Selena Maheswari, adalah sosok gadis mandiri dan pekerja keras, dia tidak sengaja menyaksikan sendiri seseorang bertangan dingin yang dengan gampangnya mengeksekusi rekannya yang berkhianat, tanpa rasa bersalah ataupun menyesal.
Di dalam kejadian itu ternyata ada anak buah dari mafia tersebut yang mengintai Selena hingga pada akhirnya Selena terjerat ke dalam lingkaran sang Mafia.
Mampukah Selena keluar dari jerat sang Mafia atau malah sebaliknya?? Nantikan kisah selengkapnya hanya di Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertempuran Akan Dimulai
Pagi menjelang, suasana di ruang kerja nampak sunyi dan sepi, kabar tentang penyerangan semalam cepat sampai ke telinga Valen. Di ruang kerjanya, pria itu berdiri tegak menatap jendela besar, rokok di tangannya mengepul pelan.
“Dia sudah berani menembak, Don,” ucap salah satu penjaga yang tadi malam menyaksikan Selena.
Valen menghela napas panjang, matanya redup namun ada guratan bangga. “Itu yang kutunggu. Rasa takutnya sudah mulai berubah jadi senjata.”
Namun pikirannya tak sepenuhnya tenang. Ia tahu, Robin tidak akan berhenti hanya dengan dua anak buah yang kabur. Ada yang lebih besar sedang dipersiapkan.
☘️☘️☘️
Sementara itu, Selena duduk di kamarnya, masih menggenggam pistol. Tangannya gemetar tiap kali ia menatap bercak darah di lantai yang belum sepenuhnya dibersihkan. Hatinya campur aduk, antara lega karena selamat, dan berat karena telah melukai orang lain.
“Aku… benar-benar sudah berubah,” gumamnya lirih.
Pintu kamar terbuka, Valen masuk dengan langkah tenang. Ia tidak langsung bicara, hanya menatap Selena cukup lama, lalu mendekat.
“Tak ada jalan kembali setelah darah menempel di tanganmu,” ucapnya datar. “Kau sudah pilih jalan ini. Jadi berhenti gemetar. Kau bukan korban lagi, Selena. Kau pelindung.”
Kata-kata itu menusuk, tapi juga menyalakan bara di dada Selena. Ia mengangkat wajah, menatap Valen dengan sorot mata yang tak sama seperti kemarin.
“Kalau Robin ingin menguji nyaliku… aku akan tunjukkan bahwa dia salah memilih lawan,” balasnya lirih, tapi penuh tekad.
Valen tersenyum samar. “Itu jawaban seorang Queen.”
☘️☘️☘️
Di sisi lain kota, Robin duduk di meja besar dengan peta terbentang di hadapannya. Genta dan anak buah lainnya berdiri kaku, wajah tegang.
“Surya adalah kunci,” kata Robin pelan, tapi setiap kata terdengar seperti dentuman. “Selama dia hidup, Valen masih punya akar. Kita cabut akar itu dulu, baru batangnya tumbang.”
“Tapi Tuan… Surya itu legenda, susah dilacak,” ujar Genta dengan suara ragu.
Robin menoleh tajam, membuat Genta hampir menunduk ketakutan. “Tak ada yang abadi, Genta. Bahkan legenda pun bisa jatuh… kalau kita menemukan kelemahannya.”
Ia lalu menjentikkan jari. Seorang informan baru masuk, membawa berkas kusam. “Aku sudah menemukan sesuatu,” katanya. “Surya pernah punya keluarga utuh, anaknya bukan hanya Selena saja… dan selama ini berusaha ia sembunyikan.”
Robin menyeringai puas. “Bagus. Kalau benar keluarganya itu masih hidup, maka Surya akan muncul dari persembunyian hanya untuk melindunginya. Kita gunakan umpan ini.”
☘️☘️☘️☘️
Malam kembali turun. Selena sedang berlatih menembak bersama salah satu tangan kanan Valen di halaman belakang. Pelurunya kali ini lebih banyak mengenai target ketimbang meleset.
Namun, di sela-sela latihan, tiba-tiba salah seorang pengawal berlari masuk dengan wajah pucat.
“Don kita ada kabar, Robin mulai mengendus keluarga Surya yang lainnya, yaitu Ibu dan adik Selena yang saat ini sedang berada di kampungnya," ujar pengawal tersebut.
Valen menyeringai ia sudah bisa menduganya jika cara yang kemarin gagal, pasti siasat Robin lebih besar lagi untuk memancing Surya agar keluar dari persembunyiannya.
"Hubungi Mateo, untuk segera mengerahkan anak buahnya!" perintah Valen yang diangguki oleh pengawalnya itu.
Setelah kepergian pengawalnya tadi Valen langsung melirik ke arah Selena yang masih sibuk membidik senjata bersama dengan beberapa anak buahnya.
