NovelToon NovelToon
Dipanggil Ke Dunia Lain Untuk Kedua Kalinya

Dipanggil Ke Dunia Lain Untuk Kedua Kalinya

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Dunia Lain / Fantasi Isekai / Elf / Harem / Menyembunyikan Identitas / Light Novel / Tamat
Popularitas:97.2k
Nilai: 5
Nama Author: Katsumi

[Note : Update jika Author tidak sibuk]

Seorang siswa bernama Ash Kisaragi mendapati dirinya terpanggil ke dunia lain bersama teman sekelasnya. Kala itu mereka bertemu dengan seorang Dewi dan mendapatkan sebuah skill sesuai dengan yang mereka inginkan sebagai bekal ke dunia lain. Namun, berbeda dengan teman sekelasnya Ash mengambil semua skill yang tidak masuk dalam kategori skill petarung.

Setelah perpindahan dunia, Ash langsung pergi meninggalkan teman satu kelasnya. Ternyata ini bukan kali pertama Ash dipanggil ke dunia lain, ia tak ingin menjadi seorang pahlawan dan ingin hidup santai.

Namun ada begitu banyak masalah yang datang padanya, hingga ia bertemu dengan dewi yang pernah memanggilnya di pemanggilan pertama. Setelah itu Ash kembali mengemban nasib dunia, sebuah misi baru telah terukir padanya.

Kisah Pahlawan Yang Pernah Mengalahkan Raja Iblis Dan Dipanggil Kembali Untuk Menjadi Pahlawan Sekali Lagi. Namun kali ini musuh utamanya bukanlah raja iblis melainkan dewa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21 : Extinction Ray!

Bagian utara kota terdengar suara yang riuh, teriakan para kesatria dan petualang yang sedang bertarung, menahan para monster yang ingin menghancurkan kota.

"Tembak!" seru Guild Master dari atas benteng, memerintahkan para pemanah dan penyihir untuk menyerang para monster yang mengamuk.

"Ora ora ora!" Risa yang berada di garis depan mengamuk, menebas setiap monster yang berani mendekat.

"Fire magic, enchanted sword!" seru Risa menambahkan elemen api ke dalam pedangnya. "Burning slash!" Dengan sekuat tenaga, ia menebaskan pedangnya, menciptakan tebasan api yang melahap banyak monster, mengeluarkan teriakan kesakitan dari makhluk-makhluk tersebut.

"Haft~" Risa terengah-engah, kehabisan napas setelah bertarung tanpa henti sejak dinding pelindung kota hancur.

Para petualang di dekatnya tak bisa menyembunyikan kekaguman mereka.

"Hebat!"

"Boleh juga kau, Nona!"

"Baiklah semua, kita tak boleh kalah!"

"Yaaa!!"

"Tunjukkan pada para monster itu bagaimana kemampuan petualang kota Ranvel!"

Semangat para petualang melambung tinggi, terisi oleh semangat juang yang tak tergoyahkan.

"Terus tahan sampai para penyihir mengaktifkan sihir pelindung lagi!" seru Guild Master yang berlari ke medan tempur, pedang besar berwarna hitam berkilau di tangannya.

"Yaaa!" teriakan bersatu dalam satu suara menggema, menggugah semangat mereka untuk bertarung.

...----------------...

Di pinggiran kota dekat dengan wilayah kumuh, Ash masih berdiri diam, menatap air sungai yang mengalir tenang, jauh dari kekacauan yang terjadi di kota.

"Ash, kau sudah lihat serangan barusan, kan? Orang-orang yang ada di kota ini tak akan sanggup melawan monster itu," ujar Erine, wajahnya tegang menanti jawaban Ash.

Ash menghela napas berat, menggaruk kepalanya dengan rasa cemas, "Jadi begini, Dewi Erine. Saat ini kekuatanku juga tersegel. Semua kemampuan yang kumiliki sekarang hanya kemampuan sehari-hari. Jika kau menyuruhku untuk bertarung, sama saja kau mengirimku untuk bunuh diri," jelas Ash, sorot matanya menunjukkan kepasrahan.

