NovelToon NovelToon
Asphyxia

Asphyxia

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Misteri / Sci-Fi / Fantasi Wanita / Balas Dendam / Dunia Masa Depan / Chicklit / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: xrubberbandx

“Baiklah, kita akan mengambil jalan masing-masing. Aku akan melepaskanmu kali ini. Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan membunuhmu.”

“Jika selanjutnya kita berjumpa, aku akan menyelamatkanmu."


genres:
DARK FANTASY • DARK ROMANCE • SCI-FI • ACTION • MYSTERY

tropes:
ENEMIES TO LOVERS • STRONG FEMALE LEAD • SECRET INDENTITY • FORCED PROXIMITY • REVENGE


[ SINOPSIS ]
Rozeale harus kembali ke tanah kelahirannya yang sudah lama ia tinggalkan, yakni Aplistia, sebuah kerajaan masa depan di abad ke-22 yang kental dengan budaya leluhurnya, bangsa Yunani. Selain untuk mengklaim kembali takhtanya, ia menyimpan maksud tersembunyi yang berbahaya. Bangsawan yang tidak becus baginya tak lebih dari sekadar sampah. Dan, daripada mendaur ulang sampah, ia lebih suka "membakarnya". Namun, akankah apinya tetap membara, di saat hatinya dipertaruhkan?

"We get dirty so the world stays clean."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xrubberbandx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Rozeale Ankhatia

Rozeale Ankhatia

(baca: Ro-ze-a-le Ang-kha-sha)

\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Zeze memutuskan absen sekolah pada hari ulang tahun Pangeran Kion yang ke-18. Meski begitu ia tetap harus menghadiri ruang penyiksaan yang telah disiapkan mentornya khusus untuk menyiksa mentalnya.

"Bukit Mazí, yang biasa kita kenal dengan Komplek Perumahan Negara, adalah distrik kembar di Ibu Kota yang dikhususkan untuk membangun kediaman para bangsawan dan pejabat negara di seluruh daratan Aplistia. Luasnya mencakup nyaris 80% luas Ibu Kota. Dulu sekali, di masa awal kerajaan Aplistia berdiri, bukit raksasa ini dibelah menjadi dua sehingga bagian tengahnya dijadikan lembah untuk membangun distrik bisnis yang didominasi gedung perkantoran, industri, dan apartemen, sementara badan bukitnya untuk membangun istana dan kediaman para bangsawan. Istana Timur berdiri di puncak bukit yang berseberangan dengan bukit Istana Barat, sehingga mereka dijuluki sebagai istana matahari terbit dan tenggelam. Ada tiga alasan mengapa Raja Kedua memutuskan untuk mengumpulkan para bangsawan di satu tempat yang sama dengan Istana; untuk mempererat hubungan antar abdi kerajaan, memudahkan kerajaan dalam mengawasi mereka, dan memudahkan kerajaan dalam melindungi mereka.

"Terdapat lima blok di kawasan Kompleks Perumahan Negara, masing-masing blok diperuntukan bagi setiap gelar kebangsawanan. Blok A untuk keluarga bergelar duke, Blok B untuk marquess, Blok C untuk earl, Blok D untuk viscount dan pejabat bukan bangsawan lain, dan Blok E untuk baron. Seiring berjalannya waktu, raja-raja setelahnya mulai melonggarkan aturan 'tinggal terpusat' itu, sehingga kini banyak keluarga bangsawan yang tinggal di daerah kekuasaan masing-masing. Bagaimanapun, mereka tetap memiliki hak dan akses atas kediaman mereka di Kompleks Perumahan Negara...."

Bagus. Zeze mendengus. Sekarang aku harus mendengarkan promosi agen properti.

"Yang Mulia, apa Anda sudah paham?" Tanya Madam Thoryvos untuk yang kesejuta kalinya.

"Sangat paham," Zeze memaksakan senyum.

"Anda sudah melewatkan tiga hari berharga Anda untuk kabur entah ke mana, melakukan hal-hal yang saya yakin tidak berguna dan hanya akan merugikan diri Anda sendiri, maka jangan salahkan saya bila jadwal Anda padat untuk seminggu ke depan," tegas Sang Madam.

