NovelToon NovelToon
Takdir Sang Ophelia

Takdir Sang Ophelia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:502
Nilai: 5
Nama Author: Ashe Lepidoptera

Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.

Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.

Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.

Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

—Beberapa saat sebelumnya...

Chelsea tidak tahu harus tertawa atau menangis sekarang. 

Aidoneus Mahawirya. Pewaris utama dari keluarga yang selalu berada di puncak sosialita itu mengajaknya berdansa. 

Biasanya alasan kebanyakan orang mengajak begini jika bukan karena tertarik, berarti ada sesuatu yang ingin mereka sampaikan secara pribadi. 

Chelsea yakin Aidoneus mengajaknya karena alasan kedua. 

Apa ini bersangkutan dengan keluarganya? Apa dia sempat melakukan hal yang membuat mereka kesal? 

Apa ayahnya, melakukan sesuatu?

“Maaf karena tiba-tiba mengajak begini,” pria itu mulai bicara. “Jika bukan aku, siapa yang akan kamu pilih?” 

Chelsea menjawab dengan tenang. “Mungkin, seseorang dari keluarga Aerion?” 

Aidoneus mengangkat alis. “Si penjilat itu? Keputusan yang tepat aku mengajakmu berarti. Niatnya aku tidak mau berdansa sama sekali, tapi tiba-tiba terjadi sesuatu.” 

Chelsea menelan ludahnya, mencoba agar terus terlihat tenang ketika tempo lagu mereka semakin cepat. 

Serius, apa yang dia mau?

Chelsea mencoba untuk menerka dari ekspresi pria itu, tapi dia hanya tersenyum tipis seolah—tunggu. 

Gadis itu menatap bibir Aidoneus sembari menyipitkan mata. Apa dia memakai lipstik? Tidak, sekalipun sengaja memakai tidak akan seberantakan itu. Ia terlihat seperti seseorang yang baru... dicium.

Gerakan Chelsea langsung berubah kaku. 

“Ada apa? Tempo lagunya terlalu cepat?” tanya pria itu santai. Dia mendekatkan wajahnya pada telinga Chelsea. “Atau kamu sadar sesuatu?” 

Kenapa bisa—?!

Aidoneus kembali memimpin dansa mereka, memutar dan mengayunkan tubuh Chelsea dengan mudahnya. “Adik angkatmu itu memang agak sesuatu ya? Ini adalah kali pertama ada yang memperlakukanku begini.” 

Chelsea menggigit bibir kemudian menunduk sedikit ketika dansanya akan selesai. 

“Katakan padanya aku memberi salam.” 

Chelsea menatap adiknya yang malah terlihat kesal sekarang. 

“Bekas lipstiknya ya?” gumam Ophelia. “Kalau dia menghapusnya ini tidak akan terjadi.” 

Anak ini!

Chelsea agak panik dan mengguncang kedua bahu adiknya. “Bukan itu masalahnya! Ada alasan kenapa Ayah menyuruh kita untuk mendekati Kaiser dan bukan dia. Aidoneus itu bukan seseorang yang bisa didekati begitu saja, dia tidak bisa ditebak dan posisinya sebagai pewaris utama dapat menghancurkan keluarga kita jika dia mau!”

Ophelia mengedipkan mata. 

“Yah, bukan berarti aku membuat dia marah ‘kan ya? Yang kulakukan cuma mencium, aku tidak mengajaknya berkelahi atau sesuatu,” ujarnya. 

Chelsea ingin meremas otak Ophelia agar dia sadar. Kenapa di situasi yang melibatkan pria begini dia malah terlihat tidak tau apa-apa? 

“Aku ‘nyerah,” gumamnya. “Kamu beneran nggak peka kalau soal beginian.” 

Ophelia terlihat tidak terima dengan perkataan itu. 

...****************...

Minta maaf. 

Chelsea menyuruh—tidak, memaksanya untuk minta maaf pada Aidoneus secara empat mata dan menjelaskan kalau Ophelia benar-benar menyesal melakukan itu lalu pergi begitu saja. 

Kenapa? 

Padahal dia hanya menempelkan bibirnya sebentar, kenapa masalahnya jadi sebesar ini? 

“Lia, kakiku sakit.” Airin yang ada di sebelahnya mengeluh. “Aku nggak suka pakai heels tinggi begini, tapi kalau nggak kupakai tinggi badanku sama Kaiser bakal keliatan jauh banget.” 

Ophelia menatap temannya. 

“Kamu sama Kaiser udah pernah ciuman? Di bibir maksudku.” 

Gadis itu langsung memerah. “Yah, kalau soal itu mesti ditunggu setidaknya sampai kami benar-benar bertunangan ‘kan ya? Atau setidaknya sampai ada janji pernikahan. Itu—hal begitu terlalu serius jika dilakukan sekarang.” 

Jadi memang bukan sesuatu yang biasa?