"Lagian, kau juga ada di sini. Kenapa kau tak melakukan sesuatu?" Ash melanjutkan, menatap Erine dengan serius.

Erine terdiam sejenak, mengumpulkan pikirannya. "So- soal itu... kekuatanku juga telah hilang... sekarang aku hanya bisa memakai satu persen dari kekuatanku, bisa dibilang aku sama seperti manusia biasa sekarang," jawabnya dengan nada sedih.

"Apa turun ke dunia bawah membuatmu kehilangan kekuatan?" Ash bertanya.

Erine menggeleng pelan, "Tidak, ini semua terjadi akibat Dewa Jahat yang hampir sepenuhnya bangkit."

"Dewa jahat?" Ash terlihat terkejut serta bingung.

"Ya, seratus lima puluh tahun yang lalu, lima puluh tahun setelah aku memulangkanmu ke dunia asal. Aku menyelidiki kenapa semua ras tiba-tiba saling membenci dan berperang. Saat itu terjadi keributan di alam para dewa. Segel yang telah menahan sang Dewa Kehancuran telah rusak. Dewa itu disegel di dunia ini. Karena melemahnya segel itu, terdapat miasma yang menyebar dan merasuki orang-orang serta monster. Karena itulah, apa yang kau alami dua ratus tahun yang lalu bukanlah niat asli dari orang-orang, melainkan akibat terpengaruh oleh Dewa Jahat," jelas Erine.

Ash terdiam sejenak, merenungkan apa yang baru saja didengarnya.

Dua ratus tahun? Jadi dunia ini sudah bergerak selama itu? Padahal di Bumi hanya berjalan dua tahun... batinnya.

"Meskipun kau bilang begitu, tak menutup fakta bahwa merekalah yang telah melakukan hal itu," balas Ash, sedikit jengkel saat mengingat kejadian itu.

"Begitu yah... jika kau tak mau bertarung, tolong pergi dari kota ini secepatnya. Kota ini tak akan bertahan lebih lama lagi..." ujar Erine, wajahnya menunjukkan kepasrahan yang dalam, air mata mulai mengalir di pipinya.

Menggerakkan tangannya dengan lembut, Ash mengusap air mata itu. "Simpan air matamu, Dewi Erine. Aku akan melakukannya," ujar Ash, terlihat terpaksa tetapi bertekad.

"Bena—"

"Tapi aku punya syarat," Ash langsung menyela. "Aku akan membantu untuk melawan Dewa Jahat itu, tapi biarkan aku melakukannya dengan caraku," lanjut Ash, menegaskan keinginannya.

"Ha- hanya itu..?" Erine tampak tak percaya dengan syarat yang diajukan oleh Ash.

"Ya, lagipula aku tak bisa membiarkan para gadis itu mati di sini," ucap Ash sambil menengok ke arah gerbang utara.

"Tapi bagaimana? Bukankah kau bilang kekuatanmu tersegel?" Erine kembali bertanya, nada suaranya mencerminkan keputusasaannya.

"Ya, kita akan mampir ke toko kenalanku dulu," jawab Ash, langkahnya mantap menuju toko milik Daniel.

Sesampainya di toko, Ash langsung masuk dan menemukan Daniel yang duduk berdoa dengan tubuh bergetar.

"Da- Daniel," Ash mencoba menyentuh pundak Daniel.

"Uwwwaahh!" Daniel terkejut dan terjatuh ke lantai.

"A- Ash?"

"Ya, ini aku," jawab Ash dengan senyuman.

"Mengagetkan saja! Kukira kau monster yang berhasil menembus kota," ujar Daniel dengan nada lega.

"Hei, apakah kau punya batu sihir tingkat atas?" Ash bertanya dengan serius.

"Ya, aku punya beberapa. Kenapa?" Daniel terlihat bingung.

"Apa kau bisa memberikannya padaku? Aku berjanji akan menghabisi semua monster yang menyerang," ujar Ash, tatapan matanya penuh tekad.

