NovelToon NovelToon
Suami Rahasiaku Sang Aktor

Suami Rahasiaku Sang Aktor

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Identitas Tersembunyi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: avy sulas

Oca dipaksa menikah dengan pria asing di depan altar—demi memenuhi wasiat sang kakek yang tak bisa ia menolak. dan yang tak terduga, suaminya adalah seorang aktor terkenal yang harus disembunyikan rapat-rapat dari dunia, termasuk dari sahabat-sahabatnya sendiri.

Belum sempat ia membiasakan diri dengan kehidupan barunya, datang seseorang yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya—ruang yang sengaja ditinggalkan oleh suaminya sendiri. Oca pun membuka hati, tanpa pernah menyangka ada yang luput dari pandangannya.

Kini ia terjebak di antara dua hati: satu yang seharusnya ia cintai karena status, dan satu lagi yang ia pilih sendiri karena rasa.

Tapi siapa sangka, tak semua yang terlihat tulus benar-benar seperti itu.

Siapakah yang berhak atas hati Oca? 💍

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon avy sulas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prioritas yang Salah

Hari ini libur sekolah. Oca yang biasanya bangun pagi-pagi sekarang masih tertidur pulas di kasur, padahal rencananya ia akan pergi ke mall bersama Andira dan Kinan.

Ponselnya yang tergeletak di atas nakas terus bergetar hingga akhirnya berhasil membangunkannya. Dengan mata yang masih setengah terpejam, Oca meraba asal suara itu lalu mengangkat panggilan yang masuk.

"Ca, jam berapa nih? Gue sama Kinan udah siap-siap!" seru Andira dari seberang telepon.

"Iya, iya... sabar. Gue otw," balas Oca dengan suara malas.

Setelah panggilan berakhir, Oca segera bangkit dari kasur. Ia buru-buru membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian kasual sebelum mengambil tas dan ponselnya.

Tak ingin membuat kedua sahabatnya menunggu lebih lama, Oca bergegas turun ke lantai bawah. Setelah berpamitan singkat kepada para pelayan, ia meminta Pak Darto mengantarnya ke mall tempat ia sudah berjanji bertemu dengan Andira dan Kinan.

Tak lama kemudian, mobil yang ditumpangi Oca akhirnya tiba di depan mall. Begitu turun, ia langsung melihat Andira dan Kinan sudah menunggu di dekat pintu masuk.

"Buset, akhirnya datang juga!" seru Andira sambil berkacak pinggang. "Gue kira lo ketiduran lagi."

Oca hanya nyengir kecil. "Tadi emang sempet ketiduran."

"Pantes aja telat," sahut Andira sambil menggeleng-gelengkan kepala.

"Iya, iya. Maaf," balas Oca pasrah.

Andira pura-pura mendengus kesal, tapi sedetik kemudian langsung menggandeng lengan Oca. "Udah, ah. Gue laper. Ayo makan dulu."

Oca terkekeh pelan, lalu menoleh ke arah Kinan. "Gimana, Nan?"

Kinan mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. "Iya, yuk."

Mereka bertiga pun berjalan menuju food court. Setelah berkeliling sebentar, akhirnya mereka memilih duduk di salah satu restoran cepat saji.

Selama makan, Andira sengaja terus melontarkan candaan receh. Mulai dari mengejek porsi makan Oca yang katanya "nggak sesuai sama badan", sampai mengeluh karena saus sambalnya kurang banyak.

"Kok sambalnya cuma dua? Emang cukup?" keluh Andira sambil menatap nampannya.

Oca melirik sekilas. "Ya nambah lagi sana."

"Males."

"Dasar," gumam Oca sambil menggeleng geli.

Ucapan itu membuat Kinan yang sejak tadi lebih banyak diam ikut tertawa kecil.

"Nah, gitu dong," ujar Andira sambil tersenyum puas. "Mending ketawa daripada masang muka jutek dari kemarin."

Kinan hanya memonyongkan bibir pura-pura kesal, membuat ketiganya pun kembali tertawa bersama. Mereka menghabiskan waktu makan sambil mengobrol santai, seolah sengaja melupakan semua hal yang sempat mengganggu pikiran Kinan.

