JUARA 1 Event Sweet Marriage
Rania, gadis tomboi yang memiliki saudari kembar terpaksa menikahi kakak iparnya sendiri karena wasiat terakhir dari kakak kembarnya sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Evan Anthony. Kakak ipar super jutek dan menyebalkan adalah pria yang akan menjadi suami Rania. Lantas, mampukah Rania bertahan dalam kehidupan rumah tangga bersama pria yang tidak dicintainya?
"Aku menikahimu hanya karena wasiat istriku, tidak lebih! Jadi, jangan berharap aku akan menyentuhmu dan menganggapmu sebagai seorang istri!" (Evan Anthony)
"Aku tidak pernah bermimpi untuk disentuh oleh pria sepertimu. Jadi, tidak perlu khawatir! Aku tidak akan mengganggumu!" (Rania Tyas Permata)
Lantas, bagaimana kisah mereka selanjutnya? Apa jadinya jika tumbuh benih-benih cinta di antara keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LichaLika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Step kedua
Evan berhenti dan menatap wajah istrinya yang terlihat malu-malu.
"Kenapa? Bukankan sekarang semua ini sudah menjadi milikku?" seru pria itu saat tangan kreatifnya hampir saja menurunkan pakaian dalam sang istri.
"Aku malu!" jawab Rania sambil menutup kakinya rapat-rapat. Apalagi saat itu ia sedang mengenakan rok yang mudah sekali Evan buka.
"Malu? Dengan suamimu sendiri? Ayolah, Sayang. Sudah cukup lama loh aku nungguin kamu. Kamu nggak kasihan sama aku? Sudah ada satu tahun lebih aku berpuasa sejak almarhum Rina sakit. Sampai detik ini aku belum pernah lagi merasakan belaian tangan seorang wanita. Sekarang kamu sudah menjadi milikku. Tidak ada lagi halangan kita untuk bersama. Ayo kita buatkan dede untuk Junior! Bukankan kamu sudah berjanji kepadanya?" ucap Evan sambil melepaskan gulungan sarung yang melilit pada pinggangnya.
Rania melihat sang suami yang sedang melonggarkan sarung semakin gugup karena ia belum pernah merasakan hal seperti ini.
"Tapi aku masih malu, aku sangat takut!" jawab Rania sambil memeluk kedua lututnya yang ditekuk.
Evan mendekati sang istri sembari mengusap rambutnya dengan mesra. "Apa yang kamu takutkan? Aku bukan hantu, kenapa musti takut!" ucap Evan sembari melepaskan tangan sang istri yang saat itu sedang memeluk kedua lututnya.
"Entahlah, aku gugup sekali. Aku belum bisa dengan gerakannya," jawab Rania yang seketika membuat Evan tertawa. Istrinya benar-benar sangat polos. Rania mengerucutkan bibirnya ketika Evan menertawakan dirinya.
"Kok kamu malah ketawa. Aku ini beneran. Aku tuh nggak tau caranya bikin anak!" lagi-lagi jawaban Rania semakin membuat Evan gemas.
"Itu gampang, nanti aku ajarin!" sahut Evan.
"Caranya jelasin dong?" desak Rania.
"Pokoknya nggak bisa dijelasin dengan kata-kata. Karena rasanya terlalu enak. Entar kamu juga tahu sendiri. Sekarang buka kakimu!" titah Evan sambil membuka kedua kaki sang istri.
"Ehhh untuk apa?" seru Rania sambil menahan tangan sang suami.
"Katanya kamu mau bikinin adek untuk Junior? Ya kamu harus buka kakimu dulu biar gampang masuknya!" ucap Evan.
"Harus ya! Entar kamu bisa lihat dong kalau aku buka kaki, ogah ah malu!" seru Rania dengan wajahnya yang sangat gugup.
"Ya kalau nggak dilihat gimana aku bisa tahu udah masuk atau belum. Aku lepas ya!" Evan pun bersiap untuk melepaskan pakaian dalam Rania.
"Hmmm tapi kamu janji!"
"Apa?"
"Setelah kamu melihatnya. Janji kamu tidak akan mengejeknya!" Kamu kan suka gitu, suka ejekin aku!" seru Rania dengan serius.
"Iya aku janji. Lagipula mana mungkin aku mengejek istriku sendiri. Baik buruknya istriku aku akan menerimanya dengan iklhas. Buka ya, aku sudah sangat penasaran ingin sekali melihatnya," desak Evan sambil menurunkan benda itu perlahan.
Rania hanya bisa pasrah. Ia benar-benar gugup dan takut jika Evan tidak tertarik pada bentuk tubuhnya. Karena Rania sadar jika ia tidak pernah menunjukkan sisi kewanitaannya kepada sang suami.
Ia memilih merebahkan tubuhnya sambil memejamkan matanya erat-erat saat Evan sudah berhasil melepaskan benda segitiga itu.
"Subhanallah, amazing!" pekik Evan saat pertama kali dirinya melihat penampakan bagian paling sensitif dari sang istri. Rania mendengar reaksi sang suami yang baru pertama kali melihat area pribadinya.
