Rose tidak menyangka jika selama sepuluh tahun ia telah menikah dengan mahluk gaib dan memiliki anak dari pernikahan mereka.
Mungkinkah itu yang membuat Rose Akhirnya susah mendapatkan jodoh di dunia nyata???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Jimat
Seharian dirumah membuat Ros merasa jenuh dan ingin kembali ke Jakarta untuk bekerja lagi.
"Bu, Ros mau ke Jakarta lagi boleh kan, aku jenuh dirumah terus, aku mau kerja lagi biar punya kesibukan," pinta Ros
"Nanti dulu nduk, lagian kamu kan baru juga sembuh, nantilah kalau sudah benar-benar sembuh, lagian mending kamu gak usah kerja lagi deh Ibu takut terjadi sesuatu lagi sama kamu, soalnya kan Mbah Rangga bilang kamu tidak boleh sendirian karena mahluk itu masih mengikuti kamu jadi rawan nduk, pokoknya jangan dulu deh," cegah Lasmi yang begitu khawatir
"Yaudah kalau gitu aku kerja dikampung saja boleh?" tanyaku lagi
"Sek toh, nanti aku tanya Ki Rangga dulu, Ibu gak berani kasih keputusan karena aku gak mau kehilangan kamu Ros, kamu itu anakku satu-satunya, nanti kalau kamu hilang lagi gimana, bisa gila Ibumu ini," jawabnya sambil berlalu meninggalkan aku yang masih malas-malasan di sofa.
"Assalamualaikum," sapa sepasang suami istri tersenyum sumringah kepadaku
"Waalaikum salam," jawabku membukakan pintu untuk mereka
"Kamu Ros ya?" tanya wanita itu
"Inggih," jawabku singkat
"Ayu tenan perawane mbak Lasmi, Ibumu ana nok?" tanya wanita itu lagi
"Enten lik, sekedap nggih, monggo pinarak riyin," jawabku sedikit belepotan, maklum aku jarang sekali berbicara bahasa Jawa halus selama ini.
Aku segera memanggil Ibu di Kafe.
"Ada tamu bu," bisikku lirih
"sopo?"
"Gak tahu, Ros gak kenal,"
"Jagain kafe dulu, biar ibu temuin dulu tamunya," pinta ibu dan aku hanya mengangguk pelan
Cukup lama juga ibu menemui tamunya itu, sampai-sampai membuat aku penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.
"Lama banget Bu, ngomongin apa sih?" tanyaku menelisik
"Pak Tejo mau melamar kamu, untuk anak semata wayangnya Kelik, kamu mau ga?" tanya ibu membuatku langsung melotot
"Kelik yang mana sih, aku gak kenal kayaknya,"
"Kelik temen kamu SMP, yang tinggal di sebelah rumah pak Lurah, anaknya tinggi besar dan ciri khasnya suka makan bunga melati," jawab Ibu membuat aku merinding disko
Sepertinya aku ingat sama laki-laki yang bernama Kelik, cowok aneh yang suka meracau tidak jelas di sekolah, hingga teman-teman menjulukinya Bento (gila/sinting).
"Diih ogah ah bu, aku gak mau nikah sama orang Bento kaya dia," jawabku begidik
"Kata Mbak Maryam Si Kelik sudah berubah sekarang, gak kaya dulu lagi, dia sudah diruwat jadi udah normal, katanya nanti malam dia mau datang kesini untuk menemui kamu," jawab ibu
"Gak mau Bu, pokoknya aku belum mau menikah," entahlah rasanya aku mendadak illfeel ketika mendengar ada orang yang akan melamarku.
"Temui saja dulu, masalah diterima atau tidaknya kamu putuskan setelah kalian bertemu," ucap Ibu
"Iya, aku lupa memberi tahu kalau Kyai Abdullah mau datang nanti malam Bu, katanya dia mau rukiyah Ros,"
"Lah kok kamu baru ngomong sekarang, Ibu gak ada persiapan ini," jawabnya kebingungan
"Persiapan buat apa sih ibu, orang cuma ruqyah aja masa pake persiapan segala,"
"Ya iyalah Ros, ya sudah kamu jaga kafe lagi ibu mau ke Pasar," Ibu mengambil tas belanja dan pergi
"Mbak Ros, banyak yang bilang kalau Mbak itu udah dinikahin sama Gondoruwo, gimana sih wujudnya Gondoruwo itu?" tanya seorang pengunjung kafe membuatku sedikit tidak nyaman
"Kamu lihat aja tuh samping kamu," jawabku kesal, dan benar saja tiba-tiba sesosok mahluk hitam berbulu itu muncul disebelah anak ABG yang tadi bertanya padaku, Seketika anak itu menjerit ketakutan dan pergi dari kafeku.
