Katie Wilson sudah lelah dengan drama kencan yang selalu berujung gagal. Dia ingin segera menemukan pria yang serius untuk menikah. Karena merasa tidak berbakat menilai laki-laki, Katie meminta bantuan sahabat lamanya, Mark Barrington, untuk menjadi "konsultan" pribadinya.
Rencananya jelas: Mark bertugas menyeleksi kandidat pria dan melatih Katie agar tampil lebih memikat saat berkencan. Mark pun setuju, apalagi itu artinya Katie akan mempraktikkan semua pesonanya hanya kepada dirinya.
Namun, situasinya jadi kacau saat "ciuman latihan" yang mereka lakukan terasa terlalu nyata. Katie mulai bingung dengan perasaannya sendiri, sementara Mark mulai kesulitan bersikap profesional sebagai pelatih.
Sekarang, Mark harus berjuang meyakinkan Katie bahwa dia tidak perlu mencari pria lain. Sebab, suami yang selama ini Katie cari sebenarnya sudah ada di depan mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meyrna Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Mark Barrington menyapukan ujung lidahnya dengan lembut di sepanjang bibir bawah Katie Wilson. Respons Katie begitu cepat; ia membuka bibirnya, dan seluruh akal sehat Mark seketika tenggelam dalam pusaran kebutuhan yang menghentak pertahanannya. Lengan Mark semakin mengetat, mendekap dada lembut Katie ke tubuhnya, sementara ciuman mereka bergerak jauh lebih intens dan menuntut.
Desahan halus yang penuh kerinduan lolos dari tenggorokan Katie, menyulut gairah yang membakar hingga ke ujung saraf Mark. Aku butuh lebih dari ini, batin Mark dalam kabut gairah.
Tangannya membenamkan diri ke dalam kelembutan rambut kemerahan Katie, menahan kepala wanita itu dengan mantap saat bibirnya mulai menjelajahi pipi Katie. Aroma bunga yang lembut dari parfum Katie benar-benar memikatnya. Mark turun mengecup kulit lembut di bawah telinga Katie, menggigit kecil cuping telinganya yang sensitif, menikmati setiap jengkal kelembutan wanita itu sementara Katie bergetar hebat di dalam dekapannya.
Katie terasa begitu manis dan memabukkan, menjanjikan kenikmatan murni yang jauh lebih indah dari apa pun yang pernah Mark ingat dari wanita mana pun.
Bibir Mark kembali menjelajahi wajah Katie, berhenti sejenak untuk menyapu lembut bulu matanya yang halus. Mark bisa merasakan tubuh Katie yang gemetar pasrah, dan sebuah gelombang rasa berkuasa yang mutlak mendadak menghentak batinnya.
Namun, ketegangan fisik yang mulai terasa menyakitkan di sekujur tubuhnya akhirnya menarik paksa kesadaran Mark kembali ke realitas.
Aku harus berhenti. Harus sekarang. Jika tidak, ia tidak akan pernah bisa melepaskan wanita ini lagi. Mark tahu ia sudah berada di ambang batas untuk kehilangan sedikit kendali diri yang tersisa. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Mark memaksa dirinya untuk menurunkan lengan dan melangkah mundur, menjaga jarak dari Katie.
Katie membasahi bibirnya yang masih berdenyut basah akibat ciuman tadi, lalu mengerjapkan mata berulang kali. Ia mencoba mengumpulkan kembali fokus pandangannya ke dunia nyata setelah tersedot dalam pusaran emosi. Butuh beberapa detik bagi Katie untuk benar-benar tersadar.
"Nah, begitulah cara normal untuk menyapa seseorang yang sedang kamu kencani," ujar Mark, mencoba mencairkan ketegangan intim yang terasa sangat pekat bergetar di udara di antara mereka.
Katie menatap Mark dengan napas yang masih belum sepenuhnya teratur. Kalau cara sekencang ini baru disebut ciuman biasa dengan orang yang baru dikencani, lalu bagaimana cara mencium seorang kekasih yang sesungguhnya? Pemikiran provokatif itu mendadak melintas di benak Katie, dan hal tersebut sama sekali tidak membantu mengembalikan ketenangan dirinya.
"Normal?" tanya Katie akhirnya, melakukan usaha terbaiknya agar suaranya terdengar biasa saja dan tidak gemetar. "Menurutku, standarmu tentang kata 'normal' itu agak terlalu ekstrem, Mark."
Mencoba terdengar biasa saja, Katie berkata, "Apakah kamu mau minum sesuatu sebelum kita berangkat?"
"Kamu punya apa?" tanya Mark Barrington.
"Um, sebenarnya cuma ada soda diet."
"Lalu kenapa kamu malah menawarkan minum?" Mark menaikkan sebelah alisnya jenaka.
Karena ciumanmu tadi benar-benar mengacaukan proses berpikirku, batin Katie dongkol. Namun, ia buru-buru mencari alasan lain. "Karena di setiap film modern yang pernah kutonton, pihak wanita selalu menawarkan minum kepada pria yang menjemputnya. Rasanya itu hal yang sopan untuk dilakukan."
