NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Undangan dari Menara Kaca

Bab 21: Undangan dari Menara Kaca

​Pagi pertama setelah serangan teror berlalu dengan kesibukan luar biasa di Mansion Dirgantara. Meskipun dinding beton teras belakang masih menyisakan beberapa bekas goresan peluru yang sedang ditambal oleh pekerja, dinamika di dalam rumah berubah drastis. Berkat sandiwara "gadis desa tangguh penyayang babi hutan" semalam, posisi Aline naik kasta. Ia bukan lagi sekadar pelayan dapur yang mengurap debu; ia kini resmi memegang takhta sebagai pengasuh sekaligus "perisai bayangan" si kembar.

​Di ruang kerja utama yang bernuansa monokrom, Adrian duduk di balik meja kaca besar sambil menatap sebuah kartu undangan eksklusif berlapis emas 24 karat.

​GRAND GALA: ARTHADINATA CORP ANIVERSARY

Dress Code: Royal Elegance

​Itu adalah acara perjamuan bisnis tahunan yang mempertemukan seluruh taipan papan atas, pejabat tinggi korporasi, sekaligus beberapa kepala klan dunia bawah yang menyamar sebagai filantropis. Bagi Adrian, acara ini adalah medan perang diplomasi yang melelahkan. Biasanya, ia akan datang sendiri dengan kawalan ketat Rendra. Namun, serangan semalam mengubah kalkulasi taktisnya. Meninggalkan si kembar di mansion tanpa pengawasan langsung darinya terasa terlalu berisiko.

​"Bawa si kembar ke perjamuan malam ini," perintah Adrian datar kepada Pak Yusuf yang berdiri di dekat pintu. "Dan bawa Nona Sanyoto untuk menjaga mereka."

​"Tapi Tuan Besar... perjamuan itu sangat formal. Apakah pakaian Aline..." Pak Yusuf menggantung kalimatnya, membayangkan Aline dengan kemeja katun kedodoran dan kacamata tebalnya berdiri di antara para sosialita yang berbalut gaun haute couture.

​"Urus penampilannya agar tidak mempermalukan nama Dirgantara. Cukup buat dia terlihat... sopan," potong Adrian dingin, tanpa mengalihkan pandangan dari dokumen sahamnya.

​Sementara itu, di ruang bermain, si kembar yang sedang mendengarkan pembicaraan tersebut lewat mikrofon tersembunyi yang ditanam Kenzo di ruang kerja Daddy mereka langsung saling bertatapan. Mata bulat Keira berbinar-binar penuh konspirasi, sementara Kenzo menghentikan jemarinya di atas layar tablet.

​"Sopan katanya? No, no, no," bisik Keira dengan senyum licik yang sangat menggemaskan. "Daddy butuh kejutan visual yang bisa membuat jantung mafianya melompat, Kak."

​"Aku punya daftarnya," sahut Kenzo datar. "Gaun pelayan yang disiapkan Pak Yusuf untuk Kak Aline harus mengalami sedikit... modifikasi mekanis."

​Malam harinya, di dalam limosin antipeluru yang melaju membelah jalanan kota menuju hotel bintang lima tempat perjamuan digelar, suasana terasa sangat canggung. Adrian duduk di kursi VIP belakang dengan setelan tuksedo hitam kustom yang membuatnya terlihat sangat gagah dan berbahaya. Di seberangnya, si kembar duduk mengapit Aline.

​Sesuai dengan sabotase rahasia yang dilakukan Keira di kamar ganti sore tadi, gaun satin biru tua yang dibelikan Pak Yusuf untuk Aline sengaja dibuat sedikit "cacat produksi" di bagian lipatan bawah dan ritsleting belakang. Sepanjang jalan, Aline sibuk memegang bagian belakang gaunnya dengan wajah yang dibuat super panik dan canggung.

​"T-Tuan Besar..." cicit Aline dengan logat desanya yang sengaja ia munculkan kembali untuk mencairkan suasana tegang semalam. "Aduh... ini baju kota kok tipis dan sempit sekali ya? Saya takut kalau saya napas terlalu banyak, kainnya langsung robek... S-Saya boleh tunggu di dalam mobil saja ndak, Tuan?"

