NovelToon NovelToon
Merebut Hatimu Kembali

Merebut Hatimu Kembali

Status: tamat
Genre:Pihak Ketiga / Romansa / Cinta Murni / Lari Saat Hamil / Selingkuh / Cinta Terlarang / Tamat
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: AnnaYoung

Setelah menerima penolakan Shena yang memilih untuk hidup bersama pria lain, dunia Joe Mafarulls tentu runtuh hingga hancur lebih dari apa yang dirasakannya ketika dulu gadis itu pergi jauh akibat terlalu sering ia lukai hatinya. Joe berubah menjadi pria kaku nan dingin.

Kehancuran yang dirasakan Joe nyatanya tidak berhenti sampai di situ saja. Saat gadis yang dicintainya itu dalam perjalanan menuju bandara, ia terlibat dalam kecelakaan hebat dan nahasnya menewaskan semua orang. Kecuali Shena. Gadis itu mengalami luka yang cukup serius dan berujung koma.

"Aku bisa saja merebutmu dengan paksa dari laki-laki mana pun! Tapi jika Pemilik Kehidupan yang mengambilmu, aku bisa apa?" Adakah seseorang yang bersedia merangkul pemilik segenap luka yang melumuri jiwa hampa seperti Joe? Jikapun ada, apakah Joe akan menerimanya dan berpaling dari Shena?

Kisah ini merupakan sequel kedua dari "JARAK ANTARA DUA HATI"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 - Dendam Erlita

"Segini cukup, Sayang?" Zoe bertanya dengan intonasi selembut mungkin pada sang istri, memastikan wanitanya tetap merasa nyaman di atas tempat tidur yang ia atur supaya di posisi yang pas. Terlalu lama terlentang pastinya membuat Shena teramat pegal hingga tengkuknya terasa sedikit panas.

Itu hanya prediksi Zoe saja, sebab Shena tidak mengatakan apa-apa, bahkan setelah kini 2 minggu lamanya wanita berwajah pucat itu tersadar dari tidur panjangnya. Shena tetap tidak mau bicara.

Inilah penyebab emosi Davina mencuat, ia sempat meminta penjelasan dan juga pertanggungjawaban dari Dokter Andrew alasan di balik diamnya sang adik hingga menciptakan kecemasan baru menyelimuti semua orang, terutama Zoe Mafarulls.

"Istrimu masih belum mau bicara, Zoe?" tanya Mama Amelia, "jangan-jangan ... dia bisu." Perkataan wanita setengah baya itu tentu mengejutkan sang putra. Kepala Zoe bahkan sontak menoleh cepat dan menatap sang ibu dengan tatapan tak percaya. Terlebih, kalimat tak enak didengar itu dilontarkan di hadapan Shena sendiri.

"Mama apa-apaan, sih?" kata Zoe seraya merapatkan gigi-giginya. "Berhenti bicara yang akan menyakiti hati istriku! Dokter bilang kondisi ini hanya sementara, dan kita sebagai orang terdekat harus terus support supaya Shena mau bicara lagi. Bukan malah bikin dia down!"

"Menyakiti apanya, Zoe? Apanya yang down? Mama aja ragu dia bisa dengar apa yang ...."

"Ma ...." Zoe memasang ekspresi memohon agar sang ibu mau berhenti. Dengan kesal Mama Amelia pergi dari kamar disertai langkah lebar.

"Ayo, lebih baik kita keluar jalan-jalan!" ajak Mama Amelia pada Erlita yang sejak tadi berdiri di dekat pintu. "Lama-lama aku bisa gila ngadepin anakku sendiri."

Erlita mengangguk, mengikuti langkah kaki Mama Amelia dengan senyum kecil yang terukir di bibirnya.

"Kamu tunggu Tante di luar, ya! Tante mau nemuin papanya Zoe dulu," perintah Mama Amelia sedikit terburu-buru.

"Baik, Tante!"

Zoe menarik napas, kemudian membuangnya perlahan. Ia mendudukkan dirinya di samping Shena, menatap wajah sang istri yang sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah berlawanan. Meski situasi ini seakan menguji kesabaran Zoe untuk ke sekian kalinya, tetapi setidaknya ia sudah lebih lega karena Shena-nya telah kembali.

