Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.
Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.
Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.
Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.
Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?
Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?
Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Jantungku berdegup kencang mendengarnya, hatiku tak ubahnya seperti di sayat belati yang cukup tajam.
Secara terang-terangan, pria ini mengakui kalau dirinya sudah menikah, tapi tidak mencintai istrinya.
Tega sekali kamu mas, dengan entengnya kamu mencabik-cabik perasaan Naina. Aku ini Naina, mas. Istrimu!
Hatiku menjerit, seolah tak terima dengan kejujuran mas Ryu yang mengatakan kalau dia sama sekali tidak mencintaiku.
"Jani, kamu nggak apa-apa?" Tanyanya membuatku tersentak.
Ku hela nafas panjang, lalu berucap.
"Jadi selama ini aku sudah menjadi selingkuhan mas?"
"Jangan ngomong gitu, aku benar-benar tidak mencintainya, bagiku ini pernikahan toxic. Dan asal kamu tahu" Katanya membuat ku memindai wajahnya. "Semenjak menikah, aku dan dia belum pernah sekalipun melakukan hubungan suami istri"
"Jangankan melakukan itu, memandangnya saja ku lakukan tak kurang dari lima detik" Tambahnya seperti sedang menghiburku, atau mungkin menenangkanku.
Memang benar, mas Ryu tak pernah menatapku ketika bicara. Dia selalu membuang muka jika berhadapan denganku. Aku sendiri hanya bisa menatapnya secara diam-diam.
"Lantas mau gimana dengan hubungan kita?" Tanyaku.
"Akan tetap seperti ini, dan aku pasti akan membereskan Naina"
"Gimana caranya?" Ku tatap lawan bicaraku dengan saksama.
"Aku akan buat dia bosan dan akhirnya menyerah lalu menceraikanku"
"Kenapa bukan mas yang menceraikannya?"
"Ada bunda yang harus ku jaga perasaanya"
"Sampai kapan?"
"Aku pastikan nggak akan lama"
Kamu salah, mas. Aku nggak akan pernah bosan, apalagi menyerah. Meski sikapmu begitu pada Naina, Naina akan membuat kamu merasa tidak enak padanya, dan pada akhirnya kamu nggak bisa berbuat apapun selain diam.
Pria itu kemudian bangkit, lalu menarik tanganku agar turut bangkit. Dia lantas duduk di tepi meja, menyamakan tinggi level mata kami.
Dengan berhadapan seperti ini, rasa gugupku tiba-tiba menyergap.
"Aku harap kamu bisa sedikit lebih sabar" Ucapnya sembari melingkarkan lenganku di pinggangnya. Tangan dia sendiri langsung melingkari pinggangku. "Aku janji nggak akan ninggalin kamu" Lanjutnya dengan fokus lekat menatapku.
"Kalau Naina nggak menyerah juga, apa yang akan mas lakukan?" Seruku sedikit ragu.
"Biarkan dia hidup dengan kesendiriannya, aku nggak peduli"
"Mas tega dengannya?"
"Ini bukan soal tega atau nggak tega, ini juga bukan salahku karena dia sendiri yang memilih jalan itu, aku bisa apa kalau dia memilih tersakiti, padahal jelas-jelas dengan sikapku ini menunjukan agar dia mundur?"
"Setidaknya mas ngomong ke bunda"
"Aku nggak bisa karena aku nggak mau menyakiti bunda"
"Lantas jika Naina yang menyerah, apa bundamu nggak tersakiti?"
"Setidaknya bukan putranya yang menyakitinya"
Hhhh licik sekali kamu, mas.
"Atau sambil menunggu waktunya, kita bisa menikah siri terlebih dahulu" Katanya yang membuatku tercengang.
"Menikah siri?" Ulangku.
"Hmm.. Supaya kita bisa lebih bebas melakukan apa saja. Dan kamu, aku bisa jamin kamu akan menjadi istri satu-satunya yang aku cintai"
"Mana bisa begitu?"
"Bisa, Jani"
"Tapi nggak se_"
Suaraku tiba-tiba menghilang seiring dengan bibir mas Ryu yang menempel di bibirku selama beberapa detik.
"Kalau terus saja protes" Ujar mas Ryu dengan jarak wajah kami yang hanya sejengkal. "Aku nggak sekedar nempelin bibir" Ancamnya, membuatku secara reflek memukul dadanya pelan. Bukannya mengadu kesakitan, pria dengan seribu pesona ini malah menangkap tanganku, lalu kembali menempelkan... Bukan bukan, dia menciumku.
Aku yang mencoba berontak, akhirnya malah merespon ciumannya setelah mas Ryu menggigit kecil bibirku supaya terbuka.
"Satu hal yang perlu kamu tahu" Pungkas mas Ryu usai melepas ciuman kami. "Aku nggak pernah main-main dengan kata-kataku"
Kening kami masih saling menempel, dia menatapku dengan nafas tak teratur. Satu tangan mas Ryu yang tadi memegang lenganku perlahan berpindah mengusap pipiku lembut. Seketika ku pejamkan mata merasakan belaian jari-jarinya sekaligus menempatkan diri sebagai Naina.
Sedetik kemudian mas Ryu kembali menciumku.
Ciuman yang ku rasakan kian intens, dengan kedua tanganku tahu-tahu sudah melingkari lehernya, sementara satu tangan mas Ryu menahan tubuhku agar merapat padanya.
Semakin dalam dan terasa panas, jantungku kian berdegup kencang, paru-paruku juga seperti akan meledak.
Aku bahkan kesulitan mengatur nafasku sendiri.
Sampai aku kehabisan nafas, aku mencoba melepaskan tautan bibir kami meski ku tahu mas Ryu masih ingin menjamah bibirku lebih dalam.
"Percaya padaku" Lirih mas Ryu nyaris tak ada suara.
Melihat sorot tajamnya, sepertinya mas Ryu memang tidak main-main dengan ucapannya.
Lalu apa yang harus ku lakukan jika dia terus memaksa buat menikah secara diam-diam?
"Jika harus, kita akan menikah siri, dan kamu harus mau. Itu sebagai pertanggung jawabanku sebagai lelaki atas semua yang aku janjikan padamu"
Aku diam, mencerna baik-baik ucapannya barusan.
Tak bisa mengiyakan, tapi juga tak mampu menolak.
Aku, Jani. Benar-benar telah hanyut dengan perlakuannya. Rasanya aku nggak ingin kembali sebagai Naina. Aku ingin tetap menjadi Jani, wanita yang mas Ryu cintai sepenuh hati.
Bersambung
Sebelumnya minta maaf ya.. Dari cerita ini mungkin sedikit aneh.
Sekedar mengingatkan kalau di bio, cerita ini bertemakan konflik etika. Jadi maaf sekali lagi kalau konfliknya menyimpang.
Tapi cerita ini tetap ku labeli adat ketimuran. 😀😀
Happy reading..
Regard
Ane
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi