Kisah Islami
Cerita Melankolis
Kali ini saya persembahkan untuk kalian semua para pembaca setia saya, semoga kalian semua terhibur.
Siapa yang mau memilih kesedihan,kalau kita di suguhkan bahagia dan sedih, pastilah semua orang akan memilih bahagia.
Arafa, seorang gadis yang tumbuh dewasa dengan penuh lika liku kehidupan dan kepedihan, namun karena semua itu, dia menjadi wanita yang tegar dalam menghadapi kenyataan hidup yang memang harus ia jalani.
Ikuti terus kisah Arafa, sampai dia menemukan kebahagiaan dan sang pujaan hati.
SUDAH MASUK MUSIM 2..
Kesabaran Ara dan David musim 2 ini akan di uji, keinginan mereka untuk memiliki anak harus tertunda cukup lama. Bagaimana cara mereka melaluinya? 😊
Baca juga karyaku yg lain, bisa dilihat lewat sentuhan lembut ke avaku😁😁.. Terima kasih😘💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tinayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Ara melangkahkan kakinya pelan mendekati kerumunan beberapa ibu - ibu yang sedang membicarakan sesuatu, entah apa itu.
"Permisi, maaf mengganggu ibu - ibu, "
"Iya mbak, ada apa ya?" tanya salah seorang ibu yang terlihat lebih muda di banding dengan yang lainnya.
Ara mengulurkan tangannya, memberikan kertas lusuh yang sedari tadi ia pegang kepada ibu muda tersebut.
"Bisa minta tolong bu, saya tidak tahu arah alamat rumah itu?"
Ibu muda itu menyipitkan matanya, membaca dan sedikit mengingat dimana alamat itu.Ia memberikan kertas itu kepada temannya yang berada tepat di sebelahnya, karena sepertinya ia juga tidak mengetahui alamat itu.
"Oh ini, aku tahu Mbak " kata salah seorang ibu.
Seperti angin segar bagi Ara, ia mengelus dada dan bergumam Alhamdulillah memanjatkan syukur kepada Illahi.
Akhirnya, ibu itu menunjukkan arah kemana Ara harus pergi ke alamat tersebut.
"Sepertinya jauh sekali" batin Ara.
"Alhamdulillah terimakasih Bu, kalau begitu saya permisi dulu. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam" jawab ibu-ibu itu bersamaan.
Ara kembali melakukan perjalanannya dengan berjalan kaki.
Dibawah teriknya matahari, Ara tetap terus berjalan, berharap agar segera sampai ke rumah pamannya.
Hingga terdengar suara sayup adzan dzuhur yang sepertinya berasal dari masjid yang agak jauh di depan sana.
Ara bergegas menambah kecepatan jalan kakinya menuju masjid yang belum ia ketahui tempatnya. Ia hanya berjalan mengikuti suara adzan yang sedang berkumandang.
Selangkah demi selangkah, akhirnya bertemu juga Ara dengan masjid tersebut. Ia melepaskan sandalnya dengan rapi, dan bergegas menuju ke kamar mandi Masjid tersebut.
Namun langkah kakinya segera terhenti tatkala ia mengingat sesuatu yang sepertinya pernah ia alami di masa lalu.
Ara berbalik menatap ke arah ia masuk, matanya berkeliling menatap ke penjuru masjid. Sebuah ingatan jelas tentang tempat itu muncul di kepala Ara.
"Subhanallah, ini adalah masjid tempat aku dan Ibu menginap dulu" gumam Ara dalam hati. Tak terasa air matanya menetes mengenang malam yang dingin saat ia menginap di masjid tersebut.
Tanpa tikar, tanpa selimut, Ara meringkuk dalam pangkuan ibunya. Memejamkan matapun bagi Ara sangatlah susah saat itu. Ara kecil terus mengingat perlakuan pamannya, namun akhirnya ia tertidur lelap dengan sendirinya karena sentuhan lembut tangan sang Ibu di kepalanya.
Segera Ara menyeka air matanya, dan kembali meneruskan niatnya untuk berwudhu.
Beberapa saat kemudian, Ara sudah selesai dengan wudhunya, ia memasuki masjid dan mengikuti sholat berjamaah yang sudah akan di mulai.
Tidak terlalu banyak pria dan wanita yang berjamaah di masjid yang juga tidak terlalu besar itu.Namun kebersamaan dalam melakukan ibadah sangatlah membuat setiap orang merasa tenang hatinya. Setidaknya masih banyak orang yang masih mengikuti perintah agama di jaman saat ini.
Sekitar lima belas menit, Ara selesai dengan sholat berjamaahnya, kini ia bersiap untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju ke rumah pamannya.
Ara duduk di tangga masjid dan mengenakan kaus kakinya.Ara tidak sendiri, terlihat pemuda yang seumuran dengan Ara juga mengenakan kaus kaki yang duduk tidak jauh dari tempat Ara saat ini. Sekilas ia menatap Ara, lalu kembali melanjutkan aktifitasnya memakai sepatu.
Ara yang sudah selesai, kini melanjutkan jalan kakinya menuju ke rumah pamannya yang belum ia ketahui. Ia lupa walaupun sudah pernah berjalan di jalanan itu bersama ibunya lima belas tahun yang lalu.
