NovelToon NovelToon
Sang Koki Sihir

Sang Koki Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Wanita / Mengubah Takdir
Popularitas:226.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xeiralana

Brisella merupakan seorang koki dengan karir cemerlang. Namun, segalanya hancur ketika ia dikhianati rekan kerjanya dan diselingkuhi sang suami. Hidupnya berakhir hingga dia terlempar ke dunia lain.

Jiwa Brisella berpindah ke tubuh seorang Tuan Putri dari kerajaan miskin yang terjerat banyak utang. Dia bernama Brisella Sizilien. Setelah mengetahui kondisi kerajaan yang amat memprihatinkan, Brisella diharuskan berpikir dan bertindak membangun kerajaan ini kembali.

Sanggupkah nanti Brisella memanfaatkan kemampuan memasaknya untuk melunasi utang-utang kerajaan serta memakmurkan kerajaan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xeiralana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Seorang Pemuda Tak Dikenal

Beberapa saat sebelum insiden menghilangnya Brisella menerpa, sejak berada di pasar, ada dua orang yang memperhatikan Brisella dari kejauhan. Tepat ketika Cassis sedang pergi membelikan minum untuk Brisella, sedangkan sang gadis ditinggal duduk di sebuah bangku bersama dua orang pengawal. Kedua orang itu secara perlahan mendekat ke arah Brisella.

Kenapa perasaanku jadi tidak enak?

Brisella berulang kali mengedarkan pandangan memperhatikan orang-orang sekitar demi memastikan apakah ada orang yang mencurigakan atau tidak. Hanya saja Brisella tidak melihat kedua orang yang mencurigakan tersebut.

“Yang Mulia, apa ada yang salah?” Salah satu kesatria bertanya sesaat menyadari Brisella terlihat gelisah.

“Tidak, aku hanya merasa sedikit lelah,” jawab Brisella berdalih.

Sejenak Brisella mencoba mengalihkan pikirannya agar dapat menyingkirkan firasat buruk tersebut. Sampailah saat di mana ada aksesoris yang menarik perhatiannya. Tanpa berpikir panjang, Brisella langsung menghampiri penjual aksesoris itu.

“Anda mau ke mana, Yang Mulia?” Kedua kesatria pun lekas mengikuti pergerakan Brisella.

“Aku mau membeli aksesoris.”

Setiba di tempat penjual aksesoris, Brisella memilih tiga buah bros dengan warna berbeda. Dia bermaksud membeli bros itu untuk ayah dan kedua kakaknya sebagai hadiah.

Seraya Brisella berbelanja, para kesatria tidak melepas pandangan mereka dari Brisella. Namun, karena orang terlalu ramai, jadi mereka tidak bisa berdekatan dengan Brisella. Ada jarak antara mereka mengawasi sang tuan putri.

Tibalah kerumunan orang yang berdesakan. Bersamaan kerumunan tersebut Brisella mendadak menghilang dalam sekejap mata dari indra penglihatan mereka. Para kesatria panik bukan main.

“Di mana tuan putri?”

“Yang Mulia, Anda ada di mana?”

Mereka bergegas bergerak mencari keberadaan Brisella sambil memanggil-manggilnya. Akan tetapi, percuma saja, mereka tetap tidak menemukan titik keberadaan Brisella.

Sementara itu, seorang pria tengah menyeret Brisella ke sebuah gang. Brisella meronta berupaya meloloskan diri dari cengkraman dua pria yang mencoba menculiknya. Namun, di tengah-tengah rontaannya, Brisella pingsan akibat obat bius.

“Sial! Sulit sekali menculik gadis ini.”

“Ayo cepat masukkan dia ke dalam gerbong kereta sebelum ketahuan oleh orang lain. Kita harus menjualnya malam ini. Aku yakin kita dapat untung besar bila menjual gadis ini di pelelangan.”

