Mami mami,dimana papi?
mami mami, bawa kami kepada papi..
..
..
Melelahkan menjadi orangtua tunggal.
apalagi harus mengasuh dan merawat dua anak kembar.
mereka sudah tumbuh besar,aku harus siapkan banyak jawaban untuk mereka.
mereka selalu bertanya dimana papi? siapa papi? dan kenapa papi pergi?
sungguh aku bingung,mau jawab apa..
..
..
aku terkejut saat aku mendengar,anak anakku berdoa dan meminta agar papinya kembali kerumah hidup bersama sama dengan bahagia..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dea Anggie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAD - CLYDK S2
RUMAH JANICE
~KAMAR JANICE~
☆Janice☆
Aku masih kesal dengan kejadian tadi, aku masih memasang muka masamku sampai saat ini.
Saat Alberto keluar dari kamar mandi, aku meleparinya dengan selimut dan bantal, dia dengan sigap menangkap.
Jane: ambilah, dan tirdur di ruang tamu. Aku tidak terima jawaban.
Aku masuk dalam selimutku dan berbaring. Aku menutup mataku dengan perasaan kesal. Aku merasa sesuatu, tangan Alberto memeluk perutku. Dia menempel seperti lem di punggungku.
Alberto: kau tega mengusirku? jika aku tidak kembali bagaimana??
Jane: lebih baik tidak kembali.
Alberto: aku mencintaimu..
Jane: hmmm..
Alberto menciumi tengkukku. Aku kesal dan bangun. Dia pun mengikuti ku bangun
Alberto: ada apa??
Jane: jangan menggangguku. Jika ingin tidur disini.
Alberto: kau masih marah?? Aku tidak ada apa apa dengan Stecy.
Jane: tapi dia menatapmu penuh cinta, aku kesal!!
Alberto: hmmm.. benarkah?? wajar saja, aku kan tampan
Jane: kau sungguh tidak menyukainya??
Alberto: tidak, aku menyukaimu, Jane, Jane dan Jane..
Alberto memelukku erat. Aku tidur di dadanya yang bidang. Dia membelai lembut rambutku. Aku memeluknya erat, takut jika dia pergi saat aku membuka mataku besok.
Alberto: tidurlah, aku akan memelukku sepanjang malam. Aku tidak akam pergi.
Jane: berjanjilah, kau akan selalu disisi ku. Dan juga disisi anak anak.
Alberto: Aku berjanji. Selamanya akan selalu disisimu.
Alberto mencium keningku kilas, dan menarik selimut menutupi sedikit wajahku. Aku merasa hangat. Aku merasa aman dan nyaman.
☆Alberto☆
Aku melihat Jane kesal. Sampai dikamar pun dia terlihat kesal. Aku masuk dalam kamar mandi untuk mencuci mukaku, saat aku keluar tiba tiba selimut dan bantal melayang menghampiriku. Jane menyuruhku tidur di kamar tamu. Dia mengusirku.
Aku masuk dalam selimut dan memeluknya erat. Aku menempel padanya, aku tidak mau berpisah dengannya. Aku mencoba membujuk dan merayunya. Aku menciumi tengkuknya.
Jane tiba tiba bangun, aku ikut bangun. Dia bertanya apa aku menyukai Stecy?? tentu tidak! Apa dia masih meragukan cintaku?? Apa selama ini pengorbananku tiada artinya?? bahkan hampir mati untuk nya?? Cemburunya begitu besar. Aku menjelaskan perlahan. Dia mulai tenang, aku memeluknya dan membiarkan nya tidur dalam pelukanku.
Tangan Jane memelukku erat. Seakan tak ingin berpisah. Aku menenangkannya. Aku mecium keningnya. Aku melihat dia tertidur. Tidur pun masih terlihat cantik. Aku merangkul kepalanya dan terlelap tidur.
☆Janice☆
Aku bangun dari tidurku, aku tidur sangat nyenyak. Aku merasakan kehangatan. Aku tidak bermimpi, Alberto memang sungguh nyata. Aku memeluknya erat.
Alberto: pagi sayang
Jane: pagi..
Alberto mendekapku, Aku memendamkan wajahku dalam dekapannya.
