Dominic Salvatore, Don Cosa Nostra sekaligus CEO miliarder, tidak punya hati, tidak punya belas kasihan, dan sebentar lagi tidak punya pewaris. Kanker merenggut kesuburannya, dan satu-satunya harapan Famiglia tergantung pada sperma beku di sebuah klinik. Yang dia butuhkan hanya seorang istri. Cantik, serakah, dan cukup kejam untuk bertahan di sisinya.
Pilihannya jatuh pada Isabela Smith, resepsionis hotel berambut merah yang pandai menjual senyum, sekaligus kakak yang diam-diam menyiksa adik perempuannya sendiri.
Ane Smith tidak pernah punya hidup seperti gadis biasa. Dia bekerja, belajar, menunduk, dan menerima semua pukulan dengan satu keyakinan: kakaknya melakukan semua itu demi kebaikannya. Sampai suatu hari dia salah membuka pintu kamar mandi di suite presidensial milik pria paling berbahaya di Manhattan.
Pernikahan kilat, kamar tidur terpisah, aturan yang tak boleh dilanggar, dan sebuah pemeriksaan kandungan yang seharusnya tidak pernah dijalani orang yang salah. Satu kesalahan kecil, satu rahasia yang tak boleh bocor, dan seorang bayi yang tak seorang pun rencanakan.
Di dunia Dominic, kesetiaan dibayar dengan nyawa, dan kebenaran selalu datang terlambat. Tetapi ada pria lain di seberang perbatasan, dengan kartel, senyum hangat, dan luka yang tak kalah dalam, yang menatap Ane seperti dia seorang ratu.
Siapa yang berhak atas bayi ini? Siapa yang berhak atas Ane? Dan berapa harga yang harus dibayar seseorang untuk lepas dari monster yang pernah dia kira cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 - Perbandingan
Dominic Salvatore
Kuamati Ane duduk di tepi kolam renang sambil menimbang apakah sebaiknya kutanya kenapa dia selalu begitu. Tidak, bukan urusanku mencari tahu hal-hal sialan apa yang ada di kepala seorang remaja.
"Selamat pagi, Tuan Salvatore." Katanya sambil menatapku dengan sedih.
Aku tidak menjawab. Kuamati dia beberapa detik lagi, dan dia seperti berusaha menebak pikiranku dengan tatapan lembut.
"Apa Tuan berhasil?"
"Berhasil...?"
"Soal sekolahnya, Tuan Salvatore."
"Belum ada kabar, jangan khawatir. Aku tahu aku akan menemukan yang cocok. Permisi."
Dia mengangguk dan aku masuk ke mansion.
Sial. Kenapa tadi aku bersikap sopan padanya? Aku tidak melakukan hal sialan itu untuk siapa pun. Ini membuatku kesal.
Aku melihat sekeliling begitu kakiku menginjak ruang tamu. Kucari Isabela di setiap ruangan, tapi lagi-lagi tak kutemukan. Perempuan itu suka menguji batas kesabaranku. Apa sih yang dia kerjakan sampai sering menghilang?
Aku berjalan di lorong rumah ketika bertemu Nona Ane menuju kamarnya. "Berhenti!"
Dia sepatuh yang kuharapkan dari kakaknya. Mungkin kalau dia secantik kakaknya, aku bisa saja menikahinya.
Dia berbalik padaku, dan kulihat dia gemetar.
"Di mana kakakmu?"
"Sa-saya tidak tahu. Saya lihat dia sangat kesal waktu Tuan pergi semalam dan..."
"Maksudmu dia keluar rumah semalam dan belum pulang?" Kuangkat alis, dan aku tahu dia paham betul kekesalanku.
Kuperhatikan dadanya naik-turun hebat. Dia tidak tahu harus berkata apa, atau dia tidak akan bereaksi begitu.
"Sa-saya tidak bilang begitu." Dia tampak makin gugup dan gemetar.
