan di sebuah mall.
Seperti dihantam benda keras, Maya yang sedang sibuk mengurus anaknya tetapi dirinya kecolongan.
Maya tidak memikirkan lagi siapa yang mengirim foto itu.
Maya menelepon Biru bertanya dirinya ada dimana dan Biru menjawab kalau dirinya sedang ada meeting di luar kantor.
Mendengar itu, Maya segera memutuskan sambungan teleponnya. Menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, menangis sesenggukkan.
"Aaaaa!" teriak Maya, ia menyibakkan semua benda yang berada di meja riasnya, tentunya membuat Ifraz menangis ketakutan.
Tapi, Maya yang sedang merasakan sakit hati itu seolah tidak mendengar Ifraz yang menangis.
Di bawah, Susi sedang menyiapkan makan malam mendengar suara berisik dari lantai atas, segera Susi ke atas dan merasa tidak tega pada Ifraz yang terus menangis, dirinya membopong Ifraz dan meninggalkan Maya yang sedang menangis sesenggukkan.
"Ada apa?" tanya ART yang lain pada Susi.
"Enggak tau, tapi Nyonya nangis, kamarnya juga udah berantakan banget!" jawab Susi.
Dua jam kemudian, Maya sudah menunggu Biru di meja makan dengan mata sembab.
"Malam, sayang," sapa Biru, pria itu mengecup kening istrinya yang terdiam pilu, sedangkan dirinya terlihat bahagia.
"Aku sudah makan bersama klien!" ucap Biru, pria itu mengusap pucuk kepala Maya yang sama sekali tidak merespon, lalu Biru melangkahkan kakinya beranjang dari ruang makan.
Lalu dengan dinginnya Maya bertanya, "Dari mana kamu?"
Mendengar itu, Biru menghentikan langkah kakinya.
"Bukankah tadi sudah ku jelaskan!" jawab Biru.
"Dari mana aku bertanya!" teriak Maya membuat Biru terkejut karena baru pertama kali ini dirinya melihat Maya berteriak, air matanya jatuh membasahi pipinya.
Walau sudah ada bukti apakah Biru akan berkata jujur pada Maya?
Bersambung.