NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Mikayla berhenti menyiram. Ia berbalik perlahan, memberikan senyum paling tulus yang pernah Elang lihat senyum yang menyembunyikan belati di baliknya. " Tentu saja aku tahu, kamu lupa aku bekerja di bank, tapi sebenarnya apa yang terjadi,, kamu menuduhku " Mikayla tersenyum miris. "Selama 5 tahun menikah bahkan aku hanya datang ke perusahaan hanya beberapa kali 6 kali. Bahkan saat ada pesta penting kamu mengajak Siska sekretarismu itu."

Elang terdiam...

"Seharusnya aku yang bertanya?.. Aku tidak pernah ikut campur urusan perusahaanmu." Ucap mikayla

Elang terpaku di tempatnya berdiri. Serangan balik Mikayla begitu tenang namun menghujam tepat ke ulu hati egonya. Kata-kata istrinya adalah fakta yang tak terbantahkan selama lima tahun ini, Elang sendiri yang membangun tembok tinggi untuk menjauhkan Mikayla dari dunianya, agar ia bisa leluasa bermain di belakangnya.

"Mika, bukan begitu maksudku..." Elang mencoba melembutkan suaranya, meski kecurigaannya belum sepenuhnya luntur. "Aku hanya sedang pusing. Kak Gerald benar-benar ingin mematikan posisiku di cabang.”

Mikayla meletakkan selang air ke rumput, membiarkan air mengalir membasahi tanah, persis seperti ia membiarkan kehancuran Elang mengalir tanpa hambatan. Ia mendekat, menatap mata Elang dengan binar yang tampak seperti luka lama yang dibuka kembali.

"Kamu pusing karena perusahaan, atau pusing karena takut rahasiamu tercium?" Mikayla berbisik, suaranya mengandung racun yang manis. "Selama lima tahun aku diam, Mas. Aku diam saat kamu lebih memilih Siska untuk menemanimu ke jamuan makan malam penting. Aku diam saat orang-orang bertanya di mana istri Elang Abimanyu. Aku diam karena aku percaya kamu sedang 'bekerja'.”

Mikayla menghela napas, sebuah sandiwara kekecewaan yang sangat rapi.

"Dan sekarang, saat posisimu terancam, kamu pulang dan menuduh istrimu sendiri? Orang yang setiap pagi menyiapkan teh untukmu? Orang yang menunggumu pulang sampai larut?" Mikayla tertawa miris, memalingkan wajah. "Lucu sekali. Ternyata pengabdianku selama ini hanya dibalas dengan kecurigaan serendah ini.”

Melihat Mikayla yang tampak "terluka", insting dominasi Elang perlahan goyah. Logikanya mulai berperang: Apakah benar Mika tidak tahu apa-apa? Benarkah dia hanya wanita malang yang aku abaikan?

"Maaf... maafkan aku, Mika," Elang akhirnya menyerah, ia merengkuh bahu Mikayla, mencoba mencari perlindungan pada satu-satunya orang yang ia pikir masih bisa ia kendalikan. "Aku hanya sedang kalut. Aku tidak bermaksud menuduhmu. Kamu benar, kamu tidak punya akses ke server pusat Gerald."

Mikayla membiarkan dirinya dipeluk, menyandarkan dagunya di bahu Elang. Di balik punggung suaminya, mata Mikayla yang tadi terlihat berkaca-kaca kini berubah menjadi sedingin baja.

Sambil membalas pelukan Elang, Mikayla membisikkan sesuatu yang terdengar seperti dukungan, namun sebenarnya adalah instruksi untuk kehancuran Elang selanjutnya.

"Kalau Mas merasa tidak aman di kantor, pindahkan saja dokumen-dokumen penting atau aset yang menurutmu 'berisiko' ke tempat lain," bisik Mikayla pelan. "Ke brankas rumah kita, atau ke rekening pribadiku. Gerald tidak akan berani menyentuh harta pribadiku, kan? Aku akan menjaganya untukmu, Mas."

Elang melepaskan pelukannya, menatap Mikayla dengan binar harapan baru. "Mika... kamu benar. Gerald tidak punya hak menyita aset atas namamu karena kita punya perjanjian pisah harta. Itu wilayah hukum yang berbeda!”

"Pikirkan saja dulu, Mas," ucap Mikayla sambil mengelus pipi Elang. "Aku hanya ingin membantu. Aku tidak mau suamiku jatuh hanya karena ulah Kak Gerald yang terlalu ambisius."

Elang mengangguk mantap, merasa telah menemukan jalan keluar di tengah badai. "Aku akan memikirkannya malam ini. Terima kasih, Mika. Ternyata hanya kamu yang benar-benar ada di pihakku."

