NovelToon NovelToon
Mahasiswaku Suamiku

Mahasiswaku Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Dosen
Popularitas:826.3k
Nilai: 5
Nama Author: Shofia Hanina

Pertemuan tidak sengaja antara Nefertiti dan Akmal di dalam kereta api memberikan kesan yang mendalam bagi keduanya.

Nefertiti yang biasa dipanggil Titi ternyata menjadi salah satu pengajar di kampus tempat Akmal menimba ilmu.

Akmal yang biasanya dingin kepada lawan jenisnya, tetapi ketika berhadapan dengan Titi menjadi berubah. Akmal tertarik kepada Bu Dosen Titi sejak pertemuan pertama.


Apakah pantas seorang mahasiswa menginginkan Dosennya?


Apakah ada larangan hubungan asmara antara mahasiswa dan Dosennya?

Mungkinkah seorang mahasiswa bisa menjadi suami Dosennya sendiri?


Bagaimana kelanjutannya.

Ikuti ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofia Hanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ngajar Perdana

Setelah memperoleh Surat Ijin Mengajar, Titi dan teman-teman seangkatan yang memang benar-benar sebagai pendatang baru, untuk semester gasal atau ganjil ini baru mendapatkan jadual mengajar. Karena banyak teman-teman seangkatan yang produk baru rasa lama, alias sudah mengajar lebih dulu di kampus itu, baik sebagai dosen tetap non PNS atau sebagai dosen luar biasa.

Sebelum perkuliahan semester gasal dimulai, seluruh dosen dalam fakultas diberi undangan rapat untuk membahas teknik seputar perkuliahan selama satu semester yang akan datang. Dalam pertemuan itu akan dibagikan jadual mengajar selama satu semester ini.

Titi untuk semester ini mendapatkan jadual mengajar sebanyak 20 SKS (Satuan Kredit Semester). Masing-masing mata kuliah berbobot dua SKS, jadi Titi mengajar 10 kelas. Titi mengajar mata kuliah manajemen keuangan sebanyak lima kelas dan manajemen risiko juga lima kelas. Sebelum mengajar Titi persiapkan untuk membuat RPS (Rencana Pembelajaran Semester) dan harus ditandatangani oleh ketua konsorsium untuk masing-masing penanggung jawab keilmuan. Setelah membuat RPS selesai dilanjutkan dengan membuat materi perkuliahan. Untuk bobot dua SKS itu mengajar sebanyak 16 pertemuan, pertemuan ke 8 yaitu UTS (Ujian Tengah Semester) dan pertemuan ke 16 yakni UAS (Ujian Akhir Semester). Satu SKS sekali pertemuan setara dengan 50 menit. Sedangkan kalau 2 SKS sudah tentu setara dengan 100 menit. Titi berusaha membuat mapping dengan waktu 100 menit bisa menyampaikan materi plus tanya jawab pada satu tema di satu pertemuan.

Hari pertama perkuliahan dimulai pada hari Senin. Kebetulan Titi di hari Senin ini mendapatkan jadual dua kelas dengan mata kuliah manajemen keuangan dan manajemen risiko. Jam pertama dimulai pukul 06.45 WIB. Titi jadualnya jam ke dua, yaitu mulai pukul 08.30 WIB.

Titi berangkat seperti biasanya karena tidak mendapatkan jadual jam pertama. Dari rumah Mbah Uti pukul 07.10 WIB dan sampai kampus pukul 07.17 WIB. Masih belum telat untuk syarat masuk. Karena waktu jam kerja dari pukul 07.30 sampai pukul 16.00 WIB. Setelah finger print kemudian Titi masuk ke ruangannya di gedung Rektorat lantai empat. Masih pagi, jadi belum terlalu banyak teman-teman satu ruangan yang hadir. Titi membuka ruangan dengan kunci yang kemarin dikasih Mas Awang, staf yang ada di ruangannya. Setelah meletakkan tas di meja kerjanya. Titi melangkah ke dapur, sebelumnya tadi membawa satu nampan yang berisi gelas kotor.

"Nanti biar saya saja Bu?"

Titi kaget karena tadi tidak melihat ada orang yang berada di pantry. Refleks Titi memegang dadanya dan tangan satunya masih memegang nampan yang berisi gelas kotor, otomatis gelas itu saling bersentuhan sehingga menimbulkan bunyi yang lumayan membuat ngilu telinga yang mendengar.

"Eh....," Titi segera meletakkan tangannya yang tadi dipakai untuk mengelus dadanya agar kembali memegang nampan. Kurang kecepatan sedikit saja bisa membuat nampan itu tidak seimbang sehingga bisa menyebabkan gelas dari kaca itu bisa jadi jatuh.

