NovelToon NovelToon
Nicholas

Nicholas

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Patahhati / Badboy / Tamat
Popularitas:31.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Clarissa icha

Area Dewasa.!!! Tidak ada nilai positif.
Tidak suka = SKIP


Nicholas Alexander, laki - laki tampan berusia 24 tahun itu baru saja patah hati setelah kekasih yang sudah dia kencani selama lebih dari 4 tahun itu telah di tiduri oleh laki - laki lain.
Hancur.? Tentu saja dia sangat hancur menerima kenyataan pahit itu.
Pada akhirnya dia harus melepaskan wanita yang hampir saja dia nikahi dalam waktu dekat ini.

Mampukah Nicho melupakan cinta pertamanya.?Dan menemukan cinta sejati yang sesungguhnya.?
Siapakah wanita beruntung itu yang akan mendapatkan cintanya.?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarissa icha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Sisil masih cemberut sepanjang jalan bahkan sampai Nicho memarkirkan mobilnya di basemen apartemen. Nicho yang melihat hal itu, memilih untuk tidak peduli dan semakin mendiamkan Sisil tanpa melirik sedikitpun ke arahnya. Dia segera turun dari mobil, itu juga dengan Sisil yang ikut turun.

"Makasih kak,,," Ucap Sisil tulus. Nicho melirik sekilas, dia hanya mengangguk kecil kemudian berjalan lebih dulu mendahului Sisil.

"Dasar es balok,,,!" Cibiran Sisil yang setengah berbisik, masih bisa di dengar oleh Nicho. Tidak mau ambil pusing, Nicho memilih acuh dan terus beranjak dari sana.

Nicho menghentikan langkah saat ponselnya berdering. Dia merogohnya dari saku celana. Sudut bibirnya terangkat, Nicho tersenyum kecut melihat nama Fely yang tertera di layar ponselnya. Sejak kejadian itu, Fely terus menghubunginya dan mengirimkan banyak pesan padanya. Pesan yang tentunya tidak pernah di baca oleh Nicho, dia lebih memilih untuk langsung menghapusnya.

Meski kesal dengan ulah Fely yang seakan sedang menerornya, tapi entah kenapa Nicho tidak pernah berfikir untuk memblokir nomor Fely.

Nicho terlihat ragu untuk mengangkatnya, sejak saat itu dia tidak pernah mau mengangkat panggilan dari Fely. Pernah satu kali dia mengangkatnya, dan langsung membentak Fely untuk tidak menelfonnya lagi.

Nicho menarik nafas dalam, kali ini dia merasa tertarik untuk menerima panggilan dari Fely. Terlebih mereka baru saja bertemu di butik. Mungkin saja Fely ingin menjelaskan hal memuakkan itu padanya.

"Apa yang mau kamu katakan.?!" Nicho langsung bicara ketus begitu sambungan telfonnya terhubung.

"Nicho aku minta maaf,,," Suara Fely terdengar parau. Dia seperti habis menangis dan seperti akan menangis lagi.

"Lalu.?" Tanya Nicho dengan suara tegas dan datar.

"Kenapa harus seperti ini padaku.? Aku tidak pernah menginginkan semua ini terjadi padaku. Kenapa kamu melihatku seolah - olah seperti wanita yang menjijikan." Tangis Fely terdengar pecah.

"Kamu meninggalkanku di saat aku seperti ini,,," Tambahnya lagi. Pernyataan itu terdengar putus asa di ucapkan oleh Fely.

"Kamu egois Nich,! Kamu tidak mau mengerti perasaanku.!" Fely mencibir dengan penuh amarah.

"Aku egois.?!!" Nicho balik bertanya dengan nada membentak.

"Kalau aku egois, sejak dulu aku sudah meninggalkan kamu dan memilih untuk tetap tinggal bersama keluargaku.!"

"Aku membela kamu mati - matian.! Memilih mempertahankan kamu bahkan tidak peduli meski orang tuaku tidak lagi menganggap ku sebagai anak karna aku lebih memilihmu.!"

"Aku sudah mengorbankan semuanya.! Bukan hanya harta tapi keluarga.!"

"Lalu setelah semua ini terjadi karna kecerobohanmu sendiri, kamu menyalahkanku.?!".

