Novel ini adalah sekuel dari Novel My Secret Agent yang mengisahkan tentang Fey dan Gian.
Novel The Best Sniper, akan membahas mengenai Ryuga, putra pertama Fey dan Gian yang mengikuti jejak sang Ibunda yang berkarier di dunia Agen Rahasia.
Tak hanya membahas tentang karier cemerlang dari Ryuga, namun juga akan membahas perjalanan cinta dari si Pemimpin Pasukan Agen Rahasia.
Selain tokoh Ryuga, Author juga akan membahas tentang dua tokoh lain yaitu adik kandung Ryuga dan juga sahabat - sahabat yang kocak dan tengil. Mereka tentu akan ikut mewarnai kisah hidup Ryuga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Pembajakan
"Kamu beneran, gak mau istirahat dulu? Biar aku yang bilang ke Sir Kemal, Sir El dan Ma'am Fey." Kata Ryu sebelum mereka berjalan ke pesawat.
"Beneran, Bang. Aku baik - baik aja kok. Gak usah khawatir. Ini udah gak nyeri lagi." Jawab Gladys.
"Yaudah. Tapi kalau sakit, langsung bilang sama aku." Kata Ryu.
"Kenapa? Khawatir banget?" Tanya Fey.
"Ch! Aku gak mau di repotin waktu lagi jalanin misi." Jawab Ryu sambil menyentil dahi Gladys.
"Ih! Kebiasaan banget, tangan kok suka nyentil." Gerutu Gladys sambil mengusap - usap dahinya.
Mereka segera masuk ke pesawat dan akan menempuh perjalanan selama dua puluh dua jam ke Jerman, dengan transit selama dua jam di Doha.
Sepanjang perjalanan selama hampir sepuluh jam ke Doha, Ryu dan Gladys tampak sibuk masing - masing. Tak ada obrolan seperti pasangan pada umumnya. Mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing - masing meskipun duduk bersebelahan.
"Dys!" Panggil Ryu yang tiba - tiba merasa bosan. Ia mencubit - cubit tangan Gladys yang ada di dekatnya.
"Apa sih, Bang? Jahil banget." Kata Gladys yang ganti mencubit tangan Ryu.
"Gitu Abang suka bilang kalau Aslan jahil. Padahal sendirinya juga jahil." Imbuh Gladys yang menggerutu hingga membuat Ryu terkekeh.
Sejenak, suasana kembali hening. Mereka kembali sibuk dengan kegiatan mereka masing - masing. Saat sampai di Doha pun mereka memilih untuk menunggu di lounge hingga kembali siap terbang.
"Dys, arah jam sembilan." Bisik Ryu.
Gladys yang mengerti, langsung menoleh ke arah yang di maksud oleh Ryu. Ia melihat dua orang yang sedikit mencurigakan masuk ke dalam pesawat yang sama dengan mereka.
"Sedikit mencurigakan." Kata Gladys.
"Mereka gak mungkin cuma berdua. Pasti komplotannya lebih dari dua." Kata Ryu.
"Ah, jangan berburuk sangka. Mungkin cuma perasaan kita aja. Buktinya mereka bisa masuk ke dalam." Sahut Gladys yang membuat Ryu menghela nafas panjang.
Ryu bisa memastikan delapan puluh persen jika yang ada di dalam tas mereka itu adalah pistol rakitan dan senjata laras pendek.
"Kalau ada apa - apa, Gimana?" Bisik Ryu lagi.
"Ya mau gimana kalau bukan di hadapi." Jawab Gladys.
"Memang kamu bisa? Jalan aja masih pincang gini." Ledek Ryu.
"Kan ada Abang." Jawab Gladys dengan santai sembari mencari tempat duduknya.
Mereka kembali duduk di tempat yang bersebelahan seperti sebelumnya. Namun, mereka berdua sama - sama merasa waspada dengan dua orang yang membawa senjata api tadi.
Namun, sepertinya mereka berada di kelas lain, karena Ryu tak melihat dua orang itu di first class.
Dua jam pertama penerbangan, berjalan dengan aman. Namun, mereka mulai menangkap sedikit ke hebohan di ruangan lain yang ada di dalam pesawat. Tak lama seorang pramugari yang di duga merupakan senior di sana, berjalan menuju ke Kokpit sembari di todong pistol pada bagian punggungnya.
Melihat hal itu, Ryu dan Gladys bisa menyimpulkan jika pesawat mereka sedang di bajak saat ini. Mereka berdua pun saling lirik, seolah saling mengode melalui tatapan mata.
Ryu pun berdiri, hendak menuju ke toilet, seolah tak tau jika pramugari itu sedang berada di bawah ancaman senjata api.
"Berhenti!" Tegur si pembajak sembari menodongkan pistol ke arah Ryu.
Melihat ada pistol yang di todongkan, seketika langsung membuat penumpang lain menjerit ketakutan. Sementara Ryu tetap tenang sambil mengangkat tangannya.
