Tahap Revisi ❤️❤️❤️
Mencintai dan dicintai lalu menikah dengan orang yang dicintai adalah impian setiap wanita. Begitupun dengan Livina. Seorang gadis miskin berusia 21 tahun yang pendiam dan pemalu yang tengah berjuang untuk mencari kebahagiaanya. Impiannya hanya sederhana yaitu dapat hidup bahagia dan memiliki pasangan hidup yang dapat menerimanya apa adanya kelak. Namun, takdir berkata lain. Hidupnya yang sejak kecil sudah penuh dengan air mata karena kebencian orang tuanya, kini harus bertambah karena ia terpaksa harus menikah dengan atasannya di perusahaan tempat ia bekerja. Yang lebih menyakitkan adalah pernikahan itu bukan hanya tanpa didasari oleh cinta, tapi paksaan akibat dari emosi, amarah, kecewa, dendam, sakit hati, dan keinginan balas dendam tanpa ia mengerti alasannya kenapa ia bisa terjebak dalam pernikahan itu. Lalu bagaimanakah kehidupan pernikahannya? Berakhir bahagia ataukah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'wie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch.21 memikirkanmu
Setibanya di rumah, Livina dan Zevan segera masuk ke kamar masing-masing. Mereka membersihkan diri dahulu lalu menuju tempat tidur masing-masing.
Zevan pov
Ada apa denganku hari ini. Tadi di kamar wanita itu entah kenapa aku tiba-tiba ingin menyentuh dan menciumnya. Kulit putih mulusnya, leher jenjangnya, aroma tubuhnya. Aaarhghh ... kenapa dengan pikiranku. Kenapa pikiranku tiba-tiba saja dipenuhi olehnya.
Memikirkannya saja bisa membangkitkan sisi liarku. Kenapa juga tadi aku merasa kesal melihat keakrabannya dengan keluarga Alendra? Apalagi dengan si pria brengsek Divo Alendra itu. Kenapa harus kasi kado segala sih? Dia pikir aku tak mampu memberikan hadiah untuk Livina. Tapi apa ya yang diberikan pria itu tadi pada Livina? Aku jadi penasaran.
Aaarghhh ...
Aku harus segera tidur kalau tidak aku pasti takkan berhenti memikirkannya.
Lalu Zevan segera membenamkan wajahnya di bantal berharap agar ia bisa segera tertidur dan berhenti memikirkan Livina.
Livina pov
Ada apa dengan pak Zevan? Sebelum pergi tadi dia entah mau berbuat apa. Aku sampai merinding karena hembusan nafasnya yang begitu dekat denganku. Aku tak pernah sedekat itu dengan lelaki walaupun itu ayahku sendiri dan adikku Gio. Entah mengapa saat berdekatan dengan tuan Zevan seperti tadi membuat jantungku berdetak tak karuan. Dan tadi mengapa ia menatap Divo sinis sekali saat di resto. Dan apa maksudnya mengingatkanku kalau aku ini istrinya. Bukankah memang aku istrinya. Justru dia yang tak pernah menganggap keberadaanku. Semoga Allah selalu melimpahkan kesabaran padaku. Aamiin.
Lalu Livina membaca doa sebelum memejamkan matanya menuju alam mimpi.
Ting tong ...
Suara bell rumah berbunyi.
Lalu Livina mengecek siapa yang bertamu pagi-pagi sekali via interkom.
"Ah, mbak Shella." Gumam Livina lalu ia segera membukakan pintu.
"Selamat pagi mbak Shella."
"Huh,kenapa harus kau yang membukakan pintu?" ketus Shella. "Oh ya, jangan kau panggil saya mbak, karena saya bukan kakak perempuanmu. Kau memang telah menikah dengan Zevan, tapi akulah nyonya yang sebenarnya jadi kau harus memanggilku nyonya. Mengerti!" bentak Shella.
"Ba-baik, nyonya. Nyonya, aku mohon maaf atas kejadian tempo hari! Aku sungguh tak tahu mengapa aku tiba-tiba bisa berada di ..."
"Stop!! Jangan kau ungkit-ungkit lagi masalah itu. Aku jijik mengingatnya." Sentaknya.
Lalu Shella berlalu meninggalkan Livina menuju kamar Zevan.
tok tok tok ...
"Siapa?"
Lalu Zevan berjalan mendekati pintu dan membukanya.
"Hai sayang." Shella tiba-tiba berhambur ke pelukan Zevan.
"Kenapa kamu datang pagi-pagi sekali?" tanya Zevan heran.
"Kamu nggak suka aku ke sini pagi-pagi sekali, hmm?" cebik Shella.
"Bukan begitu sayang, ngambek mulu ah. Aku kan cuma tanya aja takut ada apa-apa."
"Nggak ada apa-apa sih cuma kangen aja soalnya sekarang kita sudah jarang ketemu."
"Kan yang buat jarang ketemu itu kamu, bukan aku."
"Ya ya ya, tapi kamu juga sekarang udah jarang hubungin. Mentang-mentang sekarang udah punya istri jadi lupa deh sama aku." Shella melepas pelukannya lalu membelakangi Zevan karena kesal.
"Iya sayang, maaf. I'm so sorry. I'm very busy karena itu aku nggak sempat hubungin kamu. Kamu udah sarapan?"
Shella menggelengkan kepala.
"Ya udah, kita sarapan yuk!"
Zevan merangkul Shella keluar kamar menuju meja makan.
"Hei kamu!" tunjuk Shella pada Livina.
"Saya nyonya?"
"Buatkan saya jus lemon, cepat!" Titah Shella.
"Baik nyonya."
Livina beranjak ke dapur membuatkan Shella jus lemon yang dipintanya.
Zevan hanya memperhatikan sikap Shella pada Livina. Entah mengapa ia merasa tak nyaman melihat Livina yang diperlakukan seperti itu oleh Shella. Namun, ia menepis pikiran itu karena ia pikir itu wajar sebab Livina telah merebut tempatnya di sisinya.
Livina telah selesai membuatkan Shella jus lemon lalu menyerahkannya pada Shella.
"Ini nyonya."
Lalu Shella langsung meneguk jusnya.
"Cuih ... Jus apaan ini? Kau ingin meracuniku hah? Dasar perempuan sial*n."
Shella memuntahkan jus yang ia minum tepat di wajah Livina.
"Ma-maaf nyonya kalau rasanya tidak enak."
"Sudah pergi sana. Kau membuatku jadi tak bernafsu makan saja. Sayang, kita sarapan di luar saja ya! Aku udah nggak berselera sarapan disini." bujuk Shella.
"Tapi sayang makanan disini kalau kita tinggalkan. Mubazir. Sudah makan saja, nanti siang baru kita makan bersama di luar." Bujuk Zevan sambil mengelus tangan Shella tanpa mereka sadari, mata Livina sudah berkaca-kaca. Bukan karena sikap Shella tapi karena Zevan yang nampak begitu menyayangi Shella.
'Maafkan aku karena sudah jadi yang ketiga diantara kalian. Sumpah, aku tak pernah bermaksud jadi yang ketiga. Kalaupun tuan Zevan hendak menceraikan ku dan menikahi nyonya Shella, aku rela, aku ikhlas. Asalkan kalian bahagia.' Batin Livina bermonolog.
...Happy Reading ❤️❤️❤️...
hehehe......jadi curhat