Nicho terus berbicara dengan penuh emosi, meluapkan semua yang dia rasakan saat ini.

"Berhenti membuatku seolah - seolah aku laki - laki kejam karna meninggalkanmu setelah apa yang menimpamu.!"

"Sejak dulu aku tidak pernah mengijinkan kamu untuk keluar malam, aku selalu memperingatkanmu untuk memberitahuku kalau akan pergi.!"

Nicho langsung mematikan sambungan telfonnya. Dia semakin tidak bisa menahan diri karna emosi. Lebih baik mengakhiri pembicaraan dari pada nantinya dia berkata kotor pada Fely.

"Brengs*k.!!!" Nicho meninju tembok di sampingnya. Tinjuan keras itu membuat jari jari tangannya terluka hingga mengeluarkan darah.

"Bajing*n,,,!!!" Teriaknya lagi dan hampir melayangkan tinjuan lagi ke tembok, namun seseorang menahan tangan Nicho dengan kuat.

"Ya ampun,,,!! Apa yang kakak lakukan.?" Pekik Sisil dengan wajah yang terlihat panik. Dia melihat tangan Nicho yang lecet disertai dengan darah.

"Lepas.!" Nicho menarik kasar tangannya dari genggaman Sisil. Dia memilih untuk pergi dari sana dengan sorot mata yang masih terlihat penuh amarah.

Sisil terlihat kebingungan, antara menyusul Nicho atau pergi ke rumah Nathan. Setelah berfikir sejenak, Sisil memutuskan untuk menelfon Nathan.

"Oppa maaf, aku nggak bisa ke rumah sekarang. Lain kali saja makan malam bersamanya. Byee,,,,"

Sisil langsung mematikan sambungan telfonnya dan bergegas menyusul Nicho.

Sisil sudah hampir masuk kedalam mobilnya, tapi setelah mendengar suara Nicho yang berteriak, dia langsung mengurungkan niatnya dan segera berlari mencari Nicho.

"Kak Nicho tunggu,,," Sisil harus berlari untuk mengejar langkah Nicho. Laki - laki itu berjalan cepat, aura kemarahan masih saja terlihat meski dari belakang.

Sisil terlihat tidak peduli dengan apa yang membuat Nicho sampai semarah itu, dia hanya mengkhawatirkan keadaan Nicho yang terluka.

Sisil tidak akan sampai mengejarnya kalau luka di tangan Nicho tidak parah.

"Kak,,,!" Sisil menahan pintu yang akan di tutup oleh Nicho.

"Apa.?!" Nicho terlihat kesal.

"Tangan kakak luka, harus di obati,,," Ujar Sisil. Dia masih saja panik dan terus melihat tangan Nicho.

"Tidak perlu.!" Sahutnya ketus.

"Cepat minggir,,!" Nicho mendorong tangan Sisil agar bisa menutup pintu.

"Jangan begitu, bisa infeksi kalau nggak di obati." Sisil langsung menerobos masuk saat Nicho terlihat lengah.

"Kau.! Sudah aku bilang tidak perlu.!" Pekik Nicho sambil terus mengikuti langkah Sisil.

"Keluar atau aku seret.!" Geram Nicho kesal. Sementara itu Sisil terlihat tidak peduli dan terus berjalan menuju dapur untuk mencari kotak p3k.

Dia tersenyum lebar saat menemukannya.

"Kakak jangan khawatir, aku akan keluar kalau sudah mengobati tangan kakak.!" Sisil membawa kotak p3k dan duduk di depan meja makan.

"Buruan duduk disini kak.!" Sisil menepuk kursi kosong di sebelahnya.

"Semakin cepat kakak duduk, semakin cepat aku ngobatin luka kakak dan semakin cepat pula aku pergi.!" Ujarnya sedikit geram. Dia melirik malas ke arah Nicho yang sejak tadi memasang wajah kecut.

Nicho menghela nafas kasar sebelum akhirnya duduk di sebelah Sisil. Dengan malas, Nicho menyodorkan tangannya pada Sisil.

Sisil berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Dia merasa heran dengan apa yang baru saja di perbuat oleh Nicho.

"Kenapa sampai harus melukai diri sendiri,,," Gumam Sisil lirih. Dia mulai membersihkan darah ditangan Nicho.

