DISARANKAN SUDAH CUKUP UMUR UNTUK MEMBACA CERITA INI. HARAP BIJAK MEMILIH BACAAN!!!
"Jangan terluka, karena aku bukan orang yang pantas untuk membuatmu terluka"
~ Shakti Ing Djagat
Shakti, dokter muda yang berniat menolong seorang gadis yang hendak dilecehkan oleh pacarnya, justru berakhir dengan menjadi tersangka pelecehan. Dan harus bertanggung jawab menikahi Zia, si gadis manja yang berstatus pelajar SMA.
Awalnya, Shakti menolak pernikahan itu. Karena merasa tidak bersalah. Dan yang lebih utama, karena dia memiliki janji terhadap kekasihnya. Namun, demi menyenangkan mamanya disetujuinya juga pernikahan tanpa cinta itu.
Apakah Zia mampu membantu Shakti untuk jatuh cinta padanya dalam ikatan pernikahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps.21 POSE
"Ok, kita mulai sekarang," kata Bang Lukman pada semua crew.
Bang Lukman langsung memberi arahan pada Zia, bagaimana dia harus berpose. Begitupun dengan Raja, yang kali ini menjadi pasangannya. Bang Lukman juga memberi arahan kepada crew untuk memulai ambil gambar.
Pertama, Zia diambil gambarnya sendirian, mengikuti arahan gaya sang fotografer. Berbagai pose ia lakukan sesuai permintaan bang Lukman.
"Ok, good," kata bang Lukman pada Zia sambil mengangkat jempolnya.
"Sekarang Mas Raja boleh masuk," lanjutnya untuk meminta Raja ikut diambil gambarnya bersama Zia.
Bang Lukman mengambil gambar dari berbagai pose yang diarahkan kepada Zia dan Raja. Dan ini adalah pose terakhir mereka. Raja melingkarkan salah satu lengannya di pinggang Zia, seolah memeluk dari belakang sesuai arahan bang Lukman.
Entah kenapa, Zia merasa risih harus berpose seperti ini dengan Raja. Ini bukan pertama kalinya Zia berpose seperti ini dengan rekan modelnya. Biasanya dia biasa saja, karena sikap profesionalnya. Tapi kali ini, harus berpose seperti ini dengan Raja membuatnya tidak nyaman.
Raja mulai berdiri di belakang Zia, dan sesuai arahan sang fotografer, Raja melingkarkan salah satu lengannya di pinggang Zia. Tubuh mereka begitu dekat, hingga membuat Zia makin tak nyaman.
Raja sedikit menundukkan kepalanya agar sejajar dengan telinga Zia. Begitu dekat, hingga nafas yang berhembus terasa menyapu tengkuknya.
"Lo cantik," ucapnya sambil berbisik.
Zia yang mendengar itu langsung menoleh menatap tajam Raja. Ingin rasanya Zia memaki pria di belakangnya ini, tapi teguran Bang Lukman membuatnya mengurungkan makiannya. Dia kembali ke posisi yang diarahkan Bang Lukman.
Raja yang melihat itu, hanya tersenyum samar. t Tapi ada rasa bahagia di hatinya. Sikap marah yang ditunjukkan Zia, makin membuatnya tertarik pada gadis itu.
Raja tertarik dengan Zia, bahkah sebelum dia tahu kalau Zia adalah istri dari rivalnya. Zia menarik perhatiannya saat mereka pertama kali bertemu.
Zia yang kala itu memakai rok panjang dan baju seragam yang longgar, yang identik dengan penampilan gadis culun tak membuatnya illfeel . Tapi justru membuatnya tertarik. Raja melihat sosok cantik dibalik seragam culun itu. Dan saat tahu kalau Zia adalah istri dari rivalnya, Raja semakin tertantang untuk membuat Zia berpaling.
"Gue tahu kenapa sikap lo dingin ke gue, pasti suami lo itu udah cerita tentang peristiwa tujuh tahun yang lalu," Raja kembali berbisik di telinga Zia.
Zia semakin risih dengan apa yang di lakukan Raja. Dia berusaha untuk melonggarkan pelukan Raja, tapi Raja yang menyadari sikap Zia yang ingin menjauh justru mengencangkan lengannya yang melingkar di pinggang Zia.
"Lo nggak usah takut, gue nggak akan memperlakukan lo sama kayak Andien." Masih dengan berbisik.
"Gue suka sama lo." Pernyataan Raja ini makin membuat Zia ingin lari.
Entah apa yang dipikirkan pria di belakangnya ini, dia sudah tahu kalau Zia sudah menikah. Tapi tetap saja dia mengungkapkan rasa sukanya.
Zia mencakar tangan Raja yang melingkar di pinggangnya, berharap pria ini melepaskannya. Atau setidaknya mengendurkan pelukannya. Tapi rasanya, cakaran Zia tak membuatnya sakit. Raja tetap memeluknya erat, bahkan lebih erat seolah tak mau melepaskan Zia.
"Gue suka sikap lo, bahkan gue rela kalau harus dicakar punggung gue," bisiknya menggoda.
Rasanya, apapun yang Zia lakukan akan sia-sia belaka. Bahkan sikapnya yang kasar, justru memprovokasi Raja untuk semakin dekat.