Zeze mati-matian menahan keinginannya untuk memutar bola mata.

"Baiklah, cukup sekian mentoring Anda untuk hari ini. Satu jam lagi Anda sudah harus bersiap-siap," tutup wanita paruh baya itu.

Akhirnya Zeze dapat meregangkan otot-otot bahunya dengan lega. Ia memutuskan untuk membunuh waktu dengan mengunjungi ruang rekreasi. Di sana ia menemukan Obi, Saga, dan Airo yang sedang sibuk memainkan sebuah game CMMORPG terbaik abad 22 menggunakan gadget bernama Virtual Gear.

Zeze mendekat dan berhenti di belakang sofa yang diduduki Obi, menekan suatu tombol di virtual gear Obi supaya dia bisa mendengar suaranya, "Boleh aku bergabung?"

Tanpa melepas alat yang terpasang di kepalanya, Obi mengangkat sebuah gear ke udara, dan Zeze tersenyum cerah saat menyambarnya dari tangan Obi.

Tanpa terasa satu jam singkat itu telah berlalu. Sudah waktunya bagi Zeze untuk mengenakan gaun itu. Ia diantar oleh Volta dan Luna menuju ruangan yang ia datangi bersama mereka tempo hari. Sebelum mengenakan kostumnya, Zeze harus berurusan dengan berbagai alat merias wajah di sebuah ruang tata rias yang berhubungan langsung dengan ruang ganti. Di sana ia telah dinanti oleh dua wanita berseragam pelayan yang akan membantunya bersiap-siap. Rambutnya dibuat bergelombang di dari tengah ke ujung. Kemudian poninya dibelah dua dan digabungkan dengan sebagian rambutnya untuk dikepang ke belakang. Kepalanya diberi sebuah mahkota dengan sebutir mutiara yang turun bergelantung di dahi.

Untuk riasan wajah, mereka memberinya cushion, eyeshadow dan lipgloss berwarna senada, peach. Mereka tahu sang Putri sudah cukup berkilau tanpa perlu dibumbui riasan apa pun. Bulu matanya panjang dan lentik secara alami. Alisnya sudah berbentuk sempurna tanpa perlu digambar. Tulang pipinya yang tajam merona bak mawar dalam susu. Kecantikannya mustahil untuk dibantah.

Kedua pelayan itu merasa kesulitan saat hendak memasangkannya anting lantaran hanya telinga kirinya yang bertindik. Tidak hanya satu, empat tindikan sekaligus. Pada akhirnya, Zeze menginterupsi bahwa ia tidak ingin mengenakan anting sama sekali.

“Bisakah kalian menyimpannya dengan baik untukku?” Zeze menyerahkan anting-antingnya ke tangan salah seorang pelayan. “Itu sangat berharga bagiku.”

“Tentu, Yang Mulia,” Pelayan itu membungkuk dengan mata terpejam.

Tibalah saatnya Zeze didorong ke ruang ganti untuk mengenakan gaun putih yang didesain khusus untuknya. Gaun tersebut memiliki bahan yang pendek selutut pada bagian depan, namun panjang menyapu lantai di bagian belakang.

Saat pertama kali melihatnya, kukira gaun ini akan kekecilan di tubuhku. Tapi ternyata sangat pas. Modelnya menarik, Kion ternyata memiliki selera yang bagus, tapi warnanya terlalu terang untukku. Aku bertanya-tanya apakah aku masih bisa bertarung bila semisalnya ada serangan mendadak? Apakah aku bisa berlari dengan gaun secantik ini tanpa membuatnya robek? Aku akan baik-baik saja kan di sana? Tidak ada yang bermaksud mengincar nyawaku, kan? Oh, aku berpikir berlebihan lagi.

Setelah gaun pesta melekat sempurna pada tubuhnya, Zeze didorong ke arah cermin.

*Kurang lebih seperti ini riasan Zeze. Credit to the artist.