Selesai makan, mereka kembali berkeliling mall dan akhirnya mampir ke toko aksesoris, melihat-lihat gantungan kunci, gelang, hingga berbagai macam bando lucu yang dipajang di rak.

Mata Andira langsung berbinar saat melihat sebuah bando bertelinga kelinci. "Nah, ini cocok."

Tanpa aba-aba ia langsung memasangkannya ke kepala Kinan.

"Ih, apaan sih?" protes Kinan sambil hendak melepasnya.

"Jangan. Lucu banget."

Oca buru-buru mengangkat ponselnya. "Senyum dulu."

Klik.

"Nah, upload, nih."

"Caa! Jangan!" Kinan melotot dan spontan mengejar Oca, membuat Andira ikut tertawa melihat tingkah mereka berdua.

Setelah puas berkeliling toko aksesoris, mereka melanjutkan ke toko skincare, lalu masuk ke beberapa toko pakaian hanya untuk melihat-lihat tanpa membeli banyak barang. Hingga akhirnya langkah mereka berhenti di sebuah toko buku.

"Gue mau cari buku bentar, ya," ucap Kinan sambil melangkah lebih dulu masuk ke dalam.

Oca dan Andira mengangguk, lalu ikut menyusul di belakangnya.

Suasana di dalam toko buku tidak terlalu ramai. Rak-rak tinggi dipenuhi berbagai jenis buku, sementara beberapa pengunjung tampak sibuk memilih bacaan masing-masing.

Kinan berjalan lebih dulu menuju rak novel, sedangkan Oca dan Andira memilih berkeliling ke bagian alat tulis.

"Ca, lihat, deh. Pulpen ini lucu banget," ucap Andira sambil mengangkat sebuah pulpen berbentuk wortel ke depan wajah Oca.

Oca melirik sekilas ke arah pulpen itu, lalu menggeleng pelan. "Lucu, sih, tapi norak."

"Norak apanya?" Andira langsung mendelik tidak terima. "Ini estetik!"

Oca terkekeh pelan sambil melipat kedua tangannya di dada. "Estetik dari mana?"

"Ya... dari lucunya, lah!" balas Andira asal hingga membuat Oca semakin geli.

"Ngaco."

Mereka berdua kembali saling ledek hingga tak menyadari Kinan yang tiba-tiba berhenti melangkah. Tatapan gadis itu terpaku ke arah lorong sebelah, senyumnya perlahan menghilang.

Oca yang menyadari perubahan ekspresi sahabatnya langsung mengernyit. "Nan?"

Namun Kinan tidak menjawab, tatapannya masih tertuju ke arah yang sama. Merasa ada yang tidak beres, Oca pun mengikuti arah pandang Kinan—dan seketika wajahnya berubah.

Tidak jauh dari sana, Devan sedang berdiri bersama Olivia. Di tangan Olivia sudah ada beberapa map, spidol warna, serta beberapa perlengkapan lainnya, sementara Devan memegang daftar belanja sambil sesekali mengambil barang dari rak.

Olivia mengatakan sesuatu yang membuat Devan mengangguk pelan sebelum kembali memasukkan beberapa barang ke dalam keranjang.

Melihat pemandangan itu, rahang Oca langsung mengeras. Dadanya mendadak terasa panas. Baru kemarin Kinan menangis karena merasa diabaikan, sekarang Devan malah terlihat menghabiskan waktu bersama Olivia di hari libur.

"Serius..." gumamnya pelan.

Andira yang sejak tadi masih memegang pulpen ikut menoleh ke arah yang sama. Ekspresinya pun langsung berubah. "Dia lagi..."

Sementara itu, Devan yang baru selesai mengambil barang tanpa sengaja mengangkat kepalanya. Tatapannya langsung bertemu dengan Kinan.

Raut wajah Devan seketika berubah kaget. "Kinan?"

Belum sempat Devan melangkah menghampiri, Oca sudah lebih dulu berjalan cepat ke arah mereka.

"Ca..." panggil Kinan pelan sambil mencoba menahan lengan sahabatnya, namun Oca sudah terlanjur emosi.

