Ketika jatuh cinta, tidak ada yang bisa memberi alasan pasti. Hanya merasakan dan tidak bisa menghentikan.
Cinta Henry pada Cynthia, gadis biasa yang melamar menjadi sekretarisnya.
Benarkah itu cinta pada pandangan pertama.
Dua orang yang berbeda latar belakang. Henry Elfred seorang CEO perusahaan British Oil & Gas, keturunan Inggris dan Jawa, berasal dari keluarga kaya raya yang penuh intrik kotor dan drama, sedangkan Cynthia hanya gadis biasa dan sederhana.
Cinta mereka terhalangi karena Henry hanya bisa menikahi seorang puteri pengusaha untuk memperluas wilayah kekuasaan perusahaannya di Indonesia. Begitu banyak rintangan untuk bersama dengan wanita yang dicintainya.
Bisakah Henry menyakinkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adine Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21 Summer Dream
Tidak banyak yang tahu jika pada musim panas semut bekerja lebih ekstra untuk mengumpulkan makanan sebagai persiapan menjelang musim dingin. Udara yang lebih terik dan siang hari yang lebih panjang menandakan harus bekerja lebih lama. Berbeda dengan masyarakat di London, justru mereka menikmati liburan musim panas dengan berenang, berjemur dan memberi makan pada angsa. Sungai Thames menjadi salah satu tujuan berwisata.
Memandangi jendela mobil yang mulai berdebu, tidak disangka perjalanan menuju tempat Steven berada cukup jauh. Perairan Thames yang masih terlihat, bagaimana Steven bisa hanyut sejauh ini.
Aku tidak habis pikir.
“Bagaimana mereka menemukannya?” Cynthia bertanya pada Yonglex yang duduk di sampingnya. Cynthia tidak ingin duduk dibelakang kemudi, karena merasa bukan siapa-siapa. Jika Bos Henry tahu Cynthia duduk sejajar dengan Yonglex, mungkin dirinya akan dikirim ke afrika untuk melatih hyena dan jerapah agar hidup akur bersama.
“Nona, ada yang ingin saya katakan tentang keadaan Steven,” ujar Yonglex.
Steven ditemukan oleh seorang dokter tua yang sudah pensiun ketika sedang memancing di sungai Coln yang merupakan anak sungai Thames bersama teman-temannya. Dokter itu bernama Bean Stabley yang hidup sendirian, istrinya telah meninggal dunia sekitar dua tahun yang lalu dan tidak memiliki keturunan. Kehadiran Steven membuatnya tidak kesepian lagi.
Ketika ditemukan, tubuh Steven dalam keadaan tertembak parah di dekat rongga dada dan mengenai kepalanya meskipun hanya terserempet peluru. Tubuhnya hampir tidak bertahan karena mengeluarkan banyak darah. Saat itu Dr. Bean berusaha menyelamatkannya dan menyembunyikannya. Steven di bawa ketempat tinggalnya di perkampungan Bibury yang indah.
Steven sangat beruntung.
Tidak ada yang bisa selamat dengan tembakan proyektil yang menembus hingga ke tulang. Bahkan sudah mengancurkan rusuknya dan hampir menembus jantung.
Entahlah, proyektil itu seakan berhenti tepat sebelum menembus jantung.
“Setelah sadar dari kritisnya, Steven kehilangan ingatan jarak pendeknya. Jadi, Steven tidak ingat tentang peristiwa pada malam itu,” ucap Yonglex menjelaskan.
“… mungkin Steven juga tidak ingat siapa Cynthia … itu yang kamu mau katakan,” tukas Cynthia menebak jalan pikiran Yonglex.
“Iya … Steven hanya ingat siapa dirinya sebelum kejadian penembakan itu, bahkan ingat dirinya pada 20 tahun yang lalu,” sambung Yonglex.
Aku tetap merasa bersyukur Steven selamat, apapun keadaannya.
Cynthia terpukau melihat keindahan perkampungan Bibury. Selain anak sungai Coln yang bersih dan terdengar percikan lembut yang menyipak-nyipak, terdapat pondok-pondok yang masih asli dengan ornamen bebatuan yang indah dan masih kokoh berdiri meskipun sudah ada sejak abad ke 17-an. Dengan jalanan yang kecil, bersih dan keasrian sejauh mata memandang.
