Pesta pernikahan telah usai, disebuah kamar hotel Presidential suite room yang telah disulap menjadi kamar pengantin yang indah dan megah ternyata tak membuat kedua pengantin baru itu bahagia.
" Ku harap kau tak pernah menampakkan wajah buruk rupamu itu dihadapan ku" ucap laki laki yang telah berstatus menjadi suaminya.
" Pernikahan ini hanya paksaan dari ibuku saja. Karena aku telah memiliki kekasih yang sangat aku cintai, dan aku akan menikahinya. Ku harap kau paham akan posisimu.
Mari kita jalani kehidupan kita seperti orang asing tanpa ikut campur urusan pribadi masing-masing" ucapnya lagi sambil memunggungi istrinya.
Danira meremas gaun pengantinnya sambil menangis dalam diam mendengar setiap kata yang dilontarkan dari mulut suaminya.
" Baik lah, jika itu keinginan anda. Semoga Allah mengampuni setiap ucapan yang anda berikan kepada saya" jawab Danira dengan lantang kepada suaminya.
Bagaimana akhir dari perjalanan rumah tangga mereka?
Akankah berakhir bahagia atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Kane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Menikahlah Dengan-ku
Waktu sudah menunjukkan pukul 01.30 dini hari.
Gavino memarkirkan mobilnya di besement khusus penghuni Penthouses, sekeliling gedung sangat sepi dan sunyi, hanya suara tapak kaki Gavino yang menggema, Penthouses nya terletak dilantai paling atas.
Kini Gavino sudah berdiri tepat didepan pintu penthouses dengan tangan kiri memegang jas dan memasukkan pin hinga terdengar suara' Cklik' Gavino membuka dan menutupnya kembali.
Mata hitam pekatnya menangkap sosok wanita cantik tegah duduk di sofa empuk miliknya dengan posisi menyilang kan kaki dan tangan memegang Libbey gelas berisi minuman berwarna hitam sambil memutar mutarkan isinya. Dia tersenyum senang melihat kedatangan Gavino..
" Kau...disini Van ". tanya Gavino masih berdiri ditempatnya.
Stevani meletakkan gelas diatas meja, berjalan perlahan menghampiri Gavino. Gavino dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh Stevani yang hanya dibaluti lingerie tipis bak saringan tahu, bahkan lebih tipis lagi berwarna hitam, rambutnya dibiarkan terurai panjang, menutupi sedikit bagian dada, sangat sexy dan menggoda keimanan kaum adam.
Bukannya menjawab, Stevani malah mendaratkan kecupan singkat dibibir Gavino.
Stevani mengalungkan tangannya di tengkuk Gavino dengan senyum yang terus mengembang dibibir sexy nya.
" Sudah hampir tegah malam, mengapa kau baru pulang honey?, aku sudah menunggumu dari tadi". Setevani bersuara sedikit mendesah, lembut. Sambil menurunkan satu tangan memainkan telunjuknya di dada kekar Gavino. Stevani memanyunkan bibirnya, agar Gavino tau kalau dia sedang merajuk.
Gavino masih diam, otak dan hatinya sedang tidak baik-baik saja. Semua ucapan maminya masih berputar-putar di kepala, biasanya tanpa menunggu Stevani menggodanya dia akan langsung menyerang wanita itu. Tapi kali ini dia sedang tidak bersemangat sama sekali, Gavino mundur selangkah kemudian berjalan menuju sofa menghempaskan bokongnya disana, Gavino bersandar dengan kedua tangan berbentang sambil memejamkan mata.
Stevani berbalik, mengernyit heran ada apa dengan kekasihnya, tidak biasanya Gavino seperti ini " Kamu kenapa honey?". Stevani berjalan menghampiri Gavino lalu duduk disampingnya.
" Apa ada masalah dikantor, dan kenapa matamu ini, apa kau tidak tidur semalaman honey ?". Stevani mencecar banyak pertanyaan yang membuat Gavino semakin pusing.
"Mari kita menikah besok ". ucapnya masih dengan mata terpejam, dengan kepala mendongak keatas. " Dan segera atur pertemuanku dengan keluargamu atau ayahmu, aku ingin memintamu kepadanya".
Stevani terkejut mendengar penuturan Gavino yang menurutnya sangat mendadak. Memang ini bukan ajakan pertama kali, Gavino sudah sering kali mengungkapkan keinginannya untuk menikah tapi apa katanya tadi ' Besok'.