Tok..
Tok..
Tok..
Tok..
Tok..
Tok..
Pintu kamar di ketuk, anak anak sudah berteriak teriak.
Darren: papi mami ayoo bangun..
Karren: papi mami bangun, ini sudah lewat pukul 7.
Aku dan Alberto kaget dan cepat cepat bangun. Aku melihat jam di dinding kamarku. Astaga.. Aku ke asik an bermesraan dengan pria ku.
Aku cepat cepat masuk dalam kamar mandi, alberto merapikan tempat tidur dan menyusulku ke kamar mandi. Aku sangat kesal, di kamar mandi aku berteriak teriak beberapa kali Alberto menggodaku. Sungguh memalukan bila anak anak mendengar. Aku keluar kamar mandi dan segera berganti pakaian. Alberto mengintip dari pintu kamar mandi memanggilku.
Alberto: sayang.. kemarilah
Aku memalingkan wajahku, aku menghampirinya.
Jane: ada apa??
Alberto: aku terluka, ambilkan aku kotak obat.
Jane: apa??
Aku membuka pintu menerobos masuk dalam kamar mandi
Jane: Mana?? Apa yang teluka??
Alberto: hei, kau kenapa masuk?? Kau menggodaku?? Ingin aku makan??
Jane: aku takut kau bilang kau terluka.
Alberto: aku minta ambilkan kotak obat. kau lihat, daguku sedikit terluka saat aku mencukur.
Jane: keluarlah, aku akan oleskan obat nya.
Aku keluar dari kamar mandi, Alberto mengikuti ku keluar. Aku mengambil obat di kotak obat dan menghampiri Alberto. Aku mengoles obat pada lukanya perlahan.
Jane: sudah selesai aku oles, cepatlah ganti baju.
Alberto mencium bibirku kilas.
Alberto: terimakasih sayang..
Jane: Aku keluar dulu ya, kau ada perlu apa lagi??
Alberto: tidak ada sayang, kau turunlah.
Aku turun dan berjalan ke meja makan untuk membuatkan Alberto sarapan, karena aku kesiangan anak anakku sudah membuat sarapannya sendiri. Aku mengoles mentega pada roti untuk Alberto dan menuang susu full cream kesukaannya di gelas.
☆Alberto☆
Aku membuka mataku, aku mencium kening Jane kilas. Aku masih melihatnya tirdur. Aku terkejut saat dia memelukku erat, hmmmm.. dia sangat menggemaskan.
Aku dan Jane bermalas malasan di ranjang. Anak anak mengetuk pintu tidak sabaran. aku terkejut saat anak anak bilang sudah pukul 7 lewat. Haha.. kami pun cepat bangun Jane masuk dalam kamar mandi, aku merapikan ranjang dan menyusul.
Aku masuk ke kamar mandi dengan sengaja. Saat aku masuk aku melihat Jane sudah terguyur air dari shower. Aku menggodanya. Aku memeluknya, dia berteriak dan melepaskan tanganku. Aku menggossok punggungnya dengan sabun.
Jane: jangan ada pikiran kotor menempel di otakmu, aku tidak ingin kita melakukan hal yang aneh aneh.
Alberto: tapi aku tidak tahan, aku harus bagaimana.
Aku menggodanya, aku membalik badan dan mencium lehernya. Jane berteriak.. dia menarik dua telinga ku.
Alberto: aduh, lepaskan sayang. Aku tidak akan menggoda lagi.
Jane: kau sangat mesum!!
Jane membilas badannya dan keluar. Selesai mandi aku bercukur, karena tidak hati hati daguku sedikit terluka, aku membuka pintu dan memanggil Jane. Dia datang dan bertanya, saat aku bilang aku terluka dia langsung menerobos masuk kamar mandi mengagetkanku. Dia terlihat panik.
Aku memperlihatkan daguku yang tergores. Dia menatapku dan menyuruhku keluar. Mengoles obat dengan tangannya, aku mentap wajahnya lama. Wanitaku sangat cantik semakin lama semakin mempesona.
Aku mencium bibirnya kilas sebagai ungkapan terimakasih. Dia tersenyum cantik dan keluar dari kamar. Aku masih bersiap berganti pakaian.
