Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab#21
"kak Liam! Tunggu! Kak Liam tunggu aku!" ucap Laura yang saat ini mengikuti langkah kaki Liam keluar dari perusahaan nya.
"Laura tolong jangan ikuti aku, aku mohon," ucap Liam berhenti sejenak dan kemudian kembali melanjutkan perjalanan nya.
"Sial! Dia sama sekali tidak mendengarkan ku sekarang, apa yang harus aku lakukan untuk mencegah nya?" Laura memutar otak untuk hal tersebut.
Namun tiba-tiba ia pun teringat jurusan handal yang selalu dia gunakan untuk membuat segala perhatian dari Liam tercurahkan kepada dirinya.
Bruk ...
Tubuh Laura seketika jatuh ke lantai dalam hitungan detik, dia kini tak sadarkan diri.
"Nona Laura!" terdengar teriakan seseorang di belakang sana dan buru-buru menghampiri Laura yang sudah tergeletak di lantai dingin perusahaan kecil itu.
Liam yang mendengar segera berbalik dan mendapati orang-orang di belakang nya sudah mengerumuni Laura.
"Laura!" katanya segera melupakan niat awalnya lalu segera berlari menghampiri kerumunan tersebut.
Tanpa basa-basi Liam langsung menggendong Laura dan segera membawa nya ke rumah sakit.
Ya, ini adalah jurus handal nya Laura untuk menarik perhatian Liam.
"Laura bertahan lah, aku akan segera membawa mu ke rumah sakit," ucap Liam dengan khawatir.
Sementara itu di sisi lain
Bi Sirah mendorong kursi roda Viola ke ruang makan, di sana terlihat Zehan yang sudah duduk dengan pakaian rumahan nya, dia akan libur untuk beberapa hari dari pekerjaan nya sebagai CEO, karena ia baru saja menikahi Viola.
"Makan," ucap Zehan singkat.
Viola menatap nya sekilas dan kemudian menatap meja makan yang penuh dengan makanan kesukaan nya.
Sementara itu bi Sirah pergi untuk mengerjakan pekerjaan lain. Kini yang tinggal di ruang makan hanya lah Zehan dan Viola.
Rumah sebesar itu, mereka hanya punya tiga pelayan yang bertugas untuk membereskan rumah, dan bi Sirah yang menjaga Viola.
"Rasanya sangat aneh, biasanya aku sarapan bersama papa dan kak Pandu, tapi kali ini, ah sial bagaimana bisa laki-laki sombong ini menjadi suamiku? Tidak pernah aku bayangkan sebelumnya," ucap Viola dalam hati.
"Apa yang di pikirkan si kecil imut ini di dalam hatinya? Kenapa dia terlibat sangat benci kepada ku?" batin Zehan sambil menatap sang istri.
"Maaf," ucap Zehan memecahkan keheningan di antara mereka.
Viola yang saat itu sedang memilih makanan mana yang hendak dia cicipi terlebih dahulu seketika terdiam dan menatap bingung Zehan.
"Untuk apa?" ucap Viola gugup.
Dia bahkan tidak berniat untuk bicara sambil menatap wajah sang suami.
"Bisakah kau menatapku saat sedang berbicara?" kata Zehan jengkel.
"Ma,maaf," kata Viola segera melepaskan sendok makan nya dan menatap Zehan.
Pada awalnya hubungan mereka baik-baik saja, namun setelah kejadian di caffe hari itu Zehan tau kalau Viola masih marah dan tersinggung dengan ucapan nya.
"Viola, kejadian di caffe hari itu, aku sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan hal yang menyingung, jadi aku minta maaf, aku tidak ingin kau salah paham dengan perkataan ku," jelas Zehan kepada Viola.
"Ternyata dia masih ingat dengan kejadian itu? Aku pikir dia sudah lupa, bagaimana dia membuat ku tersinggung dengan ucapan nya.
"Kenapa kau tidak bicara? Kau tidak mungkin tidak mendengarkan aku kan?" ucap Zehan lagi.
"Oh, iya, aku tau, aku pikir kak Zehan sudah melupakan nya, aku juga tidak peduli, tidak perlu minta maaf," jawab Viola berbohong.
