Setelah lulus kuliah, kamu mau ngapain nih bestie? Kerja? Lanjut S2? Atau bahkan langsung nikah?? Xixixi.
Buat yang lanjut S2 semangat, yang kerja ga usah lesu letih dan lunglai, yuk mampir baca kisah seorang tokoh yang berakhir di jodohkan, dan hidup bahagia (?) setelahnya.
Kirana Putri yang baru saja lulus dari pendidikannya, harus merelakan mimpinya dan menikah dengan seseorang yang belum pernah ia temui sebelumnya. Lelaki penyayang, lembut dan setia, tentu saja bukan. Ia menikah dengan orang yang terlihat begitu membencinya, bahkan ia bukanlah wanita satu-satunya bagi suaminya. Mampu kah ia bertahan dalam kehidupan rumah tangga seperti itu? Atau justru ia akan menyerah dan kembali mengejar mimpinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raisya_BC, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Percaya
Rei datang dengan ekspresi yang belum pernah Ran lihat sebelumnya, Rei sangat marah.
"Ran, kamu apa-apaan sih?!" Bentak Rei.
".. A-aku ga tau..." Balas Ran, tanpa ia sadari tangannya gemetar.
"Ini terus kenapa?! Saya tadi liat ya! Kamu mukul Nadine! Kenapa sih?!" Tanya Rei dengan suara yang kian meninggi.
"Huhuhuhuhu... Aku tadi cuma mau mampir, tapi malah dipukulin, dikata-katain.. Huhuhuhuhu" Ucap Nadine sambil menangis tersedu-sedu.
".. Saya ga nyangka sama kamu, padahal saya udah mulai percaya sama kamu. Saya pikir kamu perempuan baik!" Cecar Rei seketika membuat jantung Ran rasanya mencelos.
"Ga gitu... Aku ga ngapa-ngapain!" Sergah Ran namun tetap saja, Rei tak mempercayainya.
"Ini terus kenapa?! Ga mungkin kan dia mukulin dirinya sendiri?!"
"Mas aku berani sumpah, aku ga ngapa-ngapain. Dia tiba-tiba datang dan narik tangan aku, aku ga ngapa-ngapain, beneran!" Jelas Ran.
"Bohong!! Ga gitu yank, dia memutar balikkan fakta!" Timpal Nadine. Dan tentu saja, Rei lebih mempercayai omongannya.
"Mba!!" Tegur Ran.
"Sudah!! Ayo Dine" Rei menarik tangan Nadine dan pergi dengan mobilnya yang terparkir di depan rumah. Ran menatap mobil Rei yang kini sudah menghilang dari penglihatan. Ia masuk ke dalam rumah dan terduduk di lantai, ia menutup mulutnya agar suara isak tangis tak terdengar.
Ran mengangkat kepalanya ketika merasakan ada tangan kecil di pundaknya, ia segera menengok dan menghapus air matanya.
"Kakak kenapa? Kok nangis? Tadi ada apa?"
Tanya Keli sambil mengucek matanya, sepertinya anak kecil itu baru bangun tidur.
"Hm? Ga ada apa-apa kok. Kamu kok bangun?" Tanya Ran dengan suara yang masih bergetar.
"Kebangun tadi"
"Bobo lagi yu? Masih jam segini loh" Ajak Ran. Ia tersenyum seraya merapikan rambut adiknya yang berantakan.
"Engga mau. Kakak kenapa nangis?" Bergantian, kini Keli yang mengusap kepala kakaknya. Membuat Ran semakin ingin menangis.
"Engga kok, ga papa"
"Yang benel, kakak kenapa?" Tanya Keli yakin, kalau terjadi sesuatu pada kakaknya.
"..Hiks... Itu loh, tadi ada pengemis, udah tua... Kakak kasian liatnya, jadi nangis deh, hehe" Jawab Ran seraya menyengir pada Keli, namun air mata sudah mulai kembali mengalir. Ia tidak dapat menahan air matanya kali ini, air mata terus membanjiri wajahnya. Rasanya hatinya benar-benar sakit.
"Udah dooong masa nangis telus, kayak anak kecil" Keli mengusap pipi Ran yang basah oleh air mata.
"... Iya iyaaa... Kakak nangis sebentar deh ya?... Hari ini aja kok..." Rengek Ran
"Kakak kenapa sih? Sini puk-puk sama Keli" Keli memeluk Ran, membuat air matanya tak terbendung, ia semakin terisak.
"Ututuuu... Pengemisnya pasti sehat-sehat kok kak, nanti pengemisnya makan" Ran mengangguk kemudian mengusap punggung Keli dan memeluknya erat.
"Kok kakak jadi cengeng sih? Ga boleh nangis kayak gitu, jadi jelek" Ucap Keli membuat Ran menyengir.
"..Emang jelek, hehe"
"Hah?! Siapa yang bilang kakak jelek?! Sini! Bawa sini!" Ucap anak itu emosi.
"Hahahaha ga boleh gitu ah... Ga boleh loh ya berantem-berantem"
"Kalau udah besal boleh?" Tanya Keli membayangkan.
"Ga boleh kalau bukan buat melindungi orang"
"Siap! Kalau ada yang ganggu kakak, bilang ya? Nanti Keli hajal" Ucap Keli seraya mengepalkan tangannya dan mengangkatnya ke udara, membuat Ran tertawa.
"Dasar~" Ran mengusap kepala Keli. Ia bersyukur ada Keli di sampingnya. Ia tidak merasa sendiri.
***
"Sini sini, duduk dulu" Rei dan Nadine berhenti di sebuah taman. Rei membeli air dan memberikannya pada Nadine. "Minum dulu"
"..Makasih yank"
"Aku ga nyangka, Ran bisa begitu..." Ucap Rei tak habis pikir, ada rasa kecewa di hatinya.
"Iya, kan?! Dia itu bukan orang baik! Aku niatnya baik kok, malah di jahatin!" Gerutu Nadine.
"..Maaf ya.. Yaudah sini, aku liat. Minta airnya dikit, aku bawa kapas kok"
"Hah?! Eh? Ga usahlah" Larang Nadine yang nampak panik.
"Loh kenapa? Kan cuma liat aja, sini"
"Aduuh"
Rei membasahi kapas dengan sedikit air kemudian dengan lembut mengelap wajah Nadine. Saat ia mengelap lukanya dan memar di wajah Nadine, perlahan memar itu menghilang.
"Hm? Ini darah? Atau luka yang berair?" Tebak Rei yang masih membersihkan wajah Nadine.
"..Euh..."
"Sakit?" Namun saat Rei mencoba mengelapnya kembali, luka itu menghilang. Benar-benar menghilang sampai bersih. "..Dine? Kok hilang?" Tanya Rei dengan suara serius.
"Um..."
"Kenapa ga jawab? Ini apa? Make up?" Tebak Rei.
"Anu.. Itu..."
"Jawab!!!" Bentak Rei seraya melempar kapas di tangannya pada Nadine.
"I-iya! Itu make up!"
"Astaga... Jadi ini bohongan?!" Tanya Rei tak habis pikir.
"Ya abis, kamu berubah sih... Selalu nolak ajakan aku, udah cuek. Siapa tau dengan begini istri kamu kan yang minta pisah?" Ucap Nadine lalu tersenyum simpul membuat Rei menggelengkan kepala tak percaya.
"Kamu kelewatan! Kamu ga seharusnya begini!!" Bentak Rei.
"Kamu plin-plan sih!" Nadine bersekap dada dan menatap lelaki itu kesal.
"Oke! Kamu kemarin nanya kan, siapa yang aku pilih?"
"Oh kamu udah nentuin? Pasti aku, kan? Aku kan lebih cantik dari istri kamu" Ucap Nadine bangga seraya mengibaskan rambutnya.
"Sebaliknya"
"Hm?"
"Hubungan kita sampai di sini aja Dine, istri saya orang baik. Maaf" Rei bangkit dari bangku taman dan beranjak dari sana.
"Apa-apaan?! Aku udah ngelakuin apapun loh buat kamu, kamu malah ninggalin aku?!" Nadine ikut berdiri dan menarik tangan Rei, membuat lelaki itu kembali menatapnya.
"Maaf, tapi hubungan kita ini memang salah sekarang" Rei melepaskan genggaman tangan Nadine darinya.
"Halah! Bilang aja kamu udah suka sama istri kamu iya, kan?! Kamu udah bosen sama aku makanya kamu pilih dia!" Cecar Nadine.
"Udah cukup! Terimakasih selama ini, tapi maaf, kita sampai di sini aja" Rei melanjutkan langkahnya.
"Rei tunggu!!" Tak menanggapi, Rei tetap melanjutkan langkahnya menuju mobil.
"Rei!!!"
Ia menancap gas dan buru-buru pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Rei memarkirkan mobilnya di garasi dan segera berlari ke dalam rumah. Ketika ia hendak membuka pintu, ia diam sebentar ketika pintu terkunci.
"Ran! Buka pintunya! Saya pulang! Keli!" Berulang kali ia memanggil Ran dan Keli, namun tak ada tanda-tanda pintu akan terbuka.
Ia mengambil kunci cadangan yang biasa ia bawa, lalu membuka pintu. Ketika pintu terbuka, rasanya kosong, tidak terlihat siapapun disana. Ia pergi ke dapur, kamar, sampai belakang rumah, namun tak menemukan siapa-siapa.
Ia menekan nomor di ponselnya dan menelpon Ran, namun tak mendapat jawaban. Ia mulai frustasi. Ia berjongkok di lantai dan menangis.
"Kemanaa? Kalian kemana?!" Batin Rei yang tengah menangis sesenggukan.
si ratu drama nadine minta di baigon nie
pengen ku bunuh dua orang itu😭👍
Cuss bacaa jan lupa tinglkan jejaakk🤗
tkn prfil q aja yaa😍
vielen danke😘