"Maaf Mbak, kaget ya?"

"Iya Pak, tadi tidak melihat kalau ada Njenengan di pantry," sahut Titi masih dengan napas sedikit tersengal, efek kaget masih berlanjut.

"Kenalkan Mbak, Saya Giman, yang bertugas membersihkan dan mengantarkan gelas di lantai ini," ucap Beliau.

"Saya manggil Mbak saja ya, masih muda gitu, masih pantas jadi anak SMA. Kirain tadi anak PKL (Praktek Kerja Lapangan) dari SMK," lanjut Beliau lagi.

"Saya Titi, Pak Giman, Monggo terserah njenengan, mau manggil apa," balas Titi dengan rona merah di wajahnya. Percayalah walaupun tidak satu atau dua orang yang menyebut dirinya masih pantas menjadi anak SMA, hal itu masih memberikan efek dahsyat jadi senyum-senyum sendiri. Rumus sederhana kalau mau menyenangkan orang lain, misalnya di minimarket atau toko, kalau ada Ibu-ibu walaupun sudah setengah baya, coba saja dipanggil dengan sebutan "Mbak" pasti Ibu tersebut ada sedikit rona merah di wajahnya. Berarti masih kelihatan muda dong. Hahaha. Entahlah, tapi perlu dipraktekkan kalau perlu.

"Biar saya saja Mbak yang mengantarkan gelas ke ruangan," kata Pak Giman merasa tidak enak karena itu sudah merupakan tugasnya.

"Tidak apa-apa Pak, biar saya saja, hitung-hitung sebagai olahraga Pak. Pak Giman bisa mengerjakan tugas yang lain. Titi kembali ke ruangan dulu Pak. Permisi. Terima kasih," balas Titi dengan sopan.

"Iya Mbak, Monggo. Terima kasih ya," jawab Pak Giman.

"Sudah cantik, rajin dan ramah pula," gumam Pak Giman yang masih bisa didengar oleh Titi. Titi tidak menoleh ke belakang, terlalu banyak mendengar pujian membuatnya takut terkena penyakit diabetes.

Titi segera ke ruangan dan sudah ramai juga karena banyak yang hadir. Titi menawarkan untuk membuatkan kopi atau teh. Ya walaupun itu bukan tugasnya, tetapi mengapa tidak dilakukan, kapanpun dan di manapun kalau kita berbuat kebaikan pasti akan kembali kepada diri kita sendiri. Yakinlah bahwa apa yang kita tanam, kelak itu yang akan kita tuai.

Di ruangan ada yang mau Titi buatkan kopi dan teh, ada juga yang tidak berkenan karena masih pagi, di rumah baru saja minum kopi. Masih ada waktu sebelum mengajar, dan di ruangan juga tidak terlalu sibuk. Masih jam 08.00 WIB, kurang setengah jam lagi Titi mengajar di kelas. Titi ke toilet dan mengambil wudhu, Dirinya ingin salat Dhuha, sebisa mungkin diusahakan untuk istikamah. Titi ingin memperbaiki dirinya menuju ke arah yang lebih baik. Setelah wudhu Titi salat di pojok dalam ruangan yang difungsikan sebagai tempat salat. Titi membawa mukena dan sajadah dari rumah, walaupun di ruangan juga sudah tersedia mukena dan sajadah juga, tetapi Titi lebih nyaman kalau memakai miliknya sendiri.

Pukul 08.20 WIB Titi turun menggunakan lift dan menuju kelas tempatnya mengajar. Titi tidak naik motor, motornya diparkir di basement. Dirinya ingin jalan kaki sekalian biar sebagai olahraga, kira-kira sekitar 50 meter jaraknya. Lumayan bisa menghasilkan keringat, bisa sebagai pemanasan sebelum Titi mengajar. Tiba di kelas pukul 08.25 WIB. Suasana di kelas masih sepi, sekitar 5 mahasiswa yang baru hadir, padahal jumlah keseluruhannya sesuai di jadual Titi mengajar sebanyak 50 mahasiswa. Titi duduk di kursi yang disediakan untuk mengajar. Begitu dirinya masuk ke kelas sebelumnya tadi sudah salam, langsung diam ke lima mahasiswa tersebut dan otomatis langsung memandang dirinya dengan sorot mata takjub.

"Kamu terpesona ya," pikir Titi dengan tersenyum. Cuma dalam batinnya sendiri tidak diucapkan, biarlah mereka traveling dengan pemikirannya masing-masing, Titi tidak ingin berspekulasi mengenai apa yang mereka pikirkan, karena dirinya bukan cenayang.

Pukul 08.30 WIB sudah banyak mahasiswa yang hadir, ketika mau masuk ke dalam kelas semuanya berisik bagaikan lebah yang diganggu sarangnya, begitu melihat ada dirinya langsung diam tanpa dikomando. Ya begitulah harap maklum, ada yang sudah duduk di depan pasti memberikan efek juga. Titi tidak terlalu heran sih, kebiasaan berisik dan juga datang pas waktunya, kadang ada yang telat dengan berbagai alasan, itu kadang sudah membudaya, yang harus diperbaiki sedikit demi sedikit.

Titi segera memulai membuka kelasnya, setelah mengucapkan salam Titi langsung berkenalan. Seperti pepatah yang mengatakan, Tak kenal maka tak sayang. Sudah seharusnya tak kenal maka ta'aruf. Setelah memperkenalkan dirinya kemudian Titi mempersilahkan kepada teman-teman mahasiswa untuk bertanya sekiranya apa yang ingin diketahui tentang dirinya. Banyak yang menanyakan tentang almamater, hobi, tanggal lahir, cita-cita dll. Titi menjawab kecuali yang tanggal lahir, memang mau menentukan hari baik untuk momen tertentu atau sejenisnya bertanya tentang tanggal lahir segala. Hehehe.

Ada yang menanyakan mengenai status. Titi menjawab sudah ada yang punya yaitu orang tuanya yang langsung dijawab dengan teriakan satu kelas. Titi heran, ini mau kuliah atau mau jadi supporter sepakbola.

Tadi Titi sudah memperkenalkan dirinya, sekarang giliran Titi yang akan berkenalan dengan mahasiswanya. Titi panggil satu persatu sekalian sebagai absen, Titi meminta untuk menyebutkan nama, panggilan, dan alamat. Semuanya menjawab sesuai dengan yang ditanyakan dan kadang ada yang mencoba menjawab dengan melawak juga.

"Muhammad Akmal Hafidz?" panggil Titi.

"Hadir," jawab yang punya nama.

Titi merasa familiar dengan suara itu. Akhirnya Titi melihat ke sumber suara yang ada di bangku pojok belakang. Pandangan mereka bertemu dengan ekspresi sama-sama terkejut.

Apa yang terjadi?

Maka terjadilah....

Bagaimana kelanjutannya??

Ikuti terus ceritanya..

Terima kasih.

O iya, jangan lupa tekan like, komentar, dll. Matur suwun...🙏🙏

1
Djoko Prasetyanto
bagus ceritanya..
Cupetong Cupetong
Mungkin malah sekilas tentang kehidupannya yg dibumbui biar tambah makin menarik👍
Fitra Smart
serasa kuliah sambil dengarin dosen jelasin ini🤣🤣
Nining Nuraningsih
bab ini aku lewatin semua ga dibaca maaf ya
Nining Nuraningsih
terlalu bertele tele ya,jadi bosen jarang komunikasinya
Heny Febti
Si Othor udah pernah ikut tes CPNS ya? tau banget. 😀💪
Alia Santi
sangat menarik tapi sudah lama gak up novel e
Ahmad Faudzan
hahh satria enggak mau kalah nieh 🤔🤔🤔
Ahmad Faudzan
super karyanmu Thor ! banyak informasi penting tambah ilmu jadinya
Ahmad Faudzan
God job kak author terusin
Ahmad Faudzan
bau minyak nyong-nyong tu mbak'e 🌹🌹🌹
Ahmad Faudzan
semangat Thor ceritanya menarik
Apariani
super skli novel y sgt menginspirasi dan byk mnanamkn nilai2 akhlak dn aqidah islam yg kental
Alia Santi
lama
re
Suami idaman
AbhiAgam Al Kautsar
terimakasih kak Thor.. yg sudah menceritakan kisah berlokasi di Rembang.. tempat tanah kelahiran ku.
..
komentar terbaik
huh seriusan legalisir sejak sd?
kacau euy, sd aku udah tutup hahaha
komentar terbaik
ini keren detail banget, lokasi, situasi, kronologisnya juga. kebetulan beberapa lokasi yang disebutkan aku pernah ke situ jadi tahu persis sesuai yang digambarkan.

sampai materi tes detail gitu. sering nya kalau cerita tes, pokoknya ikut tes lalu tahu-tahu lulus. di sini sampai isi paparan dan durasi presentasi juga dibahas.

keren.
Alia Santi
kok 2 bln gak up kak
Apariani
sgt menginspirasi skli,muatn moral akhlakul karimah dn ilmu pwngetahuan y byk skli.sukses sllu saya sgt suka novel ini
Djoko Prasetyanto: setuju sekali
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!