NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:415
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia di Balik Pintu

“Klik—”

Pintu kamar tertutup rapat.

Silvia menatap pintu yang telah tertutup rapat itu. Kedua tangannya terkulai lemas di sisi tubuhnya. Ia bersandar tak berdaya pada dinding, pikirannya terus dipenuhi oleh ekspresi Nelia yang murung sepanjang perjalanan pulang tadi, juga jalanan yang terasa begitu sunyi sampai tidak normal.

“Maaf, Nelia. Sungguh, maaf…Aku tidak bisa melibatkanmu dalam semua masalah ini.”

Keesokan harinya.

Silvia bangun pagi-pagi dan sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Sesekali, matanya melirik kearah pintu kamar Nelia yang sejak semalam belum juga terbuka.

Silvia menahan napas, lalu mengetuk pintu dengan lembut, “Nelia, aku sudah masak sarapan. Keluar dan makan sedikit yok.”

Ujung jarinya yang mengetuk pintu berhenti di udara. Bayangan Nelia dengan mata memerah tadi malam kembali terlintas di benaknya. Entah kenapa, hatinya terasa sesak.

Ia kembali mengetuk, “Nelia, buka pintunya.”

Setelah menunggu beberapa saat, tetap tidak terdengar jawaban.

“Aku masuk, ya.”

Silvia perlahan menekan gagang pintu. Ia memeriksa seluruh kamar, tetapi tidak menemukan sosok Nelia di mana pun. Di atas meja kecil di samping tempat tidur, terdapat secarik kertas.

Sil, aku pergi ke kantor sebentar untuk tanda tangan kontrak. Sore nanti aku pulang. Jangan rindu yaa.

Silvia akhirnya mengembuskan napas yang sejak tadi tertahan di dadanya.

Sinar matahari menembus kaca balkon, menumpahkan bayangan-bayangan cahaya ke ruang tamu yang terasa begitu kosong.

Setelah sarapan, Silvia berjalan menuju sebuah kamar yang terletak di sudut lorong. Gagang pintunya sudah sedikit berdebu. Silvia mengusapnya perlahan dengan ujung jarinya.

“Klik—”

Sinar matahari tepat mengenai matanya. Silvia segera mengalihkan pandangan dan melihat sebuah bingkai foto di samping meja. Ia menunduk, ia mengambil robot penyapu lantai, lalu meletakkannya di lantai. Jemarinya perlahan menyentuh layar komputer yang berada di sudut ruangan.

Ia menekan tombol daya, layar komputer perlahan menyala. Foto yang memenuhi layar adalah sosok pria dengan senyum yang sangat jarang terlihat di wajahnya.

Wajah Silvia seketika berubah muram, ia diam-diam membuka sebuah folder.

[Si Bodoh]

Lebih dari 3 TB file langsung memenuhi seluruh layar.

Silvia terpaku, satu foto, lalu foto berikutnya, semuanya adalah dirinya.

Pria dalam foto-foto itu selalu berada di sisinya. Terkadang lengannya merangkul bahu Silvia, terkadang berdiri di belakangnya, dan sesekali hanya diam menatap kamera.

Orangnya tidak pernah berubah. Namun, latarnya terus berganti.

Kampus, jalanan, hamparan salju, restoran, puncak gunung...

Ada foto ketika mereka tertawa bahagia, ada pula saat mata Silvia memerah karena menangis. Ada foto ketika keduanya berdiri sangat dekat, dan ada pula foto ketika Silvia berdiri sendirian di kejauhan, sementara Chris hanya mengabadikan punggungnya.

Kebahagiaan dan kesedihan bercampur tanpa pola dalam ratusan, bahkan ribuan foto itu.

Jari Silvia berhenti di atas mouse. Untuk sesaat, ia tidak tahu sejak kapan Chris mengambil begitu banyak foto dirinya.

Silvia perlahan menutup folder tersebut. Namun, sebuah halaman situs tiba-tiba muncul di layar.

[SpeedRush]

Deretan kode berwarna hitam memenuhi layar dan bergerak dengan cepat. Silvia mengernyit, matanya mengikuti kode-kode yang terus berganti di depan pandangan.

Tak lama kemudian, halaman itu berhenti pada sebuah tampilan yang tampak tenang. Tulisan-tulisan terus bergerak dengan cepat.

Yang paling mencolok ialah sebuah titik merah yang terus berkedip di sudut kanan bawah.

Silvia menunggu dengan jantung berdebar. Beberapa kotak percakapan tiba-tiba muncul di sudut layar.

Bang Pax, akhirnya kamu balik online.

Gimana? Lamaranmu berhasil nggak?

Yang di atas, saran gue jangan terlalu emosional dulu. Bang Pax, urusanmu sudah selesai?

...

Silvia menatap pesan-pesan yang terus bertambah di layar. Tatapannya perlahan menjadi semakin serius.

“Ding dong—”

“Ding dong—”

Bel pintu berbunyi.

Silvia dengan berat hati mengalihkan pandangan dari layar.

“Siapa?”

“Silvia, ini aku.”

Suara Minnie terdengar dari balik pintu.

Silvia segera melihat melalui lubang intip.

Di luar, Adrian berdiri sambil membawa keranjang buah yang baru dibelinya dari toko buah di lantai bawah.

Sementara itu, Minnie tampak jauh lebih gelisah dari biasanya. Ia terus menekan bel sambil memanggil-manggil Namanya, “Silvia, buka pintunya.”

