Di sebuah kampung tua di pinggiran Jawa Barat, muncul teror mengerikan dari sosok makhluk yang dipercaya sebagai Jurig Jarian — hantu penghuni tempat sampah yang lahir dari kebencian, keserakahan, dan sampah manusia yang menumpuk selama puluhan tahun. Siapa pun yang membuang sesuatu sembarangan pada malam tertentu akan mendengar suara garukan dari tong sampah… sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Lullaby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghargai Napas Desa
Setelah merasa bahwa kamar depan sudah cukup nyaman untuk dihuni, Adrian dan Bagas pergi untuk memastikan fungsi ruangan lain di rumah besar tersebut. Mereka sepakat untuk membagi tugas pengecekan agar malam pertama mereka tidak terganggu oleh masalah yang merepotkan.
Bagas menuju area kamar mandi di lorong samping. Saat pintu kayu yang berat itu dibuka, suara berderitnya sangat mengganggu. Di dalamnya terdapat bak mandi keramik besar berwarna hijau kusam yang terinspirasi oleh desain lama. Bagas memutar keran besi yang sudah berkarat, awalnya hanya terdengar suara batuk dari pipa, kemudian air keruh berwarna coklat mulai mengalir perlahan.
"Yah, airnya keruh," keluh Bagas sambil memperhatikan bayangannya yang bergerak di permukaan air yang tenang. Dia merasakan suhu di dalam kamar mandi lebih dingin beberapa derajat dibandingkan lorong, dan anehnya, suara dari lubang drainase di lantai pojok terus-menerus terdengar seperti suara orang yang tersedak.
Sementara itu, Adrian berjalan ke bagian belakang menuju dapur. Ruang ini memiliki banyak sentuhan arsitektur asli, terdapat meja beton panjang dengan ubin putih dan sebuah tungku besar yang tampaknya sudah bertahun-tahun tidak digunakan untuk memasak.
Adrian memeriksa instalasi pipa gas dan tempat penyimpanan kayu bakar yang sudah lapuk. Ia mengetuk dinding dapur yang terasa sangat tebal.
"Dengan sedikit perawatan, ini bisa jadi lab sementara untuk sampel sampah kita,". Pikirnya, berusaha tetap fokus pada tujuan KKN nya.
Namun, konsentrasinya terganggu saat melihat sebuah piring kaleng tua di tengah meja beton, berisi sisa bunga melati yang sudah kering dan menghitam, seolah baru saja ditinggalkan seseorang.
Adrian hanya mengernyitkan dahi dan dengan tenang menyapu sisa bunga kering itu ke lantai, menolak untuk membiarkan pemikirannya yang mistis merusak logikanya.
Bagas sedang membungkuk di pinggir bak mandi keramik yang besar itu, tangannya terlibat menggosok dinding bak yang licin dengan sikat plastik. Suara gesekan sikat dan suara air yang memantul di dinding kamar mandi yang sempit menciptakan suasana yang bising sekaligus menegangkan. Sambil sesekali mengeluh tentang air yang kotor, Bagas merasakan bulu kuduknya tiba-tiba merinding.
Dia merasa seolah ada sesuatu yang berdiri tepat di belakangnya, menghalangi cahaya redup dari lampu kuning di langit-langit. Sebuah bayangan hitam besar tampak di permukaan air bak yang mulai jelas, diam dan tak bergerak.
"Jangan bercanda, Yan. " bisik Bagas dengan suara bergetar. Jantungnya berdegup kencang, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Dengan cepat dan dengan napas tertahan, Bagas berbalik sambil mengangkat sikat plastiknya seperti ingin menyerang.
"Waaaa! ! ! " teriaknya dengan histeris.
"Astaga, Gas! Ini aku! ". Seru Dinda sambil mundur satu langkah, kedua tangannya terangkat karena terkejut melihat reaksi Bagas yang berlebihan.
Dinda! kamu ya, selalu muncul tiba-tiba kayak hantu! Aku pikir penunggu rumah ini mau menarik aku ke dalam bak!”. Bagas langsung duduk di lantai kamar mandi yang basah, memegang dadanya yang terasa seperti mau meledak.