​Adrian melirik Aline dari balik lipatan koran finansialnya. Meskipun Aline masih mengenakan kacamata tebal yang bingkainya diikat selotip hitam (karena pecah semalam), siluet tubuhnya yang terbungkus gaun satin itu—meski agak berantakan karena sabotase si kembar—tetap memancarkan bentuk proporsional yang membuat mata elang Adrian sempat tertahan selama beberapa detik.

​"Jangan bertingkah memalukan, Aline. Tugasmu hanya duduk di sudut lounge anak-anak dan memastikan Kenzo tidak meretas sistem keamanan hotel," jawab Adrian ketat, menyembunyikan getaran aneh di dadanya.

​Begitu limosin berhenti di depan lobi karpet merah, puluhan lampu kilat jurnalis langsung menyala bergantian. Adrian turun terlebih dahulu, diikuti oleh Kenzo dan Keira yang melangkah dengan keanggunan bangsawan kecil yang sempurna. Aline turun paling akhir, berusaha menyembunyikan wajahnya di balik punggung besar Adrian.

​Namun, baru saja mereka melangkah memasuki aula utama yang megah dengan lampu gantung kristal raksasa, rencana licik si kembar dimulai.

​Keira dengan sengaja menginjak ujung lipatan gaun satin biru tua Aline saat mereka sedang melewati koridor transisi yang agak sepi dari kerumunan tamu.

​KREEEKKK!

​Suara kain sutra yang robek terdengar cukup nyaring. Benar saja, ritsleting belakang gaun murah tersebut langsung terlepas sepenuhnya akibat tekanan mekanis yang sudah diatur Kenzo sebelumnya, mengekspos sebagian punggung mulus Aline yang seputih pualam ke udara dingin.

​"Astagfirullah, Gusti...!" jerit Aline pelan, langsung berbalik memunggungi dinding dengan wajah memerah sempurna, kedua tangannya dengan panik menahan bagian depan gaunnya agar tidak merosot jatuh ke lantai.

​Adrian menghentikan langkahnya, berbalik dengan kilat mata yang mendadak berubah tajam saat melihat kekacauan tersebut. Sementara itu, si kembar kompak menutup mulut mereka dengan tangan, berpura-pura terkejut dengan akting yang luar biasa polos.

​"Oh ya ampun! Keira ndak sengaja, Kak Aline! Maaf!" seru Keira dengan suara yang sengaja dibuat agak keras agar terdengar oleh Adrian. "Daddy! Baju Kak Aline rusak! Kita ndak bisa biarkan Kak Aline pakai baju robek begini di dalam, nanti semua orang lihat punggung Kak Aline!"

​Kenzo menopang dagunya, menatap ayahnya dengan pandangan menantang. "Ada butik haute couture eksklusif milik kenalan klan kita di lantai tiga hotel ini, Dad. Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk membeli yang baru. Kecuali... Daddy mau membiarkan pengasuh kami menjadi pusat perhatian para fotografer dengan baju robek."

​Adrian mendengus geram. Ia tahu betul ini adalah ulah kedua monster kecilnya, namun melihat punggung Aline yang terekspos—dan entah mengapa ada rasa posesif aneh yang mendadak membakar dadanya melihat kulit mulus itu bisa dilihat oleh pria lain di aula—membuat Adrian tidak punya pilihan.

​Dengan satu gerakan cepat, Adrian melepaskan jas tuksedo hitam mahalnya. Ia melangkah maju, lalu mengibaskan jas tebal tersebut dan menyampirkannya ke atas bahu Aline, membungkus tubuh ringkih gadis itu sepenuhnya dengan kehangatan dan aroma maskulinnya yang khas.

​"Ikut aku," perintah Adrian rendah dan tegas, jemarinya mencengkeram pergelangan tangan Aline, menariknya langsung menuju lift privat menuju butik lantai atas, meninggalkan si kembar yang sedang saling melakukan high-five rahasia di belakang mereka.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!