Lewat cermin, Zeze melihat Luna dan Volta datang menghampirinya. Tubuh ideal mereka juga telah dikemas dengan gaun yang tak kalah cantik. Gaun Volta berwarna amber dengan kerah membentuk huruf X. Sedangkan gaun yang dikenakan Luna tak berkerah dan bahannya hanya sebatas dada hingga lutut. Bagian yang mengherankan terletak di warnanya, hitam sempurna.

Zeze membatin dengan raut bingung, Bukankah budaya di sini tidak menganjurkan memakai gaun hitam tanpa perpaduan warna lain di pesta ulang tahun seseorang? Aku tidak ingat Madam menyebutkan pengecualian.

"Yang Mulia, Anda cantik sekali!" Volta memuji dengan seru tertahan.

Sementara Luna—dengan ekspresi yang sulit dijelaskan—hanya menatap lurus ke arah pantulan Zeze di cermin. Namun mata manusia memang tidak pernah bisa berbohong. Meskipun egonya meneriakkan penyangkalan, Luna setuju dengan pernyataan Volta.

"Mari, Yang Mulia. Pangeran telah berangkat lebih awal ke kediaman lain Marquess Laktisma. Kita harus segera menyusul, lokasinya cukup jauh, di perbatasan antarakota."

Zeze mengernyit, "Pestanya diadakan di sana?"

Volta mengangguk, "Ya, Marquess Laktisma sendiri yang menawarkan."

"Aku tidak diberitahu lebih dulu tentang hal ini."

"Maafkan saya. Saya mengira Pangeran telah memberitahu Anda dari jauh-jauh hari."

Zeze digiring menuju sebuah sedan hitam. Ia duduk di kursi belakang bersama Volta, sementara Luna menempati kursi depan. Zeze tidak mengenali seorang perempuan yang menempati kursi kemudi di sebelah Luna, namun ia yakin perempuan tersebut bukanlah seorang sopir, karena tubuh rampingnya juga dilapisi oleh sebuah gaun; warnanya senada dengan rambut panjangnya, cokelat gelap. Cukup untuk memberitahu Zeze bahwa dia juga merupakan seorang bangsawan yang akan ikut menghadiri pesta bersamanya.

Perjalanan memakan waktu kurang dari satu jam. Sesampainya di pekarangan mansion Keluarga Laktisma, Zeze keluar dari dalam mobil lewat pintu yang telah dibukakan oleh perempuan yang sebelumnya mengemudi. Setelah melihat wajahnya dari dekat, Zeze mengenalinya sebagai nona bangswan yang juga tinggal di Istana Timur—antek-antek Kion. Zeze berterima kasih kepada perempuan itu karena telah menyampirkan jaket lembut di bahunya yang terbuka.

Ternyata selama di perjalanan, mobil yang Zeze tumpangi diikuti oleh dua buah sedan hitam. Pintu mobil itu terbuka dan empat sosok pria kekar dengan pakaian dan kacamata serba hitam keluar dari dalamnya. Zeze yakin mereka adalah pengawal yang telah disiapkan Kion untuknya.

Pendamping pangeran tidak diperkenankan untuk langsung memamerkan wajah di pesta. Zeze dan ketiga nona bangsawan yang berangkat bersamanya dipersilakan beristirahat sebentar di sebuah ruangan bercat putih yang berisikan dua buah sofa cokelat membentuk huruf L. Camilan dan minuman telah tersaji di atas meja yang menjadi pusat ruangan.

"Yang Mulia, sebelum menjemput Anda, Pangeran akan melakukan pembukaan jamuan. Mohon bersabar."

Zeze yang telah menduduki sofa hanya membalas informasi Volta dengan anggukan, lantas memejamkan mata dan melipat kedua tangannya di dada.

Terdengar suara ketukan di pintu sepuluh menit kemudian. Zeze membuka mata dan melihat nona berambut cokelat panjang yang sebelumnya mengemudikan mobil untuknya, mengintip ke celah pintu.

Menyadari siapa yang datang, Volta lantas berdiri dari duduknya dan mengajak Zeze, "Ayo, Yang Mulia."