Mereka menaruh tubuh Brisella di kurungan besi di dalam gerbong kereta kuda. Mereka lekas membawa kereta tersebut menjauh dari kerumunan pasar.

Sekitar sepuluh menit, Brisella akhirnya membuka mata. Tersadar kala itu dia tengah diculik dan dibawa entah ke mana.

“Ke mana mereka akan membawaku?” Brisella sebisa mungkin agar tidak panik.

Kemudian Brisella meraba-raba lehernya. Ada kalung besi terlilit di leher gadis itu. Kedua kakinya juga terpasang rantai besi.

“Bukankah ini yang dipakai para budak? Mereka mencoba menjualku sebagai budak?! Dasar bajingn kurang ajar!” gerutu Brisella.

Brisella menghela napas pelan. Dia tidak boleh panik, kini dia harus tenang sambil mengajak otaknya untuk berpikir.

“Mari berpikir! Apa yang bisa aku lakukan supaya bebas dari sini? Aku yakin ayah dan kakak dapat menemukanku nanti, tetapi butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan keberadaanku.”

Brisella sibuk dengan pikirannya sendiri sampai dia tidak sadar bahwa ada seseorang selain dirinya di dalam kurungan besi. Brisella terperanjat kaget mendapati sesosok remaja laki-laki terbaring pingsan.

“Astaga, siapa dia? Apa dia juga diculik sepertiku?”

Brisella mendekati pemuda itu seraya mengguncang badannya untuk membangunkannya.

“Hei, sadarlah! Hei!” Brisella membalikkan tubuh pemuda tersebut. Ternyata rupa pria itu sungguh tampan.

Meskipun penampilannya lusuh, tetapi tidak membuat ketampanannya memudar. Tak lama akhirnya pemuda itu sadar. Dia tersentak dan langsung melompat menjauh dari Brisella. Sorot matanya memasang kecurigaan sekaligus kewaspadaan.

“Siapa kau?!” Pria itu mirip seperti harimau yang hendak menerkam Brisella.

“Aku Brisella. Aku baru saja diculik oleh orang-orang itu. Apa kau juga diculik sepertiku?” Brisella berusaha bersikap ramah.

Lelaki muda itu memperhatikan Brisella dari kepala hingga bawah. Ekspresinya tidak ramah sama sekali. Jika orang lain melihatnya maka mungkin saja dia membuat mereka ketakutan.

“Berisik! Jangan berbicara padaku.”

Brisella tersenyum sambil menahan kegeraman. Pemuda itu sungguh tidak ramah. Mau seberapa sempurna pun Brisella membuat kesan baik, percuma saja. Dia seolah-olah telah kehilangan kepercayaan terhadap manusia.

Sabar … aku harus sabar … jangan sampai amarahku terpancing.

Brisella memilih diam. Pria itu juga diam di pojok seraya memeluk kedua lutut. Sesekali Brisella melirik ke arah pemuda tersebut. Pandangannya kosong, tubuhnya bak cangkang tak berjiwa. Seakan-akan jiwanya telah lama meninggalkan badannya.

Rambut hitam, kedua kornea mata sewarna rambut, dan kulit putih pucat. Setelah dilihat-lihat, dia lebih mirip dengan vampir.

Begitulah penilaian Brisella. Kini terpaksa ia berpikir sendirian mengenai bagaimana cara supaya lolos dari perbudakan ini. Terlebih lagi, kereta yang membawanya tidak tahu pergi ke daerah mana.

“Kalung besi ini menggangguku,” ucap Brisella sembari menarik-narik kalungnya.

“Jangan kau mainkan kalungmu itu! Aku tidak mau mati bersamamu!” Pemuda itu tiba-tiba meneriaki Brisella.

Brisella terperangah kala dibentak pria tak dikenal.

“Kenapa memangnya?” tanya Brisella.

“Kalung itu sudah dipasang mantra peledak. Apabila kalungmu longgar atau kau coba kabur dari sini, maka kalung itu akan meledak dalam jarak satu meter,” jelas si pemuda.