Menyaksikan ketulusan dalam mata Ash, Daniel tanpa ragu berlari ke dalam ruangan, menuju ke ruang penyimpanan untuk mengambil semua batu sihir kelas atas yang ada.

Ia mengeluarkan lima batu sihir, semuanya berupa batu sihir monster rank-A.

"Tiga ini batu sihir Earth Dragon dan dua sisanya batu sihir Black Viper," ujar Daniel.

"Hanya ini?" tanya Ash, menilai jumlah batu sihir yang ada.

"Ya, hanya ini saja. Sisanya hanya batu sihir monster rank-F," jawab Daniel.

Ash memeriksa kelima batu sihir itu. Ia mengarahkan tangannya ke depan. "Sintesis."

Memakai skill miliknya, Ash menyatukan kelima batu sihir itu menjadi satu, menciptakan sebuah kristal magic dengan energi sihir yang pekat. Setelah itu, ia berjalan keluar dari toko.

"Aku akan membereskan kekacauan ini," ucapnya sambil melambaikan tangan.

"Erine, kau kembali saja dan tunggu di toko milikku. Aku akan mengurus para monster," ujar Ash, menatap Erine dengan lembut.

Dengan enggan, Erine hanya bisa menjawab, "Ya, tapi hati-hati. Bos monster stampede ini adalah seekor naga hitam yang telah menyatu dengan miasma Dewa Jahat."

"Aku mengerti," jawab Ash dengan senyum, lalu ia pergi menuju gerbang utara.

Di sana, orang-orang tampak kewalahan, banyak yang terluka. Saat sampai, Ash melihat Luna yang sudah kewalahan untuk menyembuhkan setiap orang yang terluka. Koharu, Azusa, dan Tama juga tampak lelah, kehabisan tenaga.

"Ash...?" Luna langsung menghampiri Ash saat melihatnya datang.

Ash mengusap kepala Luna, "Kau sudah melakukan yang terbaik. Sisanya serahkan padaku."

Dengan tekad yang baru, Ash melangkah keluar dari gerbang, menyaksikan para petualang yang masih bertarung di garis depan. Guild Master sudah sangat kelelahan, tubuhnya penuh luka.

"Air Wall!" Ash melantunkan sihir angin, menciptakan dinding angin yang bergerak, mendorong semua monster, tetapi tidak mendorong kesatria dan petualang.

Orang-orang tampak bingung, "Apa yang terjadi?"

"Sepertinya kau sudah berjuang dengan keras, ya," ujar Ash, berdiri di samping Risa yang tampak sempoyongan.

"K- kenapa kau ke sini...?" balas Risa lirih, matanya berbinar-binar melihat Ash.

"Kau istirahat saja. Jangan memaksakan diri lagi atau kau akan mati," ujar Ash, melanjutkan langkahnya ke depan.

"Kalian yang masih di depan, mundurlah jika tak ingin mati," seru Ash kepada semua orang yang berada di depannya.

Orang-orang melihat ke arahnya, kebingungan.

"Bukankah laki-laki itu orang lemah yang satu kelompok dengan para gadis berbakat?"

"Buat apa dia kemari?"

"Orang lemah tak usah ikut campur!" teriak salah satu petualang dengan nada meremehkan.

"Benar, pulang saja ke rumah dan berlindung!" timpal yang lain, menambahkan garam pada luka yang sudah menganga.

Mendengar jawaban para petualang itu, Risa bangkit berdiri, wajahnya merah karena kemarahan. "Sudahlah, cepat mundur sana!!" teriaknya dengan lantang, suaranya menggelegar di tengah kekacauan.

Para petualang tampak bingung. Mereka saling menatap satu sama lain, ketidakpastian terukir di wajah mereka. Namun, dengan keberanian yang didapat dari teriakan Risa, mereka mengangguk pelan, setuju, dan mulai mundur dengan cepat.

