Zha Yongjin, seorang Pemimpin Bangsa Naga yang terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Dengan bantuan seorang kakek asing yang ditemuinya di tempat random, ia pun membesar dan mencaritahu sendiri latar belakang asli dari tubuh yang dirasukinya ini.
~Karya ini terinspirasi dari komik favorit Author~
...______...
Untuk pengetahuan pembaca yang telah membaca novel Season 1 dan Season 2-nya, kini kedua season itu akan digabung dalam novel ini.
Author juga akan menambah beberapa perubahan dari alur, dialog, dan juga mungkin dalam karakter.
Sekian, maaf jika deskripsinya pelit, karena Author lagi malas mengetik.
Selamat menikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕱𝖑𝖔𝖜𝖊𝖗𝖅𝖞𝖗𝖊𝖓𝖊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Pelayan Misterius
Setelah mengantar surat tersebut. Mereka pergi ke penginapan terdekat untuk beristirahat sebentar.
"Kenapa kita harus ke penginapan? Bukankah kau pengikut Sekte Mu-yeong-geom?" tanya Hwan-jae.
"Ceritanya panjang..."
"Pendekkan." saking penasarannya, Hwan-jae sampai menghentikan langkah Raon-jun agar pertanyaannya dibalas.
Raon-jun menghela nafas pelan, "Sama sepertimu, tapi aku yang melakukannya dengan sengaja. Paham?"
"Identitasku tidak diketahui siapapun, jadi percuma saja jika mengantar surat dan blah-blah-blah."
Tentu saja, cerita singkat dari Raon-jun itu mengagetkan Seokjin dan Hwan-jae.
"Kau... Sudah memberitahu...?" Seokjin bertanya untuk memastikan. "Itu merepotkan!" dibalas Raon-jun tanpa rasa bersalah.
Buk!
"Kalian berdua ini sama-sama tidak bertanggungjawab!" bentak Seokjin ke Raon-jun dan Hwan-jae.
Kedua pemuda itu hanya diam, tidak berani membalas karena apa yang dikatakan Seokjin itu memang ada benarnya.
Setidaknya Hwan-jae lebih baik dari Raon-jun.
Pada akhirnya, mereka lalu berinsiatif untuk menginap di penginapan dalam sehari.
Namun, di tengah perjalanan, ada sebuah kejadian yang tidak diduga.
Srak... Srak...
Terdengar bunyi sesuatu yang bergerak di atas pepohonan. "Hm? Apa ada mo-"
Tanpa memberi mereka cela untuk menghindar, 3 pisau belati menancap tepat di tubuh mereka.
Serangannya sangat cepat, Raon-jun nyaris saja akan kehilangan nyawa.
"Aduh!" ia sempat menghindar sedikit, tetapi belatinya tetap mengenainya di kaki.
"Apa-apaan serangan tiba-tiba ini?!" Hwan-jae terkena di bagian bahu kirinya, membuatnya sulit bergerak.
Begitu juga dengan Seokjin, tetapi di bahu sebelah kanan. "Sial! Serangannya cepat sekali!"
Bisa dilihat jelas bahwa yang menyerang mereka itu bukanlah seorang pendekar biasa-biasa saja.
Untung saja Raon-jun berhasil menyerang balik.
Begit pengintip itu terjatuh dari pohon, ternyata dia adalah seseorang yang mengenakan seragam yang sama seperti Hwan-jae.
"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Hwan-jae panik. "S-senior Hwan... Pemimpin mencari anda dan yang lainnya!"
Raon-jun dan Seokjin menatap satu sama lain dalam kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa.
Hwan-jae kembali menoleh ke arah mata-mata itu. "Tapi kau mengintaiku?"
"B-benar... Saya ditugaskan untuk mengintai kalian untuk memastikan kalian sudah mendapatkan si botak-"
"BOTAK?!!!" bentar Seokjin kembali, kesal. "Pfft- ehem... Sayang sekali, tapi yang lainnya sudah dibunuh." jelas Raon-jun menahan tawa.
"Apa?!"
"Benar... Aku bukan!... Aku bukan lagi berkhianat! A-aku..." Hwan-jae mencoba untuk membela diri.
"Pembohong..." pikir ketiga orang itu dengan ekspresi datar, Hwan-jae sangat buruk dalam berbohong.
"Senior... Saya dengar kalian lagi membicarakan kematian nenek, apa itu benar?" tanya pengintip itu.
Melihat Hwan-jae yang terdiam karena rasa bersalah, Seokjin kemudian maju dengan topik berbeda.
"Kenapa kau menyerang seniormu sendiri?" tanyanya, "T-tentu saja karena dia berkhianat!"
"Bagaimana kau bisa mengetahuinya?" tanya Seokjin sekali lagi, seperti menginterogasinya.
"...Karena saya mendengar pembicaraan kalian?" balas pengintip itu dengan ragu, "Aku tanya jadi jangan ditanya balik, sialan."
"Ukh! KAU YANG SIALAN- khok?!" sebelum pengintip itu kembali mengatakannya, Seokjin mencekik lehernya.
"Kau sudah mengetahuinya, apa boleh buat? Mati saja." sekumpulan pemuda ini memanglah jahat.
Pengintip itu lalu mati karena kehabisan nafas, lalu Seokjin melepaskannya dan membiarkannya terjatuh.
Raon-jun menoleh ke arah Hwan-jae yang seperti ingin menangis. Padahal dia yang salah, kok dia yang nangis?
"Hey, kami sudah membantumu menjadi penjahat. Sekarang apa lagi?" tanya Raon-jun, ia juga tak ada bedanya.
"...Ayo makan, biar... Hwan-jae yang traktir!" balas Seokjin, mencoba membangun suasana.
...----------------...
Mereka kemudian pergi ke sebuah restoran untuk makan. "Selamat datang~ silahkan duduk dan nikmati makan siangnya!"
"Apa ada yang ingin anda pesan?" tanya seorang pelayan pria.
Mereka duduk dan memesan makanan, kemudian mengobrol seperti orang pada kebiasaannya.
Lalu, pesanan Raon-jun datang dan pelayan yang membawa pesanannya itu adalah seorang perempuan yang cantik.
"Aku merasa Aura Pendekar samar-samar darinya, apa dia pekerja paruh waktu?" pikir Raon-jun sambil menerima pesannya.
Perempuan itu tidak terlihat seperti seseorang yang mudah tertarik akan sesuatu.
Rambut hitamnya yang panjang itu nyaris membuat wajahnya tak bisa terlihat.
Namun meskipun begitu, orang-orang bisa tahu bahwa wajah dibalik rambut panjang itu adalah seorang bidadari.
"Ah, tuan. Kami ada makanan spesial khusus untuk... Para pendekar. Apa kalian berminat untuk mencicipinya?" ucap gadis itu, terdengar ketenangan dari nada suaranya.
Bisa dilihat jelas, bahwa dia adalah seorang perempuan yang dewasa, meskipun umurnya dalam 18 hingga 20 tahun.
"Dia bisa tahu kami adalah pendekar?" pikir Hwan-jae dan Seokjin secara bersamaan.
"Tentu saja, berapa harganya?" balas Raon-jun, setidaknya dia masih sadar diri. "Baik, akan segera saya sediakan. Anda tidak perlu membayarnya."
dia beneran aneh
biar dapat kesannya