•••
Sam tidak pernah jatuh cinta dengan wanita manapun.
Hatinya mati dan beku.
Prinsipnya terlalu kokoh.
Bentengnya terlalu tinggi.
Ternyata cintanya hanya tertuju pada sang keponakan.
Gadis cantik yang memikat hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puppy Bangtan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 21. Perintah!
Aluna duduk terdiam di kursi tunggu sembari bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Ada apa dengan mereka berdua? Apa mereka mungkin saling kenal?" gumamnya bertanya- tanya.
Bahkan ekspresi Sean langsung berubah saat bertemu dengan Sam tadi.
Aluna tidak pernah melihat wajah Sean semenakutkan itu.
Ceklek
Aluna menoleh kala pintu dibuka.
"Sudah selesai?" Sean mengangguk pelan.
"Nona sungguh tidak mau diperiksa lebih dulu?" tanyanya pada Aluna sekali lagi sebelum pulang.
Aluna bangkit dari duduknya, menggelengkan kepalanya pelan.
Tatapannya tertuju pada tengkuk Sean yang dibalut kain kasa.
"Apa itu parah?" Sean tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Maaf sudah merepotkan nona," katanya membuat Aluna menghembuskan napas lega.
Hingga tatapan Sean kembali tertuju pada pintu ruang rawat di mana Sam tadi keluar dari sana.
Aluna mengikuti tatapan Sean lalu memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa kamu mengenalnya?" tanya Aluna dengan hati- hati.
Sean menatap Aluna, bukannya menjawab ia malah melontarkan pertanyaan pada Aluna, "Apa dia Sam?"
Aluna mengangguk pelan.
"Sebaiknya nona batalkan saja pernikahannya, dia bukan orang yang baik," beritahunya pada Aluna.
Aluna memegang erat selempang tasnya.
"Dia sudah melamar wanita lain," kata Aluna dengan bibir yang bergetar memberitahu Sean.
Sean menatap Aluna dengan iba, lebih tepatnya bersyukur karena Aluna batal nikah dengan Sam.
Aluna menghirup panjang napasnya, tersenyum tipis dan menatap Sean.
"Ayo kita pulang sekarang," Sean hanya mengangguk.
Keduanya berjalan beriringan menyusuri lorong.
•••
Sedangkan Sam dan Hiro baru saja selesai makan malam.
Dan kini keduanya kembali ke rumah sakit.
"Kau ingat Sean?" tanya Sam tiba- tiba membuat Hiro mengerutkan keningnya.
"Ingat, kenapa?" tanyanya balik dengan penasaran sembari memarkirkan mobilnya.
"Aku bertemu dengannya tadi," beritahunya pada Hiro.
Hiro menoleh menatap Sam terkejut.
"Sungguh? Di mana?" Sam menatap Hiro yang tampak syok.
"Tadi datang bersama dengan Aluna, entah apa yang terjadi, mereka menemui dokter Frank," jelasnya pada Hiro.
Hiro menatap lurus ke depan, di mana bersamaan dengan itu ia melihat Sean dan Aluna berjalan beriringan menuju mobil.
"Bukankah itu mereka?" Sam menoleh, menyipitkan tatapannya.
Sam menatap lekat plat mobil yang mereka kendarai.
"Bagaimana bisa ia dengan Aluna? Apa yang sedang ia rencanakan?" gumam Hiro bertanya-tanya.
"Sepertinya ia menjadi pengawal Aluna," jawab Sam mengingat sikap Sean begitu patuh dengan Aluna tadi.
Hiro menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Apa yang sedang ia rencanakan? Bukankah ini seperti kebetulan? Ia menjadi pengawal dari mantan tunanganmu," ledek Hiro di akhir kalimatnya.
"Jangan sebut hal itu lagi ataupun di depan Shila, aku sungguh akan memotong lidahmu nantinya," ancam nya membuat Hiro membuka mulutnya tak percaya.
"Apa kau sungguh sebulol itu? Kau seperti remaja pubertas saat ini," ledeknya membuat Sam berdecak.
"Kau tahu, terakhir kali kau menemuiku saat di sekolahnya, dia salah paham tentang ucapanmu, aku tidak ingin dia salah paham apalagi pergi dariku, aku akan menyelesaikan semua urusanku dengan Xavier dan menjemputnya, dengan begitu aku bisa hidup bahagia dengannya," ujarnya dengan wajah yang sumringah serta mata yang berbinar.
"Wahh, cerita karanganmu begitu indah sekali di dengar, apa kau tidak berniat untuk membukukannya?" ledeknya dengan wajah yang jijik dan merasa mual mendengar bualan Sam.
Sam menatap Hiro dengan sengit.
"Apa kau sungguh ingin cepat menemui Tuhan? Aku bisa mengirimmu sekarang," tawarinya pada Hiro.
Hiro yang mendengar hal itu sontak langsung turun dari mobil sebelum Sam menembak kepalanya.
Sedangkan di ruang rawat, terlihat Mira sedang diperiksa oleh dokter Frank setelah siuman.
"Mama," panggil Sam dan Hiro secara bersamaan kala melihat Mira sudah siuman dan tengah diperiksa oleh dokter Frank.
Mira tersenyum lebar dan merentangkan tangannya.
Keduanya langsung memeluk Mira erat dengan penuh kasih sayang.
"Kamu sudah pulang nak?" Sam mengangguk dengan senyum yang lega.
"Tolong jaga mama kalian ya, jangan biarkan ia berpikir terlalu keras tentang sesuatu. Kondisinya masih kurang stabil," beritahu dokter Frank pada mereka berdua.
