Sebuah cerita yang mengisahkan tentang seorang remaja yang kehilangan orang - orang yang disayanginya. Tidak ada unsur adegan dewasa.
Seorang pemudi yang trauma akan kehilangan orang tua dan orang yang dicintainya karena sebuah tragedi kecelakaan.
Nisa yang dulunya ceria sekarang menjadi dingin semenjak kecelakaan yang terjadi padanya. Sebagai penyebab kedua orang tuanya meninggal.
Berkat kehadiran temannya, Lana dan ketiga pemuda yang bersabat yaitu Aldi, Deni dan Faiz. Nisa mencoba untuk kembali ceria seperti dulu dan kehidupannya menjadi berwarna kembali.
Namun sebuah kecelakaan merenggut kembali seseorang yang Nisa cintai. Dunia Nisa seakan hancur kembali setelah pulih. Pelangi telah kehilangan satu warnanya. Membuat hari hari Nisa yang hangat kembali hampa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pyrus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ujian Kenaikan
Sekolah mendekati masa ujian akhir. Kurang satu minggu, Lana merasa cemas. Ya, dia selalu begitu saat akan menghadapi ujian. Anak itu begitu ambis dengan pelajaran sekolahnya. Baginya sekolah adalah investasi masa depannya. Sedangkan Nisa, dia tak serajin Lana. Dia hanyalah anak biasa, jika diukur dari kapasitas otaknya. Selama masih di peringkat setengah dari jumlah temannya di kelas, dia sudah bangga. Nisa hanya menyukai pelajaran bahasa. Tak heran jika koleksi buku cerita, novel serta komiknya banyak tersimpan di almari kamarnya. Dia tidak begitu peduli dengan mata pelajaran yang lainnya.
“Nis, gue seminggu ini mau minta ajarin materi yang belum gue pahamin sama Kak Aldi. Lo mau ikut ngga?” ajak Lana pada Nisa.
Nisa yang sedang fokus membaca novelnya menoleh ke Lana “Aduhh Na, gue ngga tertarik. Pusing mikir pelajaran terus.”
“Ayolah Nis, ini kesempatan buat lo. Buat lebih deket lagi sama Kak Aldi. Buat mastiin lagi hati lo.” Lana meyakinkan.
Setelah dipikir-pikir benar juga apa yang dikatakan lana,mungkin ini saatnya gue buat yakinin hati gue, batin Nisa. “yaudah deh. Gue ikut,” jawabnya.
“Yeyy..” senang Lana memeluk erat Nisa.
Nisa engap dipeluk Lana, susah untuk bernapas dan melepaskan dengan paksa pelukan Lana “Aduh Na.. gue gabisa napas.” Katanya yang sekarang mengambil napas dalam-dalam.
“Hehehe sorry-sorry, gue kelewat seneng. Gue baru kali ini deket banget sama temen gue soalnya.” Cengirnya.
“Lo yang ceria gini baru punya temen deket sekarang?” kaget Nisa.
Lana mengangguk mengakui “Iya. Soalnya lo tahu kan tabiat abang gue, gue jarang diizinin main kalo ngga sama dia. Itulah kenapa gue deketnya sama temen2 abang gue.” Lana mengatakannya dengan pelan agar teman yang lainnya tak mendengarnya. Dia meletakkan jari telunjuk di mulutnya, mengisyaratkan agar Nisa tak mengatakannya pada siapapun. Lana tidak ingin dia dicap hanya numpang tenar abangnya. Dia ingin dikenal bukan karena abangnya, tapi karena dirinya sendiri.
Nisa yang paham hanya mengangguk beberapa kali dan kembali membaca tulisan dari novel yang dipegangnya.
Nisa :
Tante, seminggu ini Nisa pulang telat. Lana ngajak belajar bersama buat persiapan ujian kenaikan.
Pesan Nisa dibaca oleh Tante Ilaa.
Tante Ilaa :
Oke sayang, belajar yang rajin ya.
Jawab pesan Nisa.
Belajar berlangsung di rumah Lana, Lana memang yang memintanya, supaya Kak Aldi juga merasa santai karena sudah terbiasa menjadi guru les privatnya itu.
Kali ini mereka belajar matematika, mata pelajaran yang paling dibenci Nisa.
“Oke, materi apa yang mau kita pelajarin kali ini.” Tanya Aldi pada Nisa dan Lana.
“Lana kurang paham sama materi yang terakhir kak, limit fungsi. Bikin pening kepala.” Sahut Lana.
“Kalo kamu Nis?” tanya Aldi pada Nisa.
Sebenarnya Nisa kurang paham sama semua materi matematika, tapi tidak mungkin kalau Aldi akan mengajarinya materi dari pertama hingga akhir. Malah nanti bisa meledak otak Nisa. Muncul asap kemudian kempes seperti balon yang kehilangan isinya. “Nisa ikut Lana saja kak,” jawabnya.
“Oke kita mulai aja” Aldi menjelaskan materi fungsi limit dengan sabar kepada Nisa dan Lana seperti pak guru yang menjelaskan materi di sekolah. menulis materinya di papan tulis berukuran 60 x 60 cm yang disediakan oleh Lana.
Lana fokus dengan apa yang diajarkan oleh Aldi. Sedangkan Nisa, dia bukan memahami materi yang disampaikan oleh Aldi, tetapi malah menatap dalam-dalam pemuda itu. Gesture Aldi begitu menenangkan. Senyum yang diciptakan dari bibirnya begitu menawan. Pandai, tampan dan memiliki sikap yang dewasa.
“Nisaa.. gimana? Udah mulai paham?” Aldi membuyarkan lamunan Nisa.
Nisa yang kaget melepaskan tangan yang sejak tadi menyangga dagunya, kemudian melihat ke arah Lana yang sedang mengerjakan latihan soal di LKSnya. Nisa menggeleng ke arah Aldi.
Aldi kali ini mengajarkan Nisa langsung di buku yang ada di depan Nisa, dengan pelan agar Nisa bisa sedikit memahaminya. Namun tetap saja Nisa tak bisa fokus. Yang dilihatnya sekarang malah wajah tampan Aldi, bukan materi yang ada di bukunya.
“Kak Nisa istirahat sebentar ya,” ucapnya pada Aldi yang kemudian menoleh ke arah Lana “Na, izin pake kamar mandi lo ya.”
“Iya itu ke arah sana ya.” Tunjuk Lana tanpa berpaling dari buku yang ada di depannya.
Nisa memegang dadanya yang berdetak dengan cepat setelah berada di kamar mandi rumah Lana. Daritadi jantungnya rasanya mau copot saat Aldi duduk di dekatnya. Mana mungkin dia bisa fokus dengan apa yang diajarkan Aldi, jantungnya saja tak mau dia ajak kerja sama.
“Nisa.. lo di dalem baik-baik aja kan,” ketuk Lana pada pintu kamar mandinya, karena Nisa sudah agak lama berada di sana.
“Iya Na, gapapa kok.” Teriak Nisa menjawab Lana setelah sedikit menenagkan dirinya sendiri.
“Lo ngapain aja dah di kamar mandi Nis, sampai belajar gue udah selese.” Tanya Lana setelah melihat Nisa keluar dari kamar mandi.
“Oh tadi perut gue mules, makanya agak lama.” Jawab Nisa beralasan, dia tidak tahu ternyata sudah hampir dua puluh menit dia berada di dalam kamar mandi.
“Kak Aldi, Nisa lanjut besok aja ya materi hari ini.” Pinta Nisa pada Aldi. Aldi hanya mengangguk menyetujui Nisa.
Kini mereka makan makanan yang sudah disiapkan mamah Lana. Setelah kelar Nisa dan Aldi langusng pamitan pada keluarga Lana.
“Salam buat abang ya dek.” Kata Aldi saat sudah ada di depan pintu, “Dia pasti sekarang pacaran nih sama Sintya” kata Aldi lagi.
“Iya kak nanti kalo udah pulang Lana sampein, makasih buat hari ini ya kak,Nis.”
Nisa melihat lama ke arah Aldi saat turun dari jok belakang motor Aldi “Maaf ya Kak, Nisa belum bisa kasih kakak kepastian. Maaf,” katanya sambil menundukkan kepalanya.
“Udah gausah dipikirin kali Nis, gue juga masih nikmatin kok. Dengan lo ngga berusaha ngejauh dari gue, itu buat gue udah cukup.” Jawab Aldi sambil mengacak-acak poni Nisa.
“Kakak hati-hati.”
Aldi mengangguk tersenyum. Kemudian dia tarik tangan Nisa supaya jarak mereka tidak terlalu jauh. Dengan hati-hati Aldi mencium kening Nisa sedikit lama, membuat pipi gadis itu merah merona. “Terima kasih” kata Aldi setelah melepaskan kecupannya itu dan melajukan motornya, meninggalkan Nisa yang mematung melihat ke arahnya tanpa berkedip sekalipun.
***
“Makasih sayang hadiahnya. Bagus banget, mamah suka” memperlihatkan gelang yang dipakainya kepada anaknya.
“Sama-sama mah. Faiz seneng kalo mamah juga seneng.” Faiz menghampiri mamahnya dan memeluk wanita yang sudah dia anggap sebagai malaikat di hidupnya itu.
“Mamah tebak, ini kamu belinya sama Nisa kan?”
“Kok mamah tahu.hehe”
“kan waktu itu Nisa juga pake gelang kayak gini juga.”
“Yah aku ketahuan. Heheh” Faiz ketawa.
“Kamu suka ya sama Nisa, ajak ke sini dong. Mamah pengen kenal deket sama dia.” Rengek mamahnya yang udah seperti temannya itu.
“Mamahh…” Faiz melotot pada mamahnya. “Mamah jangan aneh-aneh deh. Nisa itu lagi deket sama Aldi. Jadi jangan ngerusak hal itu ya mah.” Pinta Faiz.
“Oalah begitu. Tapi kapan-kapan ajak ya main ke sini dong.”
“Iya kapan-kapan Faiz suruh mereka kesini.” Jawabnya kemudian pergi ke kamar meninggalkan mamahnya.
Faiz mengeluarkan sebuah foto yang masih dia simpan di dompetnya. Dia genggam di dadanya. Mengingat kembali kenangan-kenangannya dulu. Pun kembali mengingat, bahwa dia tidak bisa bersama orang yang ada di foto itu lagi.
Tak terasa, ini adalah hari terakhir ujian kenaikan kelas yang menjadikan siswa-siswi SMA8 dengan antusias menyelesaikannya.
Berkat bantuan dari Aldi, Lana dengan lancar mengerjakan tiap mata pelajaran yang diujikan. Nisa juga dengan santai mengerjakannya, walaupun belajar bersamanya dengan Lana dan Aldi tak begitu berguna untuknya, dia sudah merasa cukup bisa mengerjakan lima enam puluh lima persen dari tiap-tiap mata pelajarannya. Yang tiga puluh lima persen dia isi sesuai dengan hati nuraninya. Aldi, Faiz dan Deni pun santai menghadapi ujiannya, karena memang mereka sudah memilih kelas yang mereka sukai masing-masing.
“Kita liburan yuk minggu depan.” Ajak Deni pada faiz dan Aldi.
“Hmhmhm ide bagus tuh, entar biar gue ajak Nisa.” Kata Aldi.
“Oke nanti biar gue ajak Lana sama Sintya, biar Faiz ada yang dibonceng. Hahah” ketawa Deni mengejek status Faiz yang sekarang sedang jomblo.
“Bang*** emang lo Den, Gimana Iz?” tanya Aldi.
“Oke gue ngikut aja.” Jawabnya singkat.