Sementara para pengunjung lainnya saling berpandangan dan kemudian menatapku ketakutan.
"Gak usah takut, ga da setan disini, aman!" jawabku, ajaib setelah aku berkata seperti itu mahluk meyeramkan itu langsung menghilang dari pandanganku.
Aku segera meneguk sebotol softdrink untuk menghilangkan rasa ketakutanku.
Pukul empat sore, kulihat seorang pemuda datang kerumahku. Dandanannya stylish dan modis serta gaya bicaranya yang sok asik membuat aku muak dengannya.
"Ros...." panggilnya membuatku jengah dengan gaya SKSDnya (Sok Kenal Sok Dekat).
"Hmmm,"
"Kamu kok dari tadi diem aja, sekali jawab cuma hmmm...hmmm...hmmm...kaya Sabian lagi nyanyi Deen Assalam," ucapnya sambil terkekeh
"Emangnya mau jawaban apa," jawabku ketus
"Aku mau kamu bilang mau saat aku bilang maukah kamu jadi istri keduaku," ucapnya membuatku merasa semakin jengkel
"Denger ya Kelik, walaupun wajah kamu sudah dipermak kaya SUHO EXO, aku gak bakal sudi jadi istri kedua kamu, jangankan istri kedua jadi istri pertama kamu aja aku ogah, aku tahu kok kalau wajah tampan kamu itu fake bukan real. Kamu itu ganteng karena pake susuk kan makanya si Kokom mau nikah sama kamu, dan satu lagi aku gak sudi jadi istri pemuja Jin kaya kamu," ucapku lantang
As* ajag!, darimana Si Ros tahu aku pakai susuk, terus dia juga tahu kalau aku Muja Dewi Lanjar itu darimana,
Kelik menatapku dengan tatapan tajam, tiba-tiba angin berhembus mengusap wajahku dan seketika tubuhku terasa berat.
"Gak usah lihat-lihat, ajian jaran goyang kamu gak bakal mempan sama aku!" antara setengah sadar, aku tidak tahu kenapa kata-kata itu keluar dari mulutku.
"Jangan sombong kamu Ros, harusnya kamu tuh senang karena aku masih mau menjadikan kamu istri kedua, karena mana ada lelaki normal yang mau menikahi wanita yang sudah dicab*li sama Gondoruwo!, paling-paling nanti kamu tuh jadi perawan tua karena gak ada yang mau nikahin kamu," ucapnya mengejek, membuatku semakin jengkel dan langsung menamparnya.
**Plaaakk!!
Aku tidak tahan mendengar ejekannya dan langsung ku tampar wajahnya hingga ia meringis menahan sakit.
"Pergi dari sini kalau kau cuma mau mengejekku, karena sampai matipun aku gak sudi jadi istri kamu!!" gertakku sambil mendorongnya keluar dan ku kunci pintu rumahku.
Aku langsung masuk kedalam kamar dan menangis sejadi-jadinya, meratapi nasibku hari ini.
Kurasakan sentuhan lembut mengusap rambutku, aku bangun dan duduk di tepi ranjang, mencari sosok Mas Barra yang ku rasakan hadir disini.
"Kamu dimana Mas?" tanyaku terisak
"Mas Barra, kamu dimana!" teriakku sambil mengusap air mataku
Kurasakan suasana nyenyat di kamarku, hawa dingin mulai menyeruak masuk meski hari masih sore. Hanya hembusan angin yang dapat ku rasakan membelai lembut wajahku. Aku tahu Mas Barra ada didekatku, tapi ia tidak bisa menyentuh ataupun masuk kekamarku, karena dukun sialan itu telah memasang pagar gaib di rumahku.
Perasaan kesal dan jengkel kini semakin menderaku, dan membuatku ingin sekali mencari sesuatu yang dipasang Ibu di kamarku. Jimat itu, ya aku harus mencarinya dan membuangnya dari kamarku agar aku bisa bertemu dengan Mas Barra suamiku.
Ku cari benda itu disetiap sudut kamarku tapi tidak ketemu, bahkan didepan pintu kamarku pun tidak kutemukan. Sepertinya ibu sudah memindahkan Jimat itu.
Lagi-lagi aku hanya bisa menangis meratapi nasibku, sambil memeluk guling kesayanganku.
Kurasakan sesuatu yang membuat kepalaku sakit, saat guling itu aku jadikan penyangga kepalaku. Aku mencoba mengambil benda kecil yang ada didalam guling itu, aku menemukannya. Aku sangat senang karena berhasil menemukan jimat yang sudah membuat aku terpisah dengan suamiku. Aku segera membawa jimat itu keluar rumah, dan berniat membuangnya di sungai agar ibu tidak bisa menemukan benda sialan itu lagi.
rindu kok sama genderuwo