Kali ini ia benar-benar melihat ketekunan gadis itu dalam berlatih. "Kau mewarisi darah itu Selena," ucap Valen lirih.
☘️☘️☘️☘️
Malam itu, latihan Selena berakhir dengan peluh membasahi pelipisnya. Pistolnya kini lebih mantap di genggaman, suara pelurunya makin teratur. Namun di mata Valen, ia bukan sekadar gadis yang sedang berlatih ia adalah bayangan Surya yang perlahan kembali hidup dalam sosok putrinya.
Valen melangkah mendekat, mengawasi bidikan terakhir Selena. “Kau makin membaik. Tapi ingat, musuh tidak diam seperti papan kayu. Mereka bergerak, menipu, bahkan membunuh tanpa ampun.”
Selena mengangguk, lalu menurunkan pistolnya. “Kalau mereka berani datang lagi, aku tak akan mundur. Aku… harus melindungi yang tersisa dariku.”
Ucapan itu membuat Valen menoleh cepat. Sorot matanya menajam, seolah sedang menguji keyakinan Selena.
“Yang tersisa darimu?” ulangnya.
Selena menelan ludah, lalu menunduk sejenak. “Ayahku pernah bilang, aku harus menjadi wanita kuat agar bisa melindungi Ibu dan Adik, ternyata ucapannya itu mengandung rahasia besar yang tidak pernah aku sadari."
Valen terdiam. Ia tahu ucapan Selena bukan sekadar firasat, melainkan kenyataan yang sudah diprediksi. Dan benar saja, pengawal yang tadi melapor, kini kembali dengan wajah semakin tegang.
“Don, kabar baru… Robin sudah mengirim pasukan kecil ke arah kampung di mana keluarga Surya bersembunyi. Mereka bergerak cepat.”
Selena tersentak, darahnya berdesir. “Tidak… mereka tahu! Mereka akan membunuh Ibu dan adikku!”
Valen mengangkat tangan, menghentikan paniknya. Tatapannya tajam, penuh perhitungan. “Selena, tenang. Menyelamatkan mereka memang penting, tapi ini juga permainan Robin. Dia tahu kau akan gelisah, dia ingin kau terbakar amarah sebelum waktunya.”
Selena menggertakkan gigi, menahan gejolak hatinya. “Kalau aku diam saja, itu bukan aku. Aku tidak akan biarkan Robin menginjak keluargaku!”
Valen memandangnya cukup lama, lalu tersenyum tipis. Senyum yang samar antara kagum dan waspada. “Kau benar-benar darah Surya. Baiklah… kalau ini keinginanmu, maka kau harus turun langsung.”
Selena mendongak, matanya berkilat. “Aku akan melakukannya.”
Valen menoleh ke pengawalnya. “Siapkan Mateo. Kita berangkat malam ini. Pastikan jalan belakang tetap steril. Robin mungkin sudah menyiapkan jebakan.”
☘️☘️☘️
Di sisi lain, Robin duduk di gudang lamanya, menatap peta jalur desa yang penuh dengan tanda silang merah. Ia menyalakan cerutu, kepulan asap memenuhi udara.
“Selena sudah bergerak,” ucap informannya.
Robin menyeringai puas. “Bagus. Biarkan dia datang sendiri. Gadis itu akan berlari ke perangkapku… dengan membawa Valen sekaligus.”
Ia lalu berdiri, menepuk bahu Genta. “Malam ini kita bukan hanya memangsa keluarga Surya, tapi juga mencabik-cabik benteng Valen. Kalau rencana ini berhasil… Queen kecil itu akan jatuh ke tanganku sebelum sempat berkuasa.”
Tawa dingin Robin menggema, menandai dimulainya perburuan baru.
☘️☘️☘️
Di mobil hitam yang melaju menembus malam, Selena duduk di kursi belakang. Pistol di genggamannya terasa dingin, namun kali ini bukan ketakutan yang menguasai, melainkan tekad bulat.
Valen duduk di sampingnya, tatapannya lurus ke depan. “Dengar baik-baik, Selena. Saat kau melangkah ke sana, bukan hanya keluargamu yang sedang kau selamatkan. Kau juga sedang menguji dirimu sendiri. Kalau kau gagal malam ini… Robin akan tahu kau belum siap jadi Queen.”
Selena menggenggam pistolnya semakin erat, matanya lurus ke depan. “Aku tidak akan gagal. Aku akan melindungi mereka… dan aku akan tunjukkan pada Robin siapa sebenarnya darah Surya.”
Mobil itu melaju semakin cepat, menuju malam yang penuh jebakan.
Bersambung…
Semoga suka ya kak
my queen
queen mafia pantang mundur,dan satu tidak ada kata maaf