Ini adalah kelanjutan kisah dari novel Author yang sebelumnya.
----- ----- «» ----- -----
“Om, papa tidak merestui kita, ayo bawa aku pergi,” isak Ayara, sebelum kemudian ia terkejut melihat wajah pria yang di cintainya itu seperti habis kena pukul.
Ya, siapa lagi yang melakukannya, jika bukan Bara, ia memukuli sahabatnya itu tanpa ampun, karena telah mencintai putrinya.
“Apa sakit?”
“Sedikit, tapi tidak apa-apa.” Adit merasakan tangan halus Aya mengusap wajahnya yang habis kena bogem mentah dari Bara.
Ia sangat mencintai gadis kecil itu, tapi keadaan membuat ia harus menjauh!
Novel ini hanyalah hasil dari kegabutan Author!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ny.Jutex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Tukang Urut
Raisa yang tidak tau kalau anak-anaknya akan pulang itu pun di buat heran. Namun ia bersyukur karena Ayara dan Raffi pulang dengan selamat, lagi pula rumah terasa sepi saat tidak ada mereka di rumah.
“Bukannya masih tiga hari lagi ya, kok udah pulang?” tanya Raisa.
“Emangnya Mama ga senang ya kalau kita pulang?” sahut Raffi seraya mencium kedua tangan orangtuanya secara bergantian.
“Mama justru senang kalian udah pulang, tapi kan waktu itu kalian yang ngotot ingin liburan.”
“Tanya aja tuh, sama kak Aya. Lagian mamanya om Dimas lagi sakit, makanya kita sekalian aja ikut pulang,” ujar Raffi menjelaskan. Sedangkan Ayara, setelah bersalaman dengan mama dan papanya, ia langsung pergi ke kamarnya tanpa banyak bicara.
Karena masih dini hari, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk melanjutkan beristirahat.
Paginya Bara dan Raisa mengunjungi rumah orangtua Dimas. Mereka berniat untuk menjenguk ibunya Dimas yang kabarnya sedang sakit. Tiba disana, mereka di sambut oleh Fitri dan Dimas.
“Terimakasih udah repot-repot datang kesini,” ucap Rosma. Ia tak menyangka kalau anak temannya itu sampai datang ke rumah untuk menjenguknya, padahal dirinya hanya masuk angin saja kemarin.
“Ngga kok, Tan. Kebetulan juga kita punya waktu luang hari ini,” ucap Raisa seraya meletakkan buah tangan yang ia bawa.
“Maaf, karena saya, liburan anak-anak jadi terganggu.”
“Kenapa harus minta maaf, wajar saja jika Dimas dan Fitri merasa mengkhawatirkan Tante.”
Setelah kurang lebih 30 menit bertamu, Raisa Dan bara pun pamit pulang.
Masih ada beberapa hari lagi waktu liburan tersisa, Raffi dan Devano menghabiskan waktu mereka di rumah. Jika bukan Raffi yang mendatangi Devano, maka Devano lah yang datang ke rumah Raffi.
Siang itu Bara dan Raisa mengajak anak-anak mereka untuk jalan-jalan menghabiskan sisa masa liburan. Ayara memilih untuk tidak ikut, ia merasa tidak bersemangat untuk pergi kemana pun.
Bara dan Raisa, tidak terlalu heran dengan tingkah putri mereka itu, karena keseharian Ayara memang selalu seperti itu sebelumnya. Kalau pun libur akhir pekan, biasanya ia hanya ke rumah omanya.
Kebetulan Devano sedang ada di rumahnya, Raffi pun mengajak Devano untuk ikut sekalian. Selain jalan dan jajan, mereka juga berbelanja keperluan sekolah.
“Wah, makasih ya Om, Tante, udah di beliin banyak,” ucap Devano seraya memperlihatkan tas belanjaan yang ada di tangannya.
“Sama-sama. Kalian yang rajin belajarnya,” sahut Bara. Dimas dan Fitri pun biasanya selalu membelanjakan anak-anaknya. Persahabatan yang terjalin sudah seperti tali persaudaraan bagi mereka.
Siang itu juga Adit dan Elang sudah kembali ke apartemen mereka. Andai ia tidak punya tanggung jawab terhadap keponakannya, mungkin Adit memilih untuk tetap berada di Bali. Ia tidak mungkin memindahkan sekolah Elang seenaknya hanya karena masalah pribadinya.
Sehari setelah dari Bali, Elang merasa bosan karena tidak ada kegiatan dari pagi hingga siang. Kemudian ia pun menghubungi Devano dan Raffi.
“Gue boring nih,” ucap Elang.
