NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

Bab 030

Aku Datang Menjemputmu

Gelap Kiara tidak benar-benar gelap.

Ada lampu putih yang lewat di atas kepala. Ada suara roda ranjang. Ada seseorang berkata, "Korban perempuan, jatuh dari tangga, kesadaran menurun." Ada tangan yang mencoba mengambil ponsel dari dadanya.

Kiara langsung mengeratkan pelukan.

"Jangan..."

"Mbak, kami cuma mau simpan barangnya."

"Jangan ambil..."

Suara perempuan yang pernah ia dengar di tangga menjawab dekat telinganya. "Saya taruh di kantong barang pasien, ya. Tidak hilang. Ponselnya tetap ikut Mbak."

Kiara ingin bertanya Cici. Mulutnya bergerak, tetapi yang keluar hanya napas patah.

"Temannya juga dibawa. Masih bernapas. Tenang."

Tenang.

Kata itu tidak sampai ke tubuhnya.

Gelap berikutnya berbau antiseptik.

Ketika Kiara membuka mata lagi, langit-langitnya bukan lagi tangga darurat. Tirai hijau muda membatasi tempat tidurnya dari ranjang lain. Di pergelangan tangan kirinya ada gelang pasien. Kaki kanannya berat, terangkat sedikit, dibalut dan ditahan penyangga. Rasa sakitnya tidak hilang, hanya berubah menjadi denyut tumpul yang membuat seluruh tubuhnya lemas.

"Cici..." Suaranya serak.

Tirai di samping bergerak.

"Gue di sini, Ki."

Kiara menoleh sekuat yang ia bisa. Cici berbaring di ranjang sebelah, pelipisnya ditutup kasa, wajahnya pucat, tetapi matanya terbuka. Kamera tidak ada di lehernya. Rambutnya berantakan. Namun ia hidup.

Air mata Kiara langsung turun.

"Jangan nangis," kata Cici, padahal suaranya sendiri bergetar. "Nanti gue ikut nangis. Kepala gue udah cukup drama."

"Kamu dipukul."

"Didorong. Bedanya tipis, tapi buat laporan polisi nanti kita pakai versi yang paling jelek."

Kiara ingin tertawa, tetapi dadanya sakit.

Seorang dokter muda masuk bersama perawat. "Mbak Kiara sudah sadar, ya. Saya Dokter Raka. Sekarang kita di IGD RS Kota Pelangi. Mbak jatuh dari tangga. Pergelangan kaki kanan mengalami dislokasi, sudah kami reposisi dengan obat nyeri. Nanti tetap perlu observasi ortopedi dan foto ulang."

Kata dislokasi membuat perut Kiara mual.

"Cici?"

Dokter Raka melirik ranjang sebelah. "Teman Mbak mengalami benturan kepala ringan. CT scan awal tidak menunjukkan perdarahan, tapi tetap observasi beberapa jam. Jangan banyak bergerak dulu."

Cici mengangkat dua jari lemah. "Saya masih bisa gosip, Dok."

"Gosipnya nanti," jawab dokter itu tanpa kehilangan profesionalitas. "Sekarang istirahat."

Dokter Raka kembali menatap Kiara. "Untuk kaki Mbak, setelah reposisi kami pasang penyangga sementara. Jangan menapak sama sekali. Besok dokter ortopedi akan lihat apakah cukup dengan imobilisasi atau perlu tindakan lanjutan. Untuk malam ini, yang penting nyeri terkendali dan tidak ada gangguan aliran darah."

Kiara mencoba mencerna semua istilah itu. Tidak menapak. Observasi. Ortopedi.

Dua hari tugas luar kota berubah menjadi daftar larangan medis.

Cici memejamkan mata, lalu berkata pelan, "Ki, jangan pasang muka salah."

"Kamu terluka karena aku."

"Gue terluka karena orang jahat. Beda."

Kiara menggigit bagian dalam pipi.

"Dan kalau lo tadi berhenti, videonya hilang," lanjut Cici. "Gue jatuh tetap sakit. Setidaknya sekarang sakitnya ada gunanya."

"Jangan ngomong begitu."

"Iya, iya. Nanti Kak Rayhan marah ke gue juga."