Zeze pun beranjak menuju pintu yang telah terbuka.

Satu langkah dari ambang pintu, dan tampaklah lelaki itu, terlihat sangat tampan dalam balutan baju kerajaan berwarna hitam dan jubah panjang beraksen merah-emas, lengkap dengan emblem yang meneriakkan identitas mulianya. Dia bersandar pada dinding di seberang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada, diapit oleh Driko dan Airo di sebelah kanannya, dan Saga di sebelah kirinya. Ketiganya melotot saat melihat penampilan Zeze.

Meski waktu telah terkuras banyak, mata hazelnya masih tak kunjung melepaskan wajah Zeze, sehingga membuat Zeze mengangkat sebelah alis dan bermonolog heran dalam hati, kenapa dia tidak kunjung bergerak?

Mengingat kurangnya kadar kesabaran di karakter seorang Zeze, dia berinisiatif untuk mendahului mereka. Setelah mengambil tiga langkah, ia dapat merasakan orang-orang itu mulai bergerak mengikutinya dari belakang, dan ia memutar bola matanya.

"Roze."

"Hmm?" Zeze menyahut, menoleh ke kiri dan mendapati Kion telah sejajar dengannya. Perbedaan tinggi mereka lumayan mencolok. Saat mereka bersanding, puncak kepala Zeze hanya mampu mencapai pundak Kion, padahal ia mengenakan high heels.

"Sesaat lagi..." Kion terdengar ragu, menjaga volume suaranya hanya untuk Zeze, "Kau mungkin akan menemukan mereka yang akan dengan senang hati berbicara omong kosong tentangmu maupun ibumu. Atau golongan yang sok akrab dengan menyinggung topik yang berkaitan dengannya."

Zeze diam, mendengarkan kata demi katanya dengan khidmat.

"Aku atau orang tuaku belum mengumumkan pertunangan kita secara resmi. Hal yang akan terjadi nanti pasti akan sangat mengejutkan bagi mereka. Jika mereka menanyaimu sesuatu, keputusan untuk menjawab dan mengabaikan ada di tanganmu sepenuhnya. Tapi, ingat, mereka tidak mempunyai hak untuk ikut campur dalam urusan kita, dan kita tidak memiliki kewajiban untuk menjelaskan apa pun kepada mereka. Tak ada sedikitpun ketulusan dari setiap kata yang mereka lontarkan untuk kita. Yang mereka inginkan hanyalah dukungan dan perhatian kita. Jangan biarkan kepalsuan orang-orang itu menggetarkanmu. Buatlah dirimu senyaman mungkin saat berada di sana."

"Aku tahu." Hawa dingin menguar dari suara itu.

Menyadari perubahan suasana hati Zeze, mata Kion refleks meliriknya. Zeze tak berkutik saat lelaki itu mengambil tangan kirinya dan menggenggamnya. Itu memang bagian dari kesepakatan mereka; berlagak sebagai pasangan yang saling mencintai di depan banyak orang, biarkan semua mata melihat bahwa Ankhatia berdiri di pihak Zesto.

Dua menit kemudian, tibalah mereka di hadapan sepasang pintu kembar berwarna cokelat tua dengan ukiran singa yang saling menerkam. Dua orang pelayan pria yang berdiri di pinggir masing-masing pintu membukakannya dengan gerakan anggun untuk pasangan kerajaan. Tampaklah sepetak aula luas bernuansa cokelat-emas yang diisi oleh banyak orang berbusana mewah. Suara obrolan langsung menyerbu telinga Zeze begitu pintu terbuka.

Kion mengambil langkah pertama. Gerakannya menyentak Zeze keluar dari lingkup lamunan. Ia bergegas menyamai langkah lelaki itu. Menoleh melalui bahu, Zeze mendapati bahwa orang-orang yang sebelumnya berjalan bersamanya telah menghilang, mengambil jalur masuk yang berbeda.

Kegaduhan yang mengisi aula mendadak lenyap begitu mereka berdua menjulang di atas lantai yang lebih tinggi. Setiap mata terpaku pada dua insan yang saling menggenggam di atas mimbar.

