NovelToon NovelToon
Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Kebangkitan Kaisar Pedang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Fantasi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: hajdhts

"Seribu tahun lalu, aku adalah puncak dari segala ilmu pedang. Kini, aku hanyalah sampah yang dihina oleh keluargaku sendiri."

Ling Chen adalah seorang pemuda dari keluarga cabang yang lemah dan tidak memiliki bakat dalam kultivasi pedang. Di dunia di mana kekuatan pedang adalah segalanya, ia menjadi bulan-bulanan, dikhianati oleh tunangannya, dan hampir tewas di tangan saudara sepupunya sendiri.

Namun, di ambang kematian, segel kuno di dalam jiwanya hancur. Ingatan sebagai Kaisar Pedang Surgawi, penguasa semesta yang pernah ditakuti oleh para dewa dan iblis, bangkit kembali. Dengan teknik "Sembilan Tebasan Langit" yang telah lama hilang dan pedang karatan yang ia temukan di gudang tua, Ling Chen memulai langkahnya untuk menagih hutang darah.

Satu per satu genius yang sombong akan ia tebas. Kerajaan yang dulu mengkhianatinya akan berlutut di bawah kakinya. Langit mungkin melupakannya, tapi dunia akan segera tahu bahwa sang penguasa telah kembali untuk merebut tahtanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hajdhts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesta di Atas Penderitaan

Aula utama kediaman Keluarga Ling malam itu tampak seperti lautan emas.

Lampion-lampion sutra merah tergantung tinggi, memancarkan cahaya hangat yang memantul pada pilar-pilar kayu cendana berukir naga.

Bau harum daging panggang dan anggur kualitas tinggi memenuhi udara, bercampur dengan tawa riuh para tamu undangan yang terdiri dari para pejabat kota dan perwakilan sekte-sekte kecil di sekitar wilayah tersebut.

Di tengah aula, Ling Jian berdiri dengan dada membusung. Jubah birunya yang baru menunjukkan statusnya sebagai murid inti keluarga.

Di sampingnya, Yan Ran tampak anggun layaknya bunga teratai di tengah kolam.

Senyum tipis menghiasi bibirnya, senyum yang seolah menyatakan bahwa dunia kini berada dalam genggamannya.

"Selamat, Tuan Muda Ling Jian! Mendapatkan tunangan secantik Nona Yan Ran dan segera masuk ke Sekte Awan Biru, masa depan Anda benar-benar tidak terbatas!" puji seorang tetua dari keluarga rekanan sambil mengangkat cawannya.

Ling Jian tertawa jemawa. "Ini semua berkat dukungan keluarga. Dan tentu saja, karena kami telah menyingkirkan 'beban' yang selama ini menghambat nama baik kami."

Mendengar kata 'beban', beberapa orang di sana saling berbisik. Mereka tahu siapa yang dimaksud: Ling Chen.

Pemuda yang selama tiga tahun terakhir menjadi bahan olok-olok karena ketidakmampuannya membangkitkan tulang pedang.

Mereka tidak tahu bahwa saat ini, orang yang mereka anggap beban itu sedang berjalan mendekat dengan maut di tangan kanannya.

Sementara itu, di luar gerbang utama, suasana sangat kontras. Angin malam menderu lebih kencang, membawa serpihan salju yang kini terasa tajam seperti silet.

Dua orang penjaga gerbang tingkat rendah sedang berdiri sambil menggigil, memegang tombak mereka dengan malas.

"Hei, kau dengar itu? Seperti ada suara langkah kaki di atas salju," bisik salah satu penjaga.

"Mungkin hanya serigala gunung. Siapa yang berani datang ke sini malam-malam begini tanpa undangan?" jawab temannya acuh tak acuh"

Namun, suara itu semakin jelas. Tap. Tap. Tap. Berat dan berirama.

Dari kegelapan hutan, muncullah sesosok bayangan. Jubahnya yang compang-camping berkibar, dan di tangannya ia menyeret sebilah pedang hitam yang memancarkan uap dingin.

Wajahnya tertutup bayangan tudung, namun matanya bersinar biru safir di tengah kegelapan.

"Berhenti! Siapa kau? Tunjukkan wajahmu atau kami akan menusukmu!" teriak penjaga itu sambil mengarahkan tombaknya.

Sosok itu tidak berhenti. Ia terus melangkah. Saat ia berada hanya lima langkah dari gerbang, tekanan udara mendadak berubah.

Para penjaga itu merasa seolah-olah ada gunung raksasa yang menimpa pundak mereka. Napas mereka tercekat, dan lutut mereka gemetar hebat.

"Aku... pulang," suara itu dingin, seolah datang dari dasar jurang terdalam.

Ling Chen mendongak. Begitu wajahnya terlihat di bawah cahaya lampion gerbang, kedua penjaga itu terbelalak.

Wajah itu... itu adalah wajah pemuda yang beberapa jam lalu dibawa pergi oleh Ling Jian untuk "dibereskan".

"Ling Chen?! Bagaimana mungkin kau—"

Belum sempat penjaga itu menyelesaikan kalimatnya, Ling Chen mengibaskan tangan kirinya.

Gelombang tekanan udara yang murni menghempaskan mereka berdua hingga menabrak gerbang kayu ek yang tebal.

BRAKK!

Gerbang utama yang kokoh itu retak. Ling Chen tidak menggunakan teknik pedang; ia hanya menggunakan sisa-sisa energi kaisar yang mulai menyatu dengan tubuh barunya.

Baginya, melawan orang-orang ini bahkan tidak membutuhkan satu tarikan napas.

Di dalam aula, suara dentuman di gerbang luar sempat membuat musik berhenti sejenak.

Namun, Ling Jian hanya mengibaskan tangan. "Mungkin hanya dahan pohon yang patah karena salju. Lanjutkan pestanya!"

Namun, Yan Ran merasa ada yang tidak beres. Jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. Sebagai seorang kultivator tingkat awal, ia memiliki intuisi yang lebih tajam.

Ada sesuatu yang sangat dingin sedang mendekat—sesuatu yang membuatnya merasa seperti seekor semut di hadapan seekor naga.

"Ling Jian, kau yakin dia sudah... benar-benar mati?" bisik Yan Ran penuh keraguan.

"Jangan konyol, Ran. Aku menusuk jantungnya sendiri. Tidak ada manusia yang bisa bertahan hidup setelah jantungnya ditembus pedang perakku," jawab Ling Jian dengan nada meremehkan.

Tepat setelah ia mengucapkan kata-kata itu, pintu aula yang megah meledak menjadi ribuan kepingan kayu.

Debu dan serpihan kayu beterbangan ke mana-mana.

Para tamu berteriak ketakutan, menutupi wajah mereka.

Di tengah kabut debu itu, berdiri seorang pemuda. Ia berdiri tegak, memegang pedang hitam yang mengeluarkan aura haus darah yang mencekam.

Semua orang di aula membeku. Suasana yang tadinya panas karena pesta, seketika berubah menjadi sedingin kutub utara.

"Ling... Chen?" Ling Jian menjatuhkan cawannya. Wajahnya yang tadi merah karena alkohol kini memucat seputih kertas.

"Tidak mungkin... kau seharusnya sudah menjadi mayat!"

Ling Chen melangkah masuk ke atas karpet merah. Setiap langkahnya meninggalkan bekas terbakar yang hitam, menghanguskan kemewahan yang ada di bawah kakinya.

Matanya yang biru menatap tajam ke arah Ling Jian dan Yan Ran yang berdiri di atas panggung kehormatan.

"Aku memang sudah mati," suara Ling Chen menggema, mengandung kekuatan yang membuat pilar-pilar aula bergetar.

"Ling Chen yang lemah, yang kalian injak-injak dan khianati, sudah tidak ada lagi. Yang berdiri di depan kalian sekarang adalah penagih nyawa."

Seorang tetua keluarga Ling, Ling kaisar—paman Ling Chen yang terkenal kejam—berdiri sambil menggebrak meja.

"Berani-beraninya kau mengacau di sini, Sampah! Jika kau beruntung bisa hidup, seharusnya kau lari sejauh mungkin. Sekarang, kau sendiri yang mencari mati!"

Tetua itu melompat, tangannya membentuk cakar elang yang dialiri energi kuning. Ia adalah kultivator Alam Pengumpulan Energi tahap ke-5.

Bagi Ling Chen yang dulu, satu serangan ini sudah cukup untuk menghancurkannya menjadi debu.

Namun, Ling Chen bahkan tidak menoleh. Saat tetua itu berada di udara, Ling Chen hanya mengayunkan pedang hitamnya secara horizontal.

Gerakannya sangat lambat, namun di mata para ahli, gerakan itu mengandung hukum dunia yang tak terpahami.

Sring!

Satu kilatan cahaya biru membelah ruangan. Tidak ada suara ledakan yang dahsyat, hanya keheningan yang mematikan.

Detik berikutnya, tetua Ling itu jatuh berdebum di lantai. Bukan karena terluka, melainkan karena seluruh energi dalam tubuhnya telah dipadamkan secara paksa, dan tangan kanannya kini terpisah dari bahunya.

"AAAAAAGGGHH!" teriakan kesakitan sang tetua memecah keheningan.

Para tamu undangan mundur sejauh mungkin. Mereka melihat ke arah Ling Chen dengan tatapan horor.

Menumbangkan seorang tetua hanya dengan satu ayunan pedang? Kekuatan macam apa itu?

Ling Chen mengarahkan ujung pedangnya tepat ke hidung Ling Jian. "Sekarang, giliranmu. Tunjukkan padaku 'takdir' yang kau banggakan itu."

Suasana di dalam aula kini bukan lagi sekadar mencekam, melainkan terasa seperti berada di dalam ruang hampa udara.

Para tamu undangan, yang sebagian besar adalah tokoh-tokoh berpengaruh di wilayah Jombang, merasakan bulu kuduk mereka berdiri tegak.

Mereka melihat bagaimana darah dari lengan Tetua Ling yang terputus mulai membeku secara tidak wajar di atas lantai—bukan karena cuaca, melainkan karena Qi dingin yang terpancar dari pedang hitam Ling Chen.

Ling Jian gemetar hebat. Pedang perak kebanggaannya, yang tadi ia gunakan untuk menusuk jantung Ling Chen, kini terasa sangat berat di tangannya.

Ia mencoba mengerahkan seluruh energinya, namun Qi di dalam tubuhnya seolah-olah ketakutan, meringkuk di sudut-sudut meridiannya dan menolak untuk keluar.

Ini adalah penindasan tingkat tinggi; sebuah fenomena di mana jiwa yang lebih rendah akan tunduk secara alami di hadapan jiwa penguasa.

"Kau... monster macam apa kau ini?!" teriak Ling Jian dengan suara yang pecah. "Aku sudah membunuhmu! Aku melihatmu mati!"

Ling Chen melangkah satu kali lagi. Tap. Suara langkahnya terdengar seperti lonceng kematian.

"Mata manusia hanya bisa melihat permukaan, Ling Jian. Kau melihat mayat, tapi aku melihat kesempatan untuk mengakhiri sandiwara ini."

Ling Chen mengangkat tangan kirinya, jemarinya bergerak seolah sedang memetik senar kecapi di udara.

Seketika, aura biru yang menyelimuti tubuhnya membentuk bayangan samar seekor naga kuno yang melingkar di belakang punggungnya.

Inilah Visi Kaisar, sebuah manifestasi dari kekuatan mental yang hanya bisa dimiliki oleh mereka yang pernah berdiri di puncak langit.

Yan Ran, yang semula berdiri dengan angkuh, kini jatuh terduduk. Wajah cantiknya kusam oleh rasa takut yang luar biasa.

Ia menyadari satu hal yang terlambat: pemuda di depannya bukan lagi Ling Chen yang bisa ia permainkan dengan kata-kata manis.

Pria ini adalah badai yang akan menghapuskan segala kemunafikan yang telah mereka bangun.

"Dulu kau bilang, dunia hanya mengenal yang kuat," ucap Ling Chen sambil menatap Yan Ran dengan tatapan kosong, seolah wanita itu tidak lebih dari sekadar debu di jalanan.

"Hari ini, aku akan menunjukkan padamu, siapa sebenarnya yang memegang kendali atas kekuatan itu."

Dengan gerakan yang sangat tenang, Ling Chen mengangkat pedang hitamnya tinggi-tinggi. Cahaya lampion di aula mendadak redup, seolah energinya diserap oleh bilah pedang tersebut.

Di saat itulah, semua orang tahu bahwa pesta ini telah berakhir, dan sebuah legenda baru—yang bangkit dari pengkhianatan—tengah memulai babak pertamanya yang berdarah.

...****************...

1
Nanik S
Giliranku menunjukan permainan yang sesungguhnya👍👍👍
Nanik S
Ganggu orang makan saja... Dasar Pak Tua ..ganti baju dulu🤣🤣🤣
Nanik S
Ceritanya bagus tapi gak hidup sama sekali karena susunan kata saja ditulis aja ..banget .... Loh.....harusnya ditulis yang pas Tor
Siti Hodijah: makasih masukannya
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan dan kata katanya banyak kurang pas
Nanik S
Dikit dikit kata banget... cari kata lain yang Pas Tor
Siti Hodijah: contohin dong kak
total 2 replies
Nanik S
Sebagai masukan .. kata subuh dijaman dulu itu tidak ada Tor
Siti Hodijah: jadi sarannya gmnaa kaka
total 2 replies
Nanik S
Kemana lagi Lin Chen dan Mu Rong
Nanik S
Ada kata yang kurang .. salah satunya Oky dan adalagi Tot
Nanik S
Shiiip
Nanik S
Sang Kapten yang mau menyetor Nyawa ke Lin Chen
Nanik S
Jelas Beda Jiwa Kaisar yang berada didalam tubuh Lin Chen
Nanik S
Maaantaap Poooool
Nanik S
IPasukan bayangan yang berkhianat di kekaisaran
Nanik S
Keluarga Kekaisaran...benua Tengah
Nanik S
Kyuuuuu habis semua
Nanik S
Liontin Mu Rong bersonasi dengan batu peninggalan ibunya
Nanik S
Mu Rong... siapa gadis ini sebenarnya
Nanik S
Segel di Liontin Giok
Nanik S
Habis sudah harapan hidup Yan Ran wanita licik dan Munafik
Nanik S
Bantai semua Aliansi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!