"Aku suapin, ya, Sayang. Buburnya udah mulai dingin. Setelah ini kita mandi, biar lebih segar. Mau, kan?" kata Zoe menjelaskan kegiatan mereka.

Hening, Shena tetap setia dalam diamnya. Ia bahkan tidak menggerakkan kepalanya barang sedikit pun. Mulanya, Zoe sendiri sempat terkejut dan panik saat dia mengetahui kondisi sang istri, semua orang secara bergantian mengajak Shena berbicara, tak terkecuali Natteo dan juga Davina yang sedari awal menyadarinya lebih dulu.

Tatapan mata Shena terbilang kosong, tak mau merespons siapa pun yang coba memancingnya mengobrol. Khawatir tentu kian mendera semua orang, wanita itu bak mayat hidup yang tak memiliki hasrat untuk menjalani kehidupan. Namun begitu, sebagai seorang suami dan orang yang begitu mencintai istrinya, Zoe selalu setia dan sabar menanti Shena kembali normal seperti dahulu.

"Yuk, Sayang, dimakan dulu!" Satu tangan Zoe dengan hati-hati memperbaiki letak kepala Shena agar mempermudahnya untuk disuapi. Wanita itu menurut dalam diamnya. Begini saja Zoe sudah sangat senang. Dengan senyum yang mengembang, ia raih ikat rambut beludru berwarna coklat milik sang istri di atas nakas, kemudian ia lingkarkan di pergelangan tangannya.

"Maaf, ya, Sayang," ucap Zoe meminta izin. Dengan segala kelembutan yang dimilikinya, Zoe berusaha mengumpulkan rambut penjang sang istri, kemudian diikatnya dengan penuh ketelatenan.

Meski hasilnya terlihat asal-asalan, namun percayalah ... Zoe sudah melakukan yang terbaik sebisanya, dan itu cukup membantu memudahkan Shena menerima suapan demi suapan bubur dari tangan sang suami.

"Habisin, ya, buburnya!" pinta Zoe sembari menyodorkan suapan kelima. Akan tetapi, mulut Shena berhenti merespons, ia tak lagi membukanya dan Zoe artikan bahwa sang istri sedang menolak.

Lagi-lagi Zoe merasa senang, sebab penolakan juga termasuk suatu responsif dari seseorang. Mangkuk bubur itu ia simpan, diganti dengan air minum yang sudah dilengkapi dengan sedotan.

Selesai dengan itu semua, seperti yang sudah Zoe katakan sebelumnya, setelah sarapan mereka akan mandi. Lebih tepatnya, Zoe membantu Shena mandi.

Di luar, Erlita tak henti-hentinya mengukir senyum. Meski sampai detik ini ia belum berhasil mengambil hati sang ahli waris satu-satunya dari keluarga Mafarulls tersebut, namun ia cukup puas akan perubahan sikap Mama Amelia terhadap wanita tak berguna itu.

Memang itu yang Erlita inginkan, menciptakan polemik di antara mertua dan menantu. Bila perlu, sampai tak berujung.

Wanita dengan setelan baju santai itu bersiul ringan, memainkan ujung rambutnya sambil berjalan pelan menikmati udara di pinggir kolam rumah Zoe. Terlalu lama menunggu, membuatnya bosan dan berakhir di sini.

Sedang asyik bersenandung, tiba-tiba sepasang tangan menariknya ke balik pilar sana dengan cukup keras hingga ia memekik karena terkejut.

"Aaakk! Lepas!" Erlita sedikit merintih, sebab lengannya dicengkram cukup kencang, kemudian tubuhnya dilempar hingga punggungnya membentur tembok.

"Apa, sih?" sewot Erlita pada orang yang telah berani berbuat demikian padanya. Dia adalah Dokter Andrew, laki-laki yang masih mengenakan snelli dengan kacamata yang selalu setia bertengger itu menatap jengah pada gadis di hadapannya.

"Sampai kapan?" ucapnya, "sampai kapan kamu merecoki kehidupan Zoe dan istrinya, hem?

