Mengisahkan perjalanan hidup seorang pemuda di jaman dahulu untuk meraih cinta dan menjungjung tinggi martabat seorang ibu. hidup sebagai seorang pemburu untuk menghidupi sekaligus menjadi tulang punggung dan terpaksa melewati bermacam rintangan demi mendapatkan hati seorang wanita yang di cintainya. serta calon mertua yang tak setuju karena memiliki latar belakang yang bertentangan. serta ikut campur bangsa dari dunia lain yang tak kasat mata yang menyulitkan mewujudkan impiannya. simak keseruan kisahnya di setiap babnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendriyan Sunandar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Sementara Tumang yang di tanyai oleh mang Darman seperti itu, alih alih dirinya segera membalas pertanyaan itu. yang ada Tumang malah seperti sedang melamun dan menatap wa Kobul yang tampak terbaring di ruangan lain.
"Mang ? Kau baik baik saja kan ? Apa kau mendengar Mamang bicara tadi ?"
Dengan segera mang Darman bertanya lagi pada Tumang sembari menyentuh bahu Tumang. Mang Darman seperti hawatir pada gelagat Tumang yang sejak tadi banyak diam.
"oh. Iya iya Mang. Ada apa ya?"
Seketika Tumang pun terkejut oleh sentuhan kecil dari mang Darman itu. Lamunannya seketika buyar seiring mang Darman yang tampak menggelengkan kepala.
"kau ini Mangggg... Kau sedang melamunkan apa hah? Mau kau kesambet setan juga ? Ayo buatlah sesuatu Mang. Kasihan itu istri Mamang. Masa iya mau di biarkan begitu saja?"
ujar mang Darman sembari menatap Tumang yang tampak memasang raut wajah serius. Bahkan orang orang yang mendegar mang Darman mengatakan itu, mereka semua ikut mendelik dan ikut menatap Tumang.
"iya Mang kasihan itu bik iroh. Apa kau ada ide atau cara? Kami semua sudah nyerah Mang. demit apasih yang merasuki bik Iroh itu. Di tanya gak mau jawab, di suruh pergi malah ngamuk, apasih mau demit itu sebenarnya"
Timpa salah satu warga yang juga ikut membenarkan ucapan mang Darman. Sekalipun warga warga itu sebagian banyak adalah orang tua dan beberapa sepuh yang di tuakan, namun mereka semua seperti sudah benar benar bingung dan kehabisan akal. Apalagi untuk datang ke kampung lain meminta bantuan pada orang yang paham pada orang kerasukan seperti itu sangatlah lumayan jauh. Sehingga pantas saja orang orang yang baru datang menjenguk bik Iroh seperti halnya Tumang, sengaja di pintai saran bahkan di perkenankan jika saja memili gagasan.
Apalagi Tumang selama ini di kenal pemuda pemberani yang kerap kali memasuki hutan belantara dan juga tempat tempat angker ketika berburu mencari hewan buruannya. Sehingga sebagian warga meyakini jika Tumang sedikitnya memiliki semacam penangkal atau sekedar jampi jampi pengusir bangsa lelembut.
"ah gak lah pak. bisa saja saja bapak bapak ini. Boro boro jampi buat pengusir setan Pak, nyari hewan buruan saja saya ngandelin si gembul. Gak tau gimana saya kalo gak ada anjing itu. Sedangkan kalau saya sampa berani masuk hutan atau ke tempat tempat yang angker, ya itu karena saya terpaksa. Bapak bapak kan tau sendiri. Kalo hutan di dekat dekat sini sudah susah sekali nyari buruan"
Balas Tumang bicara apa adanya dan tersenyum ramah pada warga warga yang tampak berharap padanya untuk bisa melakukan sesuatu pada bik Iroh.
Lantas tak lama setelahnya, Tumang pun melanjutkan kembali ucapannya. Namun untuk kali ini tumang terlihat serius dan tutur katanya terkesan berhati hati. Selain wara warga di hadapnya itu sebagian banyak adalah orang tua yang harus di hormati, Tumang pun sejujurnya sadar diri.
jika dirinya itu bukalah siapa siapa yang tak memiliki ilmu kebatinan apalagi sampai tau cara mengobati orang kerasukan.