Zeze dapat merasakan keingintahuan di dalam tatapan mereka. Sewaktu mengedarkan pandangan, ia menangkap wajah-wajah yang tampaknya cukup familier; orang-orang yang bersekolah di tempat yang sama dengannya. Mulut mereka seakan kehilangan kemampuan perekatnya, begitu pun dengan mata mereka yang nyaris meloncat keluar sarang.

Zeze tersenyum miring, hati-hati, liur kalian bisa saja menetes.

"Yang Mulia, siapa gerangan nona di sebelah Anda?" Tanya seorang pria berambut emas yang asing bagi Zeze. Namun Kion tentu mengenalnya; sang tuan rumah, Aplisto Laktisma.

Layaknya pria itu, seluruh tamu di bawah juga menantikan sepenggal jawaban terlepas dari bibir tebal Sang Pangeran.

"Tunanganku, Rozeale Ankhatia."

Tepat di detik itu, bunyi napas tercekat terdengar secara masal. Zeze cukup menikmati reaksi mereka, kedua ujung bibirnya tertarik ke atas.

"Beliau..." Aplisto kehilangan kata. Mata hitamnya memandang Zeze dengan keterkejutan yang nyata. Tunangan? ANKHATIA!?

"Aku sudah berencana untuk memperkenalkannya di hari ulang tahunku," kata Kion. Mata hazelnya melembut sewaktu berpaling menatap Zeze yang berdiri di sebelah kanannya. Tak lupa ia memberinya seulas senyum.

Zeze ikut menoleh dan mata mereka bertemu. Entah mengapa senyuman hangat yang ditujukan Kion kepadanya justru mendorong isi perutnya naik ke kerongkongan.

"Kuyakin di antara teman-teman Exousia yang hadir pernah ada yang berpapasan dengannya. Sudah lebih dari dua minggu Roze bersekolah di sana menggunakan identitas yang berbeda. Kami hanya ingin memberi kejutan."

Kion menyapukan pandangannya ke bawah. Seketika para tamu meleleh dari fakta yang membekukan. Para pria membungkuk dengan satu tangan di dada. Sementara para wanita mengangkat kedua sisi gaun mereka saat membungkuk.

Barisan orang-orang yang memberikan penghormatan menjadi pemandangan yang menghiasi seantero aula.

Kion melangkah maju, menuruni satu anak tangga terlebih dahulu dengan tangan masih menggandeng Zeze. Barulah setelahnya ia membalik badan dan membantu Zeze menuruni anak tangga satu per satu. Perlakuannya terhadap Zeze memancarkan kelembutan sehingga memicu suara tercekat dari para wanita. Pasalnya itu adalah pemandangan langka bagi mereka. Belum pernah sang Pangeran ditemani oleh seorang gadis di hari ulang tahunnya.

Setibanya mereka di bawah, Kion melingkarkan lengan kirinya di pinggang Zeze dan mereka pun melenggang ke tengah aula bagai sepasang model yang keluar dari dalam lukisan.

Sepasang suami istri mendekati mereka berdua. "Yang Mulia, selamat ulang tahun. Semoga panjang umur dan dianugerahi kesehatan," ucap si Pria, melirik Zeze dan tersenyum saat berkata, "Ini adalah kesempatan pertama kami menjumpai Tuan Putri," Dia menyodorkan sebelah tangan pada Zeze, yang menyambutnya dengan enggan. "Evan Xeveruz. Senang bertemu dengan Anda."

"Tuan Putri sangat cantik. Sangat mirip dengan Yang Mulia Putri Vourtsa," kata Si Wanita sambil menyodorkan tangan. Mereka bersalaman. "Yuvi Xeveruz. Saya berharap kedepannya kita bisa saling mengenal."

Setelah itu, pasangan kerajaan yang berasal dari keluarga Asteri dan Qiseidon, datang menghampiri.