Kiara mencoba bergerak, tetapi nyeri langsung menusuk.

"Jangan dipaksa," kata perawat. "Kakinya baru ditangani."

"Ponsel saya..."

Perawat mengambil plastik barang pasien dari meja kecil. "Ini. Layar retak, tapi masih hidup. Ada banyak panggilan masuk."

Kiara meraih ponsel dengan tangan gemetar. Baterainya tinggal delapan persen. Layar retak bercabang, tetapi nama-nama di notifikasi masih terbaca.

Rayhan, tujuh panggilan.

Galih, tiga panggilan.

Bu Ratna, dua panggilan.

Di WhatsApp, pesan dari Galih paling atas.

Galih:

Video sudah saya unduh. Jangan hapus apa pun. Bu Ratna hubungi legal redaksi dan polisi setempat. Fokus di rumah sakit.

Pesan lain menyusul.

Galih:

Pak Rayhan sudah menghubungi saya. Dia dalam perjalanan.

Jantung Kiara berhenti satu detik.

"Dalam perjalanan..." gumamnya.

Cici menoleh pelan. "Kak Rayhan?"

Kiara mengangguk.

"Bagus," kata Cici. "Gue siap dimarahin bareng-bareng."

"Ini bukan salah kamu."

"Ini juga bukan salah lo."

Kiara menatap layar ponsel. Di chat Rayhan, pesan terakhir darinya hanya titik lokasi yang terus bergerak, lalu satu pesan singkat.

Rayhan:

Aku ke sana. Jangan tidur kalau bisa. Kalau tidak bisa, tunggu aku.

Tunggu aku.

Kalimat itu membuat tangis Kiara pecah tanpa suara.

Ia mencoba membalas, tetapi jari-jarinya terlalu lemah. Hanya tiga huruf yang berhasil ia ketik.

Aku

Lalu layar meredup.

Perawat mengambil ponsel pelan. "Saya cas dulu, ya."

Kiara mengangguk. Ia malu karena menangis, tetapi tubuhnya tidak punya tenaga untuk menahan apa pun. Rasa sakit, ketakutan, rasa bersalah pada Cici, dan bayangan Rayhan membaca lokasi Club Monarch semuanya bercampur.

Tidak lama kemudian, dua petugas polisi setempat datang ke IGD. Bu Ratna juga tersambung lewat telepon perawat, suaranya tajam karena menahan marah.

"Kiara, kamu tidak perlu menjelaskan panjang sekarang," kata Bu Ratna dari speaker. "Video sudah diamankan. Galih membuat salinan ke drive redaksi. Polisi setempat sudah kami beri kontak. Fokus medis dulu."

"Reza..." Kiara berbisik.

"Jangan pikirkan dia."

Namun Kiara tetap memikirkannya. Reza dengan blazer krem. Reza dengan senyum malas di Club Monarch. Reza yang menyuruh orang mengambil ponselnya. Wajah-wajah itu bertumpuk sampai ia sulit bernapas.

Petugas polisi bertanya beberapa hal sederhana. Nama. Tempat kejadian. Apakah ia ingin menunda keterangan lengkap sampai kondisi stabil. Bu Ratna menjawab sebagian melalui telepon, Galih mengirim data video, Cici hanya sesekali menambahkan dengan suara pelan.

Salah satu petugas menyampaikan bahwa pihak klub awalnya menyebut kejadian itu "kepanikan kecil karena alarm pengunjung". Nama Reza belum dicantumkan dalam laporan internal mereka. Mbak Yuni juga belum bisa dihubungi. Kalimat-kalimat itu membuat tangan Kiara kembali dingin.

Mereka sedang mencoba mengubah cerita.

Kalau video itu tidak sampai ke Galih, mungkin besok pagi berita yang keluar hanya dua reporter magang ceroboh membuat keributan di klub malam.

Bu Ratna terdengar mengetuk meja di seberang telepon. "Saya tidak peduli mereka mau pakai narasi apa. Anak saya pulang dari tugas dengan kepala terbentur dan kaki dislokasi. Kita ikuti prosedur, tapi jangan biarkan mereka mengubur bukti."