“Meledak?”

Seketika Brisella kehilangan harapan melarikan diri. Bila ia salah langkah, nyawa menjadi taruhannya. Dia akhirnya menemukan jalan buntu seusai mendapat penjelasan tersebut.

“Jika kau berniat untuk kabur, lupakan saja! Sia-sia kau melakukan perlawanan. Terima nasibmu menjadi seorang budak,” kata pria itu lagi.

“Aku tidak mau menjadi budak!” Brisella menggebu-gebu marah. “Aku rasa kau seorang pengecut yang tidak punya kemauan melarikan diri dari perbudakan ini. Kalau kau mau jadi budak, jadi budak saja sendiri. Aku takkan pernah menerima nasibku sebagai seorang budak!”

Pemuda itu tercengang. Baru saja Brisella memarahi dan menghinanya sebagai pengecut. Akan tetapi, dia tidak bisa memarahi balik gadis tersebut. Apa yang diucapkan Brisella tidak sepenuhnya salah.

“Kalau begitu, bagaimana caranya kau kabur dari tempat ini? Baik kalung maupun rantai yang membelenggu kedua kakimu sudah dipasang mantra peledak serta sihir pelacak. Sejauh apa pun kau mencoba kabur, mereka tetap bisa menemukan keberadaanmu.”

Brisella menyeringai. Siapa sangka ternyata remaja laki-laki yang bersikap ketus terhadapnya berbicara panjang lebar.

“Aku tidak tahu. Yang jelas aku mau melepaskan kalung dan rantai ini terlebih dahulu.”

“Hei, jangan melakukan hal gil—”

Krek!

Alangkah mengagetkan. Tatkala Brisella menyentuh kalungnya, tiba-tiba kalung tersebut lepas dan hancur lebur menjadi debu.

“Apa yang baru saja kau lakukan?!”

Brisella menganga tak percaya. Tanpa diketahui penyebabnya, dia bisa menghancurkan kalung itu.

“Haha, aku tidak tahu yang terjadi. Mungkin saja aku punya kemampuan untuk mematahkan mantra peledak dan sihir pelacaknya. Sekarang aku mau mencoba lepaskan rantai yang mengikat kakiku untuk memastikan sendiri, apa benar aku memiliki bakat tersembunyi atau tidak.”

1
Andi Irawan
👍👍👍👍👍
Ainnur Najiah
lanjut up
AL- FAQIH
bagus banget ceritanya,kak kpn updatenya jgn lama-lama please
Andi Ilma Apriani
semoga masakan brisella yang buat putra mahkota sembuh bukan krn jantungx
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Ita Xiaomi
Aku berkhayal masakkan Brisella bs menyembuhkan penyakit Ernest.
Akasia Rembulan
akhirnya muncul lagi.. semangat thor
Yoni Hartati
lanjut semangat
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Yunita Sri wahyuni
Q suka dengan cerita nya... walau pun cerita ttg sihir tapi jelas beda dgn sihir yg ada di Harry Potter..good jobs author 😘💪🏻💪🏻
Yunita Sri wahyuni
ya iya la dunia baru ... dunia baru setelah kematian...itu benar adanya... lanjut 💪🏻
Shinta Andriyani
Bagus dan menarik
Akasia Rembulan
ayo Brisela jangan biarkan orang2 menjatuhkan mu
Zg Silva Soares
Bugus
Susilawati
di tunggu kelanjutannya Thor
Susilawati
mantapp brisela 👍👍👍
jgn biarkan permaisuri jahat menang, kalo dia licik maka lawan dgn cara lebih cerdik lagi
Wiji Lestari
up up up/Angry/
Wiji Lestari
lanjoot
Ita Xiaomi
Wah seru dan menegangkan.
Andi Ilma Apriani
makasih thoorr sudah up...semangaattt yach 😘😘
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!