"Kak? Siapa yang mengijinkan mu memanggil ku dengan sebutan itu? Aku bukan kakak mu," ungkap Zehan seketika berdiri dari duduknya.
"Hah? Lalu aku harus memanggilmu apa? Baru saja minta maaf sudah marah-marah tidak jelas, aneh," omel Viola tak mengerti dengan kelakuan suaminya.
"Sudah berani ngomel ya? Sekarang aku tanya, aku siapa?" ucap Zehan sambil berdiri di hadapan Viola.
Viola mendudukkan kepala nya, rasanya dia tidak tau harus menjawab apa.
"Jangan pura-pura tidak mendengar ku," kata Zehan lagi.
"Suami," lirih Viola dengan suara kecil.
"Apa? Apa? Aku tidak mendengar nya, coba ulangi sekali lagi," kata Zehan dengan senyum tipis nya.
"Kak Zehan! Jangan keterlaluan! Aku jadi tidak nafsu makan, sudah lah aku tidak mau makan," kata Viola kesal dengan keisengan Zehan.
"Sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan kak, aku akan mengigit bibir mu," kata Zehan yang saat itu reflek memegang kedua pipi sang istri dengan kedua tangan nya.
"Aaa, sakit! Zehan sialan!" teriak Viola mengema di ruang makan rumah mewah itu.
Bukan nya makan bersama dengan tenang pagi-pagi seperti ini, sepasang suami istri yang baru menikah itu malah berkelahi.
"Lihatlah mereka, apakah mereka menikah karena perjodohan orang tua?" ucap salah satu pelayan di rumah tersebut.
Mereka sudah memperhatikan Zehan dan Viola yang terus-menerus cek cok di meja makan.
"Diam lah, mereka itu memang benar-benar di jodohkan, bahkan sejak nona muda Viola masih dalam kandungan, kedua adalah pewaris keluarga besar, jadi jangan banyak bicara jika kalian tidak mau dapat masalah, cek-cok berdua itu adalah awal dari cinta," kata bik Sirah kepada para bawahan nya.
"Baik kepala pelayan, maafkan kami," ucap mereka yang kemudian kembali mengerjakan pekerjaan masing-masing.
Sementara itu ...
"Sekarang kau malah memanggil ku dengan sebutan Zehan!" ucap Zehan semakin tidak ingin melepaskan tangan nya dari kedua pipi sang istri.
"Aaaaa! Lepaskan! Tolong!" jerit Viola untuk yang kesekian kalinya.
"Astaga, tuan muda, nona muda, apa yang kalian lakukan?" ucap Erik yang saat itu tiba-tiba muncul di ruang makan rumah mewah Zehan dan Viola.
Seketika Viola dan Zehan menghentikan pertengkaran mereka.
"Erik," ucap Zehan kaget.
Sementara itu Viola yang sama sekali tidak mengenali Erik hanya bisa diam dan menatap nya dengan tatapan bingung.
Zehan segera saja mengubah ekspresi dan juga dirinya, dia yang sebelumnya terlihat seperti orang yang seru dan suka bercanda kini kembali ke stelan awal setelah melihat Erik, asisten nya.
"He'em, apa yang kau lakukan di sini?" ucap Zehan yang kini menghampiri Erik.
"Tuan muda, kau berubah begitu cepat, sepertinya tadi kau terlihat sangat senang mengerjai nona Viola," bisik Erik di telinga Zehan.
"Katakan sepatah kata lagi, besok kau akan menerima gaji terkahir mu," ungkap Zehan sambil menatap Erik dengan tatapan dingin nya.
"Ah, tidak, tidak tuan muda, ada hal penting yang ingin aku bicarakan, bisa ikut aku sebentar?" kata Erik yang kemudian menarik Zehan pergi dari sana.
"Siapa dia? Siapa laki-laki itu sebenarnya? Apakah rumor itu benar-benar ada? Kak Zehan, dia benar-benar menyukai laki-laki?" ungkap Viola sambil kemudian segera menutup mulutnya.
Beberapa menit kemudian.
"Ah, sakit sekali pipi ku, jadi merah-merah seperti ini, Zehan sialan, dia benar-benar terlihat berbeda tadi, bersikeras mencubit kedua pipi ku, dia bahkan terlihat sangat senang melakukan itu, tapi wajah dan sikapnya seketika berubah setelah kedatangan laki-laki tadi, apa dia benar-benar punya dua kepribadian?" kata Viola berbicara di depan cermin yang ada di kamar nya.