Cici membuka mata sedikit. "Bu, saya masih anak magang, tapi saya terharu."

"Kamu diam dan istirahat."

"Siap, Bu."

Kiara menggenggam seprai.

"Ponsel saya jangan hilang," katanya.

Salah satu petugas mengangguk. "Barang bukti digital akan dicatat. Untuk sementara tetap di bawah pengawasan Mbak dan redaksi, nanti kami buat berita acara sesuai prosedur."

Berita acara.

Kalimat itu seharusnya membuatnya tenang. Anehnya, yang muncul di kepala Kiara justru suara Rayhan.

Jangan kasih ponsel tanpa berita acara.

Ia menutup mata.

Waktu setelah itu bergerak patah-patah. Dokter datang lagi. Perawat mengganti cairan infus. Cici tertidur duluan setelah dipaksa berhenti bicara. Di luar tirai, suara IGD naik turun, anak kecil menangis, roda kursi dorong lewat, nama pasien dipanggil.

Perawat mengembalikan ponsel Kiara setelah diisi daya sampai dua puluh persen. Retaknya mengganggu layar, tetapi chat masih bisa dibaca. Galih mengirim foto laptopnya yang menampilkan file video tersimpan dengan nama tanggal dan jam. Di bawahnya, ia menulis:

Galih:

Sudah ada tiga salinan. Satu di drive redaksi, satu di laptop saya, satu saya kirim ke Bu Ratna. Jangan khawatir soal file.

Kiara membaca pesan itu sampai huruf-hurufnya kabur.

Untuk pertama kalinya sejak jatuh, ia melepaskan ponsel sedikit dari dadanya.

Setiap kali Kiara hampir tertidur, ia terbangun karena nyeri di kaki.

Setiap kali ia terbangun, ia mencari pintu.

Rayhan belum datang.

Pukul berapa sekarang?

Ia tidak tahu.

Mungkin lewat tengah malam.

Mungkin lebih.

Obat nyeri membuat tubuhnya berat, tetapi pikirannya terus kembali ke tangga. Cici jatuh. Alarm menjerit. Nama Rayhan di layar. Pesan yang akhirnya terkirim.

Ia takut kalau ia tidur, ketika bangun nanti semua bukti hilang.

Ia takut kalau ia tidur, Reza sudah mengubah cerita.

Ia takut kalau ia tidur, Rayhan datang dan melihatnya seperti ini.

Pintu IGD terbuka lebih keras dari sebelumnya.

Langkah berat memasuki ruangan.

Bukan langkah petugas yang terburu-buru tanpa arah. Bukan langkah dokter yang sudah terbiasa dengan malam panjang. Langkah itu tegas, cepat, dan menekan udara di sekitarnya.

Kiara membuka mata.

Di ujung tirai yang setengah terbuka, lampu koridor berada tepat di belakang sosok tinggi itu. Wajahnya gelap oleh bayangan, tetapi Kiara mengenali bahunya. Mengenali cara ia berhenti seperti menahan diri agar tidak langsung menghancurkan semua yang menghalangi.

Kemeja Rayhan kusut. Rambutnya tidak serapi biasa. Di pergelangan tangannya masih ada gelang kertas bandara yang belum sempat dilepas, dan di bahu kemejanya ada bekas lipatan tas. Ia tampak seperti orang yang meninggalkan semua hal di tengah jalan begitu mendengar satu kata dari telepon.

Matanya mencari satu titik, lalu berhenti pada Kiara.

Semua suara IGD seperti mundur.

Kiara mencoba memanggilnya, tetapi bibirnya hanya bergerak tanpa suara.

Rayhan melangkah mendekat. Satu langkah. Dua langkah. Tangannya mengepal, lalu terbuka di sisi tubuhnya, seolah ia sedang memaksa dirinya untuk tidak menyentuh bagian yang sakit sebelum tahu boleh atau tidak.

Ia berhenti di sisi ranjang.

Di matanya, Kiara melihat semua ketakutan yang tadi ia tahan sendiri akhirnya punya tempat untuk jatuh.

Ketika akhirnya suaranya keluar, rendah dan serak, kalimat itu membuat dada Kiara runtuh.

"Kiara, aku datang menjemputmu pulang."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!