Mikayla berbalik kembali ke tanamannya, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. Teruslah percaya padaku, Elang. Berikan semua hartamu padaku, lalu aku akan mengantarmu sendiri ke gerbang penjara.

"Lagi pula tau sendiri aku tidak pernah datang ke rumah utama, karena ibumu sangat membenciku, aku bahkan tidak tau seperti apa wajah kakakmu" Ucapnya dengan sendu mikayla menundukkan wajahnya.

Elang memeluk dan mengusap lembut punggungnya. Elang terdiam seribu bahasa. Kalimat Mikayla barusan adalah kebenaran yang pahit sekaligus tameng paling sempurna bagi rencana besar istrinya. Selama lima tahun ini, Elang sendiri yang membiarkan ibunya mengucilkan Mikayla. Ia membiarkan istrinya dianggap "bukan siapa-siapa" di silsilah keluarga Abimanyu agar Mikayla tetap tunduk dan tidak punya suara.

"Maafkan aku, Mika... aku tahu Ibu memang sulit," gumam Elang, mengeratkan pelukannya dengan rasa bersalah yang kini menutupi sisa-sisa kecurigaannya. "Dan soal Kak Gerald... dia memang orang yang sangat tertutup dan dingin. Kamu tidak perlu mengenalnya, dia hanya akan membuatmu merasa tertekan.”

Mikayla menyandarkan wajahnya di dada Elang, menyembunyikan senyum dingin yang nyaris muncul.

Sambil terus mengusap punggung Mikayla, pikiran Elang yang panik mulai berputar mencari cara mengamankan sisa-sisa asetnya dari audit Gerald.

"Mika," bisik Elang pelan di telinga istrinya. "Mungkin kamu benar. Aku punya beberapa simpanan dalam bentuk emas batangan dan sertifikat tanah yang tidak tercatat di LHKPN perusahaan. Jika Gerald menggeledah kantor dan rumah utama, mereka akan menyita semuanya."

Mikayla mendongak, matanya yang berkaca-kaca menatap Elang dengan penuh perhatian. "Lalu Mas mau simpan di mana? Kalau di rumah ini, aku takut Ibu atau orang suruhan Gerald mencarinya.”.

"Aku akan memindahkannya ke deposit box atas namamu di bank tempatmu bekerja," Elang memutuskan dengan terburu-buru. "Mereka tidak akan berani menyentuh privasi karyawan senior bank sepertimu tanpa surat izin pengadilan yang sangat kuat."

Mikayla mengangguk pelan, seolah hanya mengikuti keinginan suaminya. "Kalau itu yang menurut Mas terbaik, aku akan bantu siapkan box-nya besok. Aku ingin Mas tenang, aku tidak mau Mas stres terus karena masalah ini.”

"Terima kasih, Mika. Aku tidak tahu apa jadinya aku tanpamu," ucap Elang tulus, tanpa sadar bahwa ia baru saja menyerahkan kunci sel penjaranya sendiri kepada wanita yang sedang ia peluk.

"Sama-sama, Mas," jawab Mikayla lembut. "Kita akan melewati ini semua... bersama-sama."

Bersama-sama sampai pintu penjara itu tertutup, Mas, batin Mikayla sambil menatap lurus ke arah taman, di mana air masih terus mengalir, membasahi akar-akar tanaman yang akan segera ia tinggalkan untuk selamanya.

______

Mikayla tetap tenang, tangannya yang memegang selang air bergerak dengan ritme yang teratur, seolah sedang melakukan meditasi. Ia membiarkan butiran air membasahi kelopak bunga mawar kesayangannya, sementara di dalam kepalanya, ia sedang menyusun skakmat terakhir untuk Elang.

Ia tahu betul bahwa 7 kg emas dan tumpukan dolar di brankas tersembunyi itu sudah berpindah tangan ke rekening rahasianya melalui bantuan Reno dan koneksi Gerald. Yang tersisa di tangan Elang sekarang hanyalah aset fisik yang "panas"—villa di Bali, beberapa ruko, dan apartemen mewah yang semuanya sengaja diatasnamakan Naura atau ibunya.

Elang pikir ini cara aman untuk menyembunyikan harta. Padahal, ini adalah jebakan mati. Begitu audit Gerald membuktikan bahwa uang pembelian aset tersebut berasal dari penggelapan dana perusahaan, properti itu akan disita sebagai barang bukti kejahatan. Naura dan ibunya akan ikut terseret sebagai penadah.