"Lagian kamu serius banget nyucinya. Aku cuma mau tanya, apa ada sabun cuci tangan di sini? Soalnya keran di kamar mandi belakang sudah rusak total, jadi aku mau numpang di sini saja." Dinda tersenyum sambil tertawa kecil, namun ekspresinya masih tampak terkejut.
"Sinyal hilang, airnya kotor, dan sekarang kamu hampir membuatku terkejut setengah mati. Selamat datang di liburan KKN yang paling tidak nyaman dalam sejarah," keluh Bagas sambil berusaha bangkit dan merapikan kaosnya yang basah.
"Sudah, biarkan airnya mengalir sebentar, Gas. Nanti setelah penuh dan kotorannya mengendap, baru kita gunakan,". Kata Dinda sambil memutar keran hingga tertutup rapat, menghentikan suara air yang tadi mengisi ruangan kecil itu.
"Baiklah, ayo keluar. Aku tidak betah berlama-lama di sini, suasananya benar-benar menyeramkan.” Ajak Dinda dan Bagas mengangguk setuju, walau bagas masih berusaha mengatur napasnya yang belum tenang setelah terkejut. Mereka pun melangkah keluar dari kamar mandi, menutup pintu kayu yang berat hingga menghasilkan suara dentuman yang bergema di lorong rumah.
Namun, di dalam kamar mandi yang sekarang hening dan remang-remang, permukaan air di bak keramik hijau mulai bergetar perlahan. Getaran kecil itu semakin lama semakin tampak jelas, seolah ada sesuatu yang bergerak dari kedalaman bak yang dalam.
Tiba-tiba, dari balik air yang mulai tenang, sebuah kepala perlahan muncul ke permukaan. Rambut hitam yang panjang, basah dan kusut, menutupi sebagian wajahnya yang pucat dengan kulit terlihat membusuk akibat air.
Sepasang matanya yang hanya menyisakan bagian putih saja menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditutup, sementara jari-jari tangannya yang pucat dengan kuku yang gelap mulai mencengkeram tepi bak mandi, meninggalkan jejak basah yang gelap.
Sosok itu tetap diam, hanya menyisakan separuh wajahnya di atas permukaan air, seolah mendengarkan langkah kaki para mahasiswa yang perlahan menjauh menuju ruang tengah.
Adrian mengelap debu dari permukaan kompor minyak tua dengan kain lap yang basah. Setelah memastikan bahwa sumbunya dapat menyala dengan baik, ia berpindah ke deretan piring dan gelas yang tertata di rak kayu. Satu per satu dia mencuci dan mengeringkannya dengan gerakan yang sangat teratur ciri khasnya yang menghargai efisiensi.
Namun, saat tangannya mencapai bagian teratas lemari piring yang agak tersembunyi, jemarinya merasakan sesuatu yang berbeda dari keramik atau kaca. Dia menarik objek itu sedikit ke arah cahaya.
Di atas sebuah piring tanah liat kecil, terdapat sisa-sisa sesajen yang sudah kering. Ada sisa-sisa bunga mawar yang menghitam, sebuah jeruk purut yang mengkerut, dan butiran beras kuning yang berserakan. Aroma melati yang samar tetapi tajam mirip dengan yang dia cium di meja beton sebelumnya kembali menusuk hidungnya.
Adrian terdiam sejenak, memandangi benda itu dengan dahi berkerut. Sebagai seorang mahasiswa teknik yang dibesarkan dengan prinsip bahwa segala sesuatu harus bisa dijelaskan secara ilmiah, keberadaan benda ini di dalam rumah yang disebut sudah dibersihkan.
"Untuk apa benda ini ada di sini? Apakah warga sengaja menaruhnya sebagai tradisi penyambutan, atau apakah rumah ini memang secara rutin diberi makan" pikirnya.
Dia hampir membuang sesajen itu ke tempat sampah, tetapi teringat pesan Pak RT tentang menghargai napas desa. Akhirnya, dengan perasaan campur aduk antara rasa skeptis dan rasa ingin tahunya yang mulai muncul, dia meletakkan kembali piring tanah liat tersebut ke tempat semula, mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sisa budaya lama yang tertinggal, bukan suatu peringatan.