Mengapa suasana perkampungan ini mengingatkanku pada film Braveheart yang dibintangi Mel Gibson. Tentang pemberontakan rakyat Skotlandia dibawah penjajahan Inggris dan strata kebangsawanan. Tersadar dari lamunannya karena Yonglex berhenti di sebuah kafe kecil.
Cynthia keluar dari mobil, terdengar riuh suara tawa dan sulangan gelas-gelas yang beradu. Yonglex membantunya membuka pintu kafe itu, Cynthia mencari sosok itu di semua sudut-sudut ruangan. Tiba-tiba suara hasutan untuk berhenti membuat semuanya terdiam. Seseorang menepak bahunya agar melihat kearah Cynthia.
Sosok yang sedang membawa gelas-gelas terisi bir berbusa. Cynthia langsung menghampirinya dengan berlari dan memeluknya erat.
Cynthia.
“Jadi … kamu ingat aku, Steven?” ucap Cynthia terkejut. Sembari memandangnya tidak percaya apa yang baru saja diucapkannya. Namaku.
“Yonglex bilang kalau ingatanmu …,” sambungnya terpotong.
“Tiba-tiba … aku ingat wajah cengengmu itu …,” ucap Steven sembari tersenyum. Cynthia langsung memberikan pukulan telak dibahunya hingga Steven mengaduh kesakitan.
“Aduh … aku juga ingat pukulan ini,” ucapnya sembari menahan sakit.
Seseorang mengatakan pada Steven untuk mengenalkan istrinya. Steven menjawab kalau Cynthia bukan istrinya tapi akan menjadi istrinya. Semua tertawa bahagia dan mengangkat gelas bersulang untuk kebahagiaan mereka berdua. Akibatnya Cynthia memberikan pijakan maut yang melukai ibu jarinya.
Cynthia dikenalkan kepada Dr. Bean yang sudah menolongnya. Wajahnya terlihat tampan meskipun sudah lanjut usia. Dr. Bean sangat ramah dan baik. Sebagai rasa syukurnya dan juga pemilik kafe ini, semua pelanggan malam itu diberikan minuman gratis karena kedatangan Cynthia.
***
Steven mengajak Cynthia berjalan-jalan keluar di bawah sinar rembulan yang sangat bulat dan indah. Yonglex mendekati mereka dan bertanya apakah Cynthia memerlukan sesuatu. Tiba-tiba Steven ingat dengan parasnya itu.
“Sepertinya … aku ingat! Kamu petugas kebersihan di rumah pondok keluarga Elferd kan?”ujar Steven sembari menunjuk kearahnya. Iya benar.
“Ternyata anda mengingat saya?”
“Tentu saja, tidak mungkin salah.”
“Jadi, Yonglex ada di rumah kayu itu?”
“Iya, Nona. Malam itu saya telah gagal dan terlambat mengetahui rencana jahat Mr. Jack dan Paman Karl, sampai sekarang saya masih menyesalinya.”
“Sudahlah … tidak ada yang menginginkan kejadian buruk seperti itu, lupakan saja,” tukas Steven bijak.
Cynthia terkejut.
“Tumben! Sepertinya luka di kepala sudah membuat otakmu berfungsi dengan baik … hahaha!” Cynthia meledek.
“Cynthia!” pungkas Steven geram.
“Bagaimana jika aku beri pukulan di kepala sekali lagi,” sergah Cynthia menggoda. Mereka berlarian seperti anak kecil. Yonglex hanya bisa menggeleng-geleng.
***
Steven memasang sprei bersih di ranjang yang akan ditempati Cynthia, sedangkan Yonglex akan tidur dikamar lain.
“Baiklah, silahkan tidur,” ucap Steven setelah meletakkan bantal diatasnya.
“Selamat tidur, Steven,” timpal Cynthia sembari tersenyum.
“Kamu juga, Cynthia …,” tutur Steven membalasnya sebelum menutup pintu.
Sebelum tidur Cynthia membuka lagi surat dari Henry untuk melampiaskan rasa rindunya. Membuka kotak perhiasaan berwarna hitam dengan emas yang menghiasi tepinya. Sebuah kalung emas dengan liontin mawar, sangat indah. Cynthia mengalungkannya di leher agar bisa merasakan kedekatan dengan Henry.
Disentuhnya liontin mawar itu sekali lagi sebelum tidur.