"Sudah kukatakan, jangan ikut campur! Ini urusanku!" ucap Erlita dengan mantap. Akan tetapi, Dokter Andrew tentu tidak berhenti begitu saja, ia sudah tahu kelicikan Erlita. Selama ini diam-diam ia mengawasi gerak-gerik gadis itu, dan ketika berhasil memergoki saat Erlita menukar obat untuk Shena ia pun mulai turun tangan dan berusaha mencegah keberhasilan dari kejahatan yang Erlita lakukan.

Erlita nyatanya tidak semudah itu ditundukkan, terlebih dengan perasaan asmara yang Dokter Andrew miliki untuk gadis itu, membuat laki-laki berusia 35 tahun ini menjadi serba salah dan berada di posisi yang sulit. Untungnya, sejauh ini ia masih sanggup menangani setiap sabotase yang Erlita jalankan. Hingga akhirnya Shena berhasil sadar dan melewati masa-masa kritisnya.

"Shena adalah pasienku, istri dari sahabatku. Jelas ini urusanku!"

Bibir Erlita mencebik, ia muak mendengar kalimat yang terus terulang dari mulut Dokter Andrew. Selalu itu yang dikatakannya setiap kali mereka bersitegang seperti ini.

"Dan sahabatmu itu adalah orang yang sudah menyakiti kakakku. Gara-gara dia hidupnya hancur dan sekarang berada di rumah sakit jiwa!" pekik Erlita mengeluarkan emosinya tanpa batas. Matanya membara, menguarkan aura permusuhan dan dendam yang begitu nyata.

Dokter Andrew pun diam dibuatnya, tetapi kembali menyakiti orang lain bukanlah sesuatu yang bisa dibenarkan. Apa pun alasannya.

"Dendam tidak akan membuatmu merasa puas, Erli. Sekalipun kamu berhasil menghancurkan hidup Zoe, itu hanya akan memperkeruh keadaan dan kamu akan menyesal di kemudian hari."

"Aku nggak peduli!"

Brak!

Erlita dan Dokter Andrew terperanjat, mereka terkejut bukan main. Suara vas bunga jatuh itu berasa dari balik pintu sana.

"Si-siapa?" gumam Erlita panik. Apakah di sini ada seseorang yang mendengar obrolan mereka? Kalau iya, itu artinya Erlita harus mencari tahu siapa yang sudah mencuri dengar. Bisa gawat kalau Zoe, atau Mama Amelia tahu kebusukannya.

1
Om Rudi
pertanda burung
Om Rudi
bau bau bajak laut namanya
Om Rudi
Vivian mah kucing, minta dielus
Om Rudi
Playboy Insyaf, hehehhehe
Om Rudi
semoga langgeng ceritanya
AnnaYoung: Pasti langgeng, Om, di NT. 😁
total 1 replies
Om Rudi
Joe kok jadi Zoe, Cantik? Bab 1 pakai Joe
AnnaYoung: Mulanya Zoe, aku mau ubah jadi Joe tapi malas kebanyakan. 😅
total 2 replies
Om Rudi
wadduh
Om Rudi
hahahaha banjir ini lho, khas nya Jakarta
Om Rudi
Om Rudi Hadir, Anna Cantik
AnnaYoung: Makasih, Om Rud. 🤩
total 1 replies
〈⎳🥑⃟HIATUS
Novel yang menarik ada manis-manisnya
Ada pedes-pedesnya
Ada pahit-pahitnya.
Nano-Nano memang.
Best-lah
〈⎳🥑⃟HIATUS
Untung menantu ibu baik. Coba kalau saya yang jadi Shena. Ibu udah saya buang ke kawah gunung.
〈⎳🥑⃟HIATUS
Istrinya Samuel 😂
Ya namanya bener sih
〈⎳🥑⃟HIATUS
Zoe anak pungut
〈⎳🥑⃟HIATUS
Heleh
〈⎳🥑⃟HIATUS
Nonton Exhuma
〈⎳🥑⃟HIATUS
Allahuakbar
〈⎳🥑⃟HIATUS
Kapan aku punya yang seperti itu? 😭
〈⎳🥑⃟HIATUS
Yeobo!
〈⎳🥑⃟HIATUS
Beliin aku juga Pak Zoe!!!!!
〈⎳🥑⃟HIATUS
Istrimu down Syndrome Pak makanya tantrum
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!