Aku turun menyusuri tangga, aku melihat Jane duduk di kursi dan memakan roti. Dia langsung berdiri dan melayaniku. Dia menyiapkan sarapan sederhana untukku. Aku mencium kening dan memeluknya kilas. Aku duduk dan memakan apa yang sudah dia siapkan. Sudah lama tapi dia masih ingat sarapan kesukaanku.
Alberto: anak anak sudah sarapan??
Jane: sudah, saat aku turun tadi mereka sedang makan. Mereka membuat sarapan sendiri.
Alberto: setelah urusan di inggris selesai, aku akan bicarakan soal anak anak Jane.
Jane: ada apa?? Apa ada masalah??
Alberto: tidak, hanya ingin bertanya sesuatu hal saja.
Jane mencuci piring dan membersihkan meja. Aku terus menatapnya, pandanganku tidak berpaling. Dia sudah berubah, menjadi seorang wanita yang tagguh. Bahkan anak anak juga. Mereka menjaga maminya dengan baik.
Alberto:bDarren, Karren..
Aku panggil anak anakku, mereka turun bersama dengan senyum mengembang.
Darren,Karren: pagi.. papi
Alberto: pagi tampan, cantik..
Aku mengusap lembut kepala mereka. Senyum mereka menghangatkan hatiku.
Kami pun pergi meninggalakan rumah.
Kami pergi ke Inggris dengan jet pribadiku. Aku melihat anak anak senang dan menikamati perjalanan.
♡♡♡♡
INGGRIS
Alberto menguruh Boby mengantar anak anak ke rumahnya. Alberto mengajak Janice ke markas nya.
Jane: tempat apa ini??
Alberto: kau akan tau, saat kita sampai dalam ruangan.
Alberto meminta penjaga membuka pintu. Jane melihat sekeliling. Pintu terbuka, Alberto dan Jane masuk dalam ruangan. Jane sangata terkejut, melihat seseorang di depannya.
Jane: paman Pat??
Patrick: keponakanku.. kau tumbuh menjadi wanita cantik seperti Maudy.
Jane: paman masih hidup?? Bukan kah surat kematian paman sudah dikirim dari Australia, lalu yang kami kubur siapa??
Patrick: dia orang lain. Pamanmu masih hidup sayang.
Alberto: penjaga..
Penjaga datang,
Penjaga: ada apa tuan??
Alberto: bawa keluar, masuk dalam mobilku. Jane, ayo.. \(menarik tangan Jane\)
Alberto berjalan dan menggandeng tangan Jane, Jane patuh dan mdngikuti Alberto.
Jane: boleh aku tau, kita akan kemana??
Alberto: menemui Dominic.
Jane: apa? Dominic? Kenapa kita menemui Dominic?
Alberto: kau akan tahu saat kita sampai.
Ponsel Alberto berdering..
Alberto: Hallo
"Tuan, kami sudah dalam perjalanan membawa tuan dan nyonya Sanjaya"
Alberto: baik, aku akan menyusul \(memutus panggilan\)
Jane duduk di samping sopir, Alberto dan Patrick duduk berdampingan di kursi belakang. Sepanjang perjalanan tak ada kata kata yang keluar.
♡♡♡♡
RUMAH DOMINIC
☆Dominic☆
Mendapat undangan dari sahabat lama. Tentu dengan senang hati aku datang. Aku penasaran dengan keadaanya. Lolos dari maut, sungguh luar biasa.
Aku mendengar pintu kamarku diketuk. Deric datang menghampiriku.
Deric: papa, aku ingin keluar jalan jalan.
Dominic: pergilah, nikmati harimu. Bawalah pengawal, dan jaga dirimu.
Deric: baik papa, bye..
Aku berdiri dari kursiku dan mengambil jasku. Aku memakai jasku dan berjalan keluar dari kamarku. Aku akan pergi memenuhi undangan.
Diluar aku bertemu dengan Rossa. Dia bergelayut manja, aku memalingkan wajahku.
Rossa: sayang, kau akan pergi?