***
Cynthia melihat Steven dikejauhan sedang menggunakan kailnya di tepi sungai Coln. Meneriakkan namanya berulang kali hingga Steven menoleh dan melambaikan tangannya. Cynthia berlari kecil dan kakinya tersandung kerikil. Hamparan luas yang dilihatnya, berwarna keemasan dan bersinar.
Mengambilnya satu yang tepat berada di kakinya. Tidak percaya, seluruh lapisan tanah yang tertutup oleh selongsong peluru yang menutupinya.
Tiba-tiba suara keras bertubi-tubi memberondong tubuh Steven hingga jatuh ke sungai. Hanyut terbawa air.
“Steven … Steveeennn! Jangaaaan … Steveeeeennnn!...,” teriak Cynthia dalam mimpinya. Tubuhnya meronta hebat, keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
“Cynthia, tenanglah … tenang, itu hanya mimpi buruk,” tutur Steven lembut sembari memeluknya. Mencoba menenangkan Cynthia yang bermimpi buruk.
“Kenapa, mimpi ini tidak mau pergi,” raung Cynthia menangis.
“Menangislah … ketakutan itu akan segera hilang, percayalah padaku.”
Mengapa jika berada di dekatnya aku merasa aman dan tenang. Memiliki irama yang berbeda dengan irama jantungku. Membuatku sadar jika aku juga membutuhkannya.
Pelukan Steven seperti memeluk beruang, pelukan yang menenangkan, hangat dan merasa terlindungi. Bagaimana ini?
Aku membutuhkannya seperti membutuhkan kehangatan ketika musim dingin. Seperti kaki yang membutuhkan pijakan dan seperti tangan yang membutuhkan ayunan. Terasa menyenangkan tanpa beban, aku hanya merasa menjadi diri sendiri jika berada disampingnya.
***
Suara bising semua orang di luar seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Hingga membuat Cynthia terbangun dari tidurnya yang sebentar.
“Selamat pagi, Cynthia … ayo bangun,” ucap Steven diambang pintu mengajaknya keluar.
Dengan mata yang masih setengah tertutup, sesekali menguap Cynthia melangkah keluar dan melihat semua orang sedang berdiri rapi ditepian sungai Coln.
“Apa yang mereka sedang lakukan?” tanya Cynthia penasaran. Matanya mulai terbuka karena melihat hal yang tidak biasa.
“Lihat saja, aku juga baru kali ini …,” ujar Steven bersemangat.
Tiba-tiba dari ujung kanal gerombolan putih bersayap indah dengan lekukan leher dan mata hitam yang menoleh tajam, sesekali mengepakkan sayapnya sebagai ketua rombongan memimpin karnaval. Sekumpulan angsa putih yang angkuh, menyisiri sungai Coln dengan anggun. Hingga mendekati orang-orang ditepian yang sudah siap menghitungnya.
“One, two, three, four, five … dan seterusnya,” semua orang menghitung angsa yang lewat didepan.
Cynthia dan Steven, bahkan Yonglex juga ikut-ikutan tradisi itu. Menghitung angsa atau Swan Upping.
Menghitung angsa ternyata sangat menyenangkan, meskipun sebenarnya itu adalah kebiasaan yang dilakukan ratu Elizabeth ketika musim panas.
“Tradisi apa ini?” tanya Cynthia sembari bertepuk tangan setelah seluruh angsa itu telah terhitung semua.
“Dahulu angsa dijadikan jamuan kerajaan karena kelezatannya, namun sudah 800 tahun sejak jaman modern orang inggris tidak lagi memakannya. Bahkan dilindungi kelestariannya, sebagai simbolnya hari ini kita menghitung angsa seperti tadi,” ujar Steven menjelaskan.
“Dari mana kamu tahu?”
“Tadi pagi dikasih tahu Dr. Bean … hehehe!”
“Huhu … kirain karena benturan dikepalamu.”
“Enggak usah ngeselin deh ... memangnya kamu tidak ingat tadi malam, siapa yang manggil-manggil … Steven, Steven aku cinta padamu,” sindir Steven menggodanya.
“Hah … enggak mungkin, aku mengucapkan itu, dasar tukang berkhayal.”
“Tanya Yonglex … yakan!”
Yonglex mengangkat bahunya seakan tidak mau dilibatkan dengan masalah mereka berdua.
Cynthia mengejar Steven untuk memberinya pelajaran.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )
boom balik karya ku
the thunder's love
🥰🥰
ditunggu lagi Kaka salam dari basecamp