SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Galangan kapal &?
BAB 21: "GALANGAN KAPAL & BADAI PERTAMA"
Malam tanpa bintang menyelimuti kawasan galangan kapal tua di pesisir utara. Hujan gerimis yang membasahi lantai beton berdebu menciptakan aroma tanah basah dan karat yang pekat. Di antara tumpukan kontainer raksasa yang tersusun menyerupai labirin, suasana begitu hening—sejenis keheningan mencekam sebelum badai besar meletus.
SREK... SREK...
Suara derap langkah kaki berirama konstan memecah kegelapan. Puluhan personel taktis Vanguard Holdings berpakaian serba hitam dengan rompi antipeluru dan helm tempur bergerak sistematis. Mereka maju dalam formasi siluet, memegang senjata otomatis rakitan dengan peneropong laser merah yang membelah kabut malam.
"Sektor A bersih. Sektor B bersih," bisik pimpinan komando melalui earpiece. "Target belum terlihat. Tetap siaga."
Tiba-tiba, dari atas salah satu tumpukan kontainer setinggi sepuluh meter, sebuah bayangan melompat turun dengan kecepatan luar biasa!
BAM!
Aira mendarat tepat di bahu pimpinan komando musuh, menghantamkan lututnya ke rahang pria itu hingga helmnya terlempar dan tubuhnya ambruk menghantam beton! Tanpa memberi kesempatan pada personel lain untuk bereaksi,
Aira berguling lincah, memutar pisau taktis di jemarinya, lalu menyabet kabel transmisi komunikasi di dada dua tentara bayaran di depannya.
"Selamat datang di arena main gue, Bapa-Bapak!" seru Aira dengan senyuman savage yang memprovokasi.
"SERANG! TANGKAP CEWEK ITU!" raung salah satu komandan lapangan.
Sinar laser merah langsung terkunci pada tubuh Aira, namun sebelum pelatuk sempat ditarik—
VROOOMMM! BZZZZT!
Raungan mesin puluhan motor sport geng Averus mendadak membumbung tinggi dari segala penjuru labirin kontainer! Lampu tembak jarak jauh berkekuatan ribuan watt menyala bersamaan dari atas kontainer, memancarkan cahaya putih membutakan yang langsung memutus pandangan para tentara Vanguard.
"SEKARANG!" teriak suara berat Langit menggema melalui pengeras suara area galangan.
Ratusan anggota Averus melompat turun dari atas tumpukan kontainer bagaikan hujan prajurit! Pertempuran jarak dekat (close-quarter combat) meletus secara masif. Keunggulan senjata jarak jauh Vanguard mendadak lumpuh total karena jarak tembak terhalang oleh tumpukan besi dan kabut cahaya lampu.
Langit menerobos masuk ke tengah barisan musuh bagaikan monster tak terkendali. Jaket taktis hitamnya berkibar saat tangan kosongnya menghantam dada musuh, mematahkan pertahanan rompi antipeluru lawan dengan kekuatan murni. Setiap pukulan dan tendangan Langit mendarat telak, merobohkan personel Vanguard satu per satu tanpa ampun.
TRANGGG!
Aira menangkis ayunan sangkur musuh menggunakan pisau taktisnya, memutar pergelangan tangan lawan hingga pisaunya terlepas, lalu melayangkan tendangan memutar (spin kick) yang menghantam pelipis musuh hingga pingsan seketika.
"Langit! Sektor Barat udah bersih!" teriak Aira seraya berdiri berdampingan dengan Langit di tengah kepulan asap flare merah.
Langit menyapu noda darah di pipinya dengan punggung tangan, menatap sekeliling. Puluhan tentara bayaran Vanguard sudah tergeletak tak berdaya di lantai beton, namun mata tajam
Langit menyadari ada yang salah.
"Ini terlalu gampang," bisik Langit, dadanya naik turun mengatur napas. "Bramantara gak mungkin cuma ngirim personel kelas semenjana begini."
TEK.
Sebuah titik merah dari sinar peneropong penembak jitu (sniper) mendadak muncul dan terkunci tepat di dada sebelah kiri Aira.
Insting bertarung Aira dan Langit berteriak bersamaan!
"SHENA, TUREP!" teriak Langit histeris.
DORRR!
Suara tembakan berkaliber besar bergema membelah malam dari atas menara krane tua!
Langit menerjang tubuh Aira, membawanya berguling ke balik kontainer besi tebal tepat saat peluru tajam itu menghantam lantai beton—menciptakan lubang ledakan kecil dan percikan api mematikan!
DORRR! DORRR!
Dua tembakan susulan menghantam dinding kontainer di atas kepala mereka, menyemprotkan percikan besi panas.
Aira menahan napasnya, punggungnya menempel pada dinding besi kontainer yang dingin. "Anjir... penembak jitu berkaliber berat! Dia ada di atas menara krane jam satu!"
Langit mencengkeram bahu Aira rapat-rapt, matanya memancarkan rasa panik dan amarah yang belum pernah terlihat sebelumnya. "Lu tetap di sini, Shena! Jangan keluar dari balik kontainer ini!"
"Gak! Gue ikut lu ke atas!" bantah Aira cepat.
"DIEM!" bentak Langit dengan suara serak yang tegas. "Penembak jitu itu ngincar lu! Bramantara mau lu hidup-hidup atau cacat! Gue gak akan biarin peluru itu nyentuh kulit lu lagi!"
Aira tertegun melihat kilatan ketakutan di mata Langit—bukan takut akan kematian dirinya sendiri, melainkan takut kehilangan Aira.
Sebelum Aira sempat membalas, Langit sudah bergerak melesat keluar dari zona aman dengan kecepatan tinggi, memancing perhatian sniper di atas menara agar titik merah laser berpindah mengejar dirinya.
DORRR!
Peluru menghantam tanah beberapa senti di belakang kaki Langit, namun cowok itu terus berlari menaiki tangga besi menara krane dengan mata menyala penuh kesetanan.
Aira mengepalkan tangannya rapat di dalam saku kargo, menyunggingkan senyum savage bercampur kekesalan. "Bisa-bisanya si Kanebo Kering bentak gue..."
Aira menarik pisau lipat cadangannya dari balik sepatu boots, lalu melirik ke arah jalur pipa bawah tanah yang terhubung langsung ke kaki menara krane.
"Lu pikir gue bakal diam aja duduk manis kayak putri raja?" gumam Aira dingin. "Tunggu gue di atas, Langit!"
Aira melompat masuk ke dalam celah lorong pipa gelap, merayap cepat untuk memotong jalur dan mengepung sang penembak jitu dari arah belakang!
see you next bab 22
jangan lupa like dan komen jika suka cerita ini
dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?