Aku melepaskan tanganya, dan pergi tanpa menjawabnya. Dia begitu banyak menghabiskan uangku. Mengatur orang orang orangku. Sungguh dia memanfaatkan dengan baik posisinya sebagai Nyonya Willy.
Aku masuk dalam mobil. Aku pergi menuju lokasi yang ditentukan. Saat aku memikirkan Alberto entah mengapa aku juga memikirkan Janice, mereka bersama kah?? Perpisah 7 tahun, bertemu dan berpisah lagi, sungguh tragis kisah cinta mereka. Aku tak bisa bayangkan bagaimana Janice menjalani hidupnya selama ini. Merawat dua anak seorang diri.
Ah.. sudahlah, biarlah aku kubur dalam perasaan cintaku pada Janice. Janice sangat mencintai Alberto mereka pun bahkan memiliki anak. Hahaha.. apa aku gila? Kenapa hatiku merasa sakit saat mengingatnya. Pikiranku kemana mana.
Mobil berhenti,
"Kita sudah sampai tuan"
Kata supirku.
Aku keluar dari mobil, asistenku berbicara dengan penjaga. Penjaga memberi jalan, seseorang menyambut.
"Tuan silahkan ikut saya"
Aku mengikutinya, dia membuka pintu sebuah ruangan. Aku masuk ke dalam. Jantungku berdegup kencang, saat melihat Janice tersenyum ke arahku. Apa aku gila? Seharusnya aku tidak merasakan perasana ini lagi, kenapa aku seperti ini??
Alberto,Janice dan Dominic bertemu.
Alberto: hai Dom, (menghampiri dan mengulurkan tangan)
Dominic: hai albert, kau baik? (Menyambut tangan Alberto)
Alberto: kau berharap aku mati? (Tersenyum dan melepaskan tangan)
Dominic: jika kau tiada, aku akan menjaga kekasihmu(menatap Janice)
Kau tak menyapaku Janice? Apa kau sudah melupakan sahabat kecilmu ini?
Janice: kau terlihat baik dan sehat Dom! Aku rasa tak ada lagi yang perlu aku tanyakan.
Dominic: wow.. kau sudah sangat berubah, jika dulu kau selalu menempel sekarang kau sudah siap dengan benteng pertahananmu.
Janice: yang lalu biarlah berlalu, jalani saja apa yang ada didepan mata.
Alberto: aku mengundang mu datang untuk selesaikan masalah.
Dominic: masalah?? Aku merasa tidak ada masalah denganmu, Janice sudah kembali padamu.
Alberto menupuk tangannya sekali.
Penjaga membawa Patrick masuk. Dominic mengerutkan keningnya. Dia menatap tajam Patrick. Dia teringat bekas luka di wajah Patrick.
Dominic: kau?? (Mendekat dan mencengkraml kerah baju patrick) kau pembunuh! Kau datang untuk menuerahkan nyawamu??
Alberto: tenanglah, kau dengarkan dulu penjelasannya.
Dominic melepas cengkramannya dan memalingkan wajah, menahan amarah.
Paterick: maafkan aku, aku bukan pembunuh orsng tuamu. Mereka saling membunuh. Mamaku adalah kekasihku, kami pun sudah memiliki anak. Mamamu sangat mencintaiku, dia bahkan rela melakukan apa saja untukku. Dia mencuri mutiara hitam keluarga Willy untukku .............(bercerita
..
..
..
..
..
Dominic: kau bercanda?? Aku melihat mu menyeret papa dan mamaku ke dalam rumah dan kau menyayat leher mereka, menusuk papaku.
Patrick: maaf, aku bermaksud menyembunyikan jasad mereka ke dalam rumah. Soat aku menyeret papamu, aku merasakan papamu menvengkramku, karen aku panik aku lakukan itu. Maafkan aku..
Dominic: maaf?? Kau membiatku kehilangan orangtua dan hanya minta maaf?? Aku akan hancurkan perusahaanmu sekarang juga.
Jane: paman, apakah Grace adalah anakmu??
Patrick: ya Jane, dia sepupumu.
Dominic: Jane, kau memanggilnya apa??
Paman??
Patrick: aku bukan Peter, aku Patrick.
Dominic: mustahil, Patrick sudah tiada di australia.
