Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perasaannya Sebagai Orang Tua
Begitu kuat perasaan orang tua terhadap darah dagingnya, karena sejatinya darah lebih kental daripada air
✩。:•.───── ❁ ❁ ─────.•:。✩
Ashqar tidak bicara untuk beberapa saat. Ekspresi kebingungan terlintas di wajahnya. “Aku … aku nggak ingat, Mbak. Sejujurnya aku bahkan nggak memperhatikan wajah anak itu.”
“Kamu bilang, kamu ngajak mereka makan, ‘kan? Masa kamu nggak lihat wajah anak itu?”
“Yang aku perhatikan hanya Alvin karena anak itu yang lebih banyak bicara,” cicit Ashqar, merasa bodoh juga karena tidak memperhatikan sama sekali wajah Zaini. Tetapi entah bagaimana Ashqar merasa yakin jika kemungkinan besar anak itu adalah putranya.
Rahma menegakan tubuhnya dengan penuh kesal. “Yang benar aja Ashqar,” ucapnya dari sela-sela gigi yang terkatup. “Kalau benar anak itu Zain, masa kamu nggak familiar sama wajahnya.” Rahma sangat kesal. Bagaimana bisa Ashqar sangat bodoh di saat-saat seperti itu?
Dani terus mengusap pundak sempit Rahma. “Sabar, Dek,” ucap Dani mencoba menenangkan Rahma. Dia menatap wajah Rahma lekat-lekat, tersenyum tipis sambil memindahkan belaian tangannya yang semula di bahu ke wajah Rahma. “Kamu temani anak-anak aja, ya? Biar mas yang bicara sama Ashqar.”
Rahma memandang wajah Dani dan Ashqar bergantian. Keduanya memiliki ekspresi berbeda. Dani yang tengah menatapnya lembut, seperti yang sudah-sudah. Sementara Ashqar telihat kusut.
Rahma luluh. Namun, hal itu tak lantas menuntaskan perasaan kesalnya terhadap Ashqar. Tanpa bicara Rahma beranjak dari duduknya menuju kamar kedua putri kembarnya.
Begitu Rahma menghilang di balik pintu kamar kedua putri mereka, Dani memanggil Ashqar. “Diminum dulu, jangan tegang begitu.”
“Iya, Mas.” Namun, itu hanya jawaban basa-basi.
Ashqar mengambil napas dalam dan menghembuskannya cepat. Berusaha mengangkat kedua sudut bibirnya walau kenyataanya tidak menutupi perasaan yang terlihat jelas.
Dani mengangkat gelas. “Kamu tahu sendiri perangai mbakmu itu, ‘kan?” tanyanya, menyesap sedikit dari kopi susu buatan Rahma lalu menaruh kembali gelas ke atas meja.
Ashqar tidak menjawab kecuali hanya sebuah gumaman kecil. Dia melemparkan punggungnya ke kepala sofa dan menutup wajah dengan lengan kanan. “Walaupun aku nggak tahu anak itu Zain atau bukan, tapi aku rasa aku tetap harus memastikan itu, Mas. Sekalipun kemungkinan anak itu adalah Zain hanya dua puluh persen, tapi aku nggak mau melepas kemungkinan itu.”
Dani tersenyum maklum, berempati dengan perasaan Ashqar. Jika ia ada di posisi Ashqar seperti sekarang, Dani pun akan melakukan hal yang sama. Begitulah orang tua, perasaannya begitu kuat terhadap darah daging sendiri.
“Ngomong-ngomong, nggak tahu mbakmu sudah memberi tahu kamu atau belum, tapi teman mas menjanjikan dua atau tiga hari lagi untuk memberikan kabar perihal Zain. Mungkin juga bisa lebih cepat dari perkiraan, mudah-mudahan aja.”
Ashqar menurunkan lengan dan menegakan tubuhnya. Terlihat cukup antusias meskipun tak menghilangkan kalut dari wajahnya. “Apa teman Mas Dani juga bisa mencari informasi perempuan yang bersama Zain saat ini?”
“Maksud kamu, perempuan yang menuduh kamu sebagai penculik anak itu?”
“Iya, Mas.”
“Kamu kirim aja kontak perempuan itu, nanti mas coba tanyakan.”
Mendengar jawaban Dani membuat beban di pundak Ashqar terasa lebih ringan. Meskipun hanya sedikit, tapi setidaknya harapan untuk segera menemukan Zain jauh lebih besar dari sebelumnya.
Selama ini Ashqar selalu diam-diam mencari keberadaan Zain. Sekalipun keluarganya menyayangi Zain, tapi hal itu tidak menutupi kenyataan bahwa wanita yang telah membawa Zain ke dunia ini adalah salah satu sumber kebencian keluarganya.
Nita tidak pernah terlihat baik di mata keluarga Ashqar terutama Ibu dan Rahma sejak mantan istrinya itu mengajukan perceraian. Terutama Rahma, kakak perempuannya itu bahkan sejak awal terlihat tidak menyukai hubungannya dengan Nita.
Rahma adalah satu-satunya yang terus mendesak Ashqar untuk memutuskan hubungannya dengan Nita. Namun, karena insiden yang menyebabkan hadirnya Zain, Rahma terpaksa menerima pernikahan mereka. Dan sekarang, Ashqar harus menerimah buah dari keras kepalanya. Namun, dia tidak pernah merasa menyesal mengenal Nita karena dengan wanita itulah Ashqar mendapatkan Zaini sebagai putranya.