Sebulan pernikahan sirinya, Jingga harus berhadapan dengan kenyataan baru yang menyakitkan. Aris, suami yang dicintainya menikah resmi dengan perempuan lain.
Menjadi yang pertama tapi serasa yang kedua. Pada akhirnya Jingga menyerah. Perceraian dengan Aris pun tak terelakkan.
Di saat bersamaan Rangga yang merupakan sahabat Aris juga bercerai dengan istrinya. Kesamaan kisah membuat mereka Rangga dan Jingga semakin dekat.
Aris kembali datang dengan kepastian dan perjuangan yang lebih nyata. Membuat Jingga goyah. Kembali pada cinta lama atau memulai cinta yang baru ?
Persahabatan Aris dan Rangga pun di pertanyakan.
Di hati manakah cinta Jingga akan berlabuh ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Firasat atau mimpi
Rangga dan Jingga sama - sama terkejut dengan kedatangan dan ucapan Stefanie. Tapi hanya sesaat, Rangga tersenyum sinis.
" Stef, lain kali kalau mau cari pembenaran dan bahan untuk mencari kesalahanku tolong mikir atau selidiki lebih dulu. Jingga ini istrinya Aris, silahkan kamu pastikan pada Aris atau Evan kalau tidak percaya " ucap Rangga, tenang. " Syukurlah kamu sudah terlihat sehat, kecelakaan itu tidak fatal ternyata " tambah Rangga.
" Kamu berharap dengan kecelakaan itu aku lumpuh ? tidak akan. Tuhan selalu baik padaku. Bahkan tidak ada goresan berarti di tubuhku. Kamu harus hati - hati dengan kebaikan Tuhan padaku Hon, Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan. Jika tiba - tiba aku tidak menginginkan kita pisah, itupun pasti dengan mudah akan Tuhan kabulkan " ucap Stefanie, menatap Jingga sinis.
Jingga balas menatap Stefanie dengan berani. Stefanie yang malu karena dugaannya salah langsung buru - buru pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mengucapkan maaf dan meninggalkan kekesalan pada Rangga karena ucapan terakhir Stefanie.
" Maaf kan Stefanie ya Ngga " ucap Rangga, tulus.
" Tidak mengapa mas. Ada beberapa orang yang melakukan kesalahan lalu berharap orang lain melakukan kesalahan yang sama untuk membuatnya terlihat kembali benar. Mungkin istri mas salah satunya " ucap Jingga.
" Dia selalu begitu. Kamu dengar sendiri kan dia sudah tau salah masih mencoba bertahan dengan angkuh " ucap Rangga.
" Sabar mas, semoga mas Rangga menemukan jalan yang terbaik. Kalaupun berakhir, tidak meninggalkan kebencian di hati kalian " kata Jingga.
" Aku tidak membencinya Ngga. Lebih ke kecewa saja. Penilaianku di awal ternyata salah. Untungnya aku yang memilih sendiri, jadi aku tidak perlu menyalahkan orang lain untuk kegagalanku sekarang " ucap Rangga.
" Mas Rangga, boleh minta tolong ambilkan air putih ? " tanya Jingga merasa tidak enak, tapi tangannya tidak menjangkau nakas. Beberapa obat mengharuskannya benar - benar berbaring. Duduk bersandar belum boleh dilakukan. Sekalian Jingga ingin mengakhiri pembicaraan yang ujung - ujungnya pasti akan membuat keduanya melow.
Rangga tidak hanya mengambilkan, tapi membantu Jingga memegangi gelasnya. Sedikit canggung, tapi Jingga memang haus. Sejak dini hari memuntahkan isi perut tanpa ada makanan yang masuk membuatnya lapar dan haus sekaran. Mata mereka beradu sekilas, Jingga buru - buru mengalihkan pandangannya.
" Terimakasih mas, maaf merepotkan mas Rangga " ucap Jingga menjadi sedikit salah tingkah.
Rangga mengelap tetesan air di sebelah bibir Jingga dengan tisu.
" Sama - sama Ngga. Owh ya bagaimana kata dokter, kenapa sampai harus rawat inap ? " kata Rangga.
" Janinku lemah mas, dokter sedang mengobservasi. Aku akan berada di sini selama seminggu. Mungkin karena aku terlalu stres, tekanan darahku menjadi tinggi dan itu ternyata sangat mempengaruhi janin. Ingin sekali aku cuek dan tidak memikirkan keadaan, tapi ternyata aku tidak sanggup pura - pura tidak terjadi apapun " jelas Jingga, wajahnya kembali murung.
" Semua sudah ada yang mengatur Ngga. Kita jalani saja peran kita dengan baik sekarang. Yang perlu kamu lakukan sekarang hanya melakukan yang terbaik agar janinmu bertahan, biar Tuhan yang menentukan hasilnya " hibur Rangga. Tangannya menggenggam tangan Jingga, seolah ingin memberikan semangat dan rasa optimis pada Jingga.
Jingga merasakan kehangatan menjalar di tubuhnya, disaat seperti ini dukungan dan semangat seperti inilah yang Jingga butuhkan.
" Terimakasih mas Rangga " Jingga menatap Rangga dengan tatapan tulis. Tanpa sadar membalas genggaman tangan Rangga.
Rangga sekuat hati menahan gejolak di dalam hatinya. Tangan yang bertaut mampu mengalirkan energi lain dengan derasnya. Rangga merasakan ibu jari Jingga kini mengusap punggung tangannya lembut. Desiran halus yang lama sudah tidak dia rasakan kembali terasa.