"Kembali ke tempat dudukmu." Ujar si Pembajak yang berbicara dengan bahasa asing.
"Aku cuma mau ke toilet." Kata Ryu.
"Kembali ke tempatmu! Kamu tidak boleh kemana - mana." Ujar si Pembajak yang perlahan hendak menghampiri Ryu.
Pembajak yang masih menyandera Pramugari senior itu tampak fokus dengan Ryu, ia tak sadar jika Gladys sedang menunggunya lewat. Begitu pembajak itu lewat di sebelah Gladys, dengan cepat Gladys mencekal dan memelintir tangan si Pembajak hingga pistol di genggaman pria itu terlepas.
Belum sempat si pembajak itu berteriak, Gladys sudah lebih dulu membuatnya pingsan dan segera mengamankan pistol yang terjatuh di lantai.
Gladys pun segera memberi kode pada semua penumpang first class untuk tetap tenang dan jangan mengeluarkan suara.
"Tolong beri tau Pilot jika pesawat sedang di bajak. Segera hubungi Bandara terdekat dan minta untuk mendarat darurat." Perintah Gladys pada Pramugari.
Pramugari yang mengangguk mengerti, langsung menjalankan apa yang di perintahkan oleh Gladys. Sementara itu, Ryu memberi kode jika ia akan berjalan ke belakang, menuju ke kelas lain dalam pesawat dan memeriksa berapa banyak Pembajak di dalam Pesawat.
Namun, baru saja ia hendak membuka tirai, seorang pembajak lain masuk, mungkin ia ingin memeriksa rekannya yang cukup lama berada di first class.
Kesempatan itu pun tak di sia - siakan oleh Ryu. Ia yang bersembunyi di balik tirai, langsung memukul leher si Pembajak hingga Pembajak itu tersungkur tanpa sempat bersuara.
Ryu kemudian mengambil senapan laras pendek yang di pegang si Pembajak, kemudian menggeledah saku si pembajak dan menyita apapun yang ada di saku pria itu.
Gladys yang melihat Ryu berhasil melumpuhkan satu orang pembajak lagi, langsung menghampiri dan mengikat pembajak yang tak sadarkan diri itu.
"Udah sembuh, kayaknya. Bisa lari tuh." Ledek Ryu sambil berbisik.
"Bukan waktunya buat bercanda ya, Bang. Nyawa ratusan orang di dalam pesawat ini lagi dalam bahaya." Kata Gladys.
"Yes, Ma'am!" Jawab Ryu dengan patuh.
Ryu kemudian mengintip ke bagian lain. Ia memberi tau jika masih ada delapan orang dengan senjata api sedang mengancam penumpang dan Pramugari di sana.
"Kita pancing semuanya kesini." Kata Gladys.
Gladys kemudian meminta pada Senior Pramugari untuk mengumumkan pendaratan darurat mereka. Bukan di tempat yang di minta oleh si Pembajak, melainkan di tempat lain.
Pramugari senior itu, kembali menjalankan tugasnya. Sementara itu, Gladys dan Ryu bersiap di balik tirai untuk menghabisi semua Pemberontak.
Buggh!
Buggghhhh!
Ryu dan Gladys dengan kompak menghajar Pembajak yang masuk ke dalam ruang pembatas antara First Class dan Economy Class.
Di ruang kecil itu, mereka menyita semua barang milik sepuluh pembajak yang sudah mereka ikat dalam keadaan tak sadarkan diri.
Ryu juga menyita semua senjata api milik Pembajak dan akan menyerahkan pada pihak yang berwenang ketik mereka mendarat.
"Good Job!" Puji Ryu sambil mengusap kepala Gladys.
Gerakan Gladys kali ini lebih gesit ketimbang saat mereka menghadapi sekelompok preman beberapa bulan yang lalu.
Setelah memastikan semua aman, mereka tetap berjaga di ruangan kecil itu hingga akhirnya mereka mendarat di Bandara terdekat satu jam kemudian.
Semua penumpang yang ketakutan, langsung berebut keluar dari Pesawat ketika Pesawat berhasil mendarat darurat.
Pihak keamanan Bandara pun langsung masuk dan cukup terkejut saat melihat Pembajak sudah berhasil di lumpuhkan.
"Terima Kasih! Terima Kasih banyak." Ucap Kapten Penerbangan.
Mereka pun menanyakan identitas Ryu dan Gladys, namun mereka berdua bilang hanya Petugas Keamanan biasa yang hendak pergi Honey moon.
Tak langsung melanjutkan perjalanan ke Jerman, mereka terpaksa menetap satu hari di sebuah Bandara yang masih masuk wilayah Iraq dan akan melanjutkan kembali penerbangan malam nanti setelah pesawat selesaj di periksa.
abang cemburu berat ini 🤣
help 🤣🤣🤣🤣
lanjut kak author