Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penampilan Baru
Perjalanan mengantar Aryo ke Sekolah membuat Denny haus. Rasanya kalau melihat sekolah, ia jadi teringat dengan masa lalunya sendiri, saat ia rebel banget dan senantiasa menantang semua pihak yang bersinggungan dengannya. Ia benci Kanisius, karena sekolah itu menghambat langkah-langkahnya untuk berkuasa atas seluruh ‘manusia’ di dalam sana. Ya memang si Denny ini agak otoriter sifatnya. Pas ketemu Rangga saja dia jadi agak menjaga sikap karena menganggap Rangga itu ‘segalanya’.
“Den, lo liat nih.” Rangga mengulurkan secarik kertas yang tampaknya sudah lama, kekuningan lebih mirip artefak.
“Kanisius juga?” Denny terkekeh sinis sambil menatap ke arah Ijazah kekuningan yang tak dilaminating itu. Tertera di sana nama Ary Prambudi, beserta foto hitam putih di jaman beliau SMA. “Angkatan jauh banget di atas kita ya.”
Rangga mengangguk sambil sibuk mengetik sesuatu di laptop perusahaannya. “Ton, sekali lagi ada typo di draft, lo maki-maki aja yang bikin.”
“Yah, masa saya maki-maki sih Pak? Siapa saya. Kecuali jabatan saya dinaikin jadi wakil dirut.” Gumam Tony sambil mengutak atik tabuletnya. Dia berdiri di belakang Rangga yang duduk di sofa. Mereka sedang menunggu Arumi berdandan.
“Sekelas kontrak perjanjian bernilai miliaran masa nggak bisa bedakan satu huruf? Ketikan karyawan itu menandakan kualitas hidup pengetiknya! Paling nggak sebelum ditunjukin ke gue, diperiksa dulu dong hasilnya! Kecuali kalau gue gaji dia setaraf UMR!”
“Yang gajinya selevel UMR aja jarang typo, Pak.” Gumam Tony.
“Minta HRD kasih training kursus mengetik.” Gerutu Rangga
Tony terkekeh geli. Training mengetik... berasa anak SMA zaman dulu yang dikasih kursus komputer komputer di ruko-ruko kelurahan.
“Tapi lo liat dong, Den,” Rangga kembali mengalihkan perhatiannya pada ijazah di tangan Denny, mengabaikan Tony sejenak. “Mas Ary dapet nilai A minus di kelasnya Bu Meilani.”
“Mantap sangat ini,” Denny mendecak, menatap kolom nilai itu dengan pandangan takjub sekaligus sinis. “Gue aja dikeluarin dari kelas Bu Meilani, makanya gue harus remedial.”
“Lo dikeluarin gara-gara nonjok teman sekelas lo di kelas fisika, Den.” Rangga mengingatkan kelakuan barbar kakak kelasnya itu. “Beritanya kesebar sampai ke kelas gue.”
“Ya tu anak buzzernya Bu Meilani makanya gue sebel.” Denny melirik Rangga dengan dahi berkerut, teringat sesuatu. “Gue masih bertanya-tanya kenapa lo nggak dikeluarin dari sekolah gara-gara tawuran. Salah lo fatal banget anj*ng, lo nyamar pake seragam SMA lain dan bersekutu dengan mereka! Nggak mungkin lo nyogok kepsek, kepsek kita anti gratifikasi!”
“Gue pemenang Olimpiade Sains Nasional Bro! Gue mengangkat nama sekolah! Itu pun gue Cuma dikasih B sama Bu Meilani. Beeee, Dennyyy Bee!! Sekelas Gue! Lo bayangin seambigu apa Mas Ary sampe bisa dikasih A minus hah?!”
“Anggap aja, pas Mas Ary jadi anak sekolahan, Bu Meilani ini masih muda, pikiran masih fresh dan ...jangan-jangan dia kesengsem sama Mas Ary.”
