Arsen Laurent Wijaya, dosen killer yang dingin dan tak tersentuh, hidup dalam bayang-bayang pengkhianatan masa lalu. Sejak itu, ia membenci perempuan—bahkan tubuhnya sendiri menolak setiap sentuhan mereka.
Di rumah, ia hanya sosok ayah tanpa kehangatan.
Hingga hadir Alana Kirana Putri.
Mahasiswi ceroboh, ceria, dan penuh kekacauan kecil di hidupnya. Berbeda dari semua perempuan yang pernah Arsen temui, Alana justru tidak membuatnya mual… tidak ditolak oleh tubuhnya.
Sejak saat itu, dunia Arsen yang dingin mulai retak.
Di antara luka lama, perbedaan yang jauh, dan masa lalu yang kembali menghantui—perlahan muncul sesuatu yang tak pernah ia izinkan lagi:
perasaan.
Namun… apakah hati yang sudah membeku bisa benar-benar kembali hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon keipouloe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batasan dan Ancaman Mutlak
Keheningan di pelataran kedai itu berlanjut hingga beberapa detik yang menyiksa, sebelum akhirnya Arsen membuka suara dengan nada yang teramat rendah, hampir menyerupai bisikan, namun sarat akan bahaya.
"Kau... sedang mencoba mengajari saya tentang bagaimana cara mendidik dan berbicara dengan anak saya sendiri, Saudari Alana?" tanya Arsen, menggunakan kata kau yang menandakan batas kesabaran profesionalnya sebagai dosen telah menguap sepenuhnya.
"N-nggak... bukan maksud saya mau menggurui, Pak," Alana langsung didera kepanikan instan, mencoba memundurkan posisinya satu langkah dan meralat kalimatnya agar tidak berujung pada bencana akademis. "Maksud saya tuh, kita bisa bicarain ini baik-baik tanpa—"
"Kalau begitu, tutup mulutmu dan jangan pernah sekali-kali ikut campur dalam urusan internal keluarga saya," potong Arsen telak, dingin, dan tanpa ampun.
Alana langsung terbungkam, giginya merapat rapat. Ia tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun lagi karena aura Arsen saat ini benar-benar mengerikan.
Namun, tindakan Arsen yang menekan Alana justru membuat Axel tidak bisa lagi menahan bom waktu di dalam dadanya. Bocah itu melangkah maju satu tapak, memposisikan tubuh kecilnya berdiri pas di depan Alana, seolah mencoba menjadi perisai bagi gadis itu.
"Papa selalu seperti itu! Selalu mengintimidasi dan menekan semua orang yang tidak bersalah!" seru Axel dengan suara yang mulai pecah.
Arsen menatap putranya dengan pandangan sedingin musim dingin di belahan bumi utara. "Sikap pembangkangan, kabur dari rumah, dan berteriak seperti ini juga tidak membuatmu terlihat lebih baik atau terlihat dewasa, Axel."
"Aku tidak peduli lagi! Aku tidak peduli terlihat seperti apa di mata Papa!" balas Axel, napasnya mulai naik turun menahan sesak yang menghimpit dadanya.
"Jaga nada bicaramu di depan Papa, Axel," diperingatkan Arsen dengan suara bariton yang merendah, namun getaran otoritas di dalamnya mutlak tak terbantahkan.
"Aku capek, Pa... Aku cuma mau tenang sebentar saja!" Kalimat pendek yang keluar dengan nada lirih, bergetar, dan penuh keputusasaan dari bibir Axel itu seketika membuat Arsen tertegun selama sepersekian detik.
Ada riak emosi samar—mungkin rasa terkejut atau rasa bersalah yang lewat sangat cepat—di kornea mata pria dewasa itu, namun dengan kejam langsung ia kuasai kembali hingga wajahnya kembali menyerupai topeng marmer yang kokoh.