Alberto: kau membalas pada orang yanga salah Dom! Yang dia katakan benar, dia bukan paman Peter.
Dominic menatap Alberto dan kaget saat melihat Peter dan Maudy. Dominic mengerutkan keningnya.
Dominic: apa aku benar benar salah orang? Aku melakukan kesalahan? Aku menyakiti orang yang tidak bersalah.
(Dalam hati)
Jane: kau sudah puas Dom! Ini lah kenyataan yang harus kau ketahui. Kau menyerang kami yang tidak bersalah. Kau membuat papaku dalam masalah dan kau juga menghancurkan hidupku. Kau memisahkanku dengan Alberto.
Dominic: Janice maaf, aku bersalah padamu.
Dominic mendekati Peter.
Dominic: paman Peter maaf! Aku sudah banyak menyusahkan kan keluarga Sanjaya.
Peter: sudah lah Dom! Paman tau kau bukanlah seorang yang jahat dan keji. Kau hanya tidak bisa mengendalikan diri karena dendammu.
Alberto: kau sudah bisa bebaskan keluarga Sanjaya??
Dominic: tentu, tapi aku tidak bisa melepaskannya.
Alberto: Dia akan di proses sesuai prosedur hukum.
Patrick: kau tidak perlu repot denganku, aku banyak melakukan kesalahan, aku akan menebus semua yang sudah aku perbuat. Anakku sudah tiada, aku pun juga akan pergi menyusulnya.
(Mengeluarkan pistol dari balik bajunya)
Semuanya kaget,
Patrick: maafkan aku Peter! Aku adalah saudara yang buruk!! (Menempelkan pistol di kepalanya)
Peter: apa yang kau lakukan, jatuhkan pistol itu.
Jane: paman, jangan seperti ini! Kita bisa bicarakan baik baik.
Patrick: maaf!! Aku sudah membuatmu menderita Dominic..
Alberto: jangan bertindak gegabah! Jatuhkan pistol itu.
Patrick: maaf, maafkan aku.. (menangis)
( Patrivk menutup matanya dan menembak)
Dooorrr!!!!
Peluru melesat ke kelapa Patrick. Seketika Patrick jatuh tergeletak. Darah pun mengalir ke lantai.
Alberto menarik Jane masuk dalam pelukannya.
Peter: Patrick.. (menangis)
Jane: paman.. (menangais)
Semua kaget, Patrick nekat mengakhiri hidupnya dengan tragis. Alberto menghubungi ambulance.
Peter terlihat sedih, Maudy menenangkannya.
Alberto memeluk erat Jane. Dominic hanya terdiam.
Mereka diam membisu.
Tak lama ambulance datang dan membawa Patrick ke rumah sakit. Peter dan Maudy ikut ke rumah sakit, Dominic juga. Alberto dan Jane pergi menyiapakan proses pemakaman Patrick.
Patrick telah di bawa pulang,dan sudah masuk dalam peti. Semua berkumpul di pemakaman. Peti Patrick mulai di masukan dalam tanah. Peter terlihat sangat terpukul, meski Patrick sudah berubah menjadi orang jahat, dia adalah saudaranya satu satunya. Peter merasa bersalah karena tidak bisa melindungi saudaranya dengan baik.
Jane memeluk erat kedua anaknya. Alberto merangkul Jane dan menenangkan. Keluarga Alberto datang. Dominic dan Deric juga datang memberi ucapan belasungkawa.
Tanah telah menenggelamkan peti Patrick. Setelah acara berdoa selesai, semua yang datang menghadiri acara pemakanan membubarkan diri.
Dominic dan Deric pergi.
Peter, Maudy ,Richard, Natalie, Alberto, Janice, Darren dan Karren masih tetap tinggal.
Mereka ingin mengenang kepergian Patrick untuk yang terakhir kalinya.
(Selamat Membaca😉)
novelnya bagus tapi yang kurang lagi2 susah benar buat pemeran utama wanita yang berjuang untuk dapat maaf dan kesempatan pada pemeran utama dalam pria
kebanyak novel pemeran utama pria dibuat kayak karakter bodoh ditolak dan disakiti tapi terus saja kejar pemwran utama wanita kayak tidak ada wanita lain saja