Ini satu-satunya yang tersisa di bawah radar. Namun, Mikayla sudah menyiapkan dokumen "Pisah Harta" yang ia tanda tangani di bawah tekanan (menurut narasi hukum yang ia siapkan), yang akan membuat rumah ini pun jatuh ke tangannya sebagai ganti rugi moril.

Mikayla melirik jam di pergelangan tangannya. Ia baru saja mendapatkan notifikasi dari manajer investasi pribadinya. Saldo likuidnya yang mencapai 2 triliun rupiah menjadikannya salah satu wanita paling berkuasa secara finansial di negeri ini secara diam-diam. Status Nasabah Solitaire memberinya akses ke tim hukum dan keamanan privat yang bisa menghancurkan Elang dalam semalam jika ia mau.

"Kamu pikir aku masih butuh emas 7 kg itu, Mas?" gumam Mikayla dalam hati, senyumnya semakin lebar saat melihat bayangan Elang dari pantulan kaca jendela. "Uang itu sudah bekerja untukku di pasar global, sementara kamu masih sibuk menghitung sertifikat tanah yang sebentar lagi akan berubah jadi surat sitaan polisi.”

Elang berdiri mematung di tengah ruang kerjanya yang remang-remang, tangannya mencengkeram pinggiran meja kayu jati itu hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya tertuju pada tumpukan sertifikat properti yang tergeletak di dalam brankas terbuka—beberapa villa mewah di Bali, ruko di pusat kota, dan apartemen di Jakarta Selatan.

Semuanya atas nama Naura.

"Tidak bisa," bisiknya dengan suara serak, seolah berbicara pada bayangannya sendiri di kaca jendela. "Mika tidak boleh tahu. Kalau aku titipkan sertifikat ini padanya, dia akan melihat nama Naura di sana. Semuanya akan hancur sebelum waktunya.”

Ketakutan Elang kini melampaui rasa takutnya pada audit Gerald. Jika ia menyerahkan dokumen-dokumen ini kepada Mikayla untuk "diamankan" di bank, itu sama saja dengan menyerahkan bukti perselingkuhannya secara sukarela.

"Maaf, Mika... aku tidak bisa sebodoh itu," gumam Elang sambil mengusap wajahnya yang penuh peluh.

Di Balik Pintu: Senyum Sang Pengamat

Di luar ruangan, Mikayla berdiri di kegelapan selasar, tangannya memegang secangkir teh hangat yang uapnya perlahan menghilang. Ia mendengar gumaman Elang. Ia mendengar bunyi pintu brankas yang tertutup rapat.

Mikayla menyunggingkan senyum yang sangat tipis—senyum seorang pemain catur yang sudah memprediksi langkah lawannya tiga langkah ke depan.

Suara Hati Mikayla:

"Tentu saja kamu tidak akan memberikannya, Mas. Kamu terlalu takut aku melihat nama kakakku di sana, kan? Kamu pikir dengan menyembunyikannya sendiri, aset itu akan aman? Bodoh. Justru dengan tetap memegang dokumen atas nama Naura, kamu sedang memegang 'bom waktu' yang akan meledakkan kalian berdua sekaligus.”

Mikayla memutuskan untuk tidak mendesak. Ia akan berpura-pura "lupa" dengan tawarannya tadi sore, membiarkan Elang merasa telah berhasil mengelabuinya

"Mas, koper yang kemarin kamu bilang mau dititipkan sudah siap? Kalau tidak jadi juga tidak apa-apa, aku cuma takut kamu repot kalau audit datang mendadak," ucap Mikayla saat Elang keluar dari ruang kerja dengan wajah tegang.

"Ah... itu, Mika. Sepertinya tidak perlu. Aku sudah titipkan pada orang kepercayaanku yang lain. Aku tidak mau melibatkanmu terlalu dalam, nanti kamu malah ikut susah kalau ada apa-apa," jawab Elang dengan alasan yang terdengar heroik namun palsu.

"Oh, syukurlah kalau begitu. Mas memang selalu memikirkan keselamatanku. Aku jadi tenang," Mikayla tersenyum manis, lalu mengecup pipi Elang yang terasa dingin.

"Simpanlah baik-baik 'harta' itu, Mas," bisik Mikayla sambil menatap pantulan dirinya di cermin. "Biarkan itu menjadi pemberat yang akan menenggelamkanmu dan Naura ke dasar penjara yang paling dalam. Aku tidak butuh sertifikat itu, aku hanya butuh melihat kalian hancur bersama."

Mikayla mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti rumah itu, sementara di luar sana, tim audit Gerald mulai menyusun laporan akhir yang akan mengakhiri segalanya dalam hitungan hari.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!