Melihat Ara yang sedang berjalan kaki di tengah teriknya matahari siang itu, membuat pemuda yang tadi duduk tidak jauh dari Ara menaruh simpati kepada gadis yang tidak ia kenal itu. Dengan pelan, pemuda itu mengendarai motornya mendekati Ara dan berhenti.
"Assalamu'alaikum Mbak"
"Waalaikumsalam Mas, ada apa ya?"
Ara yang merasa berada di tempat asing, menjadi takut saat pemuda itu berhenti di dekatnya.
"Mbak mau kemana? bisa saya bantu?" ucap pemuda itu dengan sopan.
Tidak ada yang mencurigakan, batin Ara.
"Saya mau ke rumah pak Ahmad, sepertinya sudah tidak jauh dari sini."
Pemuda itu menyipitkan ke dua matanya.
"Pak Ahmad siapa kalau boleh tahu? saya kenal dengan yang namanya pak Ahmad, siapa tahu itu pak Ahmad yang Mbak cari."
Ara memberikan kertas berisi alamat itu. Walau ada rasa takut dalam hatinya, namun Ara berusaha tetap berpikir positif tentang pemuda itu.
Pemuda itu membaca alamat yang berada di kertas lusuh itu dan terkejut. Ia memandang Ara.
"Kalau boleh tahu Mbak siapa? dan ada urusan apa Mbak dengan bapak saya?"
Ara terkejut mendengar perkataan pemuda itu.
"Dani? apa kau Dani?"
Pemuda itu terkejut, namun ia segera mengangguk karena itu memang namanya.
"Subhanallah Dani, aku Arafa,"
"Arafa anak Fatmawati" imbuh Ara dengan begitu girang karena bertemu sepupunya.
Pemuda itu tersenyum girang juga.
"Ya Allah Ara, kau..." Dani seperti tidak bisa berkata-kata lagi karena senangnya.
"Aku senang bertemu denganmu Dani " kata Ara, air matanya sudah mulai membanjiri wajah mulusnya. Rasa senang yang tak bisa terbendung, kini dilampiaskan dengan air mata kebahagiaan. Alirannya begitu deras sampai Ara harus menyekanya berkali-kali.
"Ayo naik, kita akan pulang ke rumahku, kau jelaskan nanti di rumah!"
"Tunggu Dani, bagaimana dengan Paman?" tanya Ara sedikit ragu.
Dani menatap Ara ragu, karena ia juga tidak tahu bagaiamana reaksi bapaknya nanti kalau sampai bertemu Ara.
"Kita pikirkan nanti, sekarang naiklah, kita akan pulang, aku akan selalu bersamamu!"
Ara mengangguk dan perlahan melangkah dan naik diatas motor Dani.
Mereka melakukan perjalanan menuju ke rumah Ahmad. Dalam perjalanan, Ara tak henti berdoa dan memohon kelancaran saat bertemu pamannya nanti. Tak bisa di pungkiri kalau jantungnya berdegup kencang, perasaan rindu, takut, gelisah, semua bercampur menjadi satu dalam hatinya.
Saat perjalanan, Ara memandangi suasana kampung yang pernah ia tinggali lima belas tahun lalu. Sudah banyak yg berubah. Dahulu kampung itu masih sepi dan penerangan juga masih kurang, namun sekarang, tiang lampu sudah berdiri tinggi di pinggir jalan, berjajar dengan rapi. Mungkin kalau malam, akan sangat terang, tidak seperti dahulu, batin Ara.
Suasana familiar kini berada di depan mata Ara.
"Rumah Paman sudah hampir dekat" batin Ara.
Ara menatap satu persatu rumah yang dulu pernah menjadi tetangganya.
"Tidak banyak yg berubah sejak kau pergi dari sini Ara.Hanya bertambah beberapa rumah saja di sini, namun rumah orang tua di kampung ini masih sama." Seru Dani seperti mengetahui apa yang di pikirkan Ara.
"Iya Dani, aku masih mengingatnya" kata Ara.
Dani membelokkan motornya, memasuki halaman yang cukup luas dengan rumah yang begitu indah di jamannya. Iya, itu rumah orang tua ayahnya Ara, orang tua pamannya juga yang saat ini dihuni dan di rawat Ahmad, paman Ara.
Dani menghentikan motornya. Ara turun tanpa melepaskan pandangannya ke arah rumah tersebut. Berbagai kenangan kini berlarian di kepala Ara.
"Ayah " gumam Ara dalam hati.
TERJEBAK PERNIKAHAN SMA
makasih 🙏🙏
keren namanya
kenapa klo bahas afka selalu sedih😭
Lanjut Thor...
NEXT ... ❤️❤️
lanjut baca part selanjutnya 👍🏻👍🏻❤️❤️
jadi ingat Almarhumah Ibu ...😭😭😭
Alfatihah yg Insya Allah tak pernah putus untukmu , Ibuku 🙏🏻🙏🏻😭😭
sungguh... tanpa terasa menetes saat baca flashback 😭😭
NEXT...
ceritanya menyayat hti 😭
NEXT ...
jd penasaran...
nyicil dulu ini thor..
ijin promo thor 🙏
jgn lupa baca novelku dg judul "AMBIVALENSI LOVE" 🍭🍭🍭
kisah cinta beda agama,
jgn lupa tinggalkan jejak dg like and comment ya 🙏😁
*SENYUM ANYA
*MAHABBAH RINDU
nama yang bagus
Salam mengundang like ke karya aku
I Love You Mr Mafia
Sky Blue Love