Kuhampiri dia dan kurasakan tubuhnya bergidik saat kusentuh wajahnya. Kulitnya mengejutkan lembutnya untuk gadis seperti dia. "Tidak perlu, Kecil. Kau sangat transparan..."
"Jangan panggil aku kecil." Tapi dia tetap mendongak, nyaris melengkungkan lehernya sepenuhnya hanya untuk menatapku.
Ini pertama kalinya aku melihat amarah di wajahnya dan sungguh luar biasa. Meski jelek, dia tampak lebih polos lagi saat merasakan emosi seperti itu.
"Aku akan memanggilmu apa pun yang kumau, KECIL."
Dia menunduk, makin tampak terganggu. Sepertinya dia yakin tak akan menang berdebat denganku. Kuambil ponsel dari saku dan kutelepon Fabrizio.
"Lacak istriku sekarang juga. Cari tahu ke mana dia pergi dan dengan siapa dia bergaul beberapa bulan terakhir."
"Baik, Bos. Soal sekolahnya, aku sudah dapat satu dari Famiglia yang tampaknya sangat bagus."
"Intensif?"
"Dengan semua syarat yang Anda sebut. Dia bisa menyelesaikan sekolahnya dalam satu tahun. Tapi itu sekolah asrama. Dia bisa mulai dua bulan lagi."
"Kenapa dua bulan?"
"Sekarang liburan, dia bisa dimasukkan, tapi hanya untuk penitipan, kelasnya belum mulai."
"Baik, daftarkan. Dokumennya akan kuurus dengan Isabela, yaitu kalau aku membiarkannya hidup..."
Fabrizio tertawa. "Dia bukan yang pertama kaubunuh. Mau kaulakukan itu pada semuanya?"
"Sampai kutemukan yang pas..."
"Kalau kau terus membunuh istri-istrimu, kau tak akan pernah punya pewaris. Bukankah lebih baik punya dulu sebelum membunuh mereka?"
Aku terdiam sejenak. Demi keamanan Cosa Nostra, aku harus punya anak secepatnya, tapi memberi tahu Isabela bahwa aku tidak bisa punya anak secara alami adalah bukti kelemahan. "Aku belum memikirkan bagaimana melakukannya tanpa dia tahu itu tidak alami. Sampai sekarang aku menyalahkannya atas lambatnya lahir pewaris."
"Jangan katakan apa-apa, suruh dokter melakukan inseminasi tanpa sepengetahuannya."
"Ide bagus, Consigliere." Kuangkat gelas minuman untuknya. "Urus itu."
"Siap, Bos!" Katanya mengejek sambil menenggak seteguk wiski.
...***...
Aku pulang dan menemukan Isabela memamerkan diri seperti pelacur pada anak buahku di kolam renang. Dia mengobrol dengan adiknya yang duduk di tepi kolam. Perbedaan keduanya sangat besar, bukan hanya penampilan, tapi seakan mereka lahir dari orangtua berbeda. Yang satu sopan, cerdas, dan pemalu, yang lain vulgar, dangkal, dan sangat menggairahkan. Kalau Ane cantik, dia pasti sempurna untuk dinikahi seorang bos sepertiku.
"Keluar sekarang juga!" Kuperintahkan sambil mendekat, menatap tajam ke bawah.
Anak buahku tak berani lagi meliriknya. Mereka tampak takut apa yang akan kulakukan pada mereka nanti. Mereka tahu penghinaan semacam ini tak ada ampun bagiku.
"Tapi aku tidak melakukan hal salah."
"Itu aku yang menentukan. Tutup mulut dan keluar dari sana sebelum aku turun menarikmu. Dan sayang, kau tidak akan suka itu..."
Isabela keluar dan membalut tubuhnya dengan handuk pemberian adiknya, yang kini berdiri menatapku. Kutatap Ane balik dan dia langsung menunduk berusaha menghindariku. Aku tersenyum miring dan mencengkeram lengan Isabela, menyeretnya masuk ke mansion.
"Kau akan belajar untuk tidak menghilang dari pengawasanku!"