Regan Saputra mati dalam kebangkrutan dan pengkhianatan.
Di detik terakhir, bibirnya hanya menyebut satu nama. Nara Wulandari. Wanita yang gagal ia lindungi.
Namun, kematian justru membawanya kembali ke 14 Maret 1993.
Regan terbangun di kamar kontrakan kumuh. Dia kembali menjadi pemuda miskin 19 tahun dengan isi dompet 12 ribu rupiah.
Tidak ada kepanikan, hanya senyum tipis seorang predator yang siap memburu.
Regan bersumpah tidak mengulang kesalahan yang sama.
Berbekal ingatan sejarah, ia mengakuisisi aset rawa yang kelak menjadi pusat kota dan menyiapkan jaring pengaman sebelum krisis moneter menghantam Indonesia.
Target utamanya jelas. Menghancurkan Dion Hartawan sampai tidak bersisa, dan memberikan dunia kepada Nara.
Dulu ia kalah telak. Kini ia bertindak sebagai penguasa bayangan yang mengendalikan perputaran ekonomi.
Kematian mengubahnya dari seorang pecundang menjadi monster bisnis.
Siap melihat bagaimana 12 ribu rupiah berubah menjadi kerajaan triliunan rupiah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UaOnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Tekanan Sosial
Herman melempar gulungan koran Pos Kota ke atas meja kayu kontrakan Regan. Napas pria tua itu memburu. Keringat membasahi kerah kemeja safarinya hingga menempel di kulit. Tangan Herman bergetar hebat saat menunjuk tajam tajuk rencana di halaman tiga.
"Lu baca ini, Re," desak Herman. Suaranya serak menahan kepanikan yang nyaris meledak. "Beritanya naik cetak subuh tadi. Mereka nulis mahasiswa berinisial R dari kampus kawasan Depok jadi tameng pencucian uang bos judi Glodok buat beli aset miliaran di Menteng. Semua ciri cirinya mengarah ke lu."
Regan tidak langsung menyentuh koran itu. Dia menuangkan air panas ke dalam gelas seng berisi bubuk kopi hitam. Tangannya stabil. Aliran airnya konstan tanpa ada setetes pun yang tumpah ke atas meja. Dia menyesap kopi itu lambat lambat.
Herman menarik kursi lipat dan duduk dengan kasar. Decit besi beradu dengan lantai semen terdengar nyaring.
"Gimana lu bisa setenang ini?" Herman mengusap wajahnya kasar. "Kalau aparat baca ini, kita bisa diseret ke kejaksaan. Pak Broto pasti jadikan berita ini alasan buat nekan notaris dan batalin akta jual beli gedung Menteng. Kita harus sewa pengacara, bikin bantahan resmi ke redaksi mereka siang ini juga."
Regan meletakkan gelas kopinya. Matanya yang dingin memindai barisan huruf di atas kertas buram tersebut. Tidak ada amarah di wajahnya. Hanya ada kalkulasi presisi layaknya mesin pembunuh yang sedang mengukur jarak tembak.
"Orang bodoh bergerak saat panik, Bang," ucap Regan datar. Suaranya membelah udara pengap ruangan itu, memaksa ritme napas Herman ikut melambat. "Bantahan publik cuma membuktikan kita merasa terancam. Biarkan mereka berteriak sampai tenggorokan mereka kering."
Herman menelan ludah. "Lu tahu siapa yang dalangin ini?"
"Dion Hartawan," jawab Regan tanpa ragu sebentar pun. "Dia melihat gue bawa uang tunai, dia melihat gue punya aset. Egonya hancur. Tapi dia tidak punya nyali buat berhadapan langsung. Jadi dia bayar wartawan lapar buat nulis opini fiktif tanpa bukti."
Regan mengetuk permukaan koran itu dua kali. "Lihat susunan kalimatnya. Terlalu emosional. Tidak ada sebut nama notaris, tidak ada nomor akta. Ini bukan jurnalisme investigasi. Ini lemparan batu dari anak kecil yang bersembunyi di balik pagar."
Di tempat lain, kantin Fakultas Ekonomi bising oleh tawa. Dion duduk di meja sudut paling strategis. Dia memegang segelas es jeruk, dikelilingi tiga teman himpunannya. Kemeja rapinya sengaja dibiarkan terbuka di bagian kerah. Senyum puas tercetak jelas di wajah arogan pria muda itu.
Sebuah koran terlipat rapi di tengah meja mereka.
"Gue udah bilang, nggak ada orang miskin yang tiba tiba kaya tanpa main kotor," ucap Dion lantang. Dia sengaja mengeraskan suaranya agar mahasiswa di meja sebelah ikut mendengar. "Anak buruh pabrik tiba tiba beli tanah di Sudirman? Beli gedung di Menteng? Masuk akal dari mana coba? Jelas dia cuma anjing peliharaan cukong."
Teman teman Dion tertawa setuju, mengangguk angguk seperti sekelompok bawahan yang patuh.
Dion menyandarkan punggungnya. Kepuasannya memuncak. Dia merasa telah menjatuhkan hukuman sosial yang mematikan. Dia ingin melihat Regan merangkak masuk ke kampus dengan kepala tertunduk, dihakimi tatapan jijik dari seluruh mahasiswa. Dion merasa kembali memegang kendali penuh atas hierarki kampus.
Namun, radius kerusakan dari fitnah itu menyebar lebih jauh dari sekadar tembok kampus.
Di kawasan Glodok, udara terasa berat menekan dada Pak Wirawan. Pria tua itu berdiri kaku di balik etalase Toko Sinar Jaya. Kaca etalasenya baru saja dibersihkan, deretan kipas angin dan televisi stok baru tersusun rapi di belakangnya. Tapi tidak ada satu pun pelanggan yang melangkah masuk.
Beberapa pedagang dari ruko sebelah berdiri berkumpul di trotoar. Mereka melirik ke arah toko Pak Wirawan, lalu berbisik bisik sambil menunjuk halaman koran yang mereka pegang.
Rumor bergulir liar. Nama Regan dikaitkan dengan Toko Sinar Jaya. Bantuan stok barang yang Regan kirimkan beberapa hari lalu kini dituduh sebagai bagian dari pencucian uang haram tersebut.
Pak Wirawan menghela napas panjang. Tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri. Dia tidak percaya Regan adalah kriminal, tapi tekanan sosial dari lingkungan pasar ini mulai menggerogoti ketenangannya. Bisnisnya baru saja akan bernapas, namun kini terancam diboikot oleh pelanggan yang takut terseret masalah polisi.
Nara melangkah keluar dari ruang belakang toko. Gadis itu memakai kemeja flanel merah yang digulung hingga siku. Matanya yang tajam menangkap gelagat para tetangga ruko di seberang jalan. Dia berjalan cepat menghampiri ayahnya.
"Bapak masuk aja ke dalam, istirahat," ucap Nara tegas. Tangannya mengambil alih kemoceng dari tangan ayahnya. "Biar Nara yang jaga meja kasir siang ini."
"Ra, berita di koran itu..." Pak Wirawan terbata, suaranya sarat akan kekhawatiran seorang ayah. "Apa benar Regan kerja buat orang orang bahaya? Kemarin dia bantu toko kita bayar utang Koh Abun. Bapak takut uang itu..."
"Bapak jangan dengar omongan orang luar," potong Nara cepat. Suaranya stabil, menutupi badai yang berkecamuk di dalam dadanya sendiri. "Nara kenal Regan. Dia bukan cecunguk yang mau disuruh suruh cukong judi. Ini pasti kerjaan orang yang iri sama dia."
Pak Wirawan mengangguk lemah, lalu berjalan perlahan menuju lorong belakang.
Nara berdiri sendirian di depan etalase. Gadis itu menatap tajam ke arah para tetangga ruko yang sedang bergosip, membuat mereka membuang muka dan bubar dengan canggung. Tangan Nara bertumpu kuat di atas kaca etalase. Dadanya naik turun. Dia tahu siapa dalang di balik semua ini. Dion.
Nara tidak akan membiarkan ayahnya jatuh sakit lagi karena tekanan mental. Dan dia tidak akan membiarkan Regan bertarung sendirian dalam kegelapan.
Malam harinya, Jakarta diguyur hujan deras. Suara air menghantam atap seng kontrakan Regan terdengar memekakkan telinga.
Udara dingin meresap masuk dari celah bawah pintu. Regan duduk bersila di atas tikar pandan. Cahaya lampu pijar kuning menerangi tumpukan dokumen di depannya. Tidak ada kepanikan, tidak ada langkah terburu buru.
Regan sedang menyusun sebuah senjata pemusnah massal.
Di sebelah kanannya, tergeletak salinan kontrak proyek kabel Surabaya. Tanda tangan Dion Hartawan tertera jelas di bawah klausa wanprestasi yang mengikat seluruh aset keluarganya. Di sebelah kirinya, terdapat bukti aliran dana seminar yang diputar secara ilegal oleh Dion ke rekening pribadi sebelum disetor ke pihak hotel.
Dion terlalu sibuk melempar lumpur ke wajah Regan, sampai pria bodoh itu lupa bahwa dia berdiri di atas tanah yang sudah Regan pasangi ranjau darat.
Regan tidak butuh klarifikasi media. Dia tidak butuh membersihkan namanya di depan mahasiswa yang tidak memiliki nilai tambah dalam hidupnya. Di dunia bisnis yang sesungguhnya, reputasi tidak dibangun dari opini publik kelas bawah, melainkan dari siapa yang memegang kendali atas urat nadi keuangan lawan.
Regan mengambil sebuah gunting bergagang hitam dari dalam laci.
Dia menarik koran pagi yang dibawa Herman tadi siang. Matanya menelusuri artikel fitnah itu sekali lagi. Dia membaca setiap kata, merekam nama redaksi, dan menyimpan pola serangan Dion di dalam memori jangka panjangnya.
Bilah gunting beradu, memotong rapi kolom berita tersebut dari sisa halaman koran.
Regan memotong artikel itu dan menyimpannya di laci. Bukan untuk dendam. Untuk arsip.
Tepat saat dia menutup laci meja, suara deru mesin bajaj berhenti di ujung gang. Terdengar suara langkah kaki cepat memecah genangan air hujan. Langkah itu tidak ragu, tidak melambat, dan langsung mengarah ke pintu kontrakannya.