Langit malam menggantung pekat ketika langkah Viona tersandung di gang sempit napasnya memburu, jantungnya nyaris pecah saat suara tawa kasar para pria di belakangnya semakin dekat.
“Jangan lari, manis...kami cuma ingin bersenang-senang bersamamu...”
Air mata Viona jatuh tanpa suara hingga tiba-tiba, langkah lain memecah malam.
Satu sosok berdiri di hadapannya.
Bryan.
Tatapannya dingin, tajam, tak tersentuh. Dalam hitungan detik, teriakan berubah menjadi pekikan. Baku hantam tak terhindarkan, cepat, dan tanpa ampun.
Sunyi kembali turun saat para pria itu terkapar.
Dengan tubuh gemetar, Viona mendekat.
“Te-terima kasih...”
Namun Bryan bahkan tak menoleh lama padanya.
“Gak usah berlebihan,” ucapnya datar.
“Lekas pulang. Area ini bukan untuk gadis kecil sepertimu.”
Dingin. Jauh dari kata ramah. Tetapi sejak malam itu takdir mereka telah saling terikat satu sama lain. Mereka kerap tak sengaja bertemu di tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yogitha Ratnajyoti , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
Suara di ujung telepon itu membuat Viona tidak mampu berkata apa-apa. Lima tahun ia menunggu satu suara itu kembali. Suara yang dulu selalu menenangkannya ketika ia takut, suara yang selalu mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Mas...?" Suara Viona bergetar, air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Di Singapura, Harsh menggenggam ponselnya erat. Mendengar suara adiknya saja sudah membuat dadanya terasa sesak.
"Iya, Vionaku..."
Panggilan itu, nama kecil yang hanya dia gunakan untuk Viona sejak dulu. Viona menutup mulutnya, ia takut jika berbicara lebih banyak, tangisnya akan pecah.
"Mas...ini beneran Mas Harsh?"
"Iya ini aku..."
Harsh memejamkan mata.
"Maaf..."
Satu kata singkat namun bagi Viona, ada lima tahun rasa kehilangan yang ikut terbawa di dalamnya.
"Kenapa baru sekarang, Mas?"
Harsh terdiam pertanyaan yang sudah ia bayangkan selama bertahun-tahun akhirnya keluar.
"Kenapa Mas ninggalin Viona sama Mbak Alvania?"
Harsh menunduk, pria yang dikenal kuat di dunia bawah tanah itu tidak tahu harus menjawab apa.
"Karena aku takut kehilangan kalian..."
Viona menangis.
"Padahal waktu Mas pergi...Viona ngerasa sudah sangat kehilangan Mas..."
Kalimat itu menghantam Harsh lebih keras daripada apa pun karena itulah yang paling ia takutkan. Melindungi mereka, tetapi membuat mereka terluka.
"Aku minta maaf, Viona..."
"Mas nggak tahu berapa kali Viona nunggu di depan pintu berharap Mas pulang..."
Harsh menggigit bibir bawahnya.
"Tapi sekarang aku sudah kembali..."
Viona terdiam.
"Mas janji?"
"Janji..."
Harsh melihat pantulan dirinya di kaca gedung tinggi Singapura.
"Bukan sebagai orang yang kalian kenal sekarang..."
"Tapi sebagai kakak kalian."
Di kamar sebelah, Alvania yang tengah menginap di apartement Viona baru selesai mengambil minum berhenti ketika mendengar suara Viona menangis. Ia langsung membuka pintu kamar Viona.
"Viona?"
Viona menoleh, wajahnya penuh air mata.
"Mbak..."
Alvania langsung mendekat.
"Ada apa?"
Viona hanya menyerahkan ponselnya. Awalnya Alvania bingung hingga akhirnya suara dari sambungan terdengar.
"Vania..."
Tubuh Alvania membeku, gelas di tangannya hampir terlepas karena hanya satu orang yang memanggil namanya dengan nada seperti itu.
"Mas...?"
Harsh terdiam mendengar suara adik perempuannya yang tengah. Alvania yang selama ini terlihat paling kuat, paling tegar, akhirnya kehilangan pertahanannya.
"Mas Harsh?"
"Iya..."
Air mata Alvania terjatuh.
"Kamu masih hidup..."
Harsh menutup mata.
"Iya..."
"Aku masih hidup."
Alvania tertawa kecil di sela tangisnya.
"Jahat..."
Harsh hanya terdiam.
"Kamu tahu nggak? Aku benci kamu..."
Kalimat itu membuat Harsh menahan napas.
"Tapi aku lebih benci diriku sendiri karena masih berharap kamu pulang setiap hari..."
Harsh menunduk.