"Mereka adalah kerabat jauhmu. Libra Asteri dan Peter J. Qiseidon. Kau akan banyak berurusan dengan mereka jika aku harus menghadiri kongres bulanan," bisik Kion di telinganya. "Kusarankan sebaiknya membuat kesan pertama yang baik." Seketika Zeze membenarkan postur tubuhnya, bersiap menghadapi segala kemungkinan.

"Kion, selamat ulang tahun," Sang Istri memeluk Kion dengan akrab. Zeze terpana melihat parasnya sampai kesulitan berkedip.

Lalu giliran sang Suami. "Lihat betapa tingginya kau sekarang. Aku merasa tersaingi," candanya. Mereka semua tertawa, kecuali Zeze.

Libra Asteri memergoki tingkah Zeze yang sedikit aneh. Gadis muda itu menatap wajahnya seolah dia adalah sejenis makhluk dari dunia lain. "Halo, Tuan Putri, apakah ada noda makanan di bibirku?" Ia tersenyum ramah.

Zeze seketika tersentak sadar, bahunya agak melompat. Kion menatapnya dengan sorot penuh tanya.

"Ah, maafkan aku, Yang Mulia. Wajah Anda... mirip sekali dengan seseorang yang kukenal." Zeze tersenyum canggung, mengerjapkan mata untuk melenyapkan air mata yang telah mengintip keluar. Dadanya mendadak terasa nyeri.

"Oh," Libra tertawa lembut, "Orang tersebut pasti sangatlah cantik, bukankah begitu?"

"Sayang, kau tidak boleh bersikap arogan di hadapan Tuan Putri."

"Peter, aku hanya bicara kenyataan. Memang di matamu aku tidak cantik?"

"Tentu saja kau adalah wanita tercantik yang pernah kutemui, Sayangku."

"Paman, Bibi, kalian membuat tunanganku tidak nyaman," Kion menyela mereka dengan nada bergurau.

“'Tunanganku', katamu? Apa kau sedang berusaha menyombong? Bisa-bisanya kau menyembunyikan hal ini dari kami.” Peter bersedekap dengan alis bertaut; Kion hanya tertawa kecil.

"Ngomong-ngomong, selamat atas pertunangan kalian," Libra tersenyum kepada Zeze yang masih kesulitan mengendalikan diri. "Aku menantikan banyak interaksi di antara kita ke depannya, Tuan Putri."

Zeze menelan ludah untuk memudarkan getaran pada suaranya, “Dengan senang hati, Yang Mulia.”

Para bangsawan silih berganti mendatangi sepasang kekasih yang menjadi pusat perhatian. Seiring waktu Zeze mulai merasa jengah. Ia mendengus panjang persis di saat rengekan seseorang menusuk kupingnya dari arah belakang.

"Aku tidak mau!"

"Ada apa denganmu? Kita harus menyapa Yang Mulia!"

Zeze mengenalinya; suara menyebalkan milik Si Pirang yang sering mengganggunya di sekolah. Ia tersenyum licik begitu pikiran jahat menjajah setiap rongga di otaknya.

Tanpa aba-aba, Zeze membalik badan, dan matanya langsung menubruk mata biru Vela. Seketika gadis itu mematung dan tak lagi menarik-narik tangannya dari genggaman ibunya.

Sang Ibu cepat-cepat membungkuk kepada Kion dan Zeze, lalu dengan hormat menyapa mereka, "Selamat malam Pangeran dan Tuan Putri." Sedangkan Vela, anaknya itu telah menjelma menjadi patung hidup. Sang Ibu bahkan harus menariknya agar ia ikut membungkuk bersamanya.

"Selamat malam, Lady Garcia," sambut Kion, ramah seperti biasanya. "Apakah pestanya menyenangkan?"

Lady Garcia Dianova mengangguk, terpesona dengan kesantunan sang Pangeran. "Ini adalah pesta yang sangat mewah. Semoga Yang Mulia Pangeran selalu diberkahi kesehatan."

Kion yang menyadari keanehan Vela pun bertanya, "Apakah Lady Velani baik-baik saja?"

Vela mengerjap-ngerjap. "I—iya, Yang Mulia." Kalau dalam keadaan biasa, ia pasti sudah jingkrak-jingkrak kegirangan lantaran berkesempatan diajak bicara oleh Kion.