"Iya dok, makasih," kata Hiro yang diangguki oleh dokter Frank.
Sam langsung duduk di samping brankar.
"Kamu dari mana saja, hmm?" tanya Mira sembari menggenggam erat tangan Sam.
Sam menatap sekilas Hiro, tersenyum manis ke arah Mira.
"Mama ingat ucapan Sam malam itu?" tanyanya pada Mira membuat Hiro menautkan alisnya menatap Sam dengan kesal.
"Sam, mama barusan siuman," tekannya memperingatkan Sam membuat Mira menoleh menatap keduanya dengan bingung.
"Ada apa sayang? Ucapan kamu yang mana? Mama lupa," tanyanya dengan lembut dan pelan.
Sam menghembuskan napas panjang, menatap Mira dengan lekat, ia sudah mengumpulkan niat untuk memberitahu semuanya pada Mira.
"Beberapa minggu ini Sam pergi mengunjungi kakak," beritahunya dengan jujur.
Mira yang mendengar hal itu sontak teringat akan Andre yang sudah lama tidak ada kabarnya.
"Lalu?" tanya Mira masih dengan ekspresi yang sama.
Sam mengeluarkan ponselnya, menunjukkannya pada Mira.
Terlihat Mira begitu syok dengan foto yang Sam tunjukkan.
"Astaga, bagaimana bisa ada anak sepertinya? Baru aja siuman udah dikasih tahu yang aneh- aneh, apa ia tak takut jika mamanya serangan jantung lagi?" gumam Hiro yang tak habis pikir dengan sikap Sam.
"Sat set sih sat set, tapi ya enggak gini juga Sammmm, bukannya sembuh yang ada penyakitnya tambah kambuh, " geramnya dengan lirih di mana Hiro sudah pasrah dan putus asa dengan Sam.
Mira menatap Sam dengan tak percaya, tatapannya menyiratkan kemarahan.
"Apa kamu sudah gila?" tanya Mira pada Sam.
"Ya ma, dia sudah gila. Gila dengan Shila," jawab Hiro lirih yang duduk di sofa.
"Apa kata Andre dan Maura nantinya jika mereka tahu Sam? Apa kau memikirkan bagaimana nama baik keluarga kita? Kenapa kau begitu buta dan gila dengan keponakan mu sendiri?" tekannya yang marah pada Sam.
"Benar ma, dia udah buta, bahkan mendadak tuli setelah dari desa Pinus. Semua karena sindrom jatuh cinta pada Shila," jawab Hiro lirih dengan tatapan yang lurus pada ponselnya.
Sam masih diam, mendengarkan semua amarah mamanya.
"Nanti malam kita adakan pertemuan dengan Xavier. Kita bicarakan pernikahan kamu dengan Aluna," pintanya pada Sam.
"Telat ma, putramu sudah menendang mereka saat mama terlelap tadi," jawab Hiro lirih yang mana ia tak hentinya menjawab semua pertanyaan yang Mira lontarkan pada Sam.
Selain Hiro kesal dengan Sam ia sangat geram sekali dengannya.
Entah apa yang Sam pikirkan hingga ia begitu memiliki keberanian untuk membicarakan hal ini.
"Sam sudah memberitahu Xavier dan Aluna jika Sam sudah melamar Shila, jadi pernikahan bisnis ini sudah dibatalkan, Sam juga sudah mengembalikan semua saham yang Xavier minta tanpa...," ucapan Sam terhenti kala Mira melayangkan tamparan kepadanya.
Sam diam, napasnya begitu menderu dan hatinya bergemuruh hebat.
Mira sedikit syok juga terkejut saat ia melayangkan tamparan pada Sam untuk kali pertamanya.
"Mama tidak akan merestui pernikahan kalian sekalipun kamu memohon dan menangis darah," cetus nya dengan penuh penekanan.
Sam bangkit dari duduknya, menatap Mira dengan tatapan yang begitu sendu dan sedikit kecewa.
"Sam tidak peduli ma. Sam sudah memutuskan hanya akan menikah dengan Shila. Lagian Shila juga sudah mengandung benih Sam, jadi mama tidak bisa melarang kami berdua untuk bisa bersama," katanya memberitahu dengan jelas dan jujur pada Mira.
Hiro yang mendengar hal itu hampir tersedak anggur.
"Mengandung? Benihnya Sam?" gumam Hiro syok dengan apa yang barusan ia dengar.
Hiro meletakkan anggurnya, melihat Mira dengan lekat.
"Aku sungguh akan menendang kepalamu jika mama kembali serangan jantung," gumam Hiro mewanti- wanti Sam.
Mira memalingkan mukanya, menahan tangis.
"Cepat keluar!" bentaknya pada Sam.
Sam menelan ludahnya sekilas, menyeka air matanya.
Dengan berat hati ia keluar dari ruangan Mira.
Hiro yang melihat hal itu sontak langsung membuntuti Sam, membiarkan Mira untuk sendiri.
Mira mengusap kasar air matanya, meraih ponselnya di atas nakas.
Ia segera menghubungi orang- orangnya.
"Halo," sapa seseorang dari seberang telepon.
"Temukan putri Andre sekarang juga!" perintahnya pada orang tersebut.
Anak Lo yg cinta sama sam tapi sam juga gk memberikan harapan palsu dia juga sudah menolak secara baik baik,tapi anak lo yg gk waras itu terlalu obsesi sama sam.
Baru Bapanya Aluna Balas dendam ke Sheyla udah gak waras otaknya kali.Aneh banget.Anaknya udh bodoh tambah bapaknya makin bodoh Lagi.