"maaf ya Mang, Bapak bapak semua, sebelumnya saya minta maaf kalau saya mau bertanya terlebih dahulu. apa bisa ceritakan dulu sama saya sabab musabab bik Iroh sampai kerasukan begitu.
ya... siapa tau bik Iroh sebelumnya sempat buang air panas sembarang, atau mungkin berkata sompral sewaktu di sawah tadi, atau mungkin buang air kecil di mana saja. Saya mau tau dulu cerita lengkapnya Pak. Mang. Dengan begitu, mudah mudahan saya bisa mengira ngira penyebabnya sekaligus bisa menemukan titik terangnya. Atau setidaknya kita jadi tau pada siapa kita harus minta tolong. Begitu Pak... Mang... Bisa kan? "
Ucap Tumang menyampaikan rasa keingin tahuannya. Tentu saja mang Darman dan warga yang mendengar Tumang mengatakan itu, mereka sedikit heran pada ucapan Tumang itu. pikir warga warga ketika itu, untuk apa Tumang ingin tau dulu kejadian detail sebelum bik Iroh kerasukan sampai saat ini yang juga tak kunjung sembuh. Bukankah tumang seharusnya cukup mengobati sebisanya atau menunjukan seseorang jika memang ada yang di rasa mampu.
Kendati demikian. Warga warga itupun tak keberatan pada permintaan Tumang itu. Termasuk mang Darman yang memang merasa belum sempat bercerita asal muasal kerasukan itu sekalipun sebelumnya Tumang bertanya pada dirinya.
Di awali mang Darman menarik nafas dalam sembari melirik bik Iroh yang masih di pegangi beberapa warga dan menjerit, pada akhirnya bercerita dari sudut pandang istrinya sebelum tiba tiba kerasukan di sawah itu.
Ya. Sudah menjadi hal lumrah pada masa itu. Jika ketika hendak memanen padi, sebelumnya pemilik sawah akan menyiapkan semacam jajanan kecil atau biasa di sebut nasi tumpeng atau sebagian orang menyebutnya sesajen.
Sebuah nampah yang berisikan nasi tumpeng, puncak manik, kopi pahit, kelapa hijau, dan beberapa perlengkapan jajanan kecil lainnya.
sebuah ungkapan rasa syukur pada kebesaran Tuhan yang Maha pemberi rejeki atas keberhasilan panen. Sekaligus itu di yakini simbolis rasa terima kasih pada leluhur atau Dewi sri yang konon adalah Dewa penjaga padi.
Dan sesajen itu biasanya sengaja di letakan di sudut petakan sawah sebelum panen di mulai. Di mana sebagai pelangkapnya, biasanya sesajen itu di lengkapi juga oleh kukus atau kemenyan yang sengaja di bakar sembari melakuan doa. Tak lupa juga sebatang rokok akan sengaja di sulut dan di letakan pada sesajen itu.
Namun sayangnya, bik Iroh yang bertugas menyiapkan itu semua, tiba tiba baru menyadari sesuatu. jika rokok yang seharusnya di sulut detik itu juga, ternyata sampai lupa membelinya.
Sehinga sang bapak pun (mertua mang Darman) yang menyadari keteledoran anaknya itu, segera meminta bik Iroh untuk bergegas kembali ke kampung atau mencari warung untuk membeli rokok itu.
Namun baru saja bik Iroh pergi dan belum seberapa jauh dari tempat itu, tak sengaja bik Iroh malah melihat sebatang rokok yang tergeletak di atas bebatuan. Tentu saja bik Iroh yang melihat itu, seketika kegirangan lantas mengambil rokok itu lalu kembali ke sawah itu.
Dengan segera bik Iroh menyulut rokok itu dan terpaksa di hisap karena rokok itu sulit menyala.
"sudah belum Iroh beli rokoknya ? Kok kamu sudah kembali lagi. Yang mau manen sudah siap nih kalo rokonya sudah ada"
kata kata itu yang di lontarkan sang Bapak pada bik Iroh . dan terlihat berjongkok sembari menghisap rokok yang di tempelkan pada bara api yang membakar kemenyan.
"sudah pa ! Nih rokoknya juga sudah saya nyalain kok. Kebetulan tadi saya minta sama yang lewat. Mangga silahkan di mulai saja kalo mau panen"
Balas bik Iroh beralasan sembari memainkan kepulan asap yang keluar dari mulutnya itu. Tak heran mang Darman yang melihat istrinya itu sembari membawa beberapa karung kosong dari gubuk, segera menegur istrinya.
"Iroh !!! Kalau nyalain roko buat sesajen itu gak boleh di hisap begitu ! Gak sopan itu namanya. Kalau Eyangnya marah terus kau kesurupan bagaimana hah! gak takut kamu!"
Tegur mang Darman pada bik Iroh dengan nada sedikit meninggi.