Zia pun memutuskan untuk mengabaikan pria di belakangnya ini. Mengikuti arahan Bang Lukman agar tidak lagi melakukan kesalahan. Dari tadi Zia tidak bisa fokus, karena pria bernama Raja ini. Dan, berkali-kali Bang Lukman menegurnya, karena Zia melakukan kesalahan. Sekarang yang harus Zia lakukan hanyalah menyelesaikan take ini dengan benar, sesuai arahan bang Lukman dan pergi dari pria gila ini.
Akhirnya selesai juga pengambilan gambar sesuai keinginan Bang Lukman. Zia merasa lega bisa lepas dari pria bernama Raja itu.
Sekarang tinggal menunggu Dara yang di ambil gambarnya. Zia kembali ke ruang make up dan menunggu Dara disana.
Seolah tidak puas mengganggu Zia tadi, Raja kembali menghampiri Zia di ruang make up. Zia sedang menunggu Dara.
"Gimana, capek?" Raja langsung mengambil bangku dan menyeretnya mendekati Zia.
Dia langsung duduk tanpa ijin.
Zia diam saja, rasanya malas untuk menanggapi. Raja yang di diamkan malah tertawa di depan Zia.
"Lo tahu nggak, sikap lo yang seperti ini, yang jutek sama gue, malah bikin gue makin suka sama lo."
Sontak saja Zia menatap tajam Raja, menunjukkan kemarahannya. Lagi-lagi Raja hanya tersenyum menanggapi.
"Ah ... capek banget gue," Dara yang baru saja selesai pengambilan gambar langsung menuju ke ruangan dimana Zia menunggunya.
"Ada Kak Raja juga disini, nungguin Dara ya?" Dara yang baru menyadari akan adanya Raja dengan percaya dirinya mendekati Raja.
"Ini sudah mau balik kok, kalian naik apa nanti pulangnya?" tanyanya basa-basi.
"Naik mobil Kak, kalau Zia dijemput cowoknya."
Zia langsung menyikut Dara. Untuk apa temannya ini memberikan informasi pada orang asing. Lagi pula Raja sudah tau kalau Zia sudah menikah. Jadi saat Dara menyebut Zia akan di jemput cowoknya, Raja tersenyum melirik Zia.
"Oh ... ok, gue duluan ya," pamit Raja yang langsung berdiri meninggalkan Zia dan Dara.
Dara pun langsung berganti baju dan membereskan barang-barang yang tadi di bawanya.
"Zi ... lo yakin ni gue tinggal. Laki lo masih lama nggak? Kalau masih lama, mending lo nebeng gue aja," tanya Dara yang tak tega meninggalkan sahabatnya sendirian.
"Enggak kok, dia udah OTW. Bentar lagi juga nyampe. Lo duluan aja."
"Yakin, lo?" tanya Dara lagi memastikan.
"Yakinlah, lagian masih ada crew kok. Amanlah. Udah balik sana tar malah lo yang kemalaman."
Akhirnya Dara menuruti perintah Zia, mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu dan berpamitan.
Zia berdiri di pinggir jalan, menunggu suaminya datang menjemputnya. Tiba-tiba ada mobil berhenti di depannya, yang pasti bukan Shakti. Karena tadi, Shakti bilang akan menjemputnya naik motor.
Sosok Raja lah yang keluar dari mobil itu dan langsung menghampiri Zia. Raja tadi memang pamit duluan tapi dia tidak lantas pulang, dia menunggu Zia pulang.
"Mau gue anter?" tawarnya ketika sampai di depan Zia.
Zia malas sekali bicara dengan orang di depannya ini, karena itu dia abaikan tawaran Raja.
"Ini sudah malam, mau sampai kapan lo nungguin suami lo. Disini juga nggak aman buat cewek kayak lo."
"Nggak usah sok peduli sama gue, kalau lo mau pergi ya pergi aja sana! Gue mau nungguin SUAMI gue. Mau sampai jam berapa pun gue tungguin!" jawab Zia ketus, dan menekankan kata suami, biar orang di depannya ini mengerti statusnya.
Baru dibicarakan, suami yang ditunggu-tunggu Zia akhirnya datang juga. Shakti menghentikan motornya di depan mobil Raja.
Sebelum Shakti turun dari motor Zia langsung berlari menghampirinya, memeluk suaminya yang masih duduk di atas motornya dan mencium pipinya saat Shakti melepaskan helmnya.
Shakti yang merasa heran dengan tingkah istrinya, mengikuti kemana arah pandangan Zia. Zia memang sengaja menoleh ke arah Raja setelah mencium pipi Shakti.
Dia ingin menunjukkan kepada Raja bahwa ia sangat mencintai suaminya ini, dan tidak ada kesempatan bagi Raja untuk mendekatinya. Begitulah kira-kira, arti dari sikap yang di tunjukan Zia.
Raja yang melihat tingkah Zia bukannya marah atau cemburu, tapi justru tersenyum gemas pada gadis yang telah mencuri perhatiannya.
Tak ingin berlama-lama di sana, Shakti memakai helmnya kembali dan menyuruh Zia naik sebelum ia memacu motornya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak ya like
... komen ... dan vote juga ya
tengkyu❤❤❤sayang hee
pasti ad sesuatunya tuh di susunya🙈
apalagi Zia
pass banget
keren Thor 👍👍
jadi mau ngakak....boleh doong Thor...?