[Apakah anda ingin sembuh dan mengangkat semua rasa sakit di tubuh anda?]
"Apa kau mampu melakukannya?"
[Sistem bisa melakukannya. tapi anda harus menerima persyaratan dari Sistem.]
"Apa persyaratan yang harus ku penuhi?"
[Jadilah seorang Host!]
Demi mengangkat rasa sakit yang di alami Damar pasca kecelakaan, pria yang saat itu masih berusia 11 tahun membuat sebuah pilihan yang sangat serius. yaitu mempercayai Sistem yang muncul bagaikan halusinasi.
Dengan Sistem di dalam tubuh Damar, bagaimana dia akan tumbuh Dewasa?
Tertarik? Gas langsung baca!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BlackRoby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pupuk Organik Dayu
Damar menyesuaikan berat material yang telah dia kumpulkan dengan berat yang dianjurkan oleh Sistem, tidak kurang atau lebih dari 0,01 gram pun. Dia melakukannya dengan hati-hati demi mendapatkan hasil sesempurna mungkin.
Setelah dua minggu berlalu, pupuk organik yang Damar racik bersama Sistem telah siap digunakan.
Damar sangat puas dengan hasilnya.
“Suhunya sudah dingin dan benda ini tidak lagi berbau, selain itu teksturnya juga sudah berubah. Kita benar-benar berhasil, Sistem Usang.
[Berhasil membuat sebuah pupuk organik yang dapat menyuburkan satu petak sawah. Quest beruntun telah berakhir, Kandidat akan segera mendapatkan point penyelesaian tutorial.]
[Sedang menghitung bonus...]
[450 Point Penyelesaian Tutorial telah berhasil ditambahkan.]
[Jumlah Point Penyelesaian Tutorial saat ini : (0568/5000)]
“Tidak mungkin, bonusnya besar sekali! Quest beruntun ini tidak membuang waktuku dengan sia-sia. Aku begitu bahagia sampai ingin menangis,” dalam hati Damar.
“Aku masih tidak mengerti kenapa kamu begitu senang dengan benda ini, kau bilang akan menjelaskannya padaku begitu selesai,” kata Ayu memperhatikan Damar yang tampak begitu girang.
“Benar juga... Ayu... Akan ku perkenalkan padamu, sesuatu yang akan mengawali kejayaan Toramin. Pupuk Organik Dayu!” seru Damar sambil mempersembahkan pupuk yang telah jadi seperti dia mempersembahkan sebuah hadiah untuk pemenang lomba.
“Pupuk Organik Dayu?” sahut Ayu penuh tanya sembari memiringkan kepalanya ke kanan.
“Pupuk Organik ini akan menyuburkan Tanah Toramin, dengan menggunakan pupuk ini maka hasil panen akan menjadi bagus dan juga melimpah, semua orang akan terkejut.”
“Lalu kenapa ada imbuhan Dayu pada Pupuk Organiknya? Apa itu Dayu?”
“Bukankah itu adalah nama orang yang telah membuat Pupuk Organik ini? Dayu... Damar dan juga Ayu.”
“Em... Namanya terlalu aneh ya?”
Damar mengucapkannya dengan begitu mudah, namun kalimat yang baru saja keluar entah bagaimana membuat Ayu bersemu dibuatnya.
“Ayu, kenapa kamu malah pergi duluan? Katakan kalau nama pupuknya tidak aneh,” ucap Damar menyusul Ayu yang berjalan pergi lebih dulu.
“Oiii... Tunggu aku!”
***
Suyono, Kepala Desa Toramin sedang menunggu di sawahnya sesuai dengan apa yang dia janjikan bersama Damar.
“Anak muda itu bilang ingin menunjukkan sesuatu kepadaku, sebelum Damar datang aku tidak diperbolehkan menanam apapun terlebih dulu. Apa yang hendak anak itu tunjukkan padaku?”
Setelah beberapa menit menunggu terdengar suara gerobak yang mendekat ke arah persawahannya.
“Apa yang dibawa oleh Damar?” tanya sang Kepala Desa memicingkan matanya ke arah gerobak yang dibawa oleh Damar.
“Kepala Desa, ini adalah sesuatu yang ingin saya tunjukkan pada anda!”
Suyono menyilangkan tangannya di bawah dada, dia menatap Damar dengan serius. “Anak muda, sebelum kau menjelaskan benda itu, bisakah kau memberitahuku kau apakan si Ayu?”
“Hah? Saya tidak ingat pernah menjahilinya. Ya kan, Yu?” Damar mendekat pada Ayu dan gadis yang lebih tinggi darinya itu memalingkan wajahnya dengan gugup.
Melihat tingkah polos kedua generasi muda Toramin membuat Suyono tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“Damar, sekarang kau boleh menjelaskan tentang sesuatu yang kau bawa kemari.”
Damar mengangguk dengan semangat.
“Kepala Desa..., ini adalah pupuk organik yang dapat membantu kemajuan pertanian desa.”