"Kakak berantem sama pacar.?" Tanya Sisil hati - hati. Dia memang tidak yakin kalau Nicho memiliki kekasih, pasalnya tidak pernah melihat Nicho bersama perempuan ataupun membawa perempuan ke apartemennya.

"Bukan urusan kamu,,," Nicho masih saja ketus. Moodnya masih buruk. Amarahnya seakan tidak mau menghilang.

"Benar juga,," Ujar Sisil dengan mengangguk anggukan kepalanya. Dia membenarkan ucapan Nicho.

"kenapa juga aku bertanya,,," Gumamnya lagi dengan wajah yang terlihat menyesal karna sudah menanyakan hal yang bukan menjadi urusannya.

Nicho terlihat menarik sudut bibirnya. Antara kesal dan lucu dengan tingkah Sisil.

"Di lepas dulu jaketnya kak, biar aku bantuin." Kata Sisil setelah selesai mengobati tangan Nicho.

"Kalau lepas sendiri pasti susah, pergelangan jaketnya bisa bikin tangan kakak sakit.

Tanpa berkata apapun, Nicho menurunkan resleting jaketnya dan mengeluarkan tangan kirinya. Sementara itu, Sisil merentangkan pergelangan jaket agar melebar dan tidak menyentuh luka di tangan Nicho.

"Pelan - pelan aja kak,,, takut sakit nanti,," Ujar Sisil mengingatkan.

"Gak usah buru - buru nariknya, ini jangan sampe bersentuhan sama kainnya,,," Sisil yang terlihat cemas, dia merasa ngilu membayangkan luka di tangan Nicho bergesekan dengan jaket.

"Iya.! Berisik banget sih, udah kayak mau di apain.!" Geram Nicho ketus. Sisil hanya menyengir kuda.

"Akhirnya lepas juga,,," Gumam Sisil lega. Nicho langsung melotot tajam. Ucapan Sisil membuat pikirannya melayang kemana - mana. Di tambah dengan ekspresi wajah Sisil yang terlihat lega, seperti baru saja melepaskan sesuatu yang sejak tadi di tahan.

"Buruan pergi.! Kamu itu lama - lama ngelantur bicaranya.!" Pekik Nicho sambil menarik tangan Sisil untuk beranjak.

"Ngelantur gimana maksudnya.?" Sisil terlihat kebingungan. Memang apa yang salah dengan ucapannya.?

"Udah nggak usah banyak tanya.! Sana pulang.!" Nicho mengusir Sisil dengan mendorong pundaknya untuk segera keluar dari apartemennya.

"Nggak tau terima kasih, udah diobatin bukannya bilang makasih malah di usir." Gerutu Sisil kesal.

"Memangnya siapa yang minta di obatin.? Kamu sendiri yang menawarkan diri.!" Sahut Nicho cepat.

"Ngeselin.!" Cibir Sisil membangunkan bibirnya dan keluar dari apartemen Nicho.

...*****...

Jangan bosen baca kalimat terakhir di setiap bab.

Minta vote mulu 🤣.

Itung² bantu othor ya buat ngundang banyak pembaca baru. 😁

1
liaa
seruu
Sitinor Holisah
coba gaush pkek pov pasti cerita nya lebih seru
aroem
bagus
Ira Suryadi
Luar Biasa
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
pipi gemoy
👍🏼👏🏼🙏🏼☕
pipi gemoy
Nathan n Sisil memang punya jiwa besar🌹
pipi gemoy
mama Shinta noh👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼🌹👻
pipi gemoy
vote buat nich n Sisil✌🏼
pipi gemoy
welcome baby boy Kevin ☕👏🏼👍🏼🙏🏼
pipi gemoy
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣si Sisil satu frekuensi sama kakak n adik👻
pipi gemoy
pinter Sisil 🌹
pipi gemoy
papa alex👻🌹
pipi gemoy
pinter nick🌹
pipi gemoy
hadir Thor
nobita
aku jadi tegang 🤭
Candle_SHe
😍😍😍
arsita
ceritanya tu terlalu berbelit"
Yudi Jebaru
menarik/Rose/
Sofie Ariyani
nicho gendeng 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!