“Kenapa?” tanya Ophelia. “Itu cuma menempelkan bibir. Apa spesialnya?” 

“Kalau di pandangan keluarga lain memang biasa, tapi bagi Kaiser—terutama keluarga Mahawirya, mencium seseorang di bibir itu adalah bentuk sakral yang setara dengan lamaran pernikahan.”

Ophelia mematung. 

“Makanya aku cuma berani mengecup pipinya sampai sekarang, itu terlalu serius untuk kami yang masih sekolah,” gumam Airin pelan sembari menyembunyikan wajahnya. 

Ophelia menaruh tangannya di dagu. Mengingat kalau Aidoneus bercumbu dengan Ibu angkatnya di masa lalu, sepertinya dia bukan tipe yang terlalu mementingkan tradisi itu. 

Atau dulu mereka memang berencana menikah?

Itu tidak menjawab pertanyaan kenapa selingkuhan Ibunya berubah sih. 

“Tapi, kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu?” tanya Airin. “Ada sesuatu?” 

Ophelia menggeleng. “Aku cuma penasaran aja. Kalian deket banget habisnya.” 

Airin terlihat tidak percaya. Gadis yang tetap lebih pendek darinya—walau sudah memakai heels tinggi itu kemudian bertanya. 

“Kamu udah pernah ciuman?” 

“Pernah.” 

“Wah, serius?” Airin terlihat sumringah. “Kamu pernah punya pacar berarti?” 

“Nggak. Aku hampir nggak ada waktu buat pacaran.”

“Oh.” Airin terlihat kecewa. “Ciuman itu rasanya gimana?”

Ophelia menatap temannya sebentar kemudian mengangkat dua jarinya. “Tempelkan saja dua jarimu di bibir, rasanya seperti itu.” 

“Maksudku, perasaanmu waktu itu gimana? Berbunga-bunga atau canggung gitu?” 

“...biasa aja?” Ophelia memiringkan kepala. “Memangnya aku harus merasa gimana?” 

Airin menatap temannya dengan tatapan tidak percaya. 

“Kayaknya kamu emang nggak ketolong kalau soal romansa ya?” ringisnya. “Padahal otakmu pinter banget lho kalau soal pelajaran.”

Ophelia tidak terima. Kenapa semua orang mengatakan itu padanya? 

Pengumuman kembali terdengar, seseorang di depan sana menjelaskan tentang sebuah... permainan?

“Oh, ini perburuan harta yang disebut Kak Aiden.”

“Perburuan harta?” 

“Kamu tau ‘kan ya ini kali pertama mansion Mahawirya dibuka untuk umum?” ujar Airin. “Jadi konsepnya seperti open house tapi para tamu yang berpartisipasi harus mencari sesuatu. Benda itu akan menjadi milik orang pertama yang menemukannya lho.” 

Hm. 

“Pasti sesuatu yang antik atau semacamnya,” tebak Ophelia. 

Airin mengangguk. “Clue-nya akan disebar di sepanjang permainan. Jadi siapa cepat dia dapat.” 

Crazy rich melakukan hal seperti ini juga ternyata. Mereka tidak takut kalau ada yang mencuri atau merusak sesuatu? Ophelia ‘ngantuk sih, kalau ikutan mungkin dia akan mencari ruangan yang kosong terus tidur di sana.

“Oh.” Airin melirik ke kiri dan kanan sebelum berjinjit dan membisikkan sesuatu pada Ophelia. “Bendanya sebuah lukisan.” 

“Emangnya nggak apa-apa kamu kasih spoiler begini?” 

“Aku pengen kamu yang dapet,” senyum gadis itu. 

Setelah mereka berkumpul, Ophelia baru sadar kalau yang berpartisipasi dalam perburuan harta ini ternyata hanya anak muda atau mereka yang belum memiliki keluarga. Para orang tua terlihat lebih suka berbincang atau menyesap wine. 

Kalau bisa ia juga tidak mau ikutan, berjalan keliling dengan heels begini pasti membuat kakinya sakit. 

Diizinkan tidak ya? Lagipula kalau cuma lukisan sepertinya Randi tidak terlalu berminat—

“Ayah bilang salah satu dari kita mesti memenangkan hadiah itu,” ujar Chelsea ketika kembali ke sebelahnya. “Katanya itu bagus buat meningkatkan pamor.”

Dasar maniak reputasi sialan.

“Masuknya sendiri-sendiri, jangan sampai kesasar lho ya.” 

Ophelia memutar mata. “Aku bakalan cari kamar yang kosong terus tidur di sana.” 

“Jangan gitu!”

Layar di depan terlihat menyala. Tulisan clue pertama terpampang jelas dengan gambar setangkai mawar merah muda di bawahnya.

Ophelia hanya menatap layar itu dengan tatapan datar. 

Dengan spoiler yang diberi Airin, bukannya ini terlalu mudah? 

1
aku
🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!