NovelToon NovelToon
[Bukan] Muhalil

[Bukan] Muhalil

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:665.1k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kiara percaya cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi ternyata, bermodalkan cinta saja tidaklah cukup. Pernikahan yang baru berjalan 1 tahun atas dasar perjodohan itu harus berakhir begitu saja setelah Erick menjatuhkan talak untuk yang ketiga kalinya. Alasannya selalu sama, hanya karena merasa tidak diperhatikan. Padahal, sebelum memutuskan menikah mereka sudah sepakat akan saling memahami profesi masing-masing.

3 bulan kemudian Erick kembali dengan sejuta penyesalan dan meminta rujuk. Kiara yang sejatinya masih mencintai sang mantan suami kembali memberikan kesempatan meski tahu jalan kembali kali ini harus melewati lika-liku yang rumit. Kiara harus menikah terlebih dahulu dengan laki-laki lain yang disebut muhalil.

Bagaimanakah perjalanan rumah tangga Kiara bersama suami muhalilnya dalam bayang-bayang Erick yang menanti mereka segera bercerai? Namun, siapa sangka dibalik pernikahan muhalil itu, ternyata tersimpan sebuah rahasia yang berusaha dibongkar oleh sang muhalil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. SIAPA YANG MELAKUKANNYA?

"Shanum kenapa?" Tanya Liana yang baru saja masuk ke kamar, mendapati putrinya nampak melamun dengan pandangan terus tertuju pada jendela kamar.

"Katanya Papa mau pulang, tapi sampai sekarang belum sampai juga," lirih Shanum. Sudah hampir tiga jam dia sampai dirumahnya, tapi papanya belum juga datang.

"Sabar, mungkin jalanan lagi macet." Liana berusaha menenangkan putrinya, meski sebenarnya dia juga tidak yakin Erick akan pulang. Mungkin saja, saat ini suaminya itu masih bersama Kiara di mall.

"Tapi Shanum udah gak sabar nungguin Papa pulang," kedua matanya mulai berkaca-kaca. Sampai kapan dia harus terus menahan rindu pada papanya. Meski dia masih kecil, tapi ada begitu banyak pertanyaan dibenaknya yang tidak dapat dia sampaikan pada siapapun.

Liana menghela nafas, memasukan pakaian yang telah dia setrika ke dalam lemari lalu menghampiri putrinya yang duduk di tempat tidur sambil memeluk kedua kakinya.

"Shanum ingat kan, Papa selalu bilang apa?"

Shanum mengangguk lesu.

"Kalaupun Papa gak jadi pulang hari ini, bisa jadi Papa ada kerjaan mendadak. Itu artinya apa? Papa akan semakin banyak uang dan bisa segera mengajak kita jalan-jalan ke... ?" Liana sengaja menjeda kalimatnya agar Shanum yang melanjutkan.

"Italia," jawab gadis kecil itu lirih.

"Jadi sekarang, Shanum harus memaklumi kalau Papa gak jadi pulang, ya?"

Shanum hanya mengangguk. Dia mengerti papanya sibuk mencari uang untuknya, tapi rindunya tidak bisa tertahankan. Apakah tidak bisa sebentar saja papanya meluangkan waktu untuknya.

Tak lama kemudian, terdengar suara klakson mobil.

Senyum Shanum seketika mengembang, dengan begitu bersemangat dia turun dari tempat tidur dan mengintip di jendela. "Ma, Papa datang." Serunya, begitu melihat mobil papanya memasuki pelataran.

Liana pun beranjak menuju jendela, dia tersenyum tipis. Ternyata, Erick benar-benar menepati ucapannya kali ini. Tak sia-sia tadi dia memasak karena paksaan putrinya. Padahal, dia sudah berpikir makanan itu akan mubazir.

"Ayo Ma, kita keluar sambut Papa." Shanum berlari lebih dulu keluar dari kamar. Liana pun gegas menyusul putrinya.

"Papa," Shanum berlari menghampiri sang papa dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

Erick yang baru saja turun dari mobil, langsung bersimpuh sambil merentangkan kedua tangannya. Kedua matanya terpejam seiring ringisan tertahan diwajahnya ketika Shanum menenggelamkan diri kedalam pelukannya.

Liana yang melihat itu, lagi-lagi dibuat heran. Sebenarnya ada apa dengan suaminya itu?

"Akhirnya Papa datang juga. Shanum kira Papa gak jadi datang," kata Shanum setelah mengurai pelukannya.

"Papa sudah bilang kan, akan pulang? Jadi Papa pasti akan menepatinya. Papa juga kangen banget sama Shanum, dan malam ini Papa, Shanum dan Mama, kita akan tidur bertiga." Ucap Erick sambil menangkup wajah putrinya.

"Beneran, Pa?" Tanya Shanum, kedua matanya berbinar.

"Beneran Sayang. Malam ini, Papa akan menginap di sini," jawab Erick. Shanum seketika bersorak senang mendengarnya.

.

.

.

Setelah Magrib, Liana menuju dapur untuk memanaskan makanan yang dia masak siang tadi. Ketika suaminya datang dia menawarkan makan, tapi Erick menolak dengan alasan sudah makan bersama Kiara di mall sebelum pulang. Padahal, saat Kiara juga menawarkan makan, dia juga menolaknya dengan alasan sudah makan di kantor sebelum menyusul ke mall.

Setelah selesai memanaskan makanan dan menatanya di meja makan, Liana kembali ke kamar untuk memanggil suami dan anaknya.

