Edwin, sosok lelaki yang tegas dan dingin. Dengan statusnya yang menduda karena divonis tidak bisa mempunyai keturunan, Edwin memilih hidup sendirian alias melajang.
Karena sebuah insiden kecelakaan pada adik laki-lakinya, dengan terpaksa Edwin harus menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk menikahi perempuan yang sedang mengandung anak dari mendiang adik laki-lakinya itu.
Tidak dapat menolak dan membuat alasan apapun, pihak keluarga perempuan tetap akan menuntutnya agar segera menikahi putrinya.
Kedua orang tua Edwin yang tidak ingin nama baik keluarganya hancur, terpaksa Edwin lah harus menjadi penutup aib keluarganya. Mau tidak mau pernikahan harus berlanjut secepatnya.
Akankah Edwin mampu untuk jatuh cinta lagi dan menerima anak dari mendiang adiknya? tentu saja akan banyak konflik dan lika-liku nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masih di acara pernikahan
Tuan Gentaram yang semakin geram dengan menantunya, Beliau memilih mengacuhkannya. Entah ada angin apa, mertua dan menantu tak jauh beda dengan tommy dan jerry.
"Aluv, selamat menempuh hidup baru Nak. Semoga kamu akan mendapat kebahagiaan bersama anakmu nanti. Jangan lupa, jaga diri kamu baik-baik. Kalau sampai suami kamu menyakitimu, menyia-nyiakan kamu, secepatnya hubungi Papa atau kakak kamu, bila perlu laporkan ke pihak polisi." Ucap Tuan Gentaram, Edwin mengernyit.
"Ya Pa, terimakasih atas doanya." Jawab Aluv dan dibarengi dengan senyum.
Setelah itu, Tuan Gentaram menoleh pada menantunya.
"Kamu dengar, 'kan? jaga putriku dengan baik. Ingat, aku bisa menghancurkan karirmu jika sampai bermain api denganku." Ucap Tuan Gentaram yang tidak lupa untuk memberi ancaman kepada menantunya.
Tidak peduli mau didengar atau tidaknya, yang terpenting bagi Tuan Gentaram berusaha melakukan sesuatu hal untuk putrinya.
"Saya tidak bisa berjanji, tapi saya akan melakukannya sebaik mungkin. Jika saya gagal, saya akan mengembalikan putri Anda." Jawab Edwin dengan apa adanya.
Dirinya tidak menyukai sesuatu yang menurutnya hanya sebuah kepalsuan semata. Bagi Edwin, janji tidak harus dikatakan, cukup jalani dan berusaha. Tetapi jika hati menolak, tidak ada paksaan apapun untuk menentukan pilihannya.
"Terserah kamu, yang terpenting aku sudah memperingatkan kamu." Ucap Tuan Gentaram.
Setelah itu, giliran ibunya Aluv yang memberi ucapan selamat untuk putrinya.
"Selamat atas pernikahan kalian berdua, semoga bahagia dan selalu diberi keberkahan. Ingat Aluv, jadilah istri yang patuh dengan suami dan jangan membangkang. Mama doakan yang terbaik untuk kalian berdua." Ucap sang ibu memberi ucapan selamat untuk anak dan menantunya.
Aluv menangis dan memeluk ibunya.
"Sudah, jangan menangis. Jaga diri kamu baik-baik ya, sayang." Ucap ibunya lagi, Aluv mengangguk.
.
Setelah tidak ada lagi yang akan dibicarakan, Tuan Gentaram segera meninggalkan putrinya bersama sang istri. Kini, tinggallah Kemal yang akan memberi ucapan selamat kepada adik perempuannya dan adik ipar.
Sebelum memberi ucapan selamat, Kemal melirik ke arah adik iparnya sekilas.
"Aluv, selamat ya atas pernikahan kamu. Kakak doakan, semoga kamu bahagia dengan pernikahan kamu. Jaga diri kamu baik-baik, semoga kamu betah tinggal bersama suami kamu." Ucap Kemal memberi ucapan selamat untuk adik perempuan kesayangannya.
"Terimakasih atas doanya ya Kak, semoga Kakak segera menyusul." Jawab Aluv, sang kakak memeluknya sebentar dan dilepaskan lagi.
Selanjutnya, Kemal dan Edwin tengah berhadapan langsung. Keduanya nampak seperti acuh dan tidak ingin menatap satu sama lain.
Kalaupun bukan karena sebuah acara pernikahan, keduanya terasa enggan untuk bertemu. Mau tidak mau, Kemal yang statusnya sebagai kakak ipar, akhirnya mengalah demi adik perempuannya.
"Selamat atas pernikahan kamu dengan adikku, semoga kalian berdua bahagia." Ucap Kemal yang akhirnya memberi ucapan selamat untuk adik iparnya.
"Ya, terimakasih Kakak Ipar." Jawab Edwin tanpa basa-basi yang lainnya.
Setelah itu, giliran Kenaya yang terakhir.
"Kak Aluv ya?"
Dengan reflek, Kenaya menyebut nama kakak iparnya.
"Ya, Aku Kak Aluv. Kamu Naya, 'kan?"
Jawab Aluv dan dan juga balik menebak.
"Ya, Aku Naya. Aku adiknya Kak Erwan, yang pernah di cemburuin Kakak." Kata Naya dan tersenyum.
Kenaya benar-benar tidak menyangka-nya, jika Aluv yang menjadi istri Kakak pertamanya. Sekilas, Kenaya menoleh pada Edwin dan senyum pesta gigi.
"Kak Edwin, Kakak Ipar. Selamat bahagia ya atas pernikahan kalian berdua. Maaf, jika Kenaya terlambat. Kenaya doakan, semoga Kak Edwin dan Kakak Ipar selalu diberi keberkahan dalam berumah tangga, aamiin aamiin." Ucap Kenaya dan tersenyum lebar.
"Hem, ya Kenaya." Jawab Edwin biasa-biasa saja.
Kenaya yang sudah mengetahui sifat dan watak kakaknya sendiri, tak sedikitpun marah atau cemberut.
Meski Kakaknya sedingin es batu sekalipun, Kenaya tetap mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari seorang Kakak.
"Terimakasih banyak ya Luv, doanya. Semoga kamu segera menyusul." Jawab Aluv.
"Jangan dulu, Aluv masih kecil. Waktunya masih panjang untuk mendapatkan suami. Jadi, aku belum mengizinkannya untuk menikah sebelum menemukan apa tujuan hidupnya." Sambung Edwin.
Aluv sendiri hanya mengangguk dan seketika diam langsung.
Karena tidak ingin ada perdebatan, Kenaya memilih untuk segera meninggalkan tempat. Takut, akan semakin panjang urus urusannya.
Cukup lama berdiri maupun duduk di panggung pengantin, akhirnya yang ditunggu tunggu telah tiba waktunya untuk pulang.
Satu persatu, para tamu undangan dan kerabat keluarga berpamitan untuk pulang, termasuk kedua orang tua pengantin perempuan dan Kakaknya.
Dan tibalah waktunya Aluv untuk tinggal bersama sang suami, yakni di rumah mertua.