Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21. Perseteruan Kakak Beradik (bagian pertama)
Hari ini, di jantung kota Hua Gu.
Di sebuah gedung pertemuan mewah yang di jaga ketat, beberapa petinggi istana sedang berkumpul dalam suasana yang meriah. Di kursi utama, duduklah Bei Tieshan, sang penguasa yang memimpin dengan tangan besi. Di sampingnya, kedua anaknya duduk dengan elegan, dikelilingi oleh para pejabat tinggi istana yang tampak berusaha keras menyenangkan hati raja.
Ruangan itu di penuhi oleh aroma harum masakan kelas atas, suara dentingan cangkir giok, dan tawa basa-basi yang terdengar hambar. Para pelayan berbaju sutra merah hilir mudik menuangkan arak kualitas terbaik, sementara para pejabat saling melempar sanjungan yang terdengar seperti racun yang manis.
Bei Tieshan mengangkat cangkir gioknya tinggi-tinggi matanya yang tajam menatap pantulan wajahnya di dalam cairan bening itu sejenak, sebelum beralih pada sosok di sampingnya.
"Malam ini kita berkumpul untuk merayakan hari kelahiran putraku," ucap Bei Tieshan dengan suara berat yang seketika membungkam seluruh keriuhan ruangan. "Bei Yixuan, putraku, sang calon penerus tahta Hua Gu."
Seketika, ruangan itu pecah oleh seruan ucapan selamat yang membahana. Para pejabat berdiri serempak, mengangkat cangkir mereka ke arah pemuda yang duduk di sebelah raja.
"Selamat ulang tahun, Tuan muda Yixuan!" seru mereka hampir bersamaan, sebuah harmoni suara yang lahir dari rasa hormat sekaligus rasa takut.
Bei Yixuan berdiri. hari ini ia tampak menawan dengan jubah sutra berwarna putih dengan sulaman naga perak yang seolah hidup setiap kali ia bergerak.
Ia menjura dengan sangat sopan, namun matanya tetap dingin sedingin es di puncak gunung.
Di balik tawa dan denting cangkir giok, ada sepasang mata lain yang mengamati.
Sepasang mata yang penuh dengan api.
Dia adalah Bei Haotian. Sang adik yang terlahir di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna. Baginya, musik yang merdu ini terdengar seperti ejekan, dan arak yang manis ini terasa sepahit empedu.
Haotian mengangkat cangkirnya. Namun, tatapan matanya mengandung arti yang berbeda yang sulit di jelaskan dengan kata-kata. Ada rasa cemburu, benci dan kelicikan yang tertutup oleh topeng yang tersenyum indah.
Di istana ini, semua orang tahu: jika Bei Yixuan adalah cahaya yang di puja, maka Bei Haotian adalah bayangan yang terlupakan.
"Kakak, aku punya barang mewah untukmu" ucap Bei Haotian.
Ia memberi isyarat. Seorang pelayan melangkah maju dengan kepala menunduk, menyerahkan kertas tua.
Haotian menerima gulungan itu. Ia tidak segera membukanya. Ia membiarkan rasa penasaran merayap di antara para tamu, seperti asap yang memenuhi ruangan.
"Dunia ini sudah penuh dengan sutra dan permata," kata Haotian pelan. "Tapi barang yang satu ini...kau tidak bisa membelinya, bahkan dengan seluruh isi kas kerajaan."
Yixuan meletakkan cangkir gioknya. Gerakannya sangat halus, hingga tak ada satu setetes pun arak yang terguncang.
"Aku ingin tahu, kemewahan apa yang di bawa oleh seorang adik untuk kakaknya?"
Haotian tersenyum tipis lalu membuka gulungan itu.
Bukan peta wilayah. Bukan pula rahasia negara.
Di atas kertas tua itu, terlukis sebuah rumah kecil. Sederhana, sunyi, berdiri di tengah lembah yang penuh dengan bunga-bunga liar.
"Kau ingat tempat ini?" tanya Haotian.
Yixuan menatap lukisan itu. Wajahnya tetap tenang, namun sorot matanya berubah. Ada sebuah kesedihan di dalam sana yang sulit untuk di artikan dengan kata-kata.
"Ingat" jawab Yixuan pendek.
"Bagus," Haotian mengusap permukaan lukisan itu. "lukisan ini sudah lama tersimpan rapi di gudang istana. Aku menemukannya tanpa sengaja."
Suasana aula mendadak berat. Haotian tahu pasti di mana letak luka Yixuan, dan malam ini, ia baru saja menaburkan garam di atasnya.
"Cukup," Bei Tieshan membuka suara. Matanya menyiratkan ketidakseimbangan yang mendalam. "jangan kau rusak pesta ini dengan omong kosongmu."
"Hahaha..." Haotian tertawa. Tawanya hambar, seperti bunyi keramik yang pecah. "sampai hari ini pun, ayah masih membelanya?"
Nada suara Haotian menajam, seolah ada sembilu yang tersembunyi di balik lidahnya.
"Dia telah membunuh ibu. Bagaimana bisa ayah tetap menganggapnya tidak bersalah?"
...****************...