Sebelum suasana di depan kedainya berubah menjadi jauh lebih dramatis atau memancing perhatian warga gang yang mulai mengintip dari balik jendela rumah, Alana buru-buru menyela. Ia memaksakan sebuah tawa canggung yang terdengar sangat garing.
"Udah, udah, aduh... tolong jangan ribut di depan kedai saya malam-malam begini dong, Pak, Axel. Nanti tetangga kanan-kiri saya pada bangun semua dan ngira kedai Ayam Geprek ini lagi buka arena tinju bebas buat keluarga. Nggak enak sama pak RT, hehe..."
Tidak ada satu pun dari kedua gunung es itu yang tertawa, tersenyum, atau bahkan melirik ke arah lelucon Alana.
Sepi kembali merayap, sangat pekat hingga suara jangkrik di balik pot bunga pun seolah enggan berbunyi karena takut.
Sampai akhirnya, Arsen menarik napas pendek dan mengembuskannya perlahan melalui hidung, memutus kontak mata dengan sang putra.
"Masuk ke mobil. Sekarang juga," perintah Arsen.
Axel bergeming.
Tatapannya justru turun, menatap lurus ke arah lantai semen kedai yang kusam dan penuh noda minyak kering.
Tubuh kecilnya tidak bergerak satu senti pun dari tempatnya berdiri, menunjukkan sebuah penolakan pasif yang luar biasa keras kepala. Ia menolak untuk tunduk kali ini.
Kesabaran Arsen benar-benar telah mencapai titik nadir setelah seharian penuh dihantam tekanan pekerjaan di kantor dan laporan kaburnya sang anak. "Axel. Papa tidak suka mengulang."
"Aku tidak mau pulang ke rumah," jawab Axel lantang, kembali mendongak dan menatap ayahnya dengan sorot mata menantang yang berapi-api. "Rumah itu dingin. Aku benci di sana."
Alana refleks menolehkan kepalanya cepat ke arah Axel dengan mata membulat sempurna. "Waduh... berani banget ini anak. Ini mah namanya sengaja nyari tiket VIP buat masuk ke ruangan interogasi," batin Alana menjerit ngeri, tangannya meremas ujung kaosnya semakin kuat.
Tatapan Arsen langsung berubah menjadi jauh lebih gelap, pekat, dan berbahaya. "Jangan pernah membuat Papa mengulang perintah yang sama untuk ketiga kalinya di tempat umum seperti ini, Axel. Kamu tahu konsekuensinya."
"Aku tetap tidak mau," tegas Axel, tetap berdiri kokoh di tempatnya.
Hening kembali merayap di antara mereka selama beberapa detik yang terasa berjalan seperti berjam-jam. Lalu, secara perlahan dan penuh perhitungan, Arsen mengalihkan pandangan matanya kembali ke arah Alana yang sedang berdiri tegang di samping meja.
Tatapan mata pria itu membuat firasat Alana langsung terjun bebas, berubah menjadi sangat tidak enak. Dan benar saja, kalimat berikutnya yang meluncur dari bibir dosennya itu sukses membuat seluruh sendi di tubuh Alana terasa lepas karena ancaman nyata yang tersirat di dalamnya.
"Kalau dia terus-menerus membangkang, menolak perintah, dan menolak untuk pulang ke rumah hanya karena merasa terlalu nyaman berada di tempat ini," ujar Arsen dengan nada suara yang teramat tenang, namun nadanya terasa seperti mata pisau yang menusuk perlahan ke leher Alana.
"Mungkin... saya perlu memastikan dengan cara saya sendiri bahwa dia tidak akan pernah punya alasan lagi, atau bahkan tidak akan punya tempat lagi, untuk berkunjung di gang ini ke depannya."
Alana langsung menangkap maksud tersembunyi yang mengerikan dari kalimat dingin tersebut.
Ancaman itu bukan bualan fiksi.