"Wah, keren, ya," ucap Oca dengan tatapan tajam ke arah Devan. "Hari libur aja masih jalan bareng."

Olivia tampak sedikit gugup mendengar nada bicara Oca. "Bukan gitu. Kita lagi beli perlengkapan buat acara sekolah."

Oca terkekeh sinis. "Perlengkapan sekolah? Emang harus berdua terus?"

Devan akhirnya membuka suara. "Jangan salah paham."

"Yang salah paham siapa?" balas Oca cepat. "Setiap kali Kinan ngajak lo, jawabannya selalu OSIS. Sekarang hari libur pun masih sama Olivia. Lo sadar nggak, sih, kalau yang terus lo prioritaskan itu sekretaris lo, bukan pacar lo sendiri?"

Devan hanya terdiam. Rahangnya mengeras, tetapi ia tidak membalas ucapan Oca. Di sisi lain, Kinan hanya menundukkan kepalanya, lalu dengan pelan ia menarik tangan Oca.

"Udah, Ca."

"Tapi—"

"Udah." Suara Kinan pelan, tapi cukup membuat Oca menghentikan ucapannya.

Kinan mengangkat pandangannya. Selama beberapa detik, ia hanya menatap Devan tanpa mengatakan apa pun. Tatapan itu dipenuhi rasa kecewa yang sulit disembunyikan.

"Ayo," ucapnya lirih.

Tanpa menunggu jawaban Devan, Kinan langsung berbalik dan melangkah keluar dari toko. Oca masih sempat melirik tajam ke arah Devan sebelum akhirnya ikut menyusul Kinan.

Andira menjadi orang terakhir yang berdiri di sana. Ia menatap Devan dengan sorot mata tajam, lalu mengangkat jari telunjuknya.

"Awas aja, lo bakalan nyesel."

Setelah mengatakan itu, Andira langsung berbalik dan berlari kecil menyusul kedua sahabatnya yang sudah lebih dulu keluar dari toko.

1
MayAyunda
ceritanya bagus ..lanjut kak
Putry Chan
semangat ya 💪
Lasa Hardianti: Makasih kak semangat juga yah😁
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
mampir lagi aku kakk, mampir juga dong kaaa ke novel kuu
Lasa Hardianti: Makasih kak nanti aku mampir ya😁
total 1 replies
MayAyunda
cerita bagus kak .
Lasa Hardianti: Thanks ya kak😁
total 1 replies
MayAyunda
lanjut kak
nunu
next lanjut kak
Lasa Hardianti: Oke kak siap, ditunggu lanjutannya ya. makasih udah mampir😁
total 1 replies
MayAyunda
bagus ,mampir kak
white star ⭐
bagus kak
white star ⭐
yah lagi dimasa usia suka kumpul2 sama temen malah nikah kasian oca
Lasa Hardianti: Huhu iya kak masa SMA-nya jadi berubah total, Semoga Oca kuat ya menghadapi semua ini. Makasih udah mampir dan dukung Oca🥹🤍
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
kaa sampai sini dlu ya nanti aku mampir lgii
Lasa Hardianti: Siap Kak. Makasih udah mampir sampai sini🥹❤️ Ditunggu lanjutannya ya, semoga makin seru buat Kakak🤭
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
acara pernikahan/Facepalm/
Lasa Hardianti: Ssst... jangan dibocorin dulu yaa🤫😂
total 1 replies
author_rabbit18✍︎
baguss
Lasa Hardianti: Makasih banyak kak!🥹❤️
total 1 replies
mary dice
Badai pasti berlalu ya Oca.. semangat lanjut thor
mary dice
benaran nih menang taruhan heeeem
reyanzarayyanfahlevy_
Bagus kak, semangat ya kak salam penulis pemula
reyanzarayyanfahlevy_: iya kak😍💪
total 2 replies
reyanzarayyanfahlevy_
semangat kak
Annisanur hasanah
semangatt kakk, aku tunggu update kakak😍
Annisanur hasanah
bagus dan menarik
Annisanur hasanah
kak, ceritanya seruuu dan ga ngebosenin👍
Annisanur hasanah
mampir kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!