"Aku akan segera pulang setelah urusanku disini selesai..."
Alvania menatap Viona.
"Mas..."
"Ya?"
"Kamu berubah?"
Harsh tersenyum kecil.
"Berubah..."
Ia melihat tangannya sendiri.
"Jauh..."
"Tapi satu hal yang nggak berubah..."
"Aku tetap kakak kalian..."
...*******...
Pagi berikutnya kabar itu belum diketahui siapa pun. Viona duduk di ruang tamu sambil masih memegang ponselnya. Semalaman ia hampir tidak tidur Alvania duduk di sampingnya.
"Menurut kamu...dia benar-benar akan pulang?"
Viona tersenyum kecil.
"Mas bilang janji..."
Alvania menatap foto lama tiga bersaudara itu.
"Mas Harsh selalu menepati janji..."
Namun mereka tidak tahu. Ada dua orang lain yang juga sedang menunggu.
...*******...
Di kantor Bryan, Bryan baru saja menerima kabar dari Arlian.
"Harsh sudah menghubungi Viona tadi malam tuan..."
Bryan terdiam. Pria yang selama ini mereka cari memilih kembali sendiri.
"Dia akan pulang?"
Arlian mengangguk.
"Kemungkinan besar..."
Bryan melihat keluar jendela.
"Aku penasaran..."
Arlian menatapnya.
"Dengan apa, Tuan?"
Bryan tersenyum tipis.
"Bagaimana reaksi Viona ketika tahu kakaknya adalah seseorang yang selama ini dikenal sebagai monster di dunia bawah tanah..."
...********...
Di tempat lain, Roy duduk di mobilnya sambil melihat pesan yang masuk dari Alvania.
"[Roy...Mas Harsh sudah menghubungi kami...]"
Roy tersenyum kecil akhirnya pria yang dicari Alvania dan Viona selama ini akan segera kembali. Namun ada satu hal yang mengganggu pikirannya. Bagaimana jika dunia Harsh terlalu berbahaya untuk Alvania dan Viona?
Karena Roy tahu nama Harsh Aditya Chang Lee bukan sekadar nama. Nama itu membawa kekuasaan dan juga musuh.
...********...
Malam ini Harsh berdiri di depan meja kerjanya. Di atas meja ada dua benda, paspor. dan foto tiga bersaudara itu, Mr. Lee masuk perlahan.
"Kau benar-benar akan pergi?"
Harsh mengangguk.
"Aku harus kembali Mr. Lee..."
Mr. Lee menatapnya.
"Sebagai Harsh Aditya Prasetya?"
Harsh mengambil foto itu.
"Iya sebagai kakak mereka..."
Mr. Lee tersenyum tipis.
"Kalau begitu..."
"Pergilah..."
Harsh menatapnya.
"Terima kasih..."
"Ya, ingat satu hal...tetap berhati-hati. Dan jangan lupa kembali lagi kesini. Jika perlu ajak serta kedua adikmu kemari, mereka sama halnya denganmu jadilah anakku..."
"Baik Mr. Lee saya berjanji akan selalu berhati-hati dan akan kembali lagi ke sini. Saya pamit dulu Mr. Lee. Terimakasih banyak atas segala kemurahan Anda Mr.Lee..." ucap Harsh patuh
"Ya...Hati-hati dijalan nak, Tuhan senantiasa menyertaimu nak..."
Pria itu berjalan keluar menuju bandara yang akan membawanya kembali ke Indonesia. Kembali ke rumah yang ia tinggalkan lima tahun lalu.
Kembali kepada dua adik yang tidak pernah berhenti menunggunya. Namun Harsh tidak tahu, bahwa kepulangannya bukan hanya akan membuka rahasia keluarga.
Tetapi juga akan membawa kembali masa lalu yang selama ini ia kubur. Karena dunia yang ia tinggalkan tidak pernah benar-benar melupakannya.
...******...
Beberapa jam berlalu, langit Jakarta mulai berubah warna ketika sebuah pesawat dari Singapura akhirnya mendarat dengan sempurna di bandara Internasional Jakarta.
Di antara para penumpang yang turun, seorang pria berjalan dengan langkah tenang. Setelan hitam rapi, tatapan tajam dan wajah yang terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan lima tahun lalu.
Ia berhenti sejenak di depan pintu keluar bandara. Udara Jakarta terasa berbeda, bukan karena kotanya, tetapi karena setelah bertahun-tahun ia kembali menginjakkan kaki di tanah yang pernah ia tinggalkan.
Tangannya masuk ke dalam saku jas,.di sana masih tersimpan foto lama tiga bersaudara itu Harsh menatap foto tersebut lekat-lekat.
"Alvania..."