Rangga terkekeh geli mendengar teori konspirasi picisan dari pengacaranya. Semua orang di lingkungan alumni memang tahu kalau Denny ini dulu adalah kakak kelas yang tingkahnya sudah seperti pemilik yayasan sekolah. Rangga saja, yang termasuk anak paling populer dan ditakuti di angkatannya, merasa harus buru-buru jalan menjauh kalau melihat Denny sudah berdiri di ujung koridor dengan wajah masamnya.
Pintu kamar utama rumah kayu itu perlahan berderit terbuka, memutus bisik-bisik taktis antara Rangga, Denny, dan Tony di ruang tengah. Langkah kaki yang mengenakan sepatu hak tinggi—Christian Louboutin dengan sol merah menyala yang diantar kurir kilat—terdengar tegas mengetuk lantai.
Semua mata serempak menoleh.
Arumi melangkah keluar. Transformasinya benar-benar di luar nalar. Wanita yang biasanya tenggelam di balik daster daster longgar itu kini nampak seperti dewi yang turun dari peraduan. Kulitnya yang seputih pualam nampak bersinar, kontras dengan rambut panjang hitamnya yang tergerai lembut dan halus membingkai wajahnya. Alisnya tebal dan terukir sempurna tanpa perlu banyak polesan, berpadu dengan hidung bangir dan sepasang mata yang menatap mereka dengan dingin. Jarinya yang lentik kini dihiasi berlian satu miliar yang berkilau mewah menangkap cahaya lampu.
Namun yang paling menyita perhatian adalah gaun sutra putih gading itu melekat dengan sangat pas di tubuh Arumi. Berat badannya hanya 45 kilogram dengan postur yang ramping, membuat bagian dadanya yang berukuran cup C nampak sangat menonjol dan kontras.
Menyadari tatapan tiga pria di depannya yang mendadak terpaku dan tak berkedip menatap lekuk tubuhnya, Arumi tidak jengah.
Ia justru melipat tangan di bawah dada, mendengus pelan dengan wajah lempeng.
"Ngeliatinnya gitu amat. Jangan kalian kira kami yang berdada besar ini bangga ya. Kami bukan LC," ketus Arumi dengan kalimat gamblang yang membuat Tony langsung tersedak ludahnya sendiri. "Nyatanya, semakin besar dada, semakin sering kami sakit punggung akibat menahan beban. Apalagi kalau malam tidak sengaja tidur terlentang, sesak napas kami karena tertumpuk berat sendiri. Jadi jangan menatap saya seolah-olah saya ini manekin di Akihabara."
Tony berdehem canggung, buru-buru menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Denny hanya bisa lekat-lekat memperhatikan Arumi dari atas ke bawah tanpa bersuara.
Arumi sangat blak-blakan dan menolak jadi objek visual. Sekaligus ia seakan menjawab pertanyaan semua orang kenapa ia selalu tampil apa adanya pakai daster dengan rambut digulung asal-asalan selama ini. Karena sekali ia menampakkan penampilannya yang sebenarnya, ia akan kerepotan. Dan tentunya, suaminya juga akan kerepotan. Kecuali Rangga yang duitnya bisa digunakan untuk menyewa bodyguard.
Cantiknya beda.
Bukan sekedar cantik, ada sesuatu yang menggugah.
Banyak wanita cantik berseliweran di sekitar mereka, setiap saat ada yang menggoda iman mereka. Mereka hanya memilih yang terbaik dari yang terbaik untuk beradu di ranjang semalam. Bukan hal sulit untuk menunjuk seorang wanita yang mau melayani nafsu sesaat mereka. Tubuh wanita bukan lagi hal asing di mata para eksekutif muda ini.
Tapi ada yang berbeda dari Arumi.
Sifatnya, sikapnya, pembawaan dirinya, kecerdasannya, itu mungkin yang membuat sosoknya menjadi lebih menarik.