" Honey...!! apa maksudmu kau bercanda ya?". Stevani tertawa garing menanggapi ajakan Gavino.
Gavino membuka matanya, menoleh ke kiri melihat Stevani yang masih tertawa.
" Apa aku kelihatan bercanda sekarang ". mata hitam pekatnya memancarkan keseriusan, seketika tawa Stevani terhenti.
"Menikahlah denganku besok, agar mami tidak punya alasan lagi untuk memaksaku meninggalkanmu".
Stevani menatap wajah serius Gavino "Honey, kenapa harus buru-buru, buk....!!"
" Buru-buru katamu...ini sudah yang ke 1000 kali aku mengajakmu untuk menikah, tapi kamu selalu memiliki banyak alasan". ucapan Stevani terputus dengan suara Gavino yang mulai meninggi. Stevani terhenyak mendengar perkataan Gavino, Stevani menggigit Bibir bawahnya dengan mata mulai berkaca-kaca.
Gavino mulai bangun dari sandarannya, memperbaiki posisi duduknya menghadap Stevani, Dia menggenggam tangan Stevani dengan lembut.
" Maafkan aku, aku tidak bermaksud membentak mu, tolong mengertilah aku ingin segera meresmikan hubungan kita. Aku tidak mau kau pergi-pergi keluar negri sendiri lagi, aku ingin selalu bersama denganmu". Gavino menatap wajah Stevani, berbicara dengan nada lembut.
Stevani memang kerap kali pergi keluar negri sendiri tanpa sepengetahuan Gavino, dalam sebulan Stevani suka bolak balik 3-4 kali keluar negri. Tiap kali Gavino bertanya alasannya selalu sama karena ada urusan pekerjaan, Gavino pernah memintanya untuk diam saja tanpa harus bekerja, Gavino akan menanggung semua kebutuhan dan keinginan Stevani. Tapi lagi-lagi Stevan, selalu menolak dengan alasan ini cita-citanya sejak lama.
" Atau begini saja, bagaimana kalau kau mengalah dan ikut keyakinanku agar mami segera merestui kita, hanya itu cara satu-satunya".
Stevani mengangkat wajahnya, melihat Gavino tajam " Kita sudah sering membahas ini honey, dan kau sudah tau jawabannya kalau aku tidak akan pernah berpindah keyakinanku." Stevani mulai terpancing emosi.
"Sayang, tolong lah ini demi hubungan kita, berkorban lah sedikit untuk kita". Gavino kembali meminta pengertian.
Stevani mulai emosi, matanya memerah " Apa katamu, berkorban ?. Kau pikir selama ini aku kurang berkorban apa, kita sudah tidur bersama, bahkan aku rela dipermalukan ibumu berkali-kali kau bilang aku harus berkorban. Aku selalu melakukan berbagai cara agar ibumu menyukaiku, tapi apa yang aku dapat hanya hinaan dan kebencian, kau tau itu." Stevani sudah tidak bisa menahan emosinya lagi dia benar-benar marah.
" Dan kau tau, kenapa aku belum mempertemukan dengan papa, karena papa juga menentang hubungan kita. Dia ingin aku juga meninggalkan mu karena keyakinan kita berbeda, tapi aku selalu berusaha menyakinkan papa bahwa kita bisa bersama tanpa harus meninggalkan keyakinan masing-masing, aku tidak ingin papa memperlakukanmu seperti ibumu memperlakukanku, itulah mengapa selama ini aku tidak mempertemukan kalian. Dan kau tau papa sudah mulai membuka hatinya untuk bisa menerimamu." Stevani berteriak menjelaskan panjang lebar alasannya selama ini dengan emosi yang menggebu-gebu.
Gavino mematung, hatinya mulai dipenuhi rasa bersalah. Jadi selama ini kekasihnya berkorban sebanyak ini untuknya, sedangkan dia selalu memaksa Stevani mendekat pada ibunya. Gavino benar-benar merasa tertampar.
" Sayang maafkan aku, aku tidak tau kalau kau begitu memperjuangkan hubungan kita ". Gavino menatap mata Stevani dalam penuh dengan rasa bersalah dan cinta.
" Baiklah...bagaimana kalau kita menikah keluar negri saja, tanpa mengorbankan keyakinan masing-masing".