Ketika para petualang mundur, hanya ada Ash yang berdiri tegak di depan. Ia melihat monster-monster yang masih terperangkap dalam dinding angin yang dia buat. Dengan keyakinan baru, Ash melempar magic crystal ke atas dan menangkapnya dengan tangan kanannya. Ia mengarahkan kedua tangannya ke depan, satu menggenggam magic crystal dan yang lainnya terbuka, siap memancarkan kekuatan.

"Akulah sang penebas para dewa... Akulah yang telah mengetahui awal dan akhir... Kembalilah ke perputaran takdir, enam elemen ke elemen, dan putuskan ikatan hubungan antara sebab dan akibat."

Suara Ash bergema di seluruh medan perang, dan semua mata tertuju padanya. Risa tertegun, "Ash merapalkan mantra?" gumamnya dalam keheranan. Selama ini, ia tak pernah melihat Ash merapal.

Sebuah lingkaran sihir besar muncul di depan Ash, berwarna putih dengan kilauan pelangi yang menawan. Tanah di sekelilingnya mulai bergetar, dan petir bergemuruh seolah merespons kekuatan yang sedang terkumpul. Udara terhisap ke dalam lingkaran sihir, menciptakan suasana yang tegang.

"Segala penciptaan di sini akan musnah dan kembali ke dalam kehampaan tak terbatas. Original Ultimate Magic: Extinction Ray!" seru Ash, suaranya penuh dengan determinasi.

Sebuah laser pemusnahan berwarna putih melesat keluar dari lingkaran sihir itu, melesat cepat dan dengan satu kilasan menghapus semua monster yang ada di jalurnya. Dalam sekejap, medan pertempuran itu tampak bersih, seolah tidak ada yang pernah terjadi.

Namun, kedamaian itu hanya sementara. "Kuwaggh!" Ash memuntahkan darah, tubuhnya terhuyung sebelum akhirnya jatuh terduduk di tanah.

Batu sihir di tangan kanannya juga retak, kepanikan melanda hatinya. "Sial dari semua itu, kenapa dia masih hidup?" gumamnya, matanya terbelalak melihat ke arah sosok hitam yang masih berdiri di kejauhan, meskipun satu sayapnya lenyap akibat serangan itu.

"Naga Hitam," Ash menggeram, mencoba bangun berdiri dengan susah payah. "Sepertinya kekuatannya berlipat ganda karena miasma yang dikatakan oleh Dewi Erine."

Kepala Ash berdenyut nyeri, perasaannya campur aduk antara ketakutan dan semangat juang. Dia tahu, ini bukan akhir dari pertempuran; ini baru saja dimulai!

1
Nadja 🎀
kpn Next chapter???
Protocetus
kapan lanjut lagi?
Jakaria Hidayat
Luar biasa
Frando Wijaya
btw next Thor 😃
Frando Wijaya
hmm....apakh ada next eps lg? d lht lg blom selesai cerita ini
Europa.
mantep ngeharem dah tuh🗿
Sena Sena: JJk cok katanya penyendiri mau hidup tenang jadi orang biasa lah malah ngizinin si beban² ikut.. apalah
total 1 replies
Europa.
bahh serasa nonton hittoribocchi eps 2🗿
Europa.
hitoribocchi/Sweat/
Europa.
ahh/Sweat/
Europa.
yoshh heroin kahh
Europa.
wajarlah, pengen jdi mc mereka🗿
Europa.
tmnnya tachibana😭
Europa.
baca jdul jdi keinget suatu anime🗿
Story
Entah kenapa kok aku rada geli ya/Sweat/
Story
Apa-apaan ini
Story
Nikmatilah selagi kau belum melihat sisi buruknya. /Skull/
Story
Jangan terlalu terobsesi dengan dunia fantasy nanti kena mental saat melihat sisi buruk dari dunia yang kalian impikan. /Skull//Skull//Skull/
Story
Sudah aku duga. /Skull/
Story
Kok gk asing. Apa kau pake ChatGPT buat review kah thor, atau buat penyempurnaan aja?
Katsumi: gak terlalu beda sama naskah aslinya, paling cuma benerin beberapa kata aja
total 2 replies
Story
Bau² ketakutan akan kematian tercium/Skull//Skull//Skull/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!