Silvia langsung teringat komputer di kamar Chris. Ia berlari kecil kembali ke kamar tersebut dan buru-buru menutup halaman situs tadi. Setelah itu, ia membasahi beberapa helai rambut di sekitar wajahnya agar terlihat seolah-olah baru saja mencuci muka.

Silvia berdiri di depan pintu dan menarik napas dalam-dalam sebelum membukanya, “Minnie, Adrian, kok kalian datang mendadak?”

Wajah Minnie tampak tidak terlalu baik. Ia mengamati Silvia dari atas sampai bawah sebelum bertanya dengan nada menyelidik, “Silvia, tadi kamu lagi ngapain? Kok lama kali baru buka pintu?”

Sambil berbicara, Minnie masuk ke dalam apartemen dan mulai memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Silvia pura-pura menyentuh rambutnya, “Tadi aku lagi cuci muka. Kelamaan baca bukunya sampai ngantuk.”

Ia menunjuk beberapa buku yang sengaja dibiarkan berserakan di atas karpet.

Minnie tiba-tiba mendorong Silvia hingga punggungnya bersandar di dekat pintu. Tatapannya terpaku pada wajah Silvia, “Silvia… kamu tidak melihat sesuatu, kan?”

Bagian belakang kepala Silvia membentur hiasan di belakangnya cukup keras.

“Aduh…” Ia menahan rasa sakit, lalu menatap Minnie dengan wajah tetap tenang, “Minnie, sebenarnya apa yang kamu takutkan? Kalian sembunyiin apaan sih di balik aku?”

Adrian segera meraih bahu Minnie, “Minnie, kamu sudah kehilangan kendali.”

Ia meletakkan keranjang buah di samping wastafel dapur, lalu berjalan menuju kamar Chris.

Silvia mengernyit dan hendak menghentikannya.

Baru satu langkah ia bergerak, Minnie sudah mencengkeram pergelangan tangannya erat.

Sikap Minnie yang biasanya santai dan lembut menghilang sepenuhnya, wajahnya serius, bahkan nada suaranya sudah berbeda, “Kita perlu bicara.”

Silvia menatapnya dengan bingung. Ia sempat menoleh ke arah Adrian yang sudah menghilang dari pandangan, kemudian mengikuti langkah Minnie menuju balkon.

Di luar, matahari bersinar terik.

Minnie bersandar ringan pada pagar balkon. Rambut hitamnya yang diikat tinggi jatuh rapi hingga ke pinggang.

Silvia berdiri di sampingnya, tubuhnya sedikit lebih pendek.

Namun, aura di sekelilingnya terasa jauh lebih muram.

“Silvia…” Minnie terdiam cukup lama sebelum akhirnya berkata, “Mengenai masalah tadi…aku ingin minta maaf dulu. Aku memang terlalu panik.”

Silvia mengepalkan kedua tangannya perlahan tanpa menjawab. Pandangannya telah tertuju pada Nelia yang sedang bermain dengan seekor kucing di taman bawah apartemen, suaranya terdengar pelan, “Kalau ada sesuatu, cepat katakan. Jangan libatkan dia ke dalam masalah ini.”

Minnie mengikuti arah pandang Silvia menuju Nelia, sudut bibirnya perlahan terangkat, “Seberapa banyak yang kamu lihat dari situs itu?”

“Nggak banyak. Aku cuma sempat melihat sepertinya banyak orang yang menunggu kembalinya Chris.”

“Tentu saja.” Nada suara Minnie terdengar sedikit bangga, “Bakat IT milik Chris adalah alasan utama mereka bisa bergantung pada situs itu.”

“Jadi, situs itu milik Chris?”

Minnie mengalihkan pandangannya ke gedung tertinggi yang berdiri di pusat kota, “Bukan, orang di balik situs itu…”

“Klik—”

“Silvia, aku pulang!”

Nelia muncul dengan wajah penuh senyum. Jelas sekali ia sudah melupakan kejadian tidak menyenangkan semalam.

Begitu melihat Minnie, matanya langsung berbinar, “Kak Minnie, kok kamu datang?”

“Klik—”

Suara langkah kaki yang berat terdengar dari lorong beberapa kamar.

Nelia menoleh dengan bingung ketika melihat Adrian keluar dari arah lorong, “Kamu juga datang?”

Belum sempat Adrian menjawab, Nelia langsung menyipitkan mata, “Tunggu. Kenapa kamu keluar dari arah kamar kita?”

Setelah berkata demikian, Nelia langsung berjalan dengan wajah kesal, seolah hendak menginterogasinya.

“Nelia.” Silvia segera menghentikan langkahnya. Ia berjalan mendekati Nelia, “Adrian datang untuk mengambil barang yang ditinggalkan Chris.”

Adrian menjawab dengan wajah datar, “Benar. Chris memberikanku beberapa urusan untuk dibereskan setelah kepergiannya.”

Minnie segera merangkul leher Nelia dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, “Sayang, tadi kamu pergi ke mana?”

Mendengar pertanyaan itu, senyum Nelia justru semakin lebar.

“Hehe…” Ia mengangkat sebuah dokumen kontrak di tangannya, “Komikku akhirnya resmi dikontrak!”

Nelia dengan gembira mengangkat dokumen itu dan menyerahkannya kepada Silvia, “Sil, lihat!”

Silvia menerima kontrak tersebut dan membacanya dengan teliti beberapa halaman. Ketika matanya sampai pada bagian tanda tangan di halaman terakhir, sudut bibirnya akhirnya terangkat sedikit, “Selamat.”

Silvia menatap Nelia dengan lembut, “Impianmu akhirnya resmi dimulai.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!