Dari semuanya, Rangga yang paling pertama bisa menguasai dirinya. Sekelebat senyuman Mas Ary muncul di penglihatannya, seakan bilang ‘istriku cantik kan?’. Rangga langsung disadarkan kalau ia bukan orang yang pantas merendahkan Arumi dengan pandangan.
“Cantik.” Gumam Rangga. Memuji Arumi sekaligus menjawab ‘Mas Ary’. Senyuman kagumnya berubah jadi senyum persahabatan.
Rangga berjalan memutari Arumi, mengetuk-ngetuk dagunya dengan ekspresi kurang puas.
"Mbak, ganti bajunya," ujar Rangga lugas, membuat Arumi mengernyit heran.
"Kenapa? Kamu bilang ini baju paling mahal pilihan Tony?" tanya Arumi ketus.
"Bajunya mahal, tapi warnanya salah," sahut Rangga dengan insting visualnya yang tajam. "Warna putih gading ini bikin warna kulit Mbak jadi nyaru. Cantik sih, tapi kurang menindas, udah kayak mau pergi kondangan biasa. Ganti pakai gaun warna hitam yang tadi diantar di kotak kedua. Warna hitam bakal bikin kulit putih Mbak Arumi nampak berkilau di bawah lampu lobi."
Rangga melangkah lebih dekat, menunjuk wajah Arumi dengan jemarinya. "Terus itu, warna bibirnya ganti yang lebih merah menyala, jangan polos oranye gitu. Sama tolong tebelin warna hitam-hitam di sekitar mata... apa namanya, eyeliner? Ya, tebelin itu biar tatapan mata Mbak jadi makin tajam dan seksi."
Rangga menyeringai taktis, sebuah seringai predator korporat. "Katanya Mbak Arumi mau nyaingin Bintang dan bikin dia depresi, kan? Kalau penampilannya cuma sebatas 'cantik kondangan' gini, agak membosankan buat perang. Kita harus bikin Bintang merasa kerdil sejak detik pertama Mbak turun dari mobil."
Arumi mematung sejenak, menatap Rangga yang ternyata jauh lebih beringas dan detail dalam menyusun "amunisi visual" balas dendam ini ketimbang dirinya sendiri.
"Oke," jawab Arumi singkat. Ia berbalik kembali ke kamar membawa kotak gaun warna hitam. "Dua puluh menit lagi saya keluar. Pastikan mobil kamu sudah dipanaskan."
Denny yang melihat kelakuan Rangga hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil bertepuk tangan. "Rangga, gue akuin... otak lo kalau udah urusan merancang kehancuran orang emang nggak ada tandingannya. Sampai urusan eyeliner ca-bin lo pun lo audit."
“Ton, lo minta pelayan toko rekomendasikan baju yang pas dipakai untuk meeting, bersosialisasi, dan arisan buat Mbak Arumi. Masing-masing 5 steel ya. Jangan lupa batik dari butik, karena banyak klien gue yang lebih menghargai tradisi nenek moyang. Makin mahal batiknya, makin bagus jaringannya.” Kata Rangga ke Tony. Jemari Tony mengetik dengan lincah di ponselnya untuk mencatat semua perintah Bossnya. “Batik tulis, baju adat china, sutra, abaya benang emas untuk dipakai menghadapi klien dari UEA. Kalau daster biar nyonya beli sendiri.” Tony bergumam sambil mengetik. “Minta bantuan si Bella aja kali ya.”
“Siapa Bella?” tanya Rangga dan Denny berbarengan.
Tony mengangkat kepalanya dengan kaget. Lalu sadar kalau bisikan hatinya tercetus di lidahnya.
“Anuuu, pacar baru saya, khihihi.” Ia menyeringai dengan canggung.
“Gila lu Ton, ganti bulan ganti pacar. Bulan kemarin nama pacar lo Lusy bukan?” desis Denny.
“Namanya juga eksplorasi Boss...” gumam Tony sambil lanjut mengetik.
Pembenci wanita penggoda, bukan berarti nggak bisa punya pacar kan?
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