"Viona..." Ia tersenyum kecil.
"Aku pulang..."
...********...
Sementara itu, di kantor Briliant Wijaya Group. Viona tengah duduk di meja kerjanya dengan beberapa dokumen di depan mata. Sudah beberapa jam sejak telepon dari Harsh tadi malam.
Namun pikirannya masih belum bisa sepenuhnya fokus. Setiap kali ponselnya menyala, ia selalu berharap nama yang muncul adalah kakaknya. Seorang rekan kerja yang melewati mejanya tersenyum.
"Viona, kamu kenapa dari tadi senyam-senyum sendiri?"
Viona sedikit terkejut.
"Hah? Nggak kok..."
Namun tanpa sadar tangannya menyentuh foto kecil yang ia simpan di dalam laci. Foto lama, foto Harsh. Lima tahun ia menunggu dan sekarang penantiannya hampir berakhir.
"Mas benar-benar pulang...?" Bisiknya.
...********...
Di sisi lain kota, sebuah restoran kecil yang tenang menjadi tempat Alvania menghabiskan waktu siangnya. Seperti biasa Roy duduk di depannya sambil menikmati kopi sedangkan Alvania memainkan sendok kecil di tangannya.
"Lo kenapa dari tadi diam..."
Roy menatapnya.
"Biasanya lo yang paling banyak cerita..."
Alvania tersenyum kecil.
"Gue masih nggak percaya aja..."
Roy tahu maksudnya.
"Harsh?"
Alvania mengangguk.
"Selama lima tahun gue cuma punya foto dia..."
Ia menarik napas.
"Sekarang gue denger suaranya lagi..."
Roy terdiam ada rasa lega melihat Alvania akhirnya mendapatkan sedikit kebahagiaan yang selama ini hilang.
"Dia bakal pulang..."
Alvania menatap Roy.
"Lo percaya?"
Roy tersenyum kecil.
"Gue percaya sama orang yang lo tunggu selama lima tahun..."
Alvania menunduk.
"Roy..."
"Hm?"
"Thanks..."
Roy terdiam sebentar.
"Untuk apa?"
"Karena dari awal lo bantu gue cari dia..."
Roy mengalihkan pandangan.
"Udah. Jangan lebay..." Namun senyum kecil muncul di wajahnya.
...********...
Sementara itu, jauh dari kantor Briliant Wijaya Group. Bryan tidak berada di ruang kerjanya hari ini. Ia berada di sebuah tempat yang tidak banyak diketahui orang.
Sebuah ruangan luas dengan beberapa orang berdiri menunggu instruksinya. Di meja terdapat beberapa dokumen, urusan yang hanya bisa ditangani sendiri oleh Bryan. Benda persegi pipihnya bergetar, pesan dari Arlian masuk.
"[Harsh sudah tiba di Jakarta tuan.]"»
Bryan membaca pesan itu beberapa detik kemudian ia tersenyum tipis.
"[Jadi akhirnya?]"
Pria yang selama ini menjadi teka-teki mereka sudah kembali. Bryan tahu satu hal pertemuan antara dirinya dan Harsh nantinya tidak akan sederhana karena mereka berasal dari dunia yang sama. Dunia yang penuh rahasia, dunia yang tidak bisa dengan mudah ditinggalkan.
...*********...
Kembali ke bandara Harsh duduk di dalam mobil taxi online yang membawanya meninggalkan bandara. Pemandangan Jakarta terlihat dari balik jendela.
Banyak hal yang dirasa berubah tetapi satu hal tetap sama tujuannya, rumah. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar, sebuah pesan dari Viona.
"[Mas, kalau sudah sampai jangan lupa kabari Viona...]"
Harsh membaca pesan itu berulang kali. Kemudian selama perjalanan ia hanya tersenyum seperti Harsh yang dulu, ia pun mengetik balasan.
"[Aku sudah sampai, Vionaku...]"
"[Sebentar lagi aku pulang...]"
Di sisi lain, Viona yang membaca pesan itu langsung terdiam. Matanya berkaca-kaca karena kata "Pulang" dari Harsh adalah sesuatu yang sudah ia tunggu selama lima tahun.
Namun tanpa mereka sadari kepulangan Harsh juga sudah diketahui oleh beberapa orang dari masa lalunya. Dan ketika nama Harsh Aditya Chang Lee kembali muncul di Indonesia.
Bukan hanya keluarganya yang menyambut. Tetapi juga dunia yang dulu ia tinggalkan dan kali ini Harsh tidak kembali sebagai anak yang pergi. Ia kembali sebagai seseorang yang memiliki kekuatan untuk melindungi kedua adik perempuannya.
BERSAMBUNG.