"Ris, maaf..sepertinya memang aku tidak hanya sekedar mengagumi istrimu " batin Rangga sambil menelan ludahnya sendiri dengan kasar.
Jingga memejamkan matanya, merasakan kehangatan sekaligus kekuatan. Genggaman tangannya membuatnya tenang.
" Mas Aris, jangan lepaskan tanganku lagi. Aku butuh mas Aris " ucap Jingga lirih, tapi terdengar jelas di telinga Rangga.
Rangga segera menarik tangannya, membuat Jingga menyadari yang berada di sisinya sekarang bukan Aris.
" Astaga...Mas Rangga maaf ya..Maaf..Pikiranku sedang kacau rupanya. Terlalu mengharapkan kehadiran mas Aris membuatku berhalusinasi atau mungkin begitu banyak obat yang masuk membuat otakku tidak bekerja normal " cerocos Jingga, menutupi rasa gugupnya dan ketidak enakan hatinya pada Rangga.
" Tidak mengapa Ngga. Aku bisa mengerti, saat seperti ini kehadiran Aris lah yang kamu harapkan " ucap Rangga.
" Mas benar, rasanya pasti akan menyenangkan jika saat disuruh bedrest ada suami yang menperhatikan, ada suami yang menunggui. Waktu yang membosankan pun pasti akan terasa cepat " pikiran Jingga mulai menerawang.
Rangga kembali menggenggam tangan Jingga " Tidurlah, anggap genggaman ini genggaman tangan Aris. Kamu harus istirahat, lakukan yang terbaik untuk mempertahankan janinmu. Tidurlah, biar mimpi dan lelap membuatmu sejenak berhenti berfikir tentang masalahmu " ucap Rangga tulus.
Jingga menatap Rangga dengan tatapan sayu, antara kantuk dan kesedihan. Mata sayu itu semakin meredup lalu perlahan menutup.
Rangga yang dari semalam juga tidak bisa tidur, ikut tertidur dengan posisi duduk di bangku dengan kepala tersungkur di tepi brankar Jingga dengan tangan yang masih saling menggenggam.
Dina masuk membawa satu buah koper besar berwarna hitam. Dina yang belum pernah bertemu Rangga bertanya - tanya dalam hati siapa sosok laki - laki yang sesang bersama istri dari atasannya itu. Dina mengambil beberapa foto kebersamaan Jingga dan Rangga. Bukan untuk melaporkan ke Aris, tapi untuk jaga - jaga kalu memang ternyata laki - laki itu punya hubungan spesial dengan Jingga. Dina todak gegabah, karena tidak mau memperkeruh suasana jikalau dugaannya salah.
Sudah hampir satu jam berlalu keduanya masih betah tidur di posisi yang sama. Padahal Dina sudah duduk berdiri, bejalan hilir mudik berkali - kali menanti salah satu atau keduanya terbangun sambil terus mengecek layar ponselnya. Aris dan Evan sama - sama belum bisa dihubungi.
Rangga sedikit mengeliat, merasakan lehernya sedikit kaku. Mengerjapkan matanya beberapa kali karena kantuk masih melanda, tapi dia berusaha menahan untuk tidak tidur lagi. Tanggannya yang menggenggam Jingga terasa sedikit pegal. Dina menyadari ada satu yang terbangun pun segera mendekati brankar Jingga.
" Kamu pasti Dina ya, aku Rangga " ucap Rangga seolah mengerti tatapan penuh selidik dari Dina. " Din ini ganti' genggam tangan Jingga sebentar . Tanganku pegel, aku mau ke toilet sebentar " tambah Rangga. Meski sedikit bingung dengan perintah Rangga, Dina tetap melakukan saja perintahnya.
Sementara itu Aris dan Evan sudah selesai meeting lima belas menit yang lalu. Mereka langsung memutuskan kembali ke Jakarta. Aris segera mengaktifkan kembali ponselnya begitu Evan menghentikan mobil yang dikemudikannya karena lampu merah. Begitu banyak pesan dan telepon yang masuk. Aris langsung menghubungi Dina begitu menerima gambar foto saat Jingga di pasang selang infus oleh perawat. Baru saja panggilan itu terhubung, sebuah truck pengangkut barang tepat berada di belakang mobil yang dikendarai Evan menghantam keras bagian belakang mobil. Menyeret maju mobil beberapa meter kedepan tanpa kendali.
Bruakkkk.....Bruak.... Bruakkkk....Mobil Evan menghantam mobil di depannya dan mobil itupun menghantam mobil di depannya lagi. Tabrakan beruntun tidak terelakkan lagi.
" Mas Aris " teriak Jingga, terbangun dengan nafas memburu.
mereka merasa bersalah pada pria lain tapi sama sekali tidak merasa bersalah pasa suaminya
dan lucu sikap kayak gini dibenarkan oleh novel ini
coba author bayangkan suaki author merasa bersalah pada wanita lain tapi tidak peduli dengan perasaan author yang tidak suka dan cemburu???
saran sebelum mengatang cerita banyak pada diri author dulu itu baik atau tidak
lihat juga dari sudut pandang lain, sudut pandang pemeran utama pria jangan hanya karena author wanita author hanya lihat dari sudut pandang pemeran utama wanita
coba author menila sesuatu pake penilaian dari diri author baik tidak yang dilakukan jingga hanya karena rasa bersalah dan menjaga perasaan pria lain dia mengabaikan perasaan cemas, sakit hati karena cemburu suaminya sendiri
Gak ada surat nikah juga... kasihan anakmu nanti.