"Ada apa? Pasti jelek ya! Aku tahu kamu pasti mengejeknya!" sahut Rania yang masih memejamkan matanya karena ia malu menatap wajah sang suami.
Di saat Rania memejamkan matanya. Evan cepat-cepat melepaskan sarung dan bajunya. Setelah itu ia bersiap untuk berlayar menikmati indahnya samudra percintaan dirinya setelah dua bulan resmi menjadi suami istri.
"Siapa bilang jelek? Aku tidak berkata seperti itu! Aku melihatnya sangat cantik, putih, gemoy dan berisi. Rasanya aku ingin menikmatinya sekarang!" Evan membisikkan kata-kata itu di telinga sang istri. Bisa dibayangkan bagaimana posisi keduanya dengan Evan yang lebih mendominasi.
"Jangan langsung masuk! Aku masih takut!" sahut Rania yang saat itu sudah berada di bawah kungkungan sang suami.
"Sudah tenang saja! Rileks kan dirimu dan jangan tegang. Ini tidak akan sesakit yang kamu pikirkan!" bisik Evan sembari mulai melakukan sesuatu yang lebih dalam lagi. Kedua tangannya menjaga berat tubuhnya sedangkan kepalanya mulai menjelajah kedua pegunungan Himalaya itu.
Suatu rasa yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Rania yang merasa gugup dan takut. Perlahan ia mulai rileks apalagi sentuhan lembut sang suami sangat membuat dirinya nyaman.
Entah sejak kapan, kain-kain yang menutupi tubuh keduanya sudah terlepas begitu saja. Mereka sudah berada di bawah selimut yang tebal lantaran udara dingin yang mendukung suasana romantis di kamar itu.
Gairah jiwa yang sama-sama tinggi. Membuat sebuah ikatan semakin erat. Udara dingin semakin membuat Rania tak mau melepaskan pelukan sang suami. Sedangkan sesuatu yang ada di sana sudah bersiap-siap untuk melakukan tugasnya.
Setelah dirasa sang istri sudah siap. Evan pun ancang-ancang untuk bersiap berlayar ke lautan surga dunia.
Keduanya saling menatap. Sorot mata yang sama-sama saling mendamba. Semakin membuat Evan maju dan akhirnya ia mulai menyentuh lembah yang belum terjamah oleh siapapun itu.
"Bolehkah aku melakukannya sekarang?" pinta Evan dengan suara berbisik. Rania yang sudah pasrah. Ia pun hanya menganggukkan kepalanya dan bersiap untuk menerima suaminya.
Evan tersenyum dan ia pun melanjutkannya dengan berdoa sebelum ia benar-benar melakukannya.
"Bismillahi Allahhumma jannibnas syaithona wa jannibis syaitona maa rozaqtana,"
Setelah itu Evan memulainya dengan sedikit mendorong tubuhnya dengan lembut agar Rania tidak terlalu kaget. Karena ini adalah hal pertama bagi sang istri.
Sesaat Rania meringis kesakitan dan itu membuat Evan berhenti sejenak.
"Aduhhh sakit!" rintih Rania.
"Tahan, Sayang! Cuma sebentar kok. Nanggung baru sedikit yang masuk." ucap Evan yang berusaha untuk membuat sang istri tenang.
"Bisa nggak sih kamu pelan-pelan, Evan! Sebenarnya apa sih yang kamu masukkan kok kerasa besar banget!" jawab Rania dengan suaranya yang tertahan.
"Ini sudah pelan, Sayang! Sebentar lagi kamu akan tahu bagaimana rasanya. Aku jamin kamu pasti suka!" seru Evan yang kembali melakukan step kedua pembobolan gawang sang istri.
"Suka! Itu nggak mungkin, sakit gini kok suka. Enggak! Aku nggak mau lagi, pokoknya nggak mau ... aaaaaaaa tidaaakkk!" Kedua tangan Rania mencengkram erat punggung sang suami.
Rania tiba-tiba berteriak ketika ia merasakan sesuatu yang benar-benar masuk ke dalam sana dan rasa nyeri itu benar-benar membuatnya gemetaran.
Evan tersenyum sumringah lantaran akhirnya di step kedua ia berhasil membuat status Rania berubah dari gadis perawan menjadi seorang wanita sempurna.
Sejenak, Evan terdiam dan menatap wajah istrinya yang tampak panik.
"Bagaimana rasanya? Masih sakit? Jika iya, aku tidak akan bergerak dulu!" ucapan dengan mesra.
"Udah masuk ya! Kok gini sih rasanya!" sahut Rania sambil merasakan sesuatu yang penuh di bawah sana.
"Memangnya bagaimana rasanya?" tanya Evan penasaran sembari menggerakkan tubuhnya secara perlahan. Seketika Rania menggigit bibir bawahnya saat ada sebuah sensasi yang belum pernah ia rasakan ketika Evan bergerak.
"Rasanya ... rasanya ... rasanya enak!" jawab Rania dengan malu-malu.
Evan tersenyum sumringah dan ia pun langsung tancap gas melanjutkan perjalanannya ke samudera percintaannya bersama istri.
BERSAMBUNG