"Kalau begitu kami permisi. Kurasa Roze sudah lelah berdiri. Silakan nikmati pestanya," usai berpamitan, Kion menarik pinggang Zeze untuk mengikutinya ke arah sofa putih di sudut aula.

"Geli," bisik Zeze.

Kion menoleh padanya dengan raut bingung. "Apa?"

Zeze sedikit menggeliat, "Pinggangku."

Kion menyamarkan senyum gelinya di balik dengusan, sebelum meregangkan rangkumannya pada pinggang Zeze.

Dalam perjalanan menuju sofa, tak sengaja mata Zeze menabrak sepasang mata hitam yang begitu intens. Tanpa peringatan, Zeze memaku langkahnya di tengah jalan, sehingga langkah Kion ikut berhenti bersamanya. Kion mengikuti arah pandang Zeze dan lantas beradu pandang dengan orang itu; seorang lelaki berjas hitam yang tengah bersandar di dinding dengan dua tangan menyilang di dada.

"Aku yang mengundangnya," bisik Kion ke telinga Zeze yang sama sekali tidak menggubrisnya.

Berbagai macam emosi melintas di wajah Zeze, sementara di wajah orang itu terpasang topeng datar.

Satu menit kemudian, Zeze membuang muka dan melanjutkan langkahnya yang tertunda.

Sementara Kion masih terjebak dalam kontak mata bersama orang itu, lelaki yang dicintai tunangannya, Glen Leios.

\=\=\=\=\=\=\=\=

Bow down bitches, Princess Roze is coming 🤣

1
Nu razizah
bener Thor nyari nyari ternyata gk ada lanjutannya
Chronos
lah tamat cuman sampai sini kah? gak ada lanjutannya gitu? gimana keadaan Rhea sama Norofi 😭
Chronos
Imphy?
Chronos
ada Indonesia coy
Chronos
oh jadi piper pied of hamelin itu mereferensikan organisasinya ya (nyulik anak-anak)?
Chronos
ada Indonesia coy
Azera
kapan update lagi kak lin, aku udah kangen banget sama zeze😭 udah berkali-kali aku lupa alur dan baca dari awal tapi belum ada updatenya lagi🥺
jeji hoha
kak kok gaada lanjutan,ini ceritanya masi gantung bgt. pliss lanjut
Nia Indawasih
kak lin ini novel dr tahun kapan si seingetku dr anakku belum ada sampe udah mau 5thn, dr pasang copot app nya 😂😂 gak kelar2
jeji hoha
thor,,,, ga update
di 2025 aku masih nunggin, lanjut update ya aku tunggu kak lin
Amethys: Samaaa, udh lumutan nih aku
total 1 replies
penyuka novel <3 :D
kak knapa g d lanjut bkin karya lain knp dri dlu cuma ada aspyxia ini?!
aku smpe nyari ksna kmari aspyxia krna udh lma g buka noveltoon dan kangn pngen baca kirain udh nmbah krya yang lain ny...syang bangt/Cry//Cry//Cry/
oceanad.
authornya suka bts kah?
Naturelight
kyaknya byk othor yg kcewa dg platform ini y
Nana Bee: betul
total 1 replies
Naturelight
1st love always fail in real life😟
Naturelight
pnsaran, Lin udh baca seri Red Queen blum y
Naturelight: iy, ad 4 buku, othorny Victoria Aveyard
total 4 replies
Alvia Maharani
thor.. uda setahun, ga mau update?
Alvia Maharani: lin, belum mau ada update??
total 3 replies
Naturelight
luv this story so much
brasa bca novel trjemahan
Naturelight
ap motif Glen?🤔
Naturelight
kyakny bkal ska ma ni crita, dh lama nyari² fanfic yg detail. smoga aj gk brenti d tengah jln
kika
bgus bgt thor karyanya...semangat thor...tpi jgn sampe lulus kuliah bru lanjut lagi update nya ya thor... wkwk...
L I N: makasih udah dukung kak 😺💕
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!