Binar harus menikah dengan Gian, anak dari sahabat almarhum Ayahnya. Setengah tahun dari pernikahan Binar dan Gian, Ayah Gian meninggal.
Saat menjelang empat puluh hari kematian Ayahnya, Gian menikah secara sirih dengan Sarah, pacarnya semasa kuliah tanpa sepengetahuan Binar.
Binar yang mengetahui itu sangat terpukul, pasalnya dia sangat menghormati Gian sebagai suaminya, namun kali ini Gian menghianatinya.
Akankah Binar mempertahankan rumah tangga wasiat dari Ayahnya atau menyerah atas rasa sakit yang di berikan oleh Gian yang ternyata tidak pernah mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hujan Reda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
"KALAU AKU GAK BUAT BINAR KEGUGURAN SELAMANYA AKU GAK BISA DAPETIN KAMU MAS! CEWEK SIALAN ITU UDAH NGEREBUT KAMU DARI AKU! AKU GAK TERIMA!"
Teriakan Sarah cukup membuatku lagi-lagi terkejut. Aku tidak pernah berfikir untuk merebut Mas Gian darinya. Dari awal pernikahan aku tidak tahu kalau Mas Gian memiliki seorang kekasih. Aku tidak tahu sama sekali kejelasan itu.
Mas Gian melepaskan pelukannya dariku. "Jangan bicara apapun lagi. Gua gak mau lihat muka lo. Sampah!"
"MAS! Aku gak terima kenapa sekarang malah Binar yang hamil. Kenapa malah aku yang keguguran? Kenapa Mas? Kenapa kamu jadi sayang sama cewe itu, kenapa? Mana janji kita?" banyak pertanyaan yang Sarah lontarkan. Aku tidak mengerti lagi haru bagaimana.
Kenapa Sarah bisa setega itu merencanakan hal buruk padaku. Selama ini aku mengalah dan tidak protes tentang kehadirannya di rumah ini. Tapi apa yang aku dapat?
Mas Gian menggenggam erat tanganku, tubuhnya berguncang bak terkena gempa bumi. Dia menangis hebat.
"Mas?"
"Aku minta maaf Binar."
Aku marah. Sangat marah. Padanya, pada Sarah. Keduanya menyakitiku. Mas Gian yang ternyata sangat tidak mempercayaiku. Sarah yang ternyata sangat membenciku. Bahkan seharusnya aku yang membencinya kenapa malah dia?
"Mas, aku gak bisa maafin kamu gitu aja. Kamu nuduh aku tanpa bukti. Udah nunjukin kalau kamu engga percaya sama aku. Aku gak pernah ngelakuin hal curang ke kamu ataupun istri kamu. Aku terima semua perlakuan kasar kamu selama ini, tapi apa yang kamu lakukan tadi bener-bener gak bisa aku maafin."
Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. "Bahkan di saat Sarah yang mengaku kalau dia mau mencelakai anak aku, yang berarti anak kamu juga. Kamu cuma bisa diem aja kaya sekarang. Mana diri kamu yang tempramen? Mana kamu yang suka nampar aku? Mana kamu yang suka nyakitin tangan aku? Kenapa kamu engga lakuin hal yang sama ke Sarah?"
"Binar, cukup."
"Engga Mas. Kenapa gak adil buat aku? Kenapa kamu nalak aku dengan alasan enggak jelas ini? Kenapa kamu mukul aku? Kenapa kamu nampar aku padahal kamu sendiri enggak tahu kebenarannya kan?"
"Binar ... "
"Apa Mas? Kalau dari awal kamu emang mau cerain aku enggak gini caranya. Kalau emang kamu tahu akhirnya perpisahan dan kamu lebih sayang Sarah kenapa kamu harus nyentuh aku? Sekarang aku hamil kamu cerain aku. Enggak adil buat aku Mas!"
Mas Gian terdiam. Aku menatap ke arah Sarah dengan tatapan kebencian yang selama ini selalu aku simpan. Aku bisa mengendalikan perasaanku padanya tapi apa yang aku dapat dari dia? "Sar, selama ini gua gak pernah sedikitpun mau ngerebut Mas Gian dari lo. Gua gak tahu hubungan kalian apa dulunya, gua cuma ikutin perintah almarhum Ayah gua."
"Tapi sebenernya lo gak berhak bilang gua penghancur kebahagiaan lo apalagi perebut cowok lo. Yang ada itu, lo yang ngerebut suami gua. Suami sah gua, lo yang lebih pantes di nobatin sebagai itu. Gua gak pernah protes atau ganggu kalian setelah lo dateng ke rumah ini kan? Tapi kenapa lo malah niat bunuh anak gua? Kalo sampe gua makan bubur itu mungkin gua bakal berakhir sama kaya lo."