Viola sendiri mulai kebingungan dengan sikap sang suami.
"Dia bahkan sangat marah saat aku memanggilnya dengan sebutan kak, Zehan juga marah, lalu aku harus memanggil nya dengan sebutan apa? Apa mungkin tuan muda?" lagi-lagi Viola salah paham dengan keinginan Zehan.
Namun dengan kejadian tadi, dia merasa lebih baik, pikiran nya tentang Zehan yang sombong perlahan-lahan memudar karena tadinya Zehan sempat meminta maaf dan tidak melupakan kesalahan yang telah dia ucap tempo hari.
"Huh, Viola, jangan mudah percaya dengan ucapan nya, seharusnya aku tidak membayangkan wajah menyebalkan itu," kata Viola sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Sementara itu di sisi lain rumah.
Terlihat sebuah ruangan lingkup yang penerangan nya cukup minim.
"Ada apa?" ucap Zehan sambil menatap Erik.
"Tuan muda,aku sudah menemukan dokter fisioterapi yang kau inginkan, tingal menunggu waktu untuk membawa nona muda Viola datang ke rumah sakit tempat ia bekerja," jelas Erik.
"Tidak bisakah dia saja yang datang untuk Viola?" Kata Zehan.
"Tidak mungkin tuan, dia adalah dokter terkenal di salah satu rumah sakit di kota ini, kita harus menurunkan sedikit ego untuk menemui nya, dia seorang yang profesional dan memiliki banyak pasien," jelas Erik.
"Laki-laki?" ucap Zehan lagi.
Erik terlibat ketakutan dan kemudian mengangguk.
"Iya," jawab Erik, tampa menatap tuan nya.
"Kalau begitu cari yang lain," Zehan berdiri dari duduknya dan kemudian meninggalkan Erik.
"Astaga tuhan, bagaimana bisa aku menemukan dokter fisioterapi yang begitu bagus dan dia seorang wanita?" kata Erik hampir gila.
Sementara itu Zehan sama sekali tidak mempedulikan nya.
"Aku datang dari perusahaan ke sini untuk membicarakan tentang dokter spesialis itu, malah di kacangi, tuan muda benar-benar, untung saja gajiku mahal," Erik yang kehabisan kata-kata pun segera meninggalkan tempat tersebut.
Mau tidak mau dia harus kembali mencari dokter lain lagi untuk istri boss nya itu.
"Kapan dia akan kembali? Aku harap dia bisa segera kembali dan dapat membantu ku untuk menyembuhkan kaki Viola dengan cepat," batin Zehan sambil menatap kolam ikan di samping rumah nya dengan tatapan kosong.
Ya, sudah beberapa menit ia berdiri di sana dan melamun.
Sementara itu di kamar Viola.
Terdengar suara ponsel milik Viola yang berdering, menandakan bahwa ada panggilan masuk.
Viola yang saat itu sedang sibuk membaca buku segera menoleh dan mendapati nama sang kakak yang tertera di layar ponsel nya.
Dengan semangat penuh ia segera meraih ponsel tersebut dan kemudian menekan tombol hijau untuk mengangkat telpon.
Call on.
"Hallo, kak Pandu," ucap nya sambil tersenyum.
"Viola, bagaimana keadaan mu, apakah kau nyaman tinggal di rumah baru?" ucap Pandu di sebrang telpon.
"Ya, rumah nya cukup nyaman dan tenang, setiap hari aku bisa mendengar suara burung-burung berkicau," jelas Viola.
"Lalu bagaimana dengan Zehan? Bagaimana dengan hubungan kalian?" Kata Pandu lagi.
"Rumah nya cukup nyaman, tapi dia, dia benar-benar menyebalkan untuk ku, aku tidak menyukai nya kak, aku sangat tidak nyaman dengan nya," kata Viola dengan suara yang terdengar kesal.
Mendengar itu, Pandu seketika terdiam, dia hampir tidak bisa memberikan komentar apa-apa terhadap perkataan sang adik barusan.
****
kesian Zehan sih udah suami istri malah udah cinta tapi gak bisa nyentuh Viola...
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin