[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [21]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Datangnya masa lalu akan menjadi ujian untuk menghadapi kejamnya orang ketiga. ...
...-Celine Celina-...
Setelah kejadian malam itu Zhein dan Iris belum memberitahukan yang lain tentang hubungannya.
Dan saat ini Iris sudah pulang ke rumahnya sedang berada di kamarnya bersama dengan Celine, sedangkan Sherin sibuk dengan Haiden yang akan pulang saat ini.
"Gimana? Udah jadi Ris?" tanya Celine.
"Gak tau, lo sih buat rencana tapi setengah-setengah." jawab Iris.
"Ya maaf, gue kan mentok mau cari ide gimana," ucap Celine.
"Gue gak bakalan lagi percaya sama ide lo yang setengah-setengah," ujar Iris.
"Iya deh nanti gak bakalan setengah-setengah," ucap Celine.
"Gimana keadaan Haiden?" tanya Iris.
"Sekarang udah pulih dan boleh pulang," jawab Celine.
"Syukur deh kalau gitu," ucap Iris.
"Ih dari tadi gue nanya tentang hubungan lo sama Zhein gimana?" tanya Celine.
"Ya gini aja," jawab Iris.
"Gimana?" tanya Celine.
"Ya gini-gini aja, mau lo gimana?" tanya Iris.
"Mau gue tuh lo jadi pacar Zhein," jawab Celine.
"Kenapa harus gue gak yang lain?" tanya Iris.
"Karna gue percaya kalau Zhein cuman nurut sama lo, dia bisa lakuin apapun demi liat lo bahagia, dia juga gak bakalan ninggalin lo pas lagi sayang-sayangnya," jawab Celine.
"Sepercaya itu lo sama Zhein?" tanya Iris.
"Karna gue tau Zhein itu kayak gimana," jawab Celine.
"Gitu ya," ucap Iris.
Drt.. Drt.. Drt..
Ditengah-tenagah perbincangan antara Iris dan Celine tiba-tiba saja dering ponsel milik Celine berbunyi.
"Siapa?" tanya Iris yang melihat Celine sedang membaca nama yang tertera di layar ponselnya.
"Sherin," jawab Celine.
"Angkat aja, siapa tau dia lagi butuh lo," ucap Iris.
"Males, mending gue tanyain tentang hubungan lo sama Zhein," ujar Celine yang sedang menaik turun kan alisnya.
"Gak ada bosen-bosen nya lo nanyain itu ke gue? kenapa lo gak tanya aja sama Zhein?" tanya Iris.
"Mau gue sih gitu, tapi lo tau sendiri kan kalau Zhein lagi marah sama gue," jawab Celine.
Drt.. Drt.. Drt..
Ponsel milik Celine kembali bergetar.
"Angkat aja Lin, siapa tau Sherin emang lagi butuh bantuan lo," ucap Iris yang melihat nama Sherin tertera di layar ponsel Celine.
"Males Ris," ujar Celine.
"Lin, siapa lagi kalau bukan lo? siapa tau kan Sherin gak berani minta bantuan gue karena gue baru pulang dari rumah sakit," ucap Iris.
"Iya juga sih," ujar Celine yang langsung mengangkat telpon itu.
Di telpon
Ya ampun Lin lo kenapa gak angkat telepon gue!
Bisa turunin suara lo gak? kuping gue bisa budeg.
Iya deh maaf.
Kenapa lo nelpon gue?
Gue mau cerita.
Cerita apa?
Lo tau gak?
Gak tau karena lo belum ngasih tau gue.
Ish, Lin dengerin gue.
Iya oke gue dengerin lo.
Lo tau Revan?
Revan?
Iris yang mendengar nama Revan di sebut langsung melotot kan matanya, jantungnya seolah berpacu lebih cepat, entah kenapa tapi dirinya merasa takut saat nama itu di sebut.
Revan. ucap Iris dalam hati.
Iris tidak mendengar percakapan antara Celine dan Sherin yang sedang membahas Revan, dirinya merasa bahwa akan ada sesuatu yang terjadi dan itu bukanlah hal yang baik.
Revan, kenapa lo harus dateng di waktu yang gak tepat? tanya Iris dalam hati.
Disaat gue suka sama kehadiran lo kenapa lo harus pergi? dan kenapa juga di saat gue benci kehadiran lo, lo malah dateng. ucap Iris dalam hati.
"Gue ke balkon dulu ya," ucap Iris kepada Celine yang sedang mendengar curhatan Sherin tentang Revan. Sedangkan Celine hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
Iris melangkahkan kakinya ke arah balkon kamarnya, menatap indahnya langit sore berwarna jingga. Iris bukan penyuka senja namun dirinya selalu di tarik untuk melihat senja.
"Zhein," gumam Iris sambil menatap ke arah indahnya langit berwarna jingga itu.
Drt.. Drt.. Drt..
Tak lama dari panggilan nama Zhein di mulut Iris membuat ponsel dalam genggamannya bergetar menandakan ada seseorang yang menelponnya.
...Di telpon....
Halo.
Langit senjanya gak lebih cantik dari wajah lo.
Apaan sih Zhein. Lo lagi liat langit nya juga?
Iya dan gak lama dari itu gue ngerasa kalau lo manggil nama gue, jadi gue telpon lo.
Gue emang manggil nama lo Zhein, lo adalah obat rasa takut gue. ujar Iris dalam. hati dengan senyuman manisnya.
Senjanya bahkan kalah sama senyuman lo.
Kok lo tau apa yang gue lakuin sih Zhein?
Gue bakalan selalu tau apa yang di lakuin sama lo.
Terserah lo, btw lo lagi sibuk gak?
Ga, kenapa?
Gue mau keluar, lo mau nemenin gue gak?
Lo kan masih sakit, biar gue aja yang kesana.
Tut.
Zhein mematikan telponnya secara sepihak tanpa menunggu jawaban dari Iris. Sedangkan Iris melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar melihat Celine yang sudah bersiap-siap untuk pergi.
"Mau kemana lin?" tanya Iris.
"Ken ngajak gue jalan," jawab Celine.
"Terus Sherin gimana?" tanya Iris.
"Ya gitu deh, pembahasannya selalu tentang cowok," jawab Celine.
"Gue pergi dulu ya bye," pamit Celine terburu-buru.
"Hati-hati Lin," ucap Iris.
"Iya." sahut Celine yang kini sudah hilang dari pandangan Iris.
Revan. Gue harap lo gak pernah dateng lagi di kehidupan gue. ucap Iris dalam hati.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