Sarah menggeleng. "Enggak! Bukan gua, bukan gua yang ngerebut suami lo. Tapi emang dari awal Mas Gian engga suka sama lo. Dari awal emang hubungan kalian cuma sebatas itu. Lo itu perebut kebahagiaan gua. Gua benci sama lo. Benci Binar! Gua harap anak lo juga mati!"
"Cukup Sar. Gua gak nyangka lo bisa setega itu sama gua. Silahkan, silahkan lo hidup bahagia sama suami kesayangan lo itu. Asal lo tahu, gua bakal rawat anak ini sampe kapanpun. Lo akan jatuh dengan sendirinya Sar!"
"Gu—" kata yang akan keluar dari mulut Sarah terhenti kala Mas Gian memukul meja dengan sangat keras.
"Cukup Sarah, gua gak pengen nyakitin lo. Cukup sampe di sana." Deru nafas Mas Gian terasa sangat kencang. Aku mengerti apa yang dia rasakan. Semua yang dia lakuin engga menghasilkan apapun. Dia kehilangan suamuanya. Anaknya dari Sarah, aku, dan anakku. Dia tidak mendapatkan satupun.
"Tapi Mas—"
"CUKUP!"
Aku melangkah mendekat ke arah Mas Gian. Memeluknya untuk yang terakhir kali sebelum kita resmi bercerai secara negara. Aku tidak menyangka kalau perpisahan kita akan semenyakitkan ini, dengan cara ini. Walau pada akhirnya aku mengerti, selamanya Mas Gian bukan untukku.
Ku erarkan pelukanku. Dia hanya diam dengan tangisnya. "Mas, selamat tinggal. Rasanya sakit, enggak adil buat aku. Engga pernah adil buat aku. Makasih udah bikin aku menjadi seorang Ibu. Semoga Mas dapet kebahagiaan yang Mas inginkan. Aku pergi.
"Bin, sekali lagi. Tolong beri aku kesempatan." Suaranya begitu parau. Terdengar sangat menyayat hati namun apa daya? Aku dan dia tidak akan bisa bersama lagi kecuali aku menikah dengan orang lain.
Kalaupun ada caranya, aku tidak ingin kembali lagi dengannya. Rasa sakit yang aku rasakan sekarang adalah rasa sakit yang tidak ingin aku rasakan lagi. Selamanya.
"Mau gimanapun, kita udah gak bisa sama-sama Mas. Kamu sudah kehilangan aku dan anakmu bahkan saat kamu sudah berniat menceraikanku." Ku lepas pelukanku. Menghampiri Vio yang sedari tadi menangis melihat masalahku.
Kak Fatur juga masih setia menunggu di sana. Aku mengangguk pada mereka. Aku sudah siap untuk pergi. Ya, pergi. Bukan hanya dari rumah ini. Tapi juga dari Mas Gian.
Bruk ....
Aku membelalakkan kedua mataku kala perutku menabrak ujung meja yang tajam. Ku balikkan tubuhku dengan perlahan melihat siapa yang mendorongku dengan sangat kuat.
Sarah tersenyum dengan senyum liciknya. "L-lo ngapain Sar?"
"Binar!"
Plak ....
Tamparan sangat keras Mas Gian cukup membuat Sarah mengernyit. Apa sebenarnya yang dia lakukan?
"Kenapa kamu nampar aku Mas? Binar gak berhak jadi Ibu! Anaknya harus mati."
"Lo gila Sar!"
Aku tidak bisa menahan rasa sakit ini. Kak Fatur memeluk tubuh mungilku agar tidak terjatuh. Kenapa tidak ada yang melihat Sarah saat mendorongku? Kenapa tidak ada yang menghentikannya? Ini sakit sekali.
Rasa sakit menjalar di seluruh perut hingga pinggang. Terasa begitu nyeri hingga nafasku sampai tersenggal. Aku mencoba mengatur nafasku sebisa mungkin agar aku tenang dalam mengontrol rasa sakitnya.
Tangan Kak Fatur mencoba mengelus pundakku. Mencoba menenangkanku.
"Binar."
"Kita ke rumah sakit sekarang."
"Lo gila ya Sar?"
"Binar tahan ya Bin."
Samar-samar terdengar suara mereka tapi aku tidak bisa membuka mataku sama sekali. Entah kenapa perutku seperti sedang di koyok. Di remas. Sakit sekali. Bagaimana bisa seorang perempuan bertindak sejauh ini? Bahkan Sarah juga sempat merasakan jadi Ibu tapi kenapa dia tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan?
Ku harap anakku akan baik-baik saja.
dn mudh lengket..mestinya Binar inijaga jarak dari mna2 lelaki kok mudh ya dpegang tangn nya Adeeeh...terlalu senang dhmpiri
💪💪💪💪💪💪💪
lanjut kak semangat terus up nya... penasaran Banget😁