Stevani membolakan matanya, jantungnya berdegup kencang, dia pikir dengan memberikan penjelasan seperti itu Gavino akan mengurungkan niatnya untuk menikah sementara waktu. Tapi Stevani salah, Gavino memiliki cara yang membuat Stevani kehilangan akal.
" Bagaimana ini, alasan apa lagi yang harus aku berikan padanya...!!" gumamnya dalam hati.
"Bagaimana...heeemmm!! kau setuju kan?, dengan begitu kita bisa menikah tanpa harus meninggalkan keyakinan kita. Kau tetap milik tuhanmu dan aku tetap milik tuhanku, Kau setuju kan ?".
"Tidak Honey, aku tidak setuju!!. Gavino memundurkan sedikit tubuhnya yang sedari tadi condong ke depan mendekati Stevani.
"Apa maksudmu tidak setuju ?"
" Maksudku..eemmm!! aku tidak ingin menikah denganmu tanpa restu, aku ingin menjadi menantu yang diakui dan disayangi mertuanya. Aku tidak ingin menjadi menantu seperti di sinetron sinetron yang dimusuhi dan disiksa mertuanya. Aku memang ingin diakui menjadi bagian keluarga Pradiksa tapi tidak dengan cara menikah secara diam-diam".
Helan nafas Gavino terdengar jelas ditelinga Stevani, dia tau saat ini kekasihnya pasti sangat emosi. Terlihat dari kepalan tangannya yang membentuk tinju dan urat-urat di daerah kening membentuk garis keras.
"Jadi mau mu bagaimana sekarang ?".Gavino bertanya dengan mata terpejam dan kepala menunduk frustasi.
" Intinya aku tidak kan mau menikah denganmu, jika mami-mu belum memberikan restunya." jelasnya lagi dengan wajah serius dan tegas.
" Jadi kau menolak ku lagi Van". suara lirih terdengar memilukan.
Stevani geram melihat Gavino masih berusaha memaksanya " sudahlah aku malas berdebat denganmu masalah ini lagi...ini lagi!!! Stevani berdiri dan mengambil dan memakai blazer panjang untuk menutupi lingerie yang dia pakai, lalu menyambar tas nya yang tergeletak disamping Gavino. Gavino yang melihat Stevani ingin pergi segera mencekal tangannya.
"Kau mau kemana ?"
" Aku mau pulang, aku sedang tidak ingin melihat wajahmu".
" Ini sudah terlalu malam, lebih baik kau tidur disini atau biar aku yang mengantarkan mu pulang"
" Tidak perlu, aku bisa sendiri". Wajah Stevani masih memerah, dengan emosi yang belum mereda.
Stevani melangkah pergi, membuka pintu dan menutupnya dengan kasar.
Brakkk**
Gavino terdiam ditempat, mematung dengan emosi meminta keluar.
" Aaaakkkkkkk...sial..sial " Gavino berteriak, memukul udara yang tidak bersalah.
Stevani masuk kedalam lift, melihat pantulan dirinya didinding lift. Ada rasa tidak nyaman dihatinya meninggalkan Gavino sendirian dalam keadaan seperti ini. Stevani menyandarkan tubuhnya pojok lift, mendongakkan wajahnya keatas.
Dretzzz
Dretzzz
Dretzzz
Getaran Handphone didalam tas mengalihkan pandangannya. Stevani mengambil dan melihat nama orang yang menelpon.
" Hallo ". suara Stevani melembut halus, tak lagi terdengar emosi di dalam suaranya.
" Baiklah, kirimkan aku alamatnya, aku akan segera kesana ". Stevani mematikan ponselnya dan menyunggingkan senyum setengah bibirnya.
......................
...Bersambung.......
Assalamualaikum Kakak-kakak semuanya 😍
Terima kasih banyak bagi kakak-kakak yang sudah mampir untuk membaca karyaku 🙏
Mohon tinggalkan cintanya buat Author dong, dalam bentuk Like & Komentarnya.
Boleh juga share cerita author dengan teman atau keluarganya ya.
Supaya Author makin semangat buat ceritanya...💪
See you
Saranghae❤️
Suka dgn penjelasan2 agamanya,
Tetaplah berkarya. thx thor..
Ayo donk up date thor sayaanggg,
ditunggu...