“Pupuk? Desa ini sudah lama tidak mendapatkan kiriman pupuk, kalau membeli ke kota pun harganya tidak bisa kami jangkau. Benda mahal seperti ini... Kenapa kau membawanya kemari?”
“Mahal? Sebenarnya saya tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk benda ini.”
“Tidak? Apa seseorang memberikannya padamu?” tanya Suyono dengan raut wajahnya yang agak terkejut.
“Tidak, saya dan Ayu membuat pupuk ini bersama-sama.”
“Membuat?!!” sahut Suyono menunjukkan wajah yang lebih terkejut lagi.
Perlahan Suyono menoleh ke arah Ayu, “Be-benarkah kalian membuatnya?”
Ayu mengangguk untuk meyakinkan sang Kepala Desa.
Damar menyerahkan sebuah selembaran yang berisi resep dan cara pembuatan pupuk organik yang dibawanya. “Setelah ini penduduk Toramin tidak harus mengharapkan kiriman pupuk dari kota, kita juga tidak harus membelinya karena kita bisa membuatnya sendiri.”
Suyono membaca selembaran itu dengan cermat, wajahnya tidak bisa menyembunyikan kekaguman ketika melihat benda itu ditulis dengan sangat baik.
“Tulisan yang begitu rinci dan juga rapi, bahkan orang awam sepertiku mampu membacanya dan mengerti setiap bagian dari tulisannya. Benarkah Damar dan Ayu yang melakukan semua ini?” dalam hati sang Kepala Desa.
“Luar biasa,” pikir Suyono memandang kedua anak muda dari desanya itu.
“Kepala Desa, apakah kita bisa mulai menanam sesuatu di tanah ini?” tanya Damar begitu antusias.
“Karena pupuknya telah disiapkan, kita tidak perlu menunggu apa-apa lagi, kan?” balas Suyono dengan senang hati.
“Kepala Desa, anda tidak meragukan pupuk buatan saya? Kalau nanti merusak benih yang telah anda siapkan bagaimana? Anda bisa sangat merugi, lho.”
Suyono menghargai apa yang dikhawatirkan oleh Damar, sang Kepala Desa pun membalas perkataan anak muda itu dengan jawaban yang dapat menghapus kekhawatirannya.
“Benih yang aku tanam tidak pernah memberikan hasil yang bagus selama bertahun-tahun aku bertani. Kau tidak perlu memikirkan sesuatu tentang kerugian itu, Nak Damar.”
“Tapi...,”
“Aku memperhatikan bagaimana dirimu selalu menekuni sesuatu, tidak ada satu hari terlewati tanpa mempelajari apapun. Pupuk organik yang kau buat hari ini merupakan salah satu hasil belajarmu.”
“Untuk menghargai semua usaha yang telah kau curahkan... Nak Damar... Aku memberikanmu izin menggunakannya pada sawahku. Merugi ataupun tidak itu semua bukanlah hal yang penting.”
Damar segera membungkuk pada sang Kepala Desa menunjukkan seberapa besar rasa hormat yang Damar rasakan untuk Pak Tua itu.
“Terimakasih, Kepala Desa. Saya tidak akan membuat anda kecewa dengan hasilnya!”
Kesungguhan yang disampaikan oleh Damar membuat Suyono merasa tentram.
“Padahal aku tidak akan memarahinya jika pupuk itu gagal membantu pertumbuhan benih yang akan kami tanam. Lagipula ini adalah kali pertama dia mencoba penemuannya, jadi tidak akan langsung berhasil dalam sekali jalan.”
“Haa..., sungguh anak yang baik dan penuh percaya diri. Sungguh lega mengetahui anak seperti Damar pindah ke desa kecil ini,” pikir Suyono.
“Mari mulai menebar pupuknya, setelah itu besok kita bisa menanam benihnya.”
Pemupukan dilakukan dengan cara disebar merata ke seluruh penjuru sawah yang akan di tanami, setelah melakukan itu pupuk di injak-injak sampai benar-benar menyatu dengan tanah.
Suyono melihat Damar dan Ayu bersenang-senang ketika melakukannya, namun ada satu hal yang membuat Pak Tua itu kepikiran.
“Alasan desa ini tidak pernah memakai pupuk lagi bukan hanya karena harganya yang mahal atau pengirimannya yang sulit. Alasan lain Toramin tidak pernah memakai pupuk lagi adalah karena hal itu sama sekali tidak membantu.”
“Tak peduli sebarapa unggul pupuk yang digunakan, hasilnya pada benih yang ditanam di persawahan ini tidak akan pernah bagus. Tapi aku tidak bisa mengatakan itu pada Damar karena aku khawatir merusak kesenangannya.”
“Saat ini, melihat dia bersemangat dan riang seperti itu adalah apa yang ingin aku lakukan.”
Pemikiran Suyono itu akhirnya berhasil disangkal setelah beberapa minggu, dan yang menyangkalnya adalah hasil pertaniannya sendiri.
Tanah Toramin yang tidak bisa menumbuhkan benih bagus, secara ajaib memunculkan tanaman hijau sehat yang memanjakan mata.
“Ba-bagaimana mungkin ini terjadi?”