Saat akan membuka pintu kamar, dia mendengar obrolan Erick dan Shanum yang membuat pipinya seketika bersemu, serta bibirnya mengembangkan senyum.

"Pa, kapan Shanum akan punya Adik?"

"Nanti, kalau Papa udah gak sibuk lagi. Papa udah punya banyak uang, baru deh Papa dan Mama kasih Shanum adik yang banyak."

"Beneran ya, Pa?"

"Iya, Sayang."

Obrolan keduanya terhenti saat pintu kamar terbuka. Mereka berdua yang sedang rebahan, langsung bangun begitu melihat Liana datang.

"Makanan sudah selesai dihidangkan, sekarang ayo kita makan." Ajak Liana sambil melangkah masuk.

Erick pun turun dari tempat tidur, sementara Shanum masih duduk. Dia tersenyum pada papanya sambil mengulurkan tangan.

"Papa, gendong."

Belum menggendong saja, Erick sudah meringis duluan. "Papa belum makan, jadi gak ada tenaga buat gendong Shanum." Ujarnya dengan ekspresi wajah yang dibuat memelas.

"Ya udah deh, Shanum jalan aja. Tapi nanti kalau udah makan, Papa gendong Shanum balik ke kamar ya?"

Erick terdiam sejenak, menghela nafas kemudian akhirnya mengangguk tampak ragu. Mereka pun keluar dari kamar sambil berpegangan tangan, sementara Liana berjalan di belakang mereka.

Tatapan Liana tak lepas menatap punggung suaminya, entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang aneh pada suaminya itu.

Erick menikmati makan malam ini dengan begitu khidmat bersama anak dan istrinya. Karena setelah ini, entah kapan lagi dia bisa merasakan masakan Liana.

Setelah selesai makan malam, Liana membereskan bekas makan mereka. Sementara Erick dan Shanum langsung kembali ke kamar. Seperti janjinya, Erick benar-benar menggendong putrinya menuju kamar, namun sepanjang langkah dia hanya mengatupkan bibirnya rapat dan hanya menjawab dengan gerakan kepala bila putrinya bertanya. Serta sesekali tersenyum nampak terpaksa merespon candaan putrinya.

Begitu sampai di kamar, Erick langsung mendudukkan putrinya di atas ranjang kemudian menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan cepat seolah diburu waktu.

"Papa capek ya, gendong Shanum?"

Erick terkekeh pelan, "Hum, Shanum udah berat banget, Papa udah gak kuat gendong Shanum." Jawabnya terpaksa berbohong.

Shanum pun terkekeh, "Habisnya, kalo Om Denis ngajak Shanum jalan-jalan, dipaksa makan banyak sama Om Denis." Tuturnya.

"Itu bagus, biar Shanum cepat gede." Erick tersenyum. Dia pun ikut duduk di samping putrinya. Mereka bercerita banyak hal sampai Liana datang bergabung bersama mereka, obrolan pun semakin seru. Hingga tak terasa, malam sudah cukup larut.

Begitu Erick dan Shanum tidur, Liana pun mengendap-endap turun dari tempat tidur. Berjalan dengan pelan ke samping suaminya. Dengan begitu hati-hati, dia melepas satu persatu kancing piyama suaminya.

Liana seketika membekap mulutnya menahan pekikan atas rasa terkejutnya, kedua matanya yang berkaca-kaca perlahan digenangi air mata yang akhirnya meleleh membasahi pipi. Dia menggeleng tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, ada begitu banyak lebam ditubuh suaminya. Sebagai sudah terlihat menghitam seperti bekas memar lama, dan sebagian terlihat masih membiru menandakan luka baru.

"Siapa yang melakukannya, Mas?"

1
Ray
apakah Erick dipaksa orang tuanya juga, karena Kiara kaya raya, tapi langsung jatuh cinta pada pandangan pertama?
...
eh jgn² hamil
...
berarti erick jadi sapi perah papa nya
...
kayak nya papa nya erick ini butuh suntikan dana dari papa nya kiara.. mka nya si erick di suruh papa nya rujuk lagi
Muslika
Erick lu enak dpt 2 perawan🤭
Nurlinda: duh mau gimana lagi, sudah begitu takdirnya mereka🤭
total 8 replies
Muslika
novel pertama yg aku baca n ngeri juga cerita y
...
owwwwww ternyata sepupu
...
si liana manggil Denis abang
si erik manggil Denis abang liana atau erik yang adik nya Denis ini🧐
...
seburuk apa sih kelakuan liana zaman dulu, sampai² mama kasih gak mau lihat wajah anak sendiri.
Wawan Rustandi
waduh
Wawan Rustandi
waduh aku udah siap mau tahlillan tapi ternyata bang denisnya hidup kembali 😄😄😄😄
Wawan Rustandi
ah gak asyik ko tokoh utamanya meninggal sih
Wawan Rustandi
ah gak asyik ko tokoh utamanya meninggal sih
Wawan Rustandi
mungkinkah alex
Wawan Rustandi
lega rasanya 😄😄😄
Wawan Rustandi
😄😄😄😄 kasian banget kebayang sakitnya satu kepala aja segitu berdenyut nya apalagi dua duanya
Wawan Rustandi
ngeri banget 🤭🤭🤭
Wawan Rustandi
akan kah detik detik pengakuan itu terucap dari mulut Erick
Wawan Rustandi
semoga cepat terbongkar
Wawan Rustandi
siap siap aja bila semuanya terbuka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!