Mark tertawa—sebuah suara yang hangat dan renyah yang perlahan membantu mengembalikan keseimbangan emosi Katie.
"Segalanya bisa jadi jauh lebih menarik kalau kamu berniat meniru semua perilaku di dalam film," goda Mark.
Wajah Katie merona merah, mendadak teringat bagaimana adegan berani dari satu-satunya wanita di film yang baru saja mereka tonton di Smart TV tempo hari. Dengan tekad bulat, ia langsung mengalihkan topik pembicaraan. "Bagaimana harimu di kantor?"
"Apakah itu hal kedua yang biasa ditanyakan wanita kepada pria di dalam film?" seloroh Mark.
"Bukan, itu adalah hal yang ditanyakan seorang wanita kepada pria yang terlihat sangat lelah seperti dirimu." Mata Katie tertuju pada garis-garis kelelahan yang samar di sekitar sudut bibir Mark.
Mark meregangkan tubuhnya, membuat bahan jas modern yang membungkus bahu tegapnya tertarik ketat. "Aku memang lelah," aku Mark jujur. "Hari yang panjang, tapi cukup memuaskan. Perusahaan kami baru saja memenangkan kontrak besar untuk memasok komponen komputer terbaru yang sedang dikembangkan oleh sebuah perusahaan di Eropa Timur. Kita mungkin harus melakukan ekspansi bisnis lebih besar dari yang kukira sebelumnya. Oh, dan satu lagi... David Edwards datang menemuiku hari ini."
Katie seketika merinding saat melihat ekspresi wajah Mark yang mendadak mengeras dan dingin. Pria itu tampak sangat tidak kenal ampun.
"Ya, aku tahu. Aku melihatnya saat aku sedang berada di klinik pabrik tadi siang," ujar Katie hati-hati. Ia sempat ragu apakah harus menceritakan pertemuannya dengan David atau tidak. Namun, jika ia diam saja dan Mark sampai tahu dari orang lain, Mark bisa saja mengira Katie sengaja menyembunyikannya. Katie menahan napasnya lamat-lamat. Mark Barrington mungkin adalah pria yang sangat cerdas dalam urusan bisnis global, tetapi jika sudah menyangkut David Edwards, pria ini bisa menjadi sangat keras kepala dan tidak rasional.
Mark Barrington mengernyitkan dahi dalam-dalam. "Kamu berada di area pabrik siang tadi?"
Katie mengangguk. "Aku ingin melihat fasilitas unit keperawatan yang bisa aku gunakan nanti. Saat aku mau pulang, aku berpapasan dengan David yang baru saja datang. Dia berhenti sebentar untuk menyapaku."
"Aku bisa membayangkan dia melakukannya dengan sangat baik," cibir Mark sinis. "Terutama dengan latar belakangnya."
"Dalam hal apa?" tanya Katie datar. "Sopan santun?"
"Dalam bersosialisasi di masyarakat."
"Menurutku David Edwards terlihat seperti pria biasa pada umumnya jika menyangkut masalah tata krama," balas Katie mencoba objektif.
"Kita bisa terlambat." Mark mendadak mengubah topik pembicaraan.
Katie membiarkan pria itu melakukannya. Mark telah membenci David Edwards sepanjang hidupnya. Membenci dan—Katie agak mencurigai ini—merasa iri kepadanya, meskipun Mark tidak akan pernah mengakui hal itu, bahkan kepada dirinya sendiri.
Sifatnya tidak akan berubah begitu saja hanya karena pembelaan kecil yang Katie ucapkan. Jika pun Mark kelak mengubah pemikirannya, itu harus melalui proses panjang untuk belajar melihat David sebagai individu yang mandiri, bukan lagi sebagai bayang-bayang dari mendiang ayah mereka berdua.
Katie mengikuti Mark keluar menuju mobil sport modern miliknya, mencoba mengabaikan keheningan yang menyesakkan yang memenuhi kabin sepanjang perjalanan singkat menuju kediaman keluarga Wheelings.
Mata Katie melebar saat mobil mereka berhenti di depan sebuah rumah mewah modern bergaya minimalis memanjang, di mana sayup-sayup suara musik dan riuh pesta yang sedang berlangsung meriah terdengar sampai ke luar. Ia menelan ludah dengan gugup seraya memperhatikan seorang wanita yang sangat menawan turun dari mobil di depan mereka, lalu berjalan menuju pintu masuk bersama pasangannya.
"Jangan khawatir." Rasa kesal Mark akibat pembelaan Katie terhadap David seketika mencair saat melihat ekspresi cemas di wajah wanita itu. "Itu cuma Cindy Laukin. Dia bukan tandinganmu."
"Sikap memihakmu itu memang manis, Mark, tapi sepertinya kamu butuh kacamata baru," gurit Katie. "Wanita itu terlihat sangat menawan."
"Benar," sahut Mark sambil membukakan pintu mobil untuk Katie. "Tapi kamu kan punya target untuk menikah, dan Cindy bukan tipe wanita yang akan dinikahi oleh pria mana pun yang masih punya akal sehat untuk bertahan hidup."
Katie menoleh kembali ke arah wanita itu, yang saat ini sedang tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan pria di sebelahnya.
Bersambung .....