“Ya udah, lu ke rumah gue aja,” ajak Devano. Kebetulan Raffi sedang ada di rumahnya juga saat itu.
“OTW!”
Mereka pun mengakhiri panggilan lewat telepon itu. Detik kemudian, Fitri memanggil Devano, ia meminta putranya itu untuk memanggilkan tukang urut ke rumah. Fitri memberikan secarik kertas berisikan alamat tukang urut yang tak jauh dari alamat rumah orangtuanya.
“Mama keseleo?” tanya Devano, sambil memperhatikan keadaan mamanya yang terlihat baik-baik saja.
“Nenek lagi ga enak badan, jadi perlu tukang urut. Kamu buruan panggilin, nanti keburu kesorean,” titah Fitri.
“Oiya, sekalian kamu kasikan ini buat kakek kamu.” Fitri memberikan rantang yang berisikan makanan kesukaan ayahnya pada anaknya.
Devano dan Raffi keluar dari rumah lalu mendatangi pak supir untuk minta di antar ke rumah kakeknya.
“Dev, gimana sama Elang?” tanya Raffi, mengingat Elang yang tadi akan mendatangi mereka ke rumah Devano.
“Oiya! Gue telepon aja kali ya.” Devano mencari riwayat panggilan mereka tadi, lalu menghubungi Elang.
Elang yang baru akan menuju ke bawah itu pun berhenti di lobby untuk menerima panggilan.
“Ya, sebentar lagi gue kesana,” sahut Elang saat menerima panggilan dari Devano.
“Lu tunggu disana aja, biar kita yang nyamperin,” beritahu Devano, sambil masuk ke dalam mobil.
“Lu serius?” Elang heran, namun merasa senang. Devano langsung mematikan panggilan dan meminta pak supir untuk menjemput Elang terlebih dahulu.
Elang menunggu di depan, dan tak lama, mobil yang di tumpangi kedua sahabatnya itu pun datang.
“Emang kita mau pergi kemana?” tanya Elang, saat sudah berada di dalam mobil, dan pak supir mulai menjalankan mobilnya.
“Nyari tukang urut. Tapi kita nganterin ini dulu ke tempat kakek gue,” sahut Devano seraya memperlihatkan rantang yang tadi ia bawa dari rumah.
“Ok deh!”
Kurang lebih 30 menit kemudian mereka pun sampai. Pak supir menghentikan mobilnya di halaman rumah orangtua Fitri yang cukup luas. Devano turun dari mobil, di ikuti oleh Raffi dan Elang.
“Assalamu'alaikum, Kek...!” ucap Devano seraya mengetuk pintu. Tak ada jawaban, Devano mengulang mengetuk pintu dan memanggil kakeknya.
Beberapa kali mengetuk pintu tak ada jawaban, Devano pun memutuskan untuk bertanya pada tetangga sebelah rumah kakeknya yang memang sudah mengenalnya.
“Bu saya mau nanya. Apa Ibu tau kemana kakek saya?” tanya Devano.
“Sepertinya beliau sedang pergi ke hajatan, mungkin sebentar lagi pulang,” jawab ibu-ibu tersebut.
“Oh, iya Bu. Terimakasih,” ucap Devano, kemudian ia pamit.
“Pak, kita nyari rumah tukang urut dulu, nanti kalau kakek datang tolong berikan ini,” ucap Devano pada pak supir.
“Siap, Den!” sahut pak supir.
Devano, Raffi dan Elang mencari alamat rumah tukang urut dengan bermodalkan alamat yang di berikan oleh Fitri.
Sudah hampir 20 menit mereka berjalan, namun mereka belum juga menemukan alamat rumah tukang urut tersebut.
“Busheett! Itu alamat ga salah,kan? Udah empat kali kita bolak-balik, muter, tapi ga ketemu juga sama tukang urutnya,” gerutu Elang yang setengah berjongkok seraya memegang lututnya.
“Lu liat aja sendiri,” ucap Devano, seraya memperlihatkan secarik kertas yang dari tadi ia pegang. Ia pun sudah bermandi keringat gara-gara mencari rumah tukang urut tersebut.
“Apa sebaiknya kita tanya aja sama orang sekitar sini, mungkin aja ada yang tau dan bisa bantu kita,” usul Raffi. Tapi masalahnya sejak tadi tidak ada orang yang lewat samasekali, kecuali anak kecil yang kebetulan sedang bermain.
“Kita jalan dulu aja lagi. Sini, biar gue yang nyari,” ucap Elang seraya berjalan lebih dulu.
semangat up ya Thor 😘