Menggunakan kekuasaan, jaringan hukum, dan kekayaan raksasa yang dimilikinya sebagai petinggi Wijaya Group, bukan hal yang mustahil bagi Arsen untuk menggusur lahan, mencabut izin usaha mikro, atau menutup kedai geprek kecilnya ini dalam sekejap mata jika pria itu menghendaki.
Kedainya, mata pencarian satu-satunya untuk bertahan hidup, kini berada di ujung tanduk ancaman sang dosen.
"Pak Arsen..." suara Alana seketika mengecil, digantikan oleh rasa takut dan cemas yang teramat nyata akan masa depan usahanya. "Tolong jangan bawa-bawa kedai saya..."
"Saya tidak suka ada sesuatu hal di dunia ini yang berjalan di luar kendali, prediksi, dan pengawasan saya, Alana," sahut Arsen rendah, bobot ancamannya terasa sangat nyata menghimpit pundak Alana hingga gadis itu tidak bisa berkutik.
Mendengar ancaman halus namun mematikan yang diarahkan ayahnya kepada Alana, Axel langsung menegang. Rasa bersalah yang besar dan amarah yang meluap bercampur aduk di dalam dadanya. "Jangan libatkan Kak Alana! Jangan berani Papa menyentuh atau merusak tempat ini!"
"Oh? Kenapa Papa tidak boleh melakukannya?" Arsen menaikkan sebelah alisnya, menilai reaksi protektif anaknya yang menurutnya terlalu berlebihan untuk ukuran orang yang baru dikenal dua hari.
"Aku yang datang ke sini atas kemauanku sendiri! Kak Alana tidak tahu apa-apa tentang aku atau tentang keluarga kita! Dia cuma orang asing yang berjualan!" seru Axel, mencoba menarik seluruh kesalahan ke pundaknya sendiri.
"Tapi perempuan ini dengan sengaja membiarkanmu tinggal, menampungmu, dan memberimu makan di sini tanpa ada niat sedikit pun untuk melaporkannya ke pihak berwajib atau mencari tahu siapa keluargamu," sahut Arsen, suaranya tetap sedingin es.
"Aku tidak pernah meminta ditemani olehnya! Aku datang cuma untuk beli makan karena aku lapar! Jangan ganggu dia!" jawab Axel dengan napas yang mulai memburu, dadanya naik turun dengan cepat.
Arsen meloloskan tawa kecil yang terdengar sangat hambar dan sinis di telinga. "Menarik sekali. Baru beberapa kali bertemu di warung sekecil dan sekotor ini, dan kau sudah mulai berani membela orang lain dan mendikte Papamu sendiri, Axel? Di mana sopan santun yang diajarkan para gurumu di rumah?"
Axel mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di dalam saku jaket hingga seluruh tubuh kecilnya gemetar menahan letupan emosi.
Sementara itu, Alana yang berdiri di samping mereka sudah mulai didera stres tingkat dewa. Ia memegangi pelipis kepalanya yang mendadak terasa pening luar biasa. Kenapa jalan hidup kuliahnya yang awalnya tenang dan hanya dipenuhi tugas makalah, harus mendadak berubah menjadi selembar naskah drama keluarga konglomerat penuh masalah emosional seperti ini?
"Pak Arsen..." Alana kembali memberanikan diri untuk berbicara, mencoba meredam ketegangan sebelum masa depan akademis dan ekonominya benar-benar dihancurkan oleh pria di depannya. "Saya bersumpah, demi apa pun, saya benar-benar nggak ada niat, maksud terselubung, atau agenda apa pun sama Axel. Saya murni cuma kasihan sebagai sesama manusia."
"Saya tahu," jawab Arsen pendek, memotong kalimat Alana.
"Kalau Bapak sudah tahu saya nggak salah, terus kenapa saya dan kedai saya harus ikut diancam dan disangkutpautkan seperti ini? Ini nggak adil buat saya, Pak!" protes Alana dengan nada frustrasi yang sudah tidak bisa ditahan lagi.
"Karena kamu... terlalu mudah membiarkan diri kamu masuk, membuka pintu, dan mencampuri urusan domestik keluarga orang lain yang bukan menjadi hak atau urusan kamu," jawab Arsen dengan untaian kalimat logis namun kejam yang menusuk telak ke dalam ulu hati Alana.
Deg.
Kalimat sarkas nan logis itu seketika membuat Alana terbungkam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu. Ia langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, merasa tertampar oleh kenyataan pahit bahwa dirinya memang egois karena merasa paling benar, padahal ia tidak punya hak apa pun di dalam pusaran konflik keluarga Wijaya.
Sementara itu, melihat Alana yang tampak tertekan dan menunduk karena ulah kata-kata ayahnya, Axel terlihat semakin kecewa dan marah pada dirinya sendiri. Tatapan matanya pada Arsen memancarkan luka lama yang mendalam, luka penolakan yang selama ini ia simpan rapat di kamarnya yang megah.
"Papa... Papa selalu seperti ini," ucap Axel dengan nada suara yang bergetar lirih, menatap Arsen dengan pandangan penuh kekecewaan. "Selalu sukses bikin semua orang yang ada di dekatku pergi menjauh karena ketakutan. Papa monster."
Arsen tertegun sesaat. Tubuh tingginya sempat menegang mendengar kata monster meluncur dari bibir anak kandungnya sendiri. Ada kekosongan yang melintas di mata pria dewasa itu selama sepersekian detik, sebuah ruang hampa yang memperlihatkan bahwa di balik ketangguhannya, kalimat Axel barusan berhasil menembus lapisan pelindungnya.
Mereka berdua saling melempar tatapan untuk waktu yang terasa sangat panjang di bawah lampu gang yang temaram.
Sama-sama memiliki sorot mata yang keras, sama-sama sedingin es, dan di balik itu semua... sebenarnya mereka berdua sama-sama menyimpan luka besar masa lalu yang tidak pernah benar-benar disembuhkan.
Akhirnya, setelah keheningan yang menyiksa itu berjalan beberapa saat, bahu tegap Axel perlahan meluruh. Ketegangan di tubuh bocah itu menguap, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa hebat, baik secara fisik maupun mental. Ia sadar, jika ia terus bertahan di sini, Alana yang akan menerima akibat buruknya. Axel membalikkan tubuhnya pelan, mengalah pada ego raksasa ayahnya.
"Aku pulang," ucap Axel pelan.
Arsen tidak memberikan jawaban verbal apa pun. Pria itu hanya berdiri diam, memperhatikan setiap jengkal gerakan putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Bocah dua belas tahun itu melangkah berjalan melewati tubuh tegap ayahnya begitu saja tanpa menengok lagi, bergerak lurus dengan langkah gontai menuju ke arah pintu mobil sedan mewah hitam yang terparkir di ujung gang sempit.
Namun, tepat sebelum jemari kecilnya membuka gagang pintu mobil mewah tersebut, langkah kaki Axel sempat terhenti selama satu detik.
Ia memutar sedikit kepalanya, melayangkan pandangan matanya yang sayu ke arah Alana yang masih berdiri kaku di samping meja plastik.
Meskipun ekspresi wajahnya telah kembali sedatar biasanya, kali ini nada suara yang keluar dari mulut Axel terdengar jauh lebih pelan, tulus, dan bergaung lembut di telinga Alana.
"Terima kasih banyak... untuk makan malamnya yang sangat hangat dan enak, Kak Alana."
Dan entah kenapa, untaian kalimat ucapan terima kasih yang sederhana namun sarat akan ketulusan dari mulut bocah sekecil itu justru sukses membuat rongga dada Alana mendadak terasa hangat, namun di saat yang bersamaan ada